Rabu, 21 Juni 2017

Aku Mencintai......

λкu ɱєήçɪήταɪ ℓαήğɪτ,
Ťαρɪ ℓαήğɪτ τєяℓαℓu τɪήğğɪ τµк кµ яαɪЂ,
Ќєτɪкα ɪήğɪή кµ ğαραɪ
Ðɪα ɱєήğЂєɱραşкαή кµ кєɱɓαℓɪ кє ɓµɱɪ.

λкµ ɱєήçɪήταɪ ℓαµτ,
Ťαρɪ ℓαµτ τєяℓαℓµ ðαℓαɱ µήτµк кµ şєℓαɱɪ
Ќєτɪкα ɪήğɪή кµ αяµήğɪ
Ôɱɓαк ɱєήğЂєɱραşкαή кµ кєɱɓαℓɪ кєşɪήɪ

λкu ɱєήçɪήταɪ ɱєяєкα,
Ťαρɪ ɱєяєкα τєяℓαℓµ şµℓɪτ µήtµк кµяαɪЂ,
Ĺαℓµ αкµ ɓєяtєɱαή ðєήğαή αήğɪή,
λήğɪή ɱєɱɓeяɪкµ кєşєζµкαή ðɪ ζɪwα кµ γαήğ ğєяşαήğ
λήğɪή ɱєɱɓαwα ρєяğɪ şєɱµα кєήαήğαή
λήğɪή ζµğα ɱeήğєяɪήgкαn şɪşα αɪя ɱατα

λкµ ɓeяτєɱαή ðєήğαή Ђµζαή,
Ħµζαή ɱєήєɱαήɪкµ кєτɪкα şєήðɪяɪαή
Ħµζαή ɱєɱɓαwα ρєяğɪ şєɱµα кєşєðɪЂαή
Ðαή Ђµζαή ɱєήğЂαρµş αɪя ɱατα ɱєήζαðɪ şєɓµαЂ şєήyµɱαή

Ќαɱµ şєρєяτɪ ℓαήğɪτ ðαή ℓαµτ γαήğ кµ çɪήταɪ,
Ťαρɪ ταк ɱµήğкɪn ðαρατ кµ яαɪЂ
Ќαяєήα αкµ τɪðαкℓαЂ ɱαɱpµ ɱєήğğαραɪ Ђαήγα şєήðɪяɪ,
λкµ Ђαήγα ɱαɱρµ ɱєήαταρ ðαяɪ ζαµЂ

λкµ Ђαήyα ɓeяτєɱαή ðєήğαή αήğɪή ðαή Ђµζαή
Mєяєкα γαήg ɓɪşα кµ яαşαкαή
ώαℓαµ ήταЂ şµαtµ кєτɪкα ɱєяєкα кαή ɱeɱµşµЂɪкu
Ťαρɪ αкαή кєɱɓαℓɪ ɱєήζαðɪ αήğɪή ðαή Ђµζαή γαήğ αкµ яɪήðµкαή

Senin, 19 Juni 2017

Ketika Waktu......

Ketika waktu mengajarkan menghargai
Setiap detik menit yang berarti
Setiap hari bulan yang menanti
Agar kau pergunakan dengan teliti

Ketika waktu membawamu
Beranjak dari masa kanak-kanakmu
Kau gunakan itu dengan hura-hura
Dan kau lakukan semua sesuka hatimu

Ketika waktu kemudian menarikmu
Melewati masa dewasamu
Kau masih tak menyadari
Pentingnya sebuah kehidupan

Dan ketika waktu mengajakmu
Menapaki masa tua mu
Kau kembali meratapi hidupmu
Bertanya mengapa waktu begitu cepat berlalu

Ketika waktu kembali memaksamu
Kembali mengingatkan masa lalumu
Namun penyesalan menamparmu
Karna berartinya waktu yg tak kau hargai

Dan ketika terakhir kalinya waktu menyapamu
Ia tersenyum dan tanpa menunggu
Waktu merampasnya darimu
Sesuatu hal yang kau sebut "hidup" itu

_Elisabeth_

Rabu, 07 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.6 Last) by Elisabeth


Diam-diam Henoch pergi menemui Ny. Martha. Meski sudah sangat lama, Henoch masih ingat betul jalan menuju rumah mantan mertuanya itu. Tidak sulit menemukannya karna selama bertahun-tahun jalanan kota itu tidak banyak berubah.
Henoch sedang menunggu didepan pintu rumah. Kebetulan sekali Ny. Martha yang membukakan pintu.

" Selamat sore, nyonya Martha. Apa anda masih ingat denganku? " sapa Henoch dengan sopan.

Ny. Martha mengerutkan dahinya sambil mencoba mengingat lalu kemudian menunjuk Henoch.
" Kau.... Henoch....!! Aku tidak mungkin lupa! Untuk apa kau kemari? " tanyanya dengan ketus.

" Ingatan anda masih kuat! Aku kesini bukan untuk bertengkar dengan anda! Jadi anda tidak perlu ketus seperti itu. " ujar Henoch.

" Jangan banyak bicara! Katakan saja tujuanmu kemari kemudian pergi! " sergah Ny. Martha dengan keras.

" Memang seperti itu tujuanku! Aku kesini karna anakku, Keith! Aku akan sangat menghargai anda, bila anda berhenti mengganggu kehidupan Keith! "

" Aku tidak mengganggu kehidupan siapa-siapa! Keith itu cucuku! CUCUKU! Aku berhak memberikan kehidupan yang layak dan pantas baginya. Kehidupan yang tidak pernah ia dapatkan darimu! " serobot Ny. Martha menegaskan dengan lantang.

" Maaf, nyonya! Anda mungkin berhak atas Vanesa seperti yang dulu anda lakukan karna dia putri anda. Keith memang cucu anda, ya secara teknis masih memiliki hubungan darah. Tapi Keith juga anakku! Aku orang tuanya, Henoch Milano dan Vanesa Neil. Anda mungkin lupa, orang tua anak itulah yang lebih berhak menentukan jalan hidup anaknya. Keith adalah anakku, Keith Milano bukan Keith Neil! Dan sampai kapanpun itu tidak akan bisa di ubah. Jika anda cukup bijak anda pasti mengerti maksudku! " terang ayah Keith. Ia melanjutkan,
" Aku mengakui aku memang bukan ayah yang baik, tapi apa anda pernah jadi nenek yang baik?! Aku lihat kehidupan Keith justru menjadi sulit setelah dia bertemu dengan anda. "

Bibir Ny. Martha tercekat. Ia tak bisa membalas ucapan Henoch. Kata-kata itu seolah menamparnya mengingat perlakuannya pada Ariana.

" Aku tidak tahu berapa banyak cucu anda sekarang! Tapi apa anda memperlakukannya sama seperti yang anda lakukan pada anakku Keith? Dulu anda yang melarang Vanesa membawa Keith, menjauhkan Keith dari ibunya. Sekarang apa pantas anda mengatur kehidupan Keith dengan gelar 'nenek' atau mungkin dengan alasan menebus kesalahan masa lalu?! Aku juga bersalah dan ingin menebus kesalahanku padanya tapi bukan dengan menghancurkan kebahagian dan mimpinya. Meskipun aku punya hak merencanakan masa depannya, aku tetap tidak bisa melakukannya. Ia sendirilah yang harus menentukan jalan hidupnya. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Karna aku tidak mungkin menemaninya sampai ia tua. Meski pun akhirnya ia salah memilih setidaknya ia tidak akan menyesal. Apa anda pernah berpikir sampai sejauh ini? " jelas Henoch dengan tenang. Ny. Martha masih diam saja.
" Sebagai orang tua, kita hanya bisa membimbingnya dari jauh dan menasehati bila ia salah. Tetap didekatnya sebagai pendukung dan pendengar setia. Maka ia akan menghargai dan mempercayai kita sebagai keluarganya. Jika keluarganya sendiri ingin menghancurkan kebahagiannya, lantas siapa yang harus ia percayai? Ia akan kembali menjadi anak yang tersesat dan sulit menemukan jalan pulang. Nyonya Martha, aku menghormati anda karna anda juga orang tua bagi anak-anak anda dan anda dulu pernah menjadi mertuaku meski anda tak suka. Aku tidak meminta apapun dari anda. Aku hanya ingin anda memahami Keith jika memang anda menyayanginya sebagai cucu. Tolong jangan hancurkan kebahagiannya. Tolong hargai pilihannya. Anda memang terpandang dan kaya tapi tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, seperti cinta dan ketulusan. Tidak semuanya bisa dikontrol dengan kekayaan. Jika anda terus berpikir bahwa dengan kekayaan anda bisa mengatur orang untuk tunduk, maka pada akhirnya anda-lah yang akan sendirian bila kekayaan itu habis. Anda akan ditinggalkan oleh keluarga dan orang terdekat karna anda tidak memiliki apa-apa lagi. Tapi jika anda memperlakukan mereka dengan cinta kasih serta ketulusan selamanya anda akan dicintai. Tidak ada yang lebih indah dari pada cinta yang tulus. Maaf aku bicara terlalu banyak! Aku akan pergi. Terima kasih untuk waktu anda. " kata Henoch kemudian ia langsung berbalik pergi meninggalkan Ny. Martha yang masih mematung didepan pintu.


****


Ronan baru selesai membersihkan sampah dedaunan dilantai. Aku menyuruhnya pulang lebih dulu setelah ia membalikkan tulisan Open ke Closed yang menempel didepan pintu. Aku sedang membereskan meja mengemasi barangku sebelum toko ditutup. Gemerincing lonceng pintu berbunyi yang berarti ada pelanggan yang datang. Tanpa menoleh ke arah pintu aku berteriak,
" Maaf, sudah tutup! Kembali besok pagi saja ya! "

" Edeline! " panggil suara itu. Suara yang sangat ku kenal.

Aku berhenti dan langsung menoleh. Keith mengembangkan senyumnya. Tanpa berbasa-basi aku langsung berlari memeluknya. Ia juga memelukku dengan erat.

" Aku... "

" Aku tahu. Aku juga merindukanmu! " Keith menyela ucapanku yang belum habis.

Kami berbicara ditoko. Keith menggenggam erat tanganku sambil terus meyakinkanku kalau semuanya baik-baik saja. Aku tidak yakin karna wajah Keith sendiri nampak kurang meyakinkan. Namun aku harus tetap memberinya semangat dan percaya padanya. Ia juga memberi tahuku kalau selama ini ia berada didesa. Bercerita tentang apa yang dilakukannya selama disana, ia juga bilang ayahnya datang bersamanya kekota dan tinggal bersamanya sementara ini.
Kami tidak pulang terlalu malam sebab Keith tak mau meninggalkan ayahnya terlalu lama sendirian dirumah. Keith langsung pergi setelah mengantarku sampai dirumah.



----#----
Saat Keith tiba dirumahnya. Henoch sedang membaca buku di ruang tamu.

" Aku pulang, ayah! Aku bawakan makan malam. " kata Keith sembari menaruh dua bungkus makanan ke atas meja.

" Apa kau sudah bertemu wanita mu? " tanya Henoch.

" Iya. Kami berbicara sebentar. Aku lega ia baik-baik saja. Melihatnya sebentar seolah membangkitkan kembali semangatku. " jawab Keith.

Henoch tersenyum.
" Bagus. Begitulah cinta! " ujarnya.

Keduanya kemudian makan bersama sambil mengobrol ringan.

" Ayah mau pergi jalan-jalan ke luar? Aku akan menemani ayah. Pasti sudah lama ayah tidak kesini. " Keith menawari.

" Tidak. Lain kali saja! " tolak Henoch.

" Tapi besok aku kerja dan sore baru pulang. Ayah tidak keberatan sendiri dirumah? " tanya Keith lagi.

" Tidak masalah. Orang tua sepertiku lebih suka menghabiskan waktu dirumah. Aku bisa jalan sendiri kalau mau. Lagi pula aku lihat tidak ada perubahan yang berarti dari kota ini. " jawab Henoch.

" Baiklah kalau begitu. Asal tidak pergi terlalu jauh. Jangan sampai tersesat. " pesan Keith.

" Tidak. Kau tenang saja, nak! Ingatan ayah masih bagus. " jawab Henoch pasti.



Didalam kamarnya, Ny. Martha masih terus memikirkan ucapan Henoch. Jika ucapan Keith tidak mampu menggoyahkannya, perkataan Henoch kali ini justru bagaikan tamparan keras diwajahnya. Ny. Martha mulai merasa cemas.

" Mungkin Henoch benar, aku bukanlah ibu dan nenek yang baik. Maafkan ibu, nak! " desahnya sambil mendekap foto Albey bersama Vanesa didada.
----#----



" Selamat pagi, sayang! Apa sekarang toko buka lebih cepat? Padahal aku sudah berangkat lebih awal. Tetap saja telat menjemputmu. " sapa Keith begitu ia tiba ditoko.

" Tidak. Mungkin jam dirumahmu terlalu lamban jadi selalu kesiangan. Atau memang kau yang bangun kesiangan. " ejekku.

" Ah tidak mungkin. Ronan saja belum datang bukan?! " sanggah Keith sambil menatap sekeliling toko yang masih sepi.
" Hei, kemari! " Keith menarikku kedalam pelukannya.

" Mmm.. Kenapa? " tanyaku wajahku hanya tinggal beberapa inch dari wajahnya.

" Lihat, ada sesuatu di pipimu! " kata Keith. Ia mengusap pipiku kemudian tiba-tiba sebuah ciuman hangat namun singkat mendarat dibibirku.

Aku tertegun sesaat. Keith membisikkan kalimat ' I love you ' ditelingaku. Aku tersadar. Keith sudah melepaskan pelukannya, ia tersenyum sumringah.

" Pipimu memerah! " goda Keith.

Aku memegang kedua pipiku. Dan berbalik. Keith malah tertawa.
" Aku bercanda! " katanya. Aku balas dengan tatapan sinis padanya. Namun kemudian tersenyum.

Seperti kebiasannya menyajikan segelas teh hangat untukku. Ia meletakkan cangkir teh ke atas mejaku. Lalu duduk didepanku yang sibuk dengan layar laptop. Mata Keith menangkap sakura plastik disamping mejaku. Ia menyentuh Omamori pemberiannya dulu yang tersemat disana. Lalu beralih ke Omamori satunya.
" Ini punyamu? " tanya Keith sambil menunjukkan Omamori lain.

" Ya. En-musubi. Untuk hubungan yang baik bagi pasangan. Aku mendapatkannya saat iseng-iseng jalan ke kuil. " jawabku malu-malu. Keith tertawa merasa lucu.

" Kenapa? " tanyaku.

" Tidak, hanya merasa lucu saja kau menggantungnya ditangkai sakura ini. Tapi dari sekian banyak bunga segar disini, kenapa kau memilih sakura plastik? " tanya Keith penasaran.

Aku menatapnya dari balik layar laptop. Kemudian berbicara dengannya.
" Karna aku suka Sakura. Sakura disebut bunga kehidupan. Ia melambangkan sebuah kehidupan baru yang penuh harapan dan masa depan cerah. Bunga sakura juga berarti kebahagiaan, keheningan dan ketenangan. Ia seolah membawa kebahagiaan kepada semua orang ketika ia mekar. Aku berharap aku juga akan memiliki masa depan yang cerah. Secerah warna bunga sakura yang mekar ini. "

" Bukan masa depanmu, tapi masa depan kita! " Keith menimpali. Ia meremas tanganku.

" Ya, kita! " balasku sambil mengangguk.


****


Siang itu Henoch baru hendak mencuci piring sisa makan siangnya. Tiba-tiba pintu depan diketuk. Henoch bergegas untuk membuka pintu sambil bergerutu,
" Siapa yang datang siang-siang begini? Keith tidak mungkin pulang secepat ini! "

Saat pintu terbuka ia agak heran melihat Ny. Martha yang datang.
" Ada apa, nyonya Martha? Keith sedang bekerja! " tanya Henoch.

" Aku tahu, aku datang untuk bicara denganmu! Apa kau tidak mengijinkanku masuk lebih dulu? " jawab Ny. Martha.

Henoch membuka pintunya lebih lebar untuk Ny. Martha masuk. Kemudian keduanya duduk disofa. Ny. Martha merasa agak canggung.

" Sejak kemarin aku merasa tidak tenang. Aku terus memikirkan ucapanmu! " tutur Ny. Martha.

" Oh, aku minta maaf karna ucapanku tidur anda jadi terganggu! " ujar Henoch.

" Bukan itu, aku rasa mungkin perkataanmu ada benarnya. Selama ini aku tidak menjadi nenek yang baik terutama untuk cucu perempuanku. Aku juga bukan ibu yang baik bagi kedua putriku. Aku baru menyadari semua kekeliruanku selama ini. Aku sangat egois. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Aku hanya peduli pada martabat, derajat dan materi. Semua itu telah menutup mata hatiku, sampai aku begitu tega memisahkan mereka yang saling mencintai. Oh, aku sungguh menyesal! Tolong maafkan aku, Henoch! " ucap Ny. Martha dengan penyesalan dan kesedihan.

" Hmm.. Aku sudah memaafkan anda sebelum anda memintanya. Aku bersyukur mata hati anda telah terbuka. Anda masih bisa memperbaiki semuanya. Belum terlambat untuk memulai kembali. " hibur Henoch.

" Apakah mereka akan memaafkanku? Cucu perempuanku, Keith, putriku, semua orang yang telah aku sakiti... " ratap Ny. Martha dengan sedih.

" Mereka pasti akan memaafkan, jika anda melakukannya dengan tulus. Aku yakin. Vanesa disurga pun pasti telah memaafkan anda. " jawab Henoch pasti.

" Terima kasih, Henoch. Selama ini aku telah salah menilaimu! Aku benar-benar minta maaf! " pinta Ny. Martha sekali lagi.

" Yang telah berlalu tidak perlu di ingat lagi, nyonya. Menyesal pun tidak akan mengubah keadaan kembali menjadi seperti semula. Yang harus kita lakukan hanyalah memperbaiki semuanya. Kita selalu memiliki kesempatan itu selagi masih hidup. Jadi jangan sia-siakan kesempatan itu. " jawab Henoch.

" Ya, kau benar. Sekali lagi terima kasih, Henoch. Tolong jangan beritahu Keith tentang kedatanganku kemari. Aku yang nantinya akan langsung menemuinya untuk meminta maaf! " pesan Ny. Martha.

" Pasti, nyonya Martha. Aku janji tidak akan memberitahunya. " janji Henoch.

" Terima kasih. Satu lagi Henoch, tolong jangan memanggilku nyonya. Apa kau keberatan bila memanggilku ibu? Karna kau juga ayah dari cucuku. " pinta Ny. Martha dengan halus.

" Tentu saja tidak. Ya bagaimana juga anda pernah menjadi mertua ku... Ibu! " sahut Henoch.

Ny. Martha tersenyum. Seketika hatinya merasa amat lega dan damai. Ada perasaan bahagia yang sulit ia ungkapkan menjalar dihatinya. Hatinya tidak pernah merasa sehangat ini.
Siang itu pula Ny. Martha mengajak Henoch berjiarah ke makam Vanesa. Henoch agak ragu namun ia ikut pergi juga. Dengan sedih ia meminta maaf didepan makam Vanesa.


****


Sore itu setelah tutup toko, aku pergi bersama Keith bertemu paman Henoch. Kami bertiga menghabiskan makan malam diluar bersama. Tidak ada perasaan canggung karna paman Henoch begitu hangat dan pembawaannya santai. Kami nampak seperti sebuah keluarga. Usai makan malam kami bertiga juga berjalan-jalan dan menghabiskan malam di teluk.



----#----
Malam itu Ariana baru saja pulang. Sesampai dipintu depan ia melihat neneknya sedang duduk diruang tamu bersama bibinya. Ariana tak menyapa, ia langsung lewat begitu saja didepan neneknya.

" Ariana... " panggilan dari bibi Amera menghentikan langkahnya.

" Ya, bibi! Ada apa? " jawab Ariana.

" Kemarilah sebentar, nenek ingin bicara padamu! " kata bibi Amera.

Ariana berbalik dengan malas kemudian duduk dengan kasar disamping bibi Amera. Ia melipat tangannya sementara matanya menoleh ke arah lain. Bibi Amera menatapnya sambil menghela nafas. Lalu beranjak dengan alasan mencuci piring supaya mereka berdua bisa bicara lebih leluasa.

" Ariana... " Ny. Martha baru membuka mulut. Ariana menyela lebih dulu.
" Kalau nenek ingin bicara mengenai Keith lagi, maaf aku tidak tahu dan aku tidak bertemu dengannya. "

" Bukan. Nenek tidak membicarakan Keith tapi ini tentang mu! " Ny. Martha meluruskan.

" Aku?! Memangnya aku kenapa? Aku tidak merasa melakukan apapun yang bisa merugikan nenek. " ujar Ariana ketus.

" Memang tidak. Nenek hanya ingin minta maaf padamu! Nenek menyesal atas semua perlakuan nenek selama ini padamu! " tutur Ny. Martha dengan raut wajah sedih.

" Maaf? Menyesal? Permainan macam apa lagi yang nenek lakoni sekarang? Aku tidak tahu apa rencana nenek berikutnya. Tapi berapa kali nenek meminta maaf dan itu semua bohong!? Hanya pura-pura! " cecar Ariana dengan kesal. Ny. Martha mulai terisak.

Ariana kembali berkata,
" Nenek ingat, terakhir kali aku datang kerumah nenek dengan niat baik membawakan buah kesukaan nenek. Apa balasan yang nenek berikan untukku? Apa yang nenek katakan padaku? Apa nenek pikir itu tidak menyakitiku? Apa kata maaf dan menyesal saja cukup untuk mengobati sakit hatiku selama ini? Nenek tidak perlu berpura-pura seperti itu. Setidaknya aku masih menganggap dan mau memanggilmu nenek, itu sudah cukup! " Ariana lalu bangkit berjalan pergi meninggalkan neneknya yang sedih.

Diam-diam bibi Amera menguping dibelakang. Ia menarik Ariana saat ia hendak masuk ke kamarnya.

" Ariana, jangan terlalu keras terhadap nenekmu. Kali ini nenek bersungguh-sungguh. Nenek benar-benar telah menyadari kesalahannya. " tegur bibi Amera dengan lembut.

" Bibi, aku telah berusaha memaafkan semuanya tapi ia terus menipuku. Bukannya berkata baik, ia justru bersikap lebih kasar padaku. Aku ini siapa? Aku juga memiliki hati dan aku sudah cukup sabar selama ini. Berapa kali lagi dia harus berbohong dan berpura-pura seperti itu padaku?! " jawab Ariana.

" Setidaknya berikan nenekmu satu kesempatan lagi. Kali ini ia tidak bermain-main, Ariana. Lihatlah, nenekmu benar-benar menangis. Ia benar-benar menyesal. " ungkap bibi Amera. Ariana tak mau bilang apa-apa, ia masuk kekamarnya begitu saja.

Hanya bibi Amera yang kini berusaha menghibur Ny. Martha. Sebelumnya mereka memang sudah saling bicara. Ny. Martha juga mengutarakan penyesalannya tidak menjadi ibu yang baik untuknya. Bibi Amera menerima semua permintaan maaf ibunya itu dengan hati lapang. Ia bersyukur ibunya telah berubah. Ny. Martha pulang setelah supirnya datang menjemput.
Dengan pelan bibi Amera membuka pintu kamar Ariana. Ia melihat Ariana masih meringkuk diatas tempat tidurnya. Ia berjalan mendekat duduk didepannya sambil mengusap kepalanya.

" Bibi mengerti dengan kemarahanmu. Tetapi tidak baik menyimpan rasa sakit hati terlalu lama. Cobalah untuk melepaskan rasa sakit itu. Belajarlah untuk merelakan. Tidak ada luka yang tak bisa disembuhkan. Sakit hati juga ada penawarnya, yaitu memaafkan! " kata bibi Amera. Ariana hanya diam menatapnya.

" Nenekmu sudah tua. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi ia hidup didunia ini. Bisa jadi inilah kesempatan terakhirnya meminta maaf. Nenekmu tidak pernah terlihat begitu sedih, setelah kepergian orang tuamu. Orang tua mu juga pasti telah memaafkan nenekmu. Ariana, bukankah impianmu juga dapat berkumpul kembali bersama nenek, bibi dan semuanya disatu rumah? Mungkin inilah waktunya. Bibi hanya bisa mengingatkan, Jangan sampai kemarahan sesaat membuatmu menyesal selamanya. Bibi menyayangimu seperti anak sendiri. Bibi juga ingin melihatmu hidup bahagia. " bibi Amera melanjutkan ucapannya sambil tersenyum pada Ariana. Ariana memeluk bibinya dengan penuh haru.
----#----



Aku sedang memotret beberapa model bunga meja untuk di upload ke blog. Keith membantu menata bunga itu agar terlihat menarik. Gemerincing lonceng pintu berbunyi. Aku dan Keith menoleh ke arah pintu. Raut wajah kami yang tadinya ceria langsung berubah tegang.

" Nenek?! " seru Keith.
" Untuk apa nenek datang kemari? " tanya Keith dengan was-was.

Dengan perasaan gelisah Keith menatapku. Aku juga merasa demikian. Ny. Martha tidak menjawab pertanyaan Keith. Ia malah berjalan menghampiriku. Keith sudah was-was lebih dulu disampingku. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan neneknya padaku. Namun Ny. Martha malah meraih kedua tanganku. Ia menatapku.

" Edeline, nenek minta maaf padamu! Nenek telah bersikap tak baik padamu. Kau mau kan memaafkan nenek? " tutur Ny. Martha dengan kesungguhan.

Aku dan Keith saling memandang tidak menyangka kalau Ny. Martha datang untuk meminta maaf. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Ny. Martha lalu memelukku dengan hangat. Saat ia melepaskan pelukannya, ia kembali menarik tangan kananku dan tangan kanan Keith yang ia taruh diatas tanganku.

" Mulai sekarang, kalian akan terus bersama! Tidak ada yang akan memisahkan kalian lagi, termasuk nenek! " ucap Ny. Martha dengan senyuman.

Aku dan Keith juga tersenyum lebar. Hati kami yang diliputi kegelisahan tadi, kini menjadi amat lega. Kami berdua langsung memeluk nenek sambil berbisik, " terima kasih, nenek! ". Ny. Martha sampai tertawa bahagia. Ronan pun ikut bertepuk tangan.
Ny. Martha hanya melihat-lihat sebentar. Rupanya ia juga sangat menyukai bunga. Sebelum ia pergi aku memberikannya seikat bunga mawar berwarna peach yang berarti terima kasih.


Sore itu toko sudah mau ditutup. Semua sibuk berkemas. Ariana datang. Wajahnya tidak ceria seperti biasa. Ia menatap kami semua bergantian.

" Ariana.. Kau mau membeli bunga? " tanya Ronan dengan semangat.

" Tidak. " jawabnya. Ia berjalan menghampiri Keith.

" Bolehkah aku pulang denganmu? Kali ini saja! " pinta Ariana memelas.

Keith menatapku, aku mengangguk dengan cepat.
" Oke. Tunggu sebentar ya! " kata Keith. Ariana mengangguk.

Tidak seperti biasanya, aku menangkap kegundahan diwajah Ariana. Sepertinya sedang ada masalah. Begitu Keith dan Ariana pergi, Ronan menghampiriku.

" Kakak, kau tidak cemburu kakak Keith pergi bersama Ariana? " tanya Ronan.

Aku memandangnya dengan lucu.
" Aku yang cemburu atau kau yang cemburu? " godaku.

" Kakak mengejekku lagi. " sungut Ronan. Ia masih menunggu dengan penasaran.

" Jangan khawatir. Keith dan Ariana itu saudara cuma beda ayah, ya saudara tiri. " jelasku.

" Oh.. Aku mengerti. Pantas kakak tenang saja. Ya sudah aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, kakak! " pamit Ronan yang pergi dengan langkah santai. Aku tersenyum dengan tingkahnya yang lucu.


****


Keith dan Ariana duduk dibangku tepi jembatan. Ariana telah menceritakan semuanya. Ia meminta pendapat Keith sebab ia sendiri begitu gundah.

" Kau gadis yang baik. Lupakanlah semua sakit hatimu. Kemudian mulai kembali dengan kehidupan yang baru. Sebelumnya aku juga sama sepertimu. Aku justru membutuhkan lebih banyak keberanian untuk pergi menemui ayahku lagi. Sekarang nenek sudah menyadari kesalahannya, ia sudah minta maaf padamu maka maafkanlah dia. Sakit hatimu pun akan sembuh seiring waktu. " Keith menasehati. Ia juga menceritakan kedatangan Ny. Martha ke toko bunga tadi pagi pada Ariana. Untuk meyakinkan padanya kalau Ny. Martha benar-benar berubah.

" Aku akan kembali memikirkannya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan menemaniku disini. " ucap Ariana.

" Tentu saja aku akan berusaha ada ketika kau butuh. Karna aku ini kakakmu! " balas Keith sambil merangkul pundak Ariana. Ariana melepaskan rangkulan tangan Keith.
" Ngomong-ngomong aku sudah lama tidak melihatmu membeli bunga untuk persembahan kuil. Apa kau sudah tidak kesana? " tanya Keith.

" Aku tidak punya waktu. Setelah pindah tempat kerja jadi sering pulang malam. Kebetulan saja hari ini pulang cepat karna kehabisan bahan. " jawab Ariana.

" Oohh.. Lalu bagaimana dengan pemuda yang kau sukai, yang dulu sering kau doakan?! Aku penasaran! Sebagai kakak aku tentu harus tahu seperti apa pemuda itu. " tanya Keith yang tiba-tiba teringat.

Ariana agak sulit menjawabnya. Ia tidak tahu mau berkata terus terang atau berbohong. Tapi jika dipikir lagi justru merasa lucu. Ia menarik nafas sambil menatap jauh ke depan.
" Sebenarnya..... dia sudah bersama seseorang. Aku bisa melihat betapa ia mencintai wanitanya ketika aku melihatnya.....dirumah sakit hari itu. Ternyata takdir berkata lain. " ungkap Ariana dengan pelan. 

Sementara Keith mengerutkan kening.
" Maksudmu? "

" Kau mau tahu yang sebenarnya? Orang yang ku sukai dulu ternyata kakak tiri ku sekarang. Ah, jangan khawatir. Aku akan jadi adik yang manis. Ku rasa perasaan itu juga sudah memudar, aku terbiasa dengan sosok seorang kakak yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Ya sepertinya itu juga anugerah. Terima kasih, kakak! " jelas Ariana dengan senyuman tulus. Keith juga dapat tersenyum lega.

" Aku mau pulang. Tapi sendiri. Aku ingin berpikir sendiri. " ujar Ariana.

" Bukan berpikir tentang aku kan?! " goda Keith.

" Bukan. Aku tidak akan melawan takdir. Kakak, fokus saja pada gadis pemilik toko bunga itu. Supaya aku bisa segera memiliki kakak ipar dan mendapat bunga gratis. " jawab Ariana sambil tertawa mengejek. Ia sudah berjalan meinggalkan Keith.

" Dasar! Hati-hati ya! " pesan Keith.
Ariana mengacungkan jempolnya.



Pintu rumah dibuka, Ny. Martha melihat Ariana berdiri disana. Ariana menyodorkan sebuah kotak berisi aneka kue padanya.

" Aku tidak tahu mana yang nenek suka. Aku memilih yang tidak terlalu manis. " kata Ariana dengan perasaan bimbang takut ditolak seperti yang pernah terjadi.

Ny. Martha tersenyum kemudian tanpa berkata apa-apa memeluknya.

" Terima kasih, cucuku. Ayo masuklah kita makan sama-sama! " ajak Ny. Martha sambil merangkulnya dengan hangat. Ariana tersenyum lega dan mengangguk.



Dirumah Keith bercerita tentang kedatangan Ny. Martha pada Henoch. Ia merasa amat lega sekarang karna masalahnya telah selesai. Ia juga bercerita mengenai Ariana yang saat ini mulai ia cemaskan. Henoch menghiburnya dengan sebuah keyakinan, " Semuanya pasti akan baik-baik saja, nak! Kalian akan kembali berkumpul kembali sebagai satu keluarga! ". Keith meyakini ucapan ayahnya.
Merasa tak ada keperluan lagi dikota ini, Henoch mengutarakan keinginannya untuk pulang kembali ke desa. Awalnya Keith tidak setuju ia memaksa Henoch untuk tinggal lebih lama. Tapi Henoch sangat keras kepala, setelah ber-argumen sebentar, Keith hanya bisa menahannya tinggal sehari lagi disini. Ya, setidaknya supaya ia bisa mengantar ayahnya pulang sebab tidak kerja. Ia mengerti disini ayahnya tidak punya teman bicara jika ia bekerja. Kalau didesa ia masih bisa mengobrol dengan tetangga atau mengurus kebun kecilnya.
----#----




Aku baru saja membuka toko, Ariana datang dengan wajah gembira.

" Pagi, kakak Edeline! Apa kakakku ada? " tanya Ariana dengan semangat.

" Keith belum datang! " jawabku.

" Oh.. " gumam Ariana dengan bibir maju kedepan.

" Ada apa? Sampai-sampai kau datang pagi begini? Kalau mau menunggu sebentar lagi ia pasti datang. " kataku.

Benar saja belum sempat Ariana menjawab Keith sudah masuk ke toko.
" Loh Ariana, ada masalah apa? " tanya Keith dengan wajah cemas.

" Tidak ada. Sebenarnya aku datang untuk menyampaikan sesuatu. Malam ini nenek mengundang kakak, kakak Edeline, dan paman Henoch untuk makan malam dirumahnya! Jadi kalian harus datang ya! " Ariana mengumumkan dengan semangat.

" Ah kau ini, aku kira ada masalah apa, ternyata hanya itu. Ada lagi? " tanya Keith yang awalnya cemas jadi tenang.

" Ee..em.. " Ariana menggeleng kekiri dan kanan. " Jangan lupa ya, harus datang! Kakak ajak paman Henoch ya! Aku belum pernah melihatnya. " pinta Ariana.

" Iya.. Iya.. Kami pasti datang! Kau juga di undang kan?! " tanya Keith dengan tatapan menggoda.

" Tentu saja! Baiklah, aku harus pergi bekerja. Makanya aku datang pagi-pagi. Sampai jumpa nanti malam. Bye.... " pamit Ariana sambil berjalan ke pintu.

Ia masih melambaikan tangan padaku dan Keith. Begitu ia menarik pintu untuk keluar Ronan yang juga memegang gangang pintu hendak masuk ikut ditarik kedalam. Untungnya tidak jatuh hanya kepalanya membentur dahi Ariana. 

" Aduh... Kenapa tidak melihat jalan sih? " gerutu Ariana sambil memegang dahinya yang sakit.

" Maaf.. Maaf... Aku tidak tahu kau dibalik pintu sana. " jawab Ronan.

" Ya sudahlah. " teriak Ariana yang berlalu dengan cepat begitu saja.

Aku dan Keith menertawainya. Ronan sendiri kebingungan.
" Dia kenapa sih? Kepalaku juga sakit kali. " katanya seorang diri.


****


Aku sedang berdiri didepan cermin memeriksa penampilanku. Aku mengenakan gaun selutut berwarna biru pastel. Tidak terlalu formal tapi cukup sopan. Begitu siap aku keluar dari kamar menunggu Keith datang. Ternyata diluar ada Celine, Hans dan Libelle. Ia datang untuk mengajak kami makan diluar karna mama memberitahunya aku punya acara jadi mama sendiri yang pergi.

" Bagaimana pendapat kakak? Apa aku terlihat aneh? " tanyaku pada Celine.

" Tidak. Kau cantik tapi kau mau pergi kemana? Mama tidak memberitahuku acara apa yang kau hadiri. " jawab Celine.

" Hanya acara makan malam dirumah nenek Keith. " jawabku.

" Oh ya?! Jadi semuanya sudah kembali normal? " tanya Celine.

Aku mengangguk.
" Oh syukurlah! " ujar Celine penuh syukur. Ia kembali menatapku kemudian menarikku duduk ke kursi. Jarinya mulai merapikan rambutku yang tergerai. Ia membuat kepangan kecil disisi kanan dan kiri kemudian menyatukannya dengan semua rambut mengepangnya kembali sampai ke bahu.

" Nah sekarang lebih baik. " puji Celine.

Aku tidak tahu seperti apa rambutku. Aku harus kembali ke kamar untuk melihatnya dicermin namun Celine menahanku. Tepat saat Keith datang. Celine meyakinkan kalau penampilanku oke. Keith masuk dan ia tertegun menatapku. Aku bingung.

" Ada yang aneh? " tanyaku.

" Tidak. Kau sangat....sempurna! Kau siap? " jawab Keith terkagum-kagum.

" Ya. " ujarku.

Keith mempersilahkanku jalan lebih dulu. Ia berpamitan dengan mama dan Celine. Celine berpesan, " Aku percayakan Edeline padamu! ".
Keith mengangguk pasti.
" Aku akan menjaganya! " janjinya.

Keith membukakan pintu mobil untukku.
" Bukankah ini mobil nenek? " tanyaku.

" Iya. Aku meminjamnya untuk membawa ayahku ke rumah nenek! Dan juga menjemput permaisuriku! " jawab Keith sedikit merayu.

Aku masuk sambil menahan tawa. Keith pun sudah berada dibalik kemudi. Mobil melaju dengan pelan.

" Aku tidak tahu kau bisa mengemudi. " kataku.

" Ya, dulu ayahmu yang mengajariku. Hanya sekarang tidak ada keperluan yang harus membuatku mengemudi sendiri. Aku tetap lebih suka sepedaku, karna tidak mungkin kan membawa wanita cantik ini dengan sepeda butut. " jelas Keith sambil menggombal.

" Kau jadi pandai merayu sekarang. " ejekku.

" Aku tidak merayu. Kau memang cantik sekali, Edeline! Aku tidak pernah melihat penampilanmu seperti ini sebelumnya. " puji Keith yang membuatku tersipu malu.

Mobil memasuki halaman rumah Ny. Martha. Keith keluar membukakan pintu untukku. " Trims. " balasku. Dia merangkul pinggangku mengajakku masuk kedalam rumah Ny. Martha. Di ruang keluarga sudah ada Ny. Martha, Ariana, bibi Amera, dan paman Henoch. Aku menyapa mereka satu per satu dan berkenalan dengan bibi Amera. Ariana nampak sudah akrab dengan paman Henoch.

" Wow.... Kakak Edeline sangat cantik! " puji Ariana kagum.

" Trims. Kau juga cantik, Ariana! " balasku. Ya Ariana terlihat sangat anggun dengan balutan gaun pink lembut malam ini.

" Terima kasih! " sahut Ariana juga.

" Aku kira ini bukan acara formal tapi kalian berpakaian seperti hendak menghadiri pesta para menteri saja. " gurau Ny. Martha karna ia sendiri begitu santai. Semua tertawa.

" Menurutku ini juga acara yang penting. Karna ini pertama kalinya kita semua dapat berkumpul seperti ini. Dengan wajah tersenyum dan dengan perasaan bahagia. Bukankah begitu, ibu? " bibi Amera berkata.

" Iya kau benar, Amera. Aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan kalian. Terutama dirimu, Henoch! Terima kasih telah membuka pikiranku. Hanya kalianlah yang aku miliki sekarang. Terima kasih kalian telah memaafkanku. Aku menyayangi kalian semua! " tutur Ny. Martha dengan tulus yang disambut pelukan dari Ariana dan Keith.

" Kami juga menyayangi nenek! " ucap keduanya. Ciara datang memberitahukan bahwa makanan telah siap.

" Ya sudah, ayo jangan banyak bicara lagi. Mari kita ke meja makan! " ajak Ny. Martha pada semuanya.
Di meja makan pun semuanya masih senang bersenda gurau. Usai makan malam kami masih berkumpul hingga larut malam. 


****


Keith memberitahuku kalau paman Henoch akan pulang hari minggu. Aku ingin ikut mengantar. Keith setuju. Ia menjemputku pagi-pagi. Awalnya kami ingin mengantar sampai ke desa, namun paman Henoch terus menolak dan bersikeras untuk diantar sampai stasiun saja. Kami pun mengalah.

" Mungkin aku baru akan kembali untuk melihat kalian menikah! " jawab paman Henoch saat ku tanya kapan ke kota lagi.

" Itu pasti masih lama. " aku menimpali. Paman Henoch tertawa lebar. Dan melambaikan tangan untuk pergi saat kereta tujuannya datang.

" Ini hari minggu. Sejak pertama pacaran kita belum pernah berkencan. Bagaimana kalau hari ini kita pergi berkencan? " tanya Keith.

" Apa kita tidak terlalu tua untuk berkencan? " tanyaku sambil tertawa.

" Hey, Aku masih merasa muda! " protes Keith.

Ia menarik tanganku. Mengajakku jalan-jalan sambil terus menggandeng tanganku dengan erat. Tak pernah ia lepaskan meski sedetik. Kami berlarian mengejar burung. Ia membelikanku es krim dan gula kapas. Aku merasa seperti gadis remaja yang baru merasakan cinta. Begitulah kencan pertama yang menyenangkan bersama Keith.



Hari-hari telah berlalu dengan cepat. Hubungan antara keluarga Keith juga semakin baik. Aku juga sering mengunjungi Ny. Martha dirumahnya bersama Keith. Sesekali ku bawakan bunga untuknya. Ny. Martha sangat suka menaruh bunga-bunga itu diruang duduk. Aku juga baru tahu ada taman bunga disamping rumahnya.
Tentang Ariana, ia sudah berhenti dari pekerjaannya. Sekarang Ny. Martha membimbingnya mengelola usaha Luiga Cloth & Textile yang kelak akan diteruskan olehnya. Meski kadang Ny. Martha agak keras dan galak mengajar tapi Ny. Martha tetap menyayanginya. Ia juga punya lebih banyak waktu ke toko bunga. Hubungannya dengan Ronan perlahan mulai dekat. Malah kadang Ronan mengantarnya pulang atau menemaninya ke kuil.
Sore ini Keith mengajakku jalan-jalan ke teluk. Sudah lama sekali kami tidak kesana. Kami berdiri ditepi jembatan. Keith meminta ijin untuk pergi sebentar membeli sesuatu. Aku membiarkannya pergi. Aku menatap jauh kedepan. Tak terasa sudah berjalan begitu jauh meninggalkan kenangan. Sekarang aku justru bisa mengenang kembali semua itu dengan wajah tersenyum. Kisah dalam cerita lalu telah selesai. Ray telah menemukan kehidupan barunya. Dan sekarang giliranku menulis kisahku yang baru.
Keith datang sambil memegang gula kapas dan tiga buah balon bentuk hati yang melayang.

" Ini untukmu! " katanya sambil menyodorkan tiga buah balon itu. Aku mengambilnya.
" Dan ini untukku! " lanjutnya sembari mencubit secuil gula kapas yang dimasukkan kemulutnya dengan cuek.

Aku cemburut dan menatap balon itu dengan bingung. Ada tulisan disisi lain balon itu. Ku coba membacanya. Balon pertama tertulis " I love you" . Balon kedua 
tertulis " You're my heart blossoms! ". Dan yang ketiga tertulis " Edeline, will you marry me? ". Aku terdiam melongo. Kemudian menatap Keith yang cuek saja menikmati gulali itu sendiri. Aku mengacungkan balon itu ke depannya.

" Cuma begini? " tanyaku.

" Ya! " jawab Keith sambil menatapku.

Aku menyengir dengan kecewa, heran sekaligus bingung. Cobalah dimana sisi romantisnya? Pikirku. Aku bahkan tak mengerti maksudnya. Apa itu sebuah pertanyaan atau lelucon. Aku pun dengan sengaja melepas balon-balon itu ke udara. Balon-balon itu melayang tinggi dengan cepat. Keith baru kelabakan.

" Hei, balonku..... Apa yang kau lakukan? " tanya Keith.

" Aku juga tidak mengerti apa yang kau lakukan? " jawabku cuek.

" Aku melamarmu! Arrghh.. Cincinku! Gaji tiga bulanku! Melayang sudah! " ratap Keith pada balon-balon yang terbang jauh itu.

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
" Aku tidak tahu ada cincin disana! " kataku dengan perasaan bersalah.

" Aku menyembunyikannya diujung tali balon terakhir! Sekarang itu sudah hilang. " sahut Keith. Ia kembali memasukkan gula kapas kedalam mulutnya dengan tenang.

" Kenapa kau tidak bilang! Dasar bodoh! Sekarang bagaimana mengambil balon-balon itu! Kenapa kau tenang saja? " teriakku agak kesal.

" Kalau sudah terbang begitu ya sudah, memangnya aku harus bagaimana? " jawab Keith ia membuang sisa gula kapasnya. Kemudian meraih tanganku.
" Yang terpenting adalah aku tidak kehilangan jawabanmu! Cincin itu hanya sebuah benda masih bisa diganti. Sekarang aku ingin bertanya dengan sungguh-sungguh. Edeline, maukah kau menikah denganku? " Keith berbicara dengan serius. Matanya menatapku dengan berbinar-binar.

" A...apa ini tidak terlalu cepat? " tanyaku.

" Kita sudah lama berteman akrab. Kau mengenalku dengan baik. Aku juga mencintaimu sejak lama. Maka menurutku tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Aku ingin terus bersamamu. Jadi bersediakah kau menikah denganku? " ungkap Keith dan ia mengulangi pertanyaannya dengan lembut.

" Iya, aku bersedia! " jawabku mantap.

Keith langsung memelukku dan mengecup keningku.
" Trims. " bisiknya.

" Mmm.. Maaf soal cincinmu! " ucapku masih merasa bersalah.

" Tidak apa-apa! Aku akan berikan lagi yang lebih bagus. " jawab Keith lebih erat memelukku.

" Jadi kau mengajakku kesini hanya untuk melamarku? " tanyaku.

" Aku tahu kau memiliki kenangan yang tak kau suka disini. Tidak peduli seperti apa dan bersama siapa. Aku hanya berharap kesedihanmu ditempat ini berganti menjadi kebahagiaan ketika kau mengingat moment indah kita di sore ini. Mungkin kau akan kembali menyukai tempat ini! " terang Keith.

Aku tersenyum.
" Aku pasti akan bahagia mengingat moment ini. Disini, diatas jembatan ini, bersamamu! Terima kasih, Keith! " ucapku.

" Apapun untuk senyummu, bungaku! Teruslah mekar dihatiku! " balas Keith dengan lembut.

Benar, Setiap senja pasti menyisakan keindahan. Langit yang gelap pun tidak selalu meninggalkan kenangan buruk. Akan selalu ada senyuman diantara bintang yang bersinar terang.



Singkat cerita, tidak ada yang terkejut mendengar rencana pernikahan kami. Semua keluarga ku maupun keluarga Keith justru memberi dukungan walau kami tidak lama pacaran. Setelah melakukan persiapan selama dua bulan. Hari yang ditentukan tak terasa semakin dekat. Ny. Martha menginginkan pesta dibuat dengan meriah. Tapi Keith lebih suka acara yang sederhana. Jadi hanya keluarga dan teman dekat saja yang diundang. Aku juga mengirimkan undangan untuk Ray. Semua persiapan berjalan lancar. Paman Henoch datang ke kota dua hari lebih cepat.
Akhirnya.... pagi itu dihari yang paling istimewa itu, sekali dalam hidupku aku berjalan dalam balutan gaun putih menuju ke depan altar dimana Keith menunggu. Ia mengulurkan tangannya, menyambutku dengan senyuman paling menawan yang pernah ku lihat. Ketika saling melingkarkan cincin dijari manis, saat itu juga sebuah ikatan janji telah kami ucapkan dihadapan sang pendeta. Keith menciumku dan semua yang menyaksikan bertepuk tangan. Aku dan Keith tertawa bahagia.
Sebagai hadiah bulan madu Ny. Martha yang sekarang nenekku memberikan dua tiket berlibur ke luar negeri. Katanya sebagai pengganti pesta yang meriah. Ya, aku dan Keith juga tak bisa menolak. Keesokan harinya kami menggunakan tiket itu. Rupanya tidak kami berdua saja yang berlibur. Diam-diam nenek, Ariana, bibi, dan paman Henoch yang sekarang jadi ayah mertuaku juga berlibur ke negari yang sama. Meski menginap dihotel yang sama, mereka sama sekali tidak mengganggu kebersamaan kami. Justru aku dan Keith yang mengajak mereka jalan bersama.
Yah seperti itulah, kehidupan baruku baru dimulai. Sekembali dari berlibur, aku menerima banyak kartu ucapan selamat dari pelangganku yang dikirim ke toko. Salah satunya datang dari Ray. Aku membuka kartu berwarna cream itu.

Dear Edeline,
Selamat menempuh hidup baru untukmu! Maaf aku tidak bisa hadir. Aku hanya bisa mengirimkan doa dari sini, semoga kebahagiaan senantiasa hadir dalam kehidupanmu yang baru! Oh ya, Joana menitipkan salam rindunya untukmu!
-Ray-

Aku menutup kembali kartu itu dan tersenyum. ' Joana. ' gumamku mengingat anak itu. Keith datang mendekapku dari belakang pundakku.

" Hmm.. Banyak sekali fansmu! " goda Keith.

" Ini dari pelanggan toko bunga. Dan dari seorang yang pernah memberiku mawar kuning! " terangku sambil menyodorkan kartu-kartu itu. Tapi Keith tidak mengambilnya. Ia justru mendekapku lebih erat.

" Aku lebih suka diam memelukmu dari pada menghabiskan waktu membuka kartu itu satu per satu! " bisik Keith dengan pelan. Aku tersenyum.

Usai tutup toko Keith mengajakku jalan-jalan ke teluk. Kami berdiri ditepi jembatan sambil menikmati gula kapas. Aku jadi teringat kejadian cincin yang 'melayang' itu. Jujur sampai sekarang aku masih merasa tak enak.

" Keith, sebenarnya aku masih terus kepikiran cincin yang 'melayang' itu. Aku benar-benar tidak enak. Aku minta maaf ya! " sesalku.

" Sudahlah tidak apa-apa. Jangan terus dipikirkan. Lagi pula itu hanya cincin murahan. " sahut Keith enteng.

" Maksudmu? Bukannya kau bilang itu gaji tiga bulanmu? " tanyaku tak mengerti.

Keith tertawa keras.
" Sebenarnya itu cincin imitasi yang ku beli dipinggir jalan. Ku pikir modelnya sangat bagus dan murah jadi iseng-iseng membelinya. Tapi aku serius dengan balon-balon itu. " terang Keith.

" Apa?? Pantas kau tenang saja saat cincin itu melayang! Ternyata.... Tega sekali baru memberitahuku sekarang. Padahal aku terus memikirkannya. " kataku dengan sebal. Lalu mencubit potongan besar gula kapas dan memasukkan paksa ke mulut Keith.

" Makan ini! " paksaku dengan geram.

Keith dengan senang membuka mulutnya menerima suapanku. Menelan dan membuka mulut lagi.
" Akkk.. Sudah hilang. " ejeknya. Aku suapi gula kapas besar lagi dan Keith mengulanginya lagi dengan gaya yang lucu. Sampai aku juga tertawa.

" Aku senang melihatmu bahagia. Teruslah mekar seperti itu, my heart blossoms! I love you, Edeline! " ucap Keith dengan lembut kemudian mengecup keningku.
Keith mendekapku dalam pelukan, menikmati matahari terbenam pertama di awal kehidupan baru kami.


****


Kebahagiaan tidak pernah meninggalkan siapapun. Kenangan indah hanya sekejap mata namun yang pergi membekas dihati. Meski sering jatuh dan tersandung masa lalu, asal masih memiliki harapan dan semangat untuk bangkit maka kau bisa merelakannya. Bunga yang layu tidak pernah mati, ia akan mekar kembali ditangkai yang lain. Kenangan tidak akan hilang dari ingatan jika terus mengingatnya. Bukan melupakan karna itu mustahil tapi merelakan bahwa semua telah berakhir. Tetaplah mekar sebagai dirimu sendiri. Sebab selalu ada seseorang yang diam-diam menatapmu dari jauh saat hatimu masih terlelap. Dan pada akhirnya waktu-lah yang akan menyembuhkan semua lukamu.
-Elisabeth-




Heart Blossoms 1-6

*The End*

❁❁Terima kasih telah mengikuti cerita ini. Sampai bertemu di fiksi selanjutnya. ┏(^0^)┛┗(^0^)┓

Fiksi: Heart Blossoms (chap.5) by Elisabeth

Keith masuk ke dalam kamar pasien dimana Edeline terbaring. Ia tidur dengan nyenyak sekali. Perasaan Keith sedikit lebih tenang. Ia duduk disamping tempat tidur Edeline. Menatapnya sambil menunggunya bangun. Ronan, mama Edeline dan Celine masuk ke dalam untuk melihat kondisi Edeline sebentar.

" Sekarang dia sedang tidur nyenyak. Ayo keluar, biarkan dia istirahat. " ajak mama Edeline pada semuanya untuk keluar dari kamar pasien.

" Nyonya Willen, bolehkan aku tetap disini menunggu Edeline? " tanya Keith meminta ijin.

" Tentu saja boleh. " jawab mama Edeline.
" Tapi kau juga jangan lupa istirahat ya! Oh kalau kau disini, aku dan Celine bisa pulang sebentar mengambil barang Edeline. Nanti sore aku kembali lagi. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Ini ponsel Edeline, kau bisa memakainya. " pesan mama Edeline sembari memberikan ponsel. Ia tahu pemuda itu tidak memakai ponsel.

" Baik. Terima kasih, nyonya Willen. " sahut Keith.
Ronan juga pamit pulang. Tinggal Keith sendiri dikamar pasien menunggu Edeline yang tertidur.

Mama Edeline sudah datang kembali membawa pakaian ganti untuk Edeline. Celine baru akan datang malam nanti. Keith masih duduk disamping tempat tidur Edeline. Ia baru keluar saat perawat datang memeriksa dan menggantikan pakaian Edeline. Perawat itu pergi setelah selesai. Mama Edeline juga keluar dari kamar duduk bersama Keith diluar.

" Dia belum bangun sejak tadi. Apa ia baik-baik saja? " tanya Keith lagi. Ia masih cemas.

" Tidak apa-apa, Keith. Kata dokter ia hanya sedang tidur. Entah apa yang ia pikirkan sampai bisa seperti ini. " kata mama Edeline beranggapan.

" Aku juga tidak tahu apa yang menjadi bebannya. Memang toko agak ramai tapi ku rasa itu bukan alasannya. Kemarin siang ia pergi meninggalkan toko tanpa mengatakan kemana ia pergi. " ungkap Keith.

" Ya. Ia pulang larut malam. Celine bilang ia kerumahnya sore itu sampai malam. Aku tidak khawatir jika benar demikian. " jelas mama Edeline.

" Aku tetap berharap ia baik-baik saja dan segera bangun dari tidurnya agar aku yakin ia benar-benar tidak apa-apa. " harap Keith dengan sangat.

" Dia pasti akan baik-baik saja. Jangan terlalu cemas. Sebaiknya kau juga pulang istirahat, Keith. Biar aku disini menunggu, Celine juga akan datang nanti malam. " usul mama Edeline.

" Tidak bisa, aku masih belum tenang. Nyonya Willen tidak keberatan kan, aku tetap disini? " tanya Keith.

" Tidak. Aku hanya tak ingin kau sampai lupa dengan kesehatanmu. Sepertinya kau sangat khawatir pada Edeline. " jawab mama Edeline sambil tersenyum.

" Aku hanya... " Keith nampak bingung bagaimana menjelaskannya.

" Tidak apa-apa. Aku memahami kekhawatiranmu. Aku tidak pernah menghalangimu. Aku percaya kau pemuda yang baik. " timpal mama Edeline dengan pengertian.

" Terima kasih, nyonya Willen! Aku pasti akan menjaga kepercayaan anda! " janji Keith.
----#----

Aku sedang bermimpi panjang. Aku merasakan kehangatan menjalar dari tanganku. Seseorang menggenggam tanganku. Siapa yang menggenggam tanganku? Aku mulai tersadar. Perlahan aku membuka mata, ruangan yang asing. Aku ada dimana? Dan siapa yang tertidur disampingku? Ia menggengam tanganku. Aku perhatikan wajah yang tertidur pulas itu. Dia Keith. Kenapa Keith disini? Dan kenapa aku disini? Dengan selang infus yang tertancap dilenganku.
Aku menggerakkan tanganku, Keith spontan terbangun oleh gerakan tanganku. Ia mengangkat kepalanya. Menatapku dengan penuh syukur.

" Edeline... Kau sudah bangun? " katanya pelan.

" Aku dimana? Aku tidak ingat. " tanyaku. Pandanganku masih agak kabur dengan ruangan yang bercahaya agak redup.

" Kau dirumah sakit. Kau pingsan karna kelelahan. Kau membuatku takut, Edeline. " jawab Keith. Ia menggenggam tanganku lebih erat.

Aku tertawa kecil.
" Pingsan karna kelelahan? Jadi aku sudah tidur berapa lama? Jam berapa sekarang? " tanyaku.

" Kau sudah tidur lebih dari 12 jam. Sekarang baru pukul 4 lewat, subuh hari. " jawab Keith dengan mata mengerjap-ngerjap. Wajahnya lebih tenang dari pada sebelumnya.

" Oohh... " gumamku. " Lalu apa hanya kau sendiri disini? " tanyaku sambil menatap ke sekeliling yang sepi.

" Mama dan kakakmu pulang hampir tengah malam, aku memaksa mereka pulang kerumah saja. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk mereka tidur. Lagi pula ada aku disini menjagamu. " jawab Keith sembari mengusap kepalaku.

" Jadi kau mencemaskanku? " aku masih menggodanya.

Keith tak menjawab. Sekarang aku melihat dengan jelas matanya berkaca-kaca. Aku mengusap pipinya. Dan ia meraih tanganku.
" Kenapa matamu memerah? " tanyaku berbisik. Aku agak kaget ia tak pernah terlihat begitu sedih.

" Aku sangat cemas padamu. Aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku sudah kehilangan seseorang yang belum sempat ku panggil 'ibu'. Aku tak ingin kehilangan lagi seseorang yang belum sempat aku katakan tentang perasaanku padanya. Edeline... " aku menghentikan ucapannya dengan jariku. Aku menatapnya cukup lama.

" Aku mencintaimu! " bisikku dengan pelan.

Keith kembali menggenggam tanganku, mengecupnya dengan lembut. Ia tersenyum sambil mengangguk.
" Aku mencintaimu! Sejak dulu, sebelum kau menyadarinya, sebelum kau jadi bosku! Aku sudah mencintaimu! " ucap Keith meski nampak bercanda sebenarnya ia bersungguh-sungguh.

Aku tertawa kecil.
" Kau selalu berlebihan! " ejekku.
" Kalau begitu akan ku rampas hatimu! " candaku.

" Kau memang sudah merampasnya. Edeline, mulai sekarang aku akan selalu menjagamu. Kau tidak boleh kelelahan dan kurang tidur lagi. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu kau harus mengatakannya padaku, oke!! " pinta Keith sambil mengelus rambutku.

" Akan aku usahakan! Jika beban pikiran itu bukan mengenai dirimu. " jawabku.

" Kenapa begitu? " tanya Keith tak mengerti.

" Keith, masa aku curhat tentang kamu dengan kamu?! " jawabku.

Keith menyipitkan mata.
" Aku tak paham. Pokoknya kau tidak boleh banyak berpikir. Demi Tuhan, kau membuatku sangat khawatir Edeline! " sahut Keith dengan kedua tangannya yang menggengam tanganku dengan erat.

" Aku sudah tidak apa-apa! " bisikku menenangkannya.

" Ya, Istirahatlah kembali! Aku akan tetap berada disini menjagamu! " balas Keith. Ia mengecup keningku tanpa sekali pun melepaskan tanganku. Ia menemaniku hingga aku terlelap kembali.

Aku tersadar oleh suara berisik didalam kamar. Aku tak tahu berapa lama aku tertidur tadi. Tidak tahu tepatnya apa hari masih pagi atau siang. Aku hanya melihat Keith didekat pintu bersama Ariana. Suara Ariana terdengar lebih nyaring dan tegas.

" Lihat bagaimana penampilanmu! Kau harus mandi dan ganti pakaianmu sekarang juga! Apa? Kau tidak menghargai kepedulianku sama sekali! " rutuk Ariana.

" Pelankan suaramu, Ariana. Nanti Edeline bisa terbangun! " tegur Keith perlahan.

" Keith?! " aku memanggil.

Keith langsung datang menghampiriku. Ariana mengikuti dibelakang. Ariana tersenyum padaku dan menyapa sekejap tapi aku mengabaikannya.

" Kau sudah bangun, Edeline?! Maaf, suara kami pasti mengganggu tidurmu! " kata Keith lembut.

" Tidak. Aku sudah cukup lama tidur. Apa mama belum datang? " tanyaku.

" Ini baru pukul 6.15 pagi, Edeline. Mama mu akan datang setengah jam lagi. Aku sudah meneleponnya tentang kondisimu. Jadi ia bisa lebih tenang. " Keith menjelaskan dengan senyuman lembut sambil menggenggam tanganku.

Aku perhatikan ada kelelahan dibalik senyumnya yang lembut. Pakaiannya nampak kusut, rambutnya juga agak berantakan. Aku menarik tanganku mengusap rambut Keith yang berantakan.

" Sudah berapa lama kau disini? Kau tidak pernah seberantakan seperti pagi ini. " ujarku.

" Aku sudah menyuruhmu mandi kan tadi!? Ini aku bawakan pakaian ganti. Dulu ini punya ayahku, semoga saja muat. Aku harus pergi bekerja. Jadi maaf tidak bisa lama-lama. " Ariana menimpali sambil menyodorkan paperbag pada Keith.

" Terima kasih! " ucap Keith.

" Aku pergi dulu. Semoga cepat sembuh ya, kakak Edeline! " kata Ariana. Aku tersenyum. Tak biasanya ia memanggilku kakak.

Dikamar hanya tinggal aku dan Keith. Ia duduk disisi ranjangku masih menggenggam tanganku.

" Aku boleh bertanya? " tanyaku.

" Tentu saja. Kau ingin bertanya apa, Edeline? " ujar Keith.

" Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Ariana? Kalian sangat dekat! " tanyaku. Pertanyaan yang sudah sangat mengganggu pikiranku sejak beberapa hari lalu.

" Oh, aku belum sempat bercerita padamu! Aku harap kau tidak berpikir yang bukan-bukan. Ariana dan aku lahir dari ibu yang sama namun beda ayah. Bisa dibilang dia itu adik tiriku. " tutur Keith. Ia mulai bercerita tentang keluarga yang baru ditemui nya kembali itu padaku.

" Ooo... Aku memang sudah salah paham sebelumnya. " tambahku.

" Jadi kau berpikir aku dan Ariana memiliki hubungan special?! " tebak Keith.

" Ya. Karna jelas sekali terlihat ia menyukaimu! " jawabku.

" Aku tidak tahu kalau itu. Tapi sekarang ia tidak punya alasan menyukaiku. Pertama, karna aku kakak tirinya dan kedua, hatiku sudah dirampas olehmu! " ujar Keith sambil bercanda. Lalu ia mengecup keningku. Tepat saat itu mama dan Celine masuk kedalam kamar.

" Uuwwww... Sepertinya kita datang diwaktu yang kurang tepat, Celine! " goda mama yang diikuti tawa Celine.

" Mama, kakak.... " sapaku. Aku menggerakkan badan untuk bangun. Keith membantuku.

" Pelan-pelan, Edeline! Kau baru sembuh! " kata Keith.

" Aku sudah sehat! Sekarang aku ingin mengusirmu! Kau sudah bau! " jawabku sambil mengejek.

Keith tertawa. Ia mengeluarkan ponselku dari saku celananya dan mengembalikannya padaku. Ia bilang,
" Mama mu meminjamkannya padaku untuk menghubunginya bila terjadi sesuatu padamu. Aku tidak mengutak-atik apapun isi yang ada didalamnya. "

Aku tersenyum saja, ia begitu jujur.
" Kau harusnya memiliki ponsel juga supaya aku lebih mudah menghubungimu. " kataku.

" Aku tidak suka harus membawa benda ini kemana-mana. Ya.. Mungkin aku perlu satu untuk ditaruh dirumah. " ujar Keith sambil tertawa.

Usai berbasa-basi sebentar, akhirnya ia pamit padaku, pada mama dan Celine. Saat Keith pergi aku langsung mengutarakan keinginanku untuk pulang. Aku merasa sudah sangat sehat. Aku tidak suka rumah sakit. Apalagi tahu toko bunga ku tutup, aku lebih tidak betah.

Aku sudah bersiap untuk pulang. Mama sedang mengemasi barangku yang tersisa dikamar pasien. Keith belum kembali. Celine pergi menyelesaikan biaya administrasi.

----#----
Keith sudah rapi dan wajahnya lebih segar. Ia baru akan kembali ke rumah sakit. Saat sebuah mobil yang tak asing berhenti didepan rumahnya. Ciara keluar dari mobil.

" Tuan muda, maaf menganggu! Anda harus segera ikut kami! Ini.... tentang nenek anda! " kata Ciara dengan sopan.
Dengan perasaan bimbang, akhirnya Keith masuk kedalam mobil. Ia tidak ingin meninggalkan Edeline, tapi juga tak bisa mengabaikan neneknya yang kata Ciara sedang sakit.

" Ciara, apa kau punya ponsel? " tanya Keith.

Ciara mengangguk lalu menyodorkan ponselnya pada Keith.
----#----

Celine kembali setelah urusan pembayaran selesai.
" Edeline, Keith bilang ia tidak bisa datang. Aku sudah memberitahunya kalau kau akan pulang jadi ia akan menemuimu nanti dirumah. " kata Celine padaku.

" Apa ia bertemu kakak? " tanyaku.

" Tidak, ia meneleponku barusan. " jawab Celine.

" Ia pasti sangat lelah. Kasihan anak itu. Selama kau tak sadarkan diri ia terus menunggumu disini! Ia bersikeras menunggumu terus sampai kau bangun. Mama masih ingat betapa khawatirnya dia! Sekarang ia dapat tidur dengan nyenyak! " mama menimpali.
Aku hanya diam saja mendengar ucapan mama. Namun terus memikirkannya. Sepertinya Keith sungguh-sungguh mencintaiku.

----#----
Mobil yang membawa Keith tiba dirumah kediaman Ny. Martha. Ciara menuntun Keith menemui Ny. Martha. Mereka berhenti didepan sebuah kamar. Ciara membawa Keith masuk ketengah ruangan kamar yang cukup besar dengan perabot kayu yang mahal. Ny. Martha berbaring diatas ranjang sedang tidur.

" Sejak kemarin nenek terus memanggil nama tuan muda! Ia terus bertanya tentang anda. Maaf, jika aku lancang membawa tuan muda kemari! Aku hanya khawatir dengan kondisi kesehatan nenek. " tutur Ciara.

" Tidak apa-apa. Aku mengerti. " sahut Keith.

Ny. Martha yang setengah sadar mengigau memanggil nama Keith beberapa kali. Keith mendekatI sisi ranjang. Ciara pamit undur diri. Meninggalkan Keith dan neneknya.

" Nenek, aku disini! " panggil Keith.

" Keith... Keith.. Cucu nenek.. Itu kau?! " tanya Ny. Martha matanya mengerjap-ngerjap.

" Iya, nenek. Ini aku! Aku disini, nenek bangunlah! " ujar Keith pelan.

Ny. Martha tersadar sepenuhnya. Dengan sesekali masih mengerjapkan matanya. Ia memegang pipi Keith.
" Oh cucuku, kau benar-benar disini! " katanya dengan suara parau.

" Iya, nenek! " jawab Keith dengan pelan.

Ny. Martha mengangkat tubuhnya hendak bangun. Keith membantunya duduk bersandar pada bantal. Keith juga membantu Ciara memberikan obat untuk diminum. Setelah itu Ny. Martha dan Keith mengobrol. Wajah Ny. Martha yang tadinya pucat lebih ceria melihat Keith disana.

" Aku minta maaf jika karna perkataanku waktu itu membuat nenek jadi sakit seperti ini. " kata Keith menyesal.

" Tidak. Nenek sudah tua. Penyakit memang lebih mudah datang di tubuh yang sudah renta ini! Nenek masih berharap kau menuruti keinginan nenek! " ujar Ny. Martha.

" Nenek, aku tidak akan mengambil hak orang lain yang bukan milikku! Aku lebih suka mendapatkan sesuatu dari hasil jerih payahku sendiri. " sahut Keith.

" Kau tetap menolaknya meskipun ini permintaan nenek yang sedang sakit? " tanya Ny. Martha.

" Nenek harusnya lebih menghargai kesehatan, jangan hal sepele seperti ini malah membuat kesehatan nenek memburuk. Tolong jangan terus memaksaku, nek. Usaha itu milik Ariana! " pinta Keith.

" Ah, anak itu tidak ada harapan! " desah Ny. Martha sambil menarik nafas.

" Ada harapan bila nenek memberikan kesempatan. Nenek tidak pernah tahu kemampuan Ariana, bagaimana nenek yakin ia pasti gagal? Aku juga bukan orang yang pandai, pendidikanku malah jauh dibawah Ariana. Bagaimana nenek yakin aku akan berhasil? Nenek, tolong jangan perlakukan aku dan Ariana dengan sangat berbeda. Ariana juga cucu nenek. Jika bukan karna Ariana membawaku kemari, aku juga tidak akan pernah bertemu nenek. " Keith memohon.

Ny. Martha menarik nafas dengan panjang. Memasang tampang wajah cemberut. Enggan mengakui kalau ia menyerah pada Keith. Keith memang tak bisa dibujuk.

" Sebaiknya nenek kembali beristirahat. Sebenarnya aku juga tak suka melihat nenek sakit. Nenek harus cepat sembuh. " bujuk Keith.

" Nenek sudah berbaring terlalu lama. Tidur saja tidak akan membuat pikiran nenek jernih. Maukah kau menemani nenek jalan-jalan ditaman sebentar? " pinta Ny. Martha yang memohon.

" Tapi bukankah harusnya nenek istirahat?! Nenek baru minum obat! " ujar Keith.

" Nenek juga butuh udara segar agar cepat pulih. Nenek sangat bosan dua hari ini dikamar tidur terus! " balas Ny. Martha.

" Baiklah. " Keith memenuhi keinginan neneknya.

Keith mendorong neneknya yang duduk dikursi roda berjalan ditaman sekitar rumah. Rumah Ny. Martha memang memiliki taman bunga yang cukup luas. Ciara juga ikut bersama mereka.
Ny. Martha meminta Keith untuk melewati waktu makan malam bersama. Ny. Martha terus menahan Keith untuk tetap berada disisinya. Keith tak bisa menolak karna demi kesehatannya. Hingga hari telah malam pun ia masih membujuk Keith untuk tinggal, tapi Keith menolak. Setelah berjanji ia akan datang lagi besok Ny. Martha baru membiarkannya pulang tentu saja di antar supir. Karna sudah terlalu malam Keith pun tak bisa menemui Edeline.
----#----

Aku duduk diteras balkon. Menunggu. Tiba-tiba mama datang.

" Kenapa masih disini, Edeline? Ini sudah malam! Kau baru sembuh, jangan tidur terlalu larut. " mama menasehati.

" Sebentar lagi aku tidur, ma! " jawabku.

" Sudah terlalu malam, dia tidak mungkin datang! Dia pasti istirahat karna lelah dan kurang tidur. Sekarang kau tidur ya! Dia pasti akan datang besok! " bujuk mama dengan lembut. Aku mengangguk dan langsung ke kamar.

****

Aku berjalan dengan terburu-buru. Melewati mama yang menikmati sarapan paginya di meja makan. Meraih sepatu ku dan melemparnya ke depan pintu.

" Kau mau pergi kemana pagi-pagi begini, Edeline? Kau harus sarapan! " tanya mama dengan heran.

" Aku terburu-buru, mama! Aku sudah kesiangan untuk ke toko! " jawabku sambil mengenakan sepatu.

" Toko?! Ini kan hari minggu! Apa kau akan buka toko di hari minggu? " kata mama yang sekarang kebingungan.

" Hah?? Hari minggu? " aku langsung mengeluarkan ponselku dan melihat tanggal hari ini. Aku menepuk keningku sendiri.
" Aku tidak perhatikan! " kataku malu ternyata aku salah hari.

Mama hanya tertawa.
" Ayo sini sarapan dulu! Ingat kau baru pulih! Jangan sampai kelelahan lagi! " mama mengingatkan.
Akhirnya pagi yang terburu-buru tadi berakhir. Aku menikmati sarapanku bersama mama dengan tenang.

Aku sedang sibuk didepan laptop saat tiba-tiba Keith datang.

" Maaf ya, kemarin aku tidak bisa datang! Bagaimana kondisimu hari ini? Kau tidur nyenyak semalam? " tanya Keith penuh perhatian.

" Aku sudah sepenuhnya sehat. Kau lihat kan sekarang. Aku juga tidur nyenyak. Kau pasti sangat lelah terus menjagaku! Apa kemarin kau sudah istirahat dengan cukup, Keith? " jawabku sekaligus bertanya balik.

" Aku bisa tidur nyenyak setelah melihatmu baik-baik saja! Ini hari minggu, jangan bekerja terlalu keras. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tapi apa kau masih merasa lelah? " ajak Keith.

" Tidak, aku benar-benar sehat. Kau ingin mengajakku kemana? " tanyaku.

" Aku ingin membawamu menemui nenekku! " jawab Keith.

" Oohh.. " gumamku, aku pikir apa Keith akan mengenalkan pacarnya pada neneknya.

Kami tiba disebuah rumah megah. Pertama Keith mengenalkan Ciara yang datang menyambut kedatangan kami. Kemudian Ciara menuntun kami menemui Ny. Martha diruang bacanya. Ny. Martha menatapku dari kepala hingga ke ujung kaki. Aku tersenyum dan membungkuk hormat. Keith merangkul bahuku.

" Nenek, ini Edeline! Gadis yang ku cintai! " kata Keith sambil mengenalkan aku pada neneknya.

" Ooohhh... Apa pekerjaanmu? " tanya Ny. Martha langsung.

" Aku... " belum selesai berkata Keith menyela.
" Edeline mengelola usaha sendiri, toko bunga "Edelweis". Sepeninggal ayahnya setahun lalu, toko bunga "Edelweis" langsung diwariskan padanya. Sejak Edeline mengelola toko itu, yang mulanya sangat sepi, kini sudah kembali ramai dan banyak pelanggan yang datang. " Keith menjelaskan pada neneknya.
Ny. Martha tidak menyahut. Ia diam saja dengan pikirannya.

Ciara datang dan menawarkan minuman untuk kami. Ia mengajak kami ke ruang tamu karna minuman sudah tersedia disana. Keith merangkul bahuku hendak beranjak. Namun Ny. Martha memanggilnya.
" Keith, nenek ingin bicara sebentar! "

" Kau duluan saja ya! Nanti aku menyusul! " ucap Keith padaku. Aku mengangguk dan pergi bersama Ciara.

----#----
" Jadi kau bekerja padanya? " Ny. Martha bertanya langsung pada Keith.

" Aku bekerja pada ayahnya selama bertahun-tahun. Ayah Edeline sangat banyak membantuku. " jawab Keith apa adanya.

" Kau bekerja pada ayahnya, selama itu ayahnya banyak membantumu! Kau jadi berutang budi pada ayahnya. Maka untuk membalasnya kau mencintai putrinya dan mengabdikan hidup untuk keluarganya! " papar Ny. Martha dengan kesimpulannya sendiri.

" Apa maksud nenek?! Aku tidak pernah berpikir begitu! Aku tulus mencintai Edeline, bukan karna suatu alasan tertentu! " jelas Keith.

" Keith, kau mana bisa menilai karna kau dibutakan oleh perasaanmu! " tukas Ny. Martha.

" Nenek, aku tidak begitu! Kenapa nenek bisa berpikiran seperti ini? " tanya Keith. Ia sangat kecewa dengan ucapan neneknya.

" Nenek ini sudah lebih berpengalaman darimu, Keith! Nenek tidak suka gadis itu! Sebaiknya kau cari pekerjaan lain saja dan tinggalkan gadis itu supaya kau tidak terus dijerat oleh dia dan keluarganya. " tuntut Ny. Martha lebih keras.

Keith sangat terkejut mendengarnya. Ia ingin membalas tapi mengingat kondisi kesehatan neneknya yang masih buruk ia pun memilih pergi tak ingin berdebat.
----#----

Keith kembali dengan wajah gusar. Aku perhatikan raut wajahnya tak seceria tadi. Ia pun lebih banyak diam seperti sedang berpikir. Tidak berapa lama, ia mengajakku pulang. Aku berpamitan pada Ny. Martha yang masih berada diruang baca, tapi ia tidak menyahut. Keith langsung membawaku pergi. Dalam perjalanan pulang pun ia terus diam.

" Apa ada sesuatu yang terjadi, Keith? Kau nampak gusar! " tanyaku pelan.

" Tidak ada apa-apa. Kau jangan khawatir! " jawab Keith.

" Sejak tadi kau banyak diam. Sepertinya nenekmu tidak menyukaiku! " kataku pelan.

" Jangan bilang begitu. Nenek menyukaimu ia hanya butuh waktu karna baru melihatmu. Ia tidak tahu dirimu yang sebenarnya. Kau jangan cemas ya! " Keith menghibur sambil memelukku. Ia mengantarku sampai dirumah.

" Kau harus percaya padaku, aku mencintaimu! Ingat jaga kesehatanmu, aku tidak mau kau sampai sakit lagi. Sekarang aku tidak bisa menemanimu, ada yang harus aku lakukan. " pesan Keith sambil terus menggengam tanganku.

" Ya. Aku juga mencintaimu. Kau mau kemana? Setidaknya beritahu aku. Supaya aku tidak cemas. " tanyaku.

" Sebenarnya aku mau menemui ayahku. Aku ingin mengajakmu tapi aku tak mau kau terlalu lelah. Lain kali jika kau benar-benar sehat sepenuhnya aku akan membawamu kesana, aku janji! Kau tidak marah kan? " jawab Keith.

" Tidak. Hati-hati ya! Kau juga harus jaga kesehatan. " pesanku.

" Ya. Sekarang masuklah! Aku pergi dulu ya! " pamit Keith. Setelah mengecup keningku ia pergi.

----#----
Keith pergi menemui Henoch. Ia memang berencana kesana untuk mencurahkan segala isi pikirannya. Sebab selain ayahnya itu, tidak ada tempat lagi untuknya bercerita mengenai masalahnya. Awalnya Keith bercerita tentang perbedaan sikap neneknya pada Ariana dan dirinya. Juga ucapan neneknya barusan yang menurutnya keterlaluan meskipun tidak diucapkan didepan Edeline. Henoch juga sependapat mantan ibu mertua nya itu sudah kelewat batas.

" Jangan terlalu memikirkan ucapan nenekmu, nak! Ikuti kata hatimu! Lakukan apa yang baik menurutmu, sebab kau yang menjalani hidupmu bukan dia! " pesan Henoch sebelum Keith pamit pulang.
----#----

****

" Selamat pagi, sayang! Aku telat menjemputmu dirumah! " sapa Keith saat tiba di toko.

" Kau memang selalu terlambat! " balasku sambil menyirami bunga-bunga.

Keith memelukku dari belakang dan mencium pipiku.
" Aku ingin terus memelukmu seperti ini! " bisiknya.

" Jangan genit, ini ditoko! " aku mengingatkan.

" Tidak ada yang datang! " timpal Keith.

" Sepertinya suasana hatimu sudah kembali baik! " godaku.

" Ya, berkat senyummu! " ujar Keith. Ia kembali mencium pipiku yang satunya.

Ronan datang dan berseru,
" Ups... Pagi! "

Kami berdua menoleh pada Ronan. Keith segera melepas pelukannya. Ia mengambil alih penyiram dari tanganku.

" Oke. Kembali bekerja sebelum bos kita marah! " ucap Keith sedang menggoda. Aku tersenyum.

Dalam perjalanan pulang sore ini. Keith mengayuh sepedanya memboncengku dibelakang. Sambil bergurau dan kadang mengejek. Aku mencubit pinggangnya dengan pelan ketika ia mengataiku.

" Jujur saja, apa kau pernah merasa malu duduk dibelakang sepedaku? " tanya Keith meski nada bicaranya terdengar main-main.

" Aku tidak tahu mengapa harus merasa malu. Justru ini lebih baik dibandingkan harus berjalan kaki belasan mil. " jawabku sambil menyandarkan kepalaku ke punggungnya.

" Dulu aku pernah ditolak. Dipandang rendah sebagai pemuda bersepeda butut yang tidak menarik bagi wanita. " kenang Keith.

" Jadi kau pernah menyukai seseorang? Aku pikir kau tidak pernah suka pada siapapun. " timpalku.

" Dulu sekali, aku pernah menyukai seseorang. Aku beranikan diri menyatakannya tapi balasannya sungguh menyakitkan. Aku dihina. Sejak itu aku tidak berani menyukai siapapun. Namun kejadiannya berbeda saat aku melihatmu pertama kali datang ke toko bersama ayahmu. Aku berharap kau akan datang lagi dan lagi. Tapi aku hanya berani menatapmu dari jauh. Kata-kata kasar dari gadis itu masih membuatku takut. Sepertinya aku ini tidak akan jadi orang yang berguna. " cerita Keith. Pas sepedanya berhenti didepan rumahku. Aku turun.

" Sekarang kau tidak perlu takut. Kau memiliki aku. Ada aku yang menerimamu apapun keadaanmu. Tetaplah jadi dirimu apa-adanya karna itulah alasannya aku memilihmu! " kataku dengan lembut sambil menatapnya lalu aku memeluknya erat.
" Aku mencintaimu, meskipun kau pemuda bersepeda butut! Ingatlah itu! " bisikku.
Keith tertawa. Ia memelukku juga dengan erat.

----#----
Keith baru sampai dirumah. Belum sempat ia mengeluarkan kunci pintu rumahnya sebuah mobil berhenti didepannya. Supir Ny. Martha keluar dari dalam mobil memanggil Keith. Keith mengikutinya masuk ke dalam mobil rupanya Ny. Martha menunggu disana.

" Kau masih bersama gadis itu? Bukankah aku sudah menyuruhmu tinggalkan dia? " cecar Ny. Martha tanpa basa-basi. Ia kemudian memberikan tumpukan foto-foto gadis cantik pada Keith.

" Ini lihatlah nenek telah memilih dari sekian banyak gadis-gadis yang lebih cantik, pintar, dan berpendidikan yang sesuai untukmu. Lihatlah foto ini, kau bisa memilih salah satu dari mereka. Nenek juga telah menyiapkan pekerjaan yang lebih baik dan cocok untukmu! Oh ya, nenek juga merencanakan sebuah rumah yang nantinya akan kau tinggali. Rumah itu jauh lebih bagus dan besar dari rumahmu ini. " jelas Ny. Martha dengan penuh semangat.

Wajah Keith mengeras tanpa ekspresi. Ia semakin tidak suka dengan sikap neneknya yang semakin banyak ikut campur.
" Nenek, aku tidak mengerti apa maksud dan tujuan nenek. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima semua ini! Aku punya pilihan sendiri! Permisi.. " tegas Keith, ia langsung keluar dari mobil. Dan dengan cepat masuk ke dalam rumahnya mengabaikan Ny. Martha yang masih memanggilnya.

Tak lama kemudian mobil itu pergi. Keith mengintip dari balik tirai jendela. Ia semakin takut dengan sikap neneknya itu.
----#----

Pagi ini aku sudah mau berangkat ke toko. Sesuai jadwalku setiap pagi, aku tidak akan menunggu Keith meski lima menit pun. Aku baru keluar dari pintu pagar saat sebuah mobil melintas dan berhenti didepanku. Seorang wanita tua keluar setelah sopirnya membukakan pintu. Aku kenal wanita itu, nenek Keith. Ia berjalan mendekatiku dengan wajah tidak senang. Aku punya firasat buruk. Namun aku berusaha tersenyum sambil menyapanya.
" Selamat pagi, nenek! "

" Tidak perlu basa-basi. Aku hanya ingin menyuruhmu untuk segera mengakhiri hubunganmu dengan cucuku, Keith. Karna aku sudah menemukan calon pendamping untuknya yang lebih baik darimu. Sebentar lagi ia juga tidak akan bekerja untukmu, karna aku akan memberinya pekerjaan yang layak dan lebih terhormat! Jadi kau dan keluargamu tidak bisa terus menjerat cucuku. Ingat itu, aku tidak main-main! " usai berkata dengan ketus, ia pun pergi.

Aku sangat kaget dengan ucapan nenek Keith barusan. Benarkah seperti itu? Aku hampir menangis tapi aku menahannya. Bagaimana pun aku harus tetap ke toko. Ucapan nenek Keith yang menuduh aku dan keluargaku menjerat Keith itu sangat menyakitkan. Pagi ini aku berusaha tetap tersenyum. Walau hampir goyah tiap kali melihat Keith. Aku ingin menangis. Keith juga agak murung meski ia masih tersenyum. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan kami. Kami baru bersama dan apakah benar-benar harus berakhir? Hari ini terasa lama sekali berlalu. Aku memilih diam sendiri direstroom. Aku menelepon Celine menyuruhnya datang. Ia tiba dengan cepat. Tangisku langsung pecah dalam pelukannya.

" Ada apa, Edeline? Tenanglah, ceritakan padaku! " tanya Celine dengan cemas sambil mengelus kepalaku.

Aku lalu menceritakan kejadian tadi pagi padanya. Tentang kedatangan nenek Keith dan semua ucapannya. Celine mendengarkan dengan penuh perhatian.

" Oh astaga... Apa kau memberitahu Keith? " tanya Celine. Ia pun nampak tak bisa berkata. Aku menggelengkan kepala.

" Aku tidak tahu sekarang harus bagaimana? Aku tidak bisa menahan kesedihanku terus didepan Keith. Aku tidak bisa terus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. " kataku sambil terisak.

Celine mengelus kepalaku.
" Kita cari jalan keluarnya sama-sama ya! Aku juga tidak tahu harus berkata apa. Menurutku sebaiknya sekarang kau pulang saja ya! Kau tidak boleh banyak berpikir, kau harus tenangkan dirimu dulu. Sementara jauh dari Keith mungkin lebih baik. Hari ini aku tidak sibuk jadi aku bisa disini menggantikanmu! Aku antar kau pulang dulu ya! " bujuk Celine dengan lembut.

" Bagaimana jika Keith bertanya? Kakak jangan katakan padanya tentang hal yang sebenarnya. " pintaku.

" Aku akan bilang kau lelah dan butuh istirahat. Aku akan menyuruhnya jangan mengganggumu dulu. Dia pasti tidak akan membantahku! " jawab Celine.

Aku mengangguk. Aku berjalan menunduk melewati Keith. Untungnya ia sibuk melayani pelanggan jadi tidak terlalu memperhatikanku. Celine mengantarku pulang dengan mobilnya. Sampai dirumah mama terkejut melihat wajahku yang habis menangis. Ia bertanya dan aku bercerita kembali.

----#----
Celine kembali ke toko sendiri. Begitu toko sepi Keith langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan mengenai Edeline dan kenapa ia sekarang disini. Celine mengatakan seperti yang ia katakan pada Edeline. Keith nampak kurang puas dengan jawaban Celine. Celine memperhatikan wajahnya dengan serius.

" Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian? " tanya Celine menyelidik.

" Tidak ada. " jawab Keith datar.

" Benarkah tidak ada? Atau kau tidak mau memberitahuku? " pancing Celine.

" Memberitahu apa? Apa yang harus aku ceritakan padamu, Celine? " Keith balik bertanya.

" Soal nenekmu misalnya! " ujar Celine terus memancing Keith untuk bicara.

Keith menatap Celine. Celine menangkap sesuatu dari tatapan Keith. Ia tersenyum. Ia tidak suka diam saja dan menunggu. Lalu ia menceritakan kejadian tadi pagi yang di alami Edeline pada Keith. Bahwa neneknya menemui Edeline. Keith sangat terkejut.

" Apa? Jadi nenek menemui Edeline? Dan berbicara seperti itu?! " seru Keith dengan gusar.

" Maaf, aku bukan ingin ikut campur masalahmu dengan Edeline atau urusan keluargamu. Tapi tolong jangan bebani Edeline dengan masalah antara kau dan nenekmu! Kau tahu kan kondisi Edeline saat ini yang masih drop?! Aku pikir nenekmu sangat tidak 'elegan' untuk wanita sekelasnya dengan mendatangi Edeline tanpa sepengetahuanmu! " jelas Celine.

" Aku minta maaf soal itu. Aku benar-benar tidak tahu! " kata Keith penuh sesal.

" Aku bisa mengerti. Untuk sementara ini sebaiknya kau tidak menggangu Edeline dulu. Setidaknya sampai kau bisa memastikan kalau nenekmu tidak akan datang memarahi Edeline lagi. " Celine mengusulkan.

" Ya, aku tahu. Aku harap Edeline tidak terlalu memikirkan ucapan nenekku. Celine, bolehkah aku meminta cuti untuk beberapa hari kedepan? " tanya Keith.

Celine menyipitkan mata sambil berpikir sejenak. Kemudian menjawab,
" Oke, kau bisa cuti! Untuk berapa lama? "

" Terima kasih! Aku belum tahu... Yang pasti aku akan kembali setelah masalahku selesai,mungkin. Celine, tolong jaga Edeline! " pinta Keith.

" Pasti, dia adikku! Aku tentu akan menjaganya dan memastikan ia baik-baik saja. " balas Celine.

" Terima kasih atas pengertianmu! " ujar Keith.

Toko sudah mau ditutup. Celine sedang bersiap. Sebelum Keith pulang, ia menitipkan sebuah surat pada Celine untuk diberikan pada Edeline. Celine mengiyakan. Langkah Keith nampak sangat berat.

Keith langsung pergi menemui neneknya. Ny. Martha sangat senang menyambut kedatangan cucunya. Tapi kedatangan Keith bukan untuk menyenangkan hatinya.

" Kenapa nenek menemui Edeline? Kenapa nenek berbicara seperti itu padanya? " tanya Keith dengan marah.

" Jadi anak itu mengadu padamu? " cemooh Ny. Martha.

" Dia tidak mengatakannya padaku! Tapi tindakan nenek kali ini sudah sangat keterlaluan. Urusan nenek adalah denganku bukan Edeline! Tidak seharusnya nenek menemuinya dan berbicara hal yang telah menyakiti hatinya! " dengus Keith.

" Menyakiti hatinya? Paling besok dia sudah lupa dengan sakit hatinya. Semua perempuan memang begitu! " sanggah Ny. Martha.

" Semua perempuan? Perempuan yang mana? Perempuan yang ada ditumpukan foto yang nenek tunjukkan itu? Jika menurut nenek semua perempuan seperti itu, mungkin iya. Tapi tidak Edeline! Aku mengenalinya dengan baik. Edeline bukan wanita yang bisa dibeli dengan materi. "

" Ah, omong kosong! Jangan tertipu dengan wajah polos dan lugu. Dibalik kepolosan justru tersembunyi racun! " sela Ny. Martha.

" Kalau begitu tanyakan pada wanita-wanita difoto itu, apa mereka bersedia duduk dibelakang sepeda bututku?! Apa mereka mau tinggal dirumah sederhanaku? Apa mereka mau makan dari sisa makanan yang tak habis semalam? Jika ada mungkin aku akan berpikir lagi untuk memilih salah satu dari mereka. " cecar Keith.

Ny. Martha terdiam melotot pada Keith.
" Aku memberimu kesempatan, menaikkan derajatmu tapi kau menolak. Sekarang aku memberimu pilihan agar kau hidup lebih baik. Apa itu tidak cukup? Kau masih mau berdebat dan memilih hidupmu yang serba kekurangan?! " rutuk Ny. Martha dengan lantang.

" Aku tidak pernah merasa kekurangan. Hidupku cukup tapi tidak berlebihan. Nenek, aku merasa jauh lebih baik sekarang tanpa campur tangan nenek. Jadi tolong jangan ganggu aku dengan semua rencana nenek yang penuh keruwetan. Aku tidak peduli dengan derajat, harta atau kekuasaan. Aku bahagia dengan hidupku yang sederhana, bebas dan tenang! Aku harap nenek mengerti itu. " jelas Keith pun tak mau kalah.

" Kau mirip sekali dengan ibumu! Dulu ia menentangku dan memilih menikah dengan ayahmu. Kemudian apa yang terjadi?! Ia akhirnya menyesal dan meninggalkan ayahmu bukan!? " ungkit Ny. Martha.

Keith semakin kesal karna neneknya mulai mengungkit orang tuanya. Ia memilih pergi dengan emosi yang tak bisa ia luapkan.

" Aku tetap tidak akan merubah keputusanku! Aku merencanakan semua ini demi masa depanmu. Keith.. Keith.. Kembali! " teriak Ny. Martha tapi Keith tak menggubrisnya.

Malam hampir menjelang. Keith bersandar disisi jendela kereta. Ia tidak pernah merasa selelah ini. Ia merindukan kehidupannya yang dulu. Sebelum ia menemukan keluarga ibunya.
Keith berdiri didepan pintu. Saat pintu terbuka Henoch terkejut melihat Keith berada disana.

" Hei, nak. Kenapa kau datang kemari malam-malam begini? Ayo cepat masuk! " ajak Henoch.

Ia menutup pintu kembali dan mengajak Keith duduk. Mengajaknya bicara dari hati ke hati. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan putra nya.
" Apa yang terjadi, nak? Coba kau ceritakan pada ayah! " pinta Henoch.

" Sebelumnya... Ayah, bolehkah aku tinggal beberapa hari disini? " tanya Keith.

" Tentu saja. Ini juga rumahmu! Kau boleh tinggal selama yang kau mau! " jawab Henoch. Ia melanjutkan,
" Tapi ada masalah apa? Ceritakan pada ayah. "

Akhirnya Keith menceritakan semua masalahnya hari ini. Henoch mendengarkan dengan penuh perhatian sampai ia selesai mencurahkan segala isi hatinya. Henoch menepuk bahu putranya.

" Nak, kau harus bisa menghadapi semua ini. Kau tidak bisa terus lari dari masalahmu! Kau bisa menghindari nenekmu dengan  datang kemari, tapi bagaimana dengan Edeline? Apa kau juga mau menyerah terhadapnya? Kau mengingatkanku pada ibumu dulu. Ibumu telah memilih ayah tetapi ayah justru mengacaukannya. Ayah harap kau tidak melakukan kesalahan seperti ayah. " tutur Henoch.

" Apakah ibu pernah menyesal memilih ayah? " tanya Keith.

" Selama ibumu bersama ayah, ia tidak pernah mengatakan tentang penyesalan apapun. Meski ia kecewa ia tidak pernah berkata ia menyesal. Justru ayah yang menyesal tidak memperlakukan dia dengan baik. Jika ibumu masih hidup, ayah ingin sekali meminta maaf padanya. " jawab Henoch sambil mengenang.

Keith terdiam dengan pikirannya.

" Sudah malam, nak! Tidurlah, besok baru kembali memikirkan jalan keluarnya lagi! Ayah akan selalu ada membantumu! " hibur Henoch menyemangati.

" Terima kasih, ayah! " sahut Keith. Henoch tersenyum.
----#----

' Edeline, aku benar-benar minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan hari ini. Aku sungguh menyesalkan hal ini. Tolong jangan menganggap serius ucapan nenekku. Aku akan bicara dengan nenek karna ini masalahku dengannya. Aku ingin kau tetap percaya padaku. Aku tidak akan menyerah. Untuk beberapa hari ke depan kau tidak akan melihatku. Tapi kau jangan cemas, aku akan kembali lagi untukmu. Aku harap kau menjaga kesehatanmu, jangan terlalu banyak berpikir. Semua pasti akan baik-baik saja. Aku janji. Aku mencintaimu selalu!
-Keith- '

Aku melipat kembali surat itu. Dalam hati hanya bisa berdoa berharap semuanya akan baik-baik saja seperti ucapan Keith, begitu juga dengan keadaan dirinya.

****

Aku menarik nafas. Aku akan melewatkan beberapa hari atau lebih tanpa kehadiran Keith ditoko ini. Rasanya memang berbeda tanpa dirinya. Aku memasukkan beberapa tangkai sakura plastik kedalam pot. Kemudian menyematkan Omamori yang dulu diberikan Keith ke salah satu tangkai bunga itu. Dan Omamori satu lagi ke tangkai yang lain. Bunga sakura plastik itu kini menghiasi mejaku.

----#----
Tanpa terasa sudah tiga hari Keith didesa. Disana ia banyak membantu Henoch. Dan selama dua hari itu juga Ny. Martha masih terus mencari Keith dirumahnya bahkan sampai bertanya pada Ariana. Pastinya Ariana tidak tahu.

" Bagaimana mungkin kau tidak tahu kakakmu dimana?! " cecar Ny. Martha.

" Apa aku selama 24 jam mengawasinya?! Apa ia serumah denganku?! Aku juga punya pekerjaan dan kehidupan  sendiri! Kenapa nenek suka sekali mengganggu kehidupan orang?! " dengus Ariana begitu ketus.

" Berani sekali kau bicara seperti itu didepan nenekmu! Kau memang cucu yang tidak berguna! " umpat Ny. Martha dengan kesal.

" Sejak kapan nenek pernah menganggapku cucu yang berguna?! Nenek sendiri yang menilaiku seperti itu! Jadi kenapa tidak sekalian saja?! Lagi pula selama ini aku tidak pernah di anggap oleh nenek! " balas Ariana tak kalah sengit. Kini Ny. Martha yang memilih pergi tak ingin berdebat lebih panjang dengannya.

Ariana ikut penasaran mengapa Keith pergi dan ia pergi kemana. Ariana ingin bertanya pada Edeline. Ia sudah berada didepan pintu toko bunga sambil mengintip ke dalam. Ronan yang duluan melihatnya mengajaknya masuk dan duduk sebentar. Ariana yang menangkap ada raut kesedihan diwajah Edeline pun tak jadi bertanya. Sedangkan Ronan menggunakan kesempatan itu untuk mengenali Ariana lebih jauh.

----#----
Keith sedang memperbaiki lantai teras rumah yang kayunya mulai lapuk. Ia menggantinya dengan kayu yang baru. Henoch datang menghampirinya dan duduk didekatnya.

" Nak, sudah empat hari kau disini! Apa kau ingat ada seseorang yang menunggumu disana? Kau tidak boleh terus mengulur waktu. " Henoch mengingatkan.

" Aku tahu ayah. Aku terus berpikir dan tidak menemukan jalan bagaimana agar nenek berhenti mengusik hidupku. Aku tak ingin terus membuat Edeline sedih. " jawab Keith. Ia menghentikan pekerjaannya untuk mendengarkan Henoch.

" Ayah tahu. Tapi diam seperti ini sama saja lari dari masalah. Kau harus menghadapinya sesulit apapun. Beranilah seperti ibumu tapi jangan menjadi seperti ayah. Jika kau yakin dia pilihanmu, maka perjuangkan! Meskipun telah mendapatkannya kau harus tetap berusaha menjaganya dengan baik! " Henoch menasehati. Kemudian ia bangkit berdiri berjalan pelan ke sisi teras sambil menatap langit yang cerah.

" Hari ini cuacanya sangat bagus! Ayah sudah lama sekali tidak keluar berjalan-jalan melihat dunia luar. Keith, apa kau mau mengajak ayah menginap beberapa hari dikota? " pinta Henoch pada Keith sambil tersenyum.

" Ayah ingin ke kota? Aku bisa membawa ayah kesana dan tinggal dirumah kecilku! Kapan saja ayah ingin kesana aku akan membawa ayah pergi. " jawab Keith dengan senang hati.

" Kalau begitu bersiap-siaplah! Ayah tidak mau mengulur waktu sebelum semangat ayah keburu hilang. Ayo.. Keith! " ajak Henoch dengan semangat.

" Ah.. Sekarang? " tanya Keith memastikan.

" Tentu saja! Cepat kemasi barangmu! " desak Henoch. Keith menuruti kemauan ayahnya dengan cepat.

Mereka sampai dikota saat hari menjelang sore. Keith langsung membawa Henoch kerumahnya. Ia juga mengeluarkan barang bawaan Henoch dari tas. Belum selesai berberes Henoch menghentikannya.
" Keith, pergilah temui Edeline dulu! " suruhnya.

" Tapi ayah... " Keith masih bingung.

" Jangan menunggu! Temui dia dulu agar ia tahu kau baik-baik saja! Urusan dengan nenekmu bisa kita pikirkan nanti. Sekarang kau temui dia. Apa kau tidak rindu padanya? " Henoch berkata dengan tatapan menggoda.

Keith tersenyum malu.
" Mana mungkin aku tidak rindu!  Terima kasih ayah! Kau pahlawanku! " puji Keith dengan tulus. Ia pun bergegas menemui Edeline. Sementara Henoch sudah punya rencana lain.

bersambung....