Selasa, 25 April 2017

SHMILY

Kakek-nenekku sudah lebih dari setengah abad menikah, namun tetap memainkan permainan istimewa itu sejak mereka bertemu pertama kali. Tujuan permainan mereka adalah menulis kata "shmily" di tempat yang secara tak terduga akan ditemukan oleh yang lain. Mereka bergantian menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah. Begitu yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali lagi mendapat giliran menulis kata itu di tempat ter￾sembunyi. Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh siapa pun yang mendapat giliran menyiapkan makanan. Mereka membuatnya dengan embun yang menempel pada jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang hangat, buatannya sendiri.

"Shmily" dituliskan pada uap yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang mandi air panas; kata itu akan muncul berulang-ulang setiap kali ada yang selesai mandi. Nenekku bahkan pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di ujung gulungan itu. "Shmily" bisa muncul di mana saja. Pesan-pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa bisa ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada kemudi.

Catatan-catatan kecil itu diselipkan ke dalam sepatu atau diletakkan di bawah bantal. "Shmily" digoreskan pada lapisan debu di atas penutup perapian atau pada timbunan abu di perapian. Di rumah kakek-nenekku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama pentingnya dengan perabotan. Aku memerlukan waktu lama sekali sebelum benar￾benar bisa memahami dan menghargai permainan kakek￾-nenekku. Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada—cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka. Meski begitu, aku tak pernah meragukan hubungan kakek-nenekku. Mereka sungguh saling mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang mereka tunjukkan; cinta adalah cara dan pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan pada pengabdian dan kasih yang tulus, yang tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya. Kakek dan Nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan. Mereka berciuman sekilas bila bertabrakan di dapur mereka yang mungil. Mereka saling menyelesaikan kalimat pasangannya. Setiap hari mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau per￾mainan acak kata.

Nenekku membisikkan kepadaku bahwa kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin tua Kakek semakin tampan. Menurut Nenek, dia tahu "bagaimana membuat Kakek bahagia." Sebelum makan mereka selalu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka. Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam: nenekku menderita kanker payudara. Penyakit itu pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya. Seperti yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenek menjalani setiap tahap pengobatan. Dia menghibur Nenek di kamar kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna itu agar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah. Sekali lagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku yang ku￾kuh, mereka tetap pergi ke gereja setiap pagi. Tetapi ne￾nekku dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, dia tak bisa lagi keluar rumah. Kakek pergi ke gereja sendirian, berdoa agar Tuhan menjaga istrinya. Sampai pada suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal. "Shmily."

Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga duka untuk nenekku. Setelah para pelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju me￾ngelilingi Nenek untuk terakhir kali. Kakek melangkah mendekati peti mati nenekku lalu, dengan suara bergetar, dia menyanyi untuk Nenek. Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan; lagu nina bobo dalam alunan suara yang dalam dan parau. Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah melupakan saat itu. Karena pada saat itulah, meskipun aku belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku men￾dapat kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.

S-h-m-i-l-y: See How Much I Love You. Lihat, betapa aku mencintaimu. Terima kasih, Kakek dan Nenek, karena telah meng￾izinkan aku melihatnya.

Laura Jeanne Allen
Dikutip dari buku "Chicken Soup for the Couple's Soul"

Senin, 24 April 2017

Chicken Soup for the Couple's Soul : Ada Seseorang Menjagaku

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi di￾katakan kosong oleh si sopir. Kemudian dia duduk, meletakkan tasnya di pangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan tiba-tiba terlempar ke dunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya me￾ngeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya dia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu—penglihatannya takkan pernah pulih lagi.
Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung kepada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang di￾butuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran paling sulit yang pernah dihadapinya. Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagai￾mana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggiran kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru— membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti?

Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi.
"Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu ke mana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku."

Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore dia akan naik bus bersama Susan, selama masih di￾perlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi.

Selama dua minggu penuh Mark, mengenakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana caranya menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menentukan di mana dia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus yang dapat mengawasinya dan menyisakan satu kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apa pun dan tidak akan pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena ke￾setiaan, kesabaran, dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jumat pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata, "Wah, aku iri padamu."

Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak; Lagi pula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia bertanya kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri padaku?"

Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu."

Susan tidak tahu apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu?"

"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia meng￾awasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung," kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa merasakan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberinya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri—hadiah cinta yang bisa menjadi penerang di manapun ada kegelapan.

Sharon Wajda

Diambil dari buku "Chicken Soup for the Couple's Soul" 

Chicken Soup for the Couple's Soul : Teringat Padamu

Hidup didalam hati yang kita tinggalkan bukanlah mati.
Thomas Campbell


Wajah Sophie tampak samar dalam cahaya musim dingin yang kelabu di kamar duduk. Dia terlelap di kursi nyaman yang dibelikan Joe untuknya pada ulang tahun perkawinan mereka yang keempat puluh. Kamar itu hangat dan tenang. Di luar, serpih-serpih salju lembut berjatuhan. Pukul satu seperempat tukang pos melewati tikungan, membelok ke Allan Street. Hari ini dia agak terlambat, bukan karena salju, tetapi karena hari itu Hari Valentine. Ada lebih banyak surat daripada biasanya. Dia melewati rumah Sophie tanpa mengangkat wajahnya. Dua puluh menit kemudian dia naik kembali ke mobilnya, lalu pergi. Sophie terbangun ketika mendengar mobil pos itu menjauh. Dia melepas kacamatanya lalu melap mulut dan matanya dengan saputangan yang selalu diselipkannya di lengan bajunya. Dia menegakkan badannya dengan bertumpu pada lengan kursi, pelan-pelan, sambil merapikan kimononya yang berwarna hijau tua. Sandalnya membuat bunyi kerisik lembut di lantai yang tak beralas ketika dia berjalan ke dapur. Dia berhenti di tempat cuci piring untuk mencuci dua piring yang ditinggalkannya di meja racik setelah makan siang tadi. Kemudian dia mengisi sebuah cangkir plastik dengan air, setengah penuh, lalu menelan beberapa butir pil. Saat itu pukul satu lewat empat puluh lima. Di kamar duduk, dekat jendela depan, ada kursi goyang. Sophie mendudukkan diri di kursi itu. Setengah jam lagi anak-anak akan lewat, mereka pulang dari sekolah.
Sophie menunggu, duduk bergoyang-goyang sambil memandangi salju. Yang muncul lebih dulu adalah anak-anak laki-laki, seperti biasa, sambil berlari-lari dan meneriakkan sesuatu yang tak bisa didengar Sophie. Sambil lewat, hari ini mereka membuat bola-bola salju, mereka saling melempar dengan seru. Sebutir bola salju luput dan menghantam jendela Sophie dengan keras. Sophie terjengkang, kursi goyangnya tergeser ke pinggir permadaninya yang berbentuk oval. Anak-anak perempuan berlari-lari menyusul anak-anak laki-laki, berdua-dua dan bertiga-tiga, sambil menangkupkan kedua tangan mereka yang terbungkus kaus tangan wol tebal dan tertawa-tawa cekikikan. Sophie menduga￾duga apakah mereka saling bertukar cerita tentang kartu￾kartu Valentine yang mereka terima di sekolah. Seorang anak perempuan cantik berambut cokelat panjang berhenti dan menunjuk ke jendela tempat Sophie duduk sambil memandang ke luar.
Sophie menyembunyikan wajahnya di balik gorden, tiba-tiba dia merasa malu. Ketika dia melongok ke luar lagi, anak-anak itu sudah pergi. Di dekat jendela udara dingin, tetapi dia tetap duduk di situ, memandangi salju berjatuhan menutupi jejak￾jejak kaki anak-anak itu. Mobil pengangkut bunga membelok ke Allan Street. Sophie mengikutinya dengan pandangan matanya. Mobil itu bergerak pelan. Dua kali berhenti, lalu berjalan lagi. Kemudian pengemudinya meminggir di depan rumah Bu Mason, tetangga sebelahnya, dan berhenti. Siapa yang mengirim bunga untuk Bu Mason? Sophie menebak-nebak. Putrinya yang tinggal di Wisconsin? Atau abangnya? Tidak mungkin, abangnya sakit keras. Mungkin putrinya. Manis benar anak itu. Bunga membuat Sophie ingat akan Joe dan, untuk sesaat, dibiarkannya kenangan sedih memenuhi pikirannya.
Besok pagi tanggal lima belas. Delapan bulan lewat sejak Joe meninggal. Pengantar bunga itu sedang mengetuk pintu depan rumah Bu Mason. Dia membawa sebuah kotak bermotif hijau-putih yang panjang dan sebuah clipboard. Kelihatannya tak ada yang menjawab. Tentu saja! Sekarang hari Jumat—setiap Jumat sore Bu Mason pergi membuat quilt di gereja. Pengantar bunga itu memandang berkeliling, kemudian berjalan ke rumah Sophie. Sophie bangkit dari kursi goyang dan berdiri rapat ke gorden. Lelaki itu mengetuk pintu. Tangan Sophie gemetar ketika dia merapikan rambutnya. Dia sampai ke lorong depan ketika orang itu mengetuk untuk ketiga kalinya.

"Ya?" kata Sophie sambil mengintip ke luar dari pintu yang terbuka sedikit.

"Selamat sore, Bu," kata orang itu keras-keras.

"Maukah Anda menerima titipan barang kiriman untuk tetangga Anda?"

"Ya," jawab Sophie sambil membuka pintu lebar-lebar.

"Sebaiknya saya letakkan di mana?" orang itu bertanya dengan sopan sambil melangkah masuk.

"Tolong letakkan di dapur. Di atas meja."

Orang itu tampak besar bagi Sophie. Dia nyaris tak bisa melihat wajah orang itu di antara topi petnya yang hijau dan cambangnya yang lebat. Sophie lega karena orang itu segera pergi. Dikuncinya pintu setelah orang itu keluar.

Kotak itu panjangnya sama dengan panjang meja dapur. Sophie berjalan mendekat dan membungkuk untuk mem￾baca tulisannya: "NATALIE'S Flower for Every Occasion."
Wangi mawar menyambutnya. Sophie memejamkan mata dan menarik napas pelan-pelan, membayangkan mawar￾mawar kuning. Joe selalu memilih mawar kuning. "To my sunshine," begitu katanya, sambil mengulurkan buket bunga yang mewah itu. Joe akan tertawa riang, mengecup ke￾ingnya, kemudian menggenggam tangannya dan menyanyikan You Are My Sunshine untuknya.

Pukul lima Bu Mason mengetuk pintu depan rumah Sophie. Sophie masih duduk dekat meja dapur. Kotak wadah bunga itu sudah terbuka. Sophie meletakkan mawar￾mawar itu di pangkuannya, menggoyangnya pelan, dan membelai daun bunganya yang kuning lembut. Bu Mason mengetuk lagi, tetapi Sophie tidak mendengar. Beberapa menit kemudian tetangganya itu pergi.
Beberapa saat kemudian Sophie bangkit, lalu meletakkan bunga-bunga itu di meja dapur. Pipinya memerah. Dia menarik bangku rendah menyeberangi lantai dapur dan mengambil vas porselen putih dari sudut atas lemari. Dengan gelas minum dia mengisikan air ke dalam vas, lalu dengan lembut menata mawar-mawar dan daun-daun itu. Setelah itu dibawanya vas itu ke kamar duduk. Dia tersenyum ketika sampai di tengah ruangan. Dia memutar badannya, kemudian mulai berdansa, melangkah, memutar, membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Dia melangkah dengan ringan dan anggun, berkeliling kamar duduk, ke dapur, ke lorong depan, kembali lagi. Dia ber￾dansa sampai kakinya lemas, kemudian menjatuhkan diri di kursi nyaman itu dan tertidur.
Pada pukul enam seperempat, Sophie terbangun karena kaget. Seseorang mengetuk pintu, kali ini pintu belakang. Ternyata, Bu Mason.

"Halo, Sophie," kata Bu Mason.

"Kau baik-baik saja? Aku mengetuk pintumu pukul lima dan agak cemas karena kau tidak menjawab. Kau sedang tidur?"

Wanita itu terus bicara sambil membersihkan salju yang menempel di sepatu botnya di atas keset. Kemudian dia melangkah masuk.

"Aku benci salju. Kau juga, kan? Menurut radio, tengah malam nanti salju bisa sampai enam inci. Tapi, kita tak pernah bisa mempercayai mereka. Masih ingat musim dingin tahun lalu ketika mereka meramalkan salju setebal empat inci dan nyatanya malah dua puluh satu inci? Dua puluh satu! Dan mereka bilang tahun ini musim dingin tidak akan terlalu dingin. Ha! Menurutku sudah berminggu￾minggu suhu tak pernah lebih tinggi daripada nol. Tahukah  kau, tagihan minyakku bulan lalu sampai $263? Padahal rumahku kecil!"

Sophie hanya setengah mendengarkan. Tiba-tiba dia ingat bunga-bunga mawar itu. Wajahnya merah padam karena malu. Kotak bunga yang kosong itu ada di belakangnya di meja dapur. Apa yang akan dikatakannya kepada Bu Mason?

"Aku tak tahu berapa lama lagi aku masih sanggup membayar tagihan. Kalau saja Alfred, semoga Tuhan memberkatinya, selalu hati-hati memegang uang seperti Joseph. Joseph! Astaga! Aku hampir melupakan bunga￾bunga mawar itu."

Pipi Sophie terasa panas. Dia bicara tergagap-gagap, meminta maaf, dan melangkah ke samping untuk menunjukkan kotak yang kosong itu.

"Oh, bagus," sela Bu Mason.
"Kau sudah memasuk￾kan mawar-mawar itu ke dalam air. Kalau begitu kau pasti sudah melihat kartunya. Kuharap kau tidak kaget melihat tulisan tangan Joseph. Joseph memintaku untuk mengirimkan mawar kepadamu pada tahun pertama, jadi aku dapat menjelaskan keinginannya. Dia tidak ingin mengagetkanmu. 'Dana Mawar,' kurasa begitu dia menamainya. Dia sudah mengaturnya dengan pemilik toko bunga bulan April yang lalu. Pria yang baik, Joseph-mu..."

Tetapi Sophie telah berhenti mendengarkan. Hatinya berdebar-debar ketika dia mengambil amplop putih kecil yang tadi tidak dilihatnya. Amplop itu sejak tadi tergeletak di samping kotak bunga. Dengan tangan gemetar, dikeluarkannya kartu itu.

"To my sunshine, " tertulis di situ.
"Aku mencintaimu sepenuh hati. Cobalah bergembira bila kau teringat padaku. Dengan cinta, Joe. "


Alicia von Stamwitz

Kamis, 06 April 2017

Inspirasi Hidup

Hidup ini Singkat dan Sesaat,
Hari Tua begitu cepat. Segala Kejayaan dan Kekuatan dimasa Muda, hanya menjadi Kenangan, pergi tak pernah kembali...

Hidup bagaikan sebuah Cerita Drama,
yang menjadi Raja bukan benar-benar Raja,
hanya peran di atas panggung Belaka.

Berakhirnya Drama berakhir pula semua Peran yg Pernah ada.

Hidup bagaikan Mimpi, Seindah apapun Mimpi itu,
begitu Bangun, semuanya Sirna Belaka tak berbekas.

Rumah Mewah bagai Istana, Harta benda yang tak terhingga,
Kedudukan dan Jabatan yang Luar biasa,

Namun......
Ketika Napas Terakhir Tiba, Sebatang Jarumpun tak bisa dibawa pergi,
Sehelai Benang pun tak bisa dimiliki..

Apalagi yang mau di Cari dan di perebutkan?

Apalagi yang mau di Sombongkan?

Maka Jalanilah Hidup ini dengan Keinsafan Hati Nurani.

Jangan terlalu Perhitungan,

jangan hanya mau Menang sendiri,

suka protes,

suka sakiti sesama,

apalagi terhadap mereka yg pernah berjasa bagi kita.

Belajarlah,.
tiada hari tanpa Kasih,
Selalu berlapang Dada dan Mengalah.

Hidup Ceria, Bebas Leluasa, tak ada yang tak bisa diikhlaskan...

Tak ada Sakit Hati yang tak bisa di Maafkan...

Tak ada Dendam yang tak bisa di Hapus..

Tak ada Alasan tidak bisa utk Melakukan Kebaikan..