Senin, 24 April 2017

Chicken Soup for the Couple's Soul : Teringat Padamu

Hidup didalam hati yang kita tinggalkan bukanlah mati.
Thomas Campbell


Wajah Sophie tampak samar dalam cahaya musim dingin yang kelabu di kamar duduk. Dia terlelap di kursi nyaman yang dibelikan Joe untuknya pada ulang tahun perkawinan mereka yang keempat puluh. Kamar itu hangat dan tenang. Di luar, serpih-serpih salju lembut berjatuhan. Pukul satu seperempat tukang pos melewati tikungan, membelok ke Allan Street. Hari ini dia agak terlambat, bukan karena salju, tetapi karena hari itu Hari Valentine. Ada lebih banyak surat daripada biasanya. Dia melewati rumah Sophie tanpa mengangkat wajahnya. Dua puluh menit kemudian dia naik kembali ke mobilnya, lalu pergi. Sophie terbangun ketika mendengar mobil pos itu menjauh. Dia melepas kacamatanya lalu melap mulut dan matanya dengan saputangan yang selalu diselipkannya di lengan bajunya. Dia menegakkan badannya dengan bertumpu pada lengan kursi, pelan-pelan, sambil merapikan kimononya yang berwarna hijau tua. Sandalnya membuat bunyi kerisik lembut di lantai yang tak beralas ketika dia berjalan ke dapur. Dia berhenti di tempat cuci piring untuk mencuci dua piring yang ditinggalkannya di meja racik setelah makan siang tadi. Kemudian dia mengisi sebuah cangkir plastik dengan air, setengah penuh, lalu menelan beberapa butir pil. Saat itu pukul satu lewat empat puluh lima. Di kamar duduk, dekat jendela depan, ada kursi goyang. Sophie mendudukkan diri di kursi itu. Setengah jam lagi anak-anak akan lewat, mereka pulang dari sekolah.
Sophie menunggu, duduk bergoyang-goyang sambil memandangi salju. Yang muncul lebih dulu adalah anak-anak laki-laki, seperti biasa, sambil berlari-lari dan meneriakkan sesuatu yang tak bisa didengar Sophie. Sambil lewat, hari ini mereka membuat bola-bola salju, mereka saling melempar dengan seru. Sebutir bola salju luput dan menghantam jendela Sophie dengan keras. Sophie terjengkang, kursi goyangnya tergeser ke pinggir permadaninya yang berbentuk oval. Anak-anak perempuan berlari-lari menyusul anak-anak laki-laki, berdua-dua dan bertiga-tiga, sambil menangkupkan kedua tangan mereka yang terbungkus kaus tangan wol tebal dan tertawa-tawa cekikikan. Sophie menduga￾duga apakah mereka saling bertukar cerita tentang kartu￾kartu Valentine yang mereka terima di sekolah. Seorang anak perempuan cantik berambut cokelat panjang berhenti dan menunjuk ke jendela tempat Sophie duduk sambil memandang ke luar.
Sophie menyembunyikan wajahnya di balik gorden, tiba-tiba dia merasa malu. Ketika dia melongok ke luar lagi, anak-anak itu sudah pergi. Di dekat jendela udara dingin, tetapi dia tetap duduk di situ, memandangi salju berjatuhan menutupi jejak￾jejak kaki anak-anak itu. Mobil pengangkut bunga membelok ke Allan Street. Sophie mengikutinya dengan pandangan matanya. Mobil itu bergerak pelan. Dua kali berhenti, lalu berjalan lagi. Kemudian pengemudinya meminggir di depan rumah Bu Mason, tetangga sebelahnya, dan berhenti. Siapa yang mengirim bunga untuk Bu Mason? Sophie menebak-nebak. Putrinya yang tinggal di Wisconsin? Atau abangnya? Tidak mungkin, abangnya sakit keras. Mungkin putrinya. Manis benar anak itu. Bunga membuat Sophie ingat akan Joe dan, untuk sesaat, dibiarkannya kenangan sedih memenuhi pikirannya.
Besok pagi tanggal lima belas. Delapan bulan lewat sejak Joe meninggal. Pengantar bunga itu sedang mengetuk pintu depan rumah Bu Mason. Dia membawa sebuah kotak bermotif hijau-putih yang panjang dan sebuah clipboard. Kelihatannya tak ada yang menjawab. Tentu saja! Sekarang hari Jumat—setiap Jumat sore Bu Mason pergi membuat quilt di gereja. Pengantar bunga itu memandang berkeliling, kemudian berjalan ke rumah Sophie. Sophie bangkit dari kursi goyang dan berdiri rapat ke gorden. Lelaki itu mengetuk pintu. Tangan Sophie gemetar ketika dia merapikan rambutnya. Dia sampai ke lorong depan ketika orang itu mengetuk untuk ketiga kalinya.

"Ya?" kata Sophie sambil mengintip ke luar dari pintu yang terbuka sedikit.

"Selamat sore, Bu," kata orang itu keras-keras.

"Maukah Anda menerima titipan barang kiriman untuk tetangga Anda?"

"Ya," jawab Sophie sambil membuka pintu lebar-lebar.

"Sebaiknya saya letakkan di mana?" orang itu bertanya dengan sopan sambil melangkah masuk.

"Tolong letakkan di dapur. Di atas meja."

Orang itu tampak besar bagi Sophie. Dia nyaris tak bisa melihat wajah orang itu di antara topi petnya yang hijau dan cambangnya yang lebat. Sophie lega karena orang itu segera pergi. Dikuncinya pintu setelah orang itu keluar.

Kotak itu panjangnya sama dengan panjang meja dapur. Sophie berjalan mendekat dan membungkuk untuk mem￾baca tulisannya: "NATALIE'S Flower for Every Occasion."
Wangi mawar menyambutnya. Sophie memejamkan mata dan menarik napas pelan-pelan, membayangkan mawar￾mawar kuning. Joe selalu memilih mawar kuning. "To my sunshine," begitu katanya, sambil mengulurkan buket bunga yang mewah itu. Joe akan tertawa riang, mengecup ke￾ingnya, kemudian menggenggam tangannya dan menyanyikan You Are My Sunshine untuknya.

Pukul lima Bu Mason mengetuk pintu depan rumah Sophie. Sophie masih duduk dekat meja dapur. Kotak wadah bunga itu sudah terbuka. Sophie meletakkan mawar￾mawar itu di pangkuannya, menggoyangnya pelan, dan membelai daun bunganya yang kuning lembut. Bu Mason mengetuk lagi, tetapi Sophie tidak mendengar. Beberapa menit kemudian tetangganya itu pergi.
Beberapa saat kemudian Sophie bangkit, lalu meletakkan bunga-bunga itu di meja dapur. Pipinya memerah. Dia menarik bangku rendah menyeberangi lantai dapur dan mengambil vas porselen putih dari sudut atas lemari. Dengan gelas minum dia mengisikan air ke dalam vas, lalu dengan lembut menata mawar-mawar dan daun-daun itu. Setelah itu dibawanya vas itu ke kamar duduk. Dia tersenyum ketika sampai di tengah ruangan. Dia memutar badannya, kemudian mulai berdansa, melangkah, memutar, membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Dia melangkah dengan ringan dan anggun, berkeliling kamar duduk, ke dapur, ke lorong depan, kembali lagi. Dia ber￾dansa sampai kakinya lemas, kemudian menjatuhkan diri di kursi nyaman itu dan tertidur.
Pada pukul enam seperempat, Sophie terbangun karena kaget. Seseorang mengetuk pintu, kali ini pintu belakang. Ternyata, Bu Mason.

"Halo, Sophie," kata Bu Mason.

"Kau baik-baik saja? Aku mengetuk pintumu pukul lima dan agak cemas karena kau tidak menjawab. Kau sedang tidur?"

Wanita itu terus bicara sambil membersihkan salju yang menempel di sepatu botnya di atas keset. Kemudian dia melangkah masuk.

"Aku benci salju. Kau juga, kan? Menurut radio, tengah malam nanti salju bisa sampai enam inci. Tapi, kita tak pernah bisa mempercayai mereka. Masih ingat musim dingin tahun lalu ketika mereka meramalkan salju setebal empat inci dan nyatanya malah dua puluh satu inci? Dua puluh satu! Dan mereka bilang tahun ini musim dingin tidak akan terlalu dingin. Ha! Menurutku sudah berminggu￾minggu suhu tak pernah lebih tinggi daripada nol. Tahukah  kau, tagihan minyakku bulan lalu sampai $263? Padahal rumahku kecil!"

Sophie hanya setengah mendengarkan. Tiba-tiba dia ingat bunga-bunga mawar itu. Wajahnya merah padam karena malu. Kotak bunga yang kosong itu ada di belakangnya di meja dapur. Apa yang akan dikatakannya kepada Bu Mason?

"Aku tak tahu berapa lama lagi aku masih sanggup membayar tagihan. Kalau saja Alfred, semoga Tuhan memberkatinya, selalu hati-hati memegang uang seperti Joseph. Joseph! Astaga! Aku hampir melupakan bunga￾bunga mawar itu."

Pipi Sophie terasa panas. Dia bicara tergagap-gagap, meminta maaf, dan melangkah ke samping untuk menunjukkan kotak yang kosong itu.

"Oh, bagus," sela Bu Mason.
"Kau sudah memasuk￾kan mawar-mawar itu ke dalam air. Kalau begitu kau pasti sudah melihat kartunya. Kuharap kau tidak kaget melihat tulisan tangan Joseph. Joseph memintaku untuk mengirimkan mawar kepadamu pada tahun pertama, jadi aku dapat menjelaskan keinginannya. Dia tidak ingin mengagetkanmu. 'Dana Mawar,' kurasa begitu dia menamainya. Dia sudah mengaturnya dengan pemilik toko bunga bulan April yang lalu. Pria yang baik, Joseph-mu..."

Tetapi Sophie telah berhenti mendengarkan. Hatinya berdebar-debar ketika dia mengambil amplop putih kecil yang tadi tidak dilihatnya. Amplop itu sejak tadi tergeletak di samping kotak bunga. Dengan tangan gemetar, dikeluarkannya kartu itu.

"To my sunshine, " tertulis di situ.
"Aku mencintaimu sepenuh hati. Cobalah bergembira bila kau teringat padaku. Dengan cinta, Joe. "


Alicia von Stamwitz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar