Minggu, 04 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.2) by Elisabeth

Telepon toko berdering. Aku berlari akan mengangkatnya. Tepat ketika tangan Keith mendarat diatas tanganku yang juga hendak mengangkat telepon. Kami saling bertatapan sebentar kemudian saling membuang muka. Keith segera menjauhkan tangannya dan berjalan pergi. Aku mengangkat telepon. Dari Celine yang kini mendesakku untuk segera memutuskan.
Berhubung tidak ada kerjaan jadi bisa langsung browsing internet. Aku mencari event yang dikatakan Celine. Hanya sebentar sudah muncul banyak. Aku melihat gambar dilayar laptop yang sepertinya pernah ku lihat. Ya, brosur yang dulu diberikan seorang pemuda. Aku mencari diatas meja diantara tumpukan buku dan ketemu. Gambar dilayar laptop dan di brosur itu sama. Aku memilih membuka situs resminya saja untuk kejelasan dan informasi yang lebih lengkap. Sekarang tinggal aku yang memutuskan. Jika dipikir ini liburan gratis karna Celine yang menanggung biaya transportasi. Sementara biaya penginapan sangatlah murah karna diskon special event. Aku mengambil brosur itu lagi, sedang berpikir jika aku pergi bagaimana dengan toko bungaku. Apa Keith bisa mengurusnya sendiri?

" Ehem... Sudah punya rencana berlibur rupanya? " Keith berkata.

" Entahlah. Aku masih bingung. " jawabku. Ku letakkan brosur di meja. Keith mengambilnya dan membaca.

" Pergi saja. Kapan lagi bisa menginap di resort mewah dengan harga murah?! Ada pesta kembang api lagi. " ujar Keith.

" Kau ingin pergi? " candaku.

" Aku?! Yang benar saja, Edeline. Aku tidak suka tempat seperti itu. " Keith cepat-cepat menolak. Aku tertawa.

Aku sedang mengemasi barang bersiap untuk tutup. Ariana muncul.
" Ah sepertinya aku memang tak bisa tepat waktu. " keluhnya sambil meminta maaf padaku.
"
Tidak apa-apa, Keith pasti senang melayanimu. Aku pulang dulu ya. " pamitku meninggalkan toko.

" Nanti aku antarkan kunci. " seru Keith. Aku mengacungkan jari OK.

" Untuk persembahan kuil? " tanya Keith begitu Ariana menyerahkan bunga yang sudah dipilihnya.

" Iya. Memohon doa. " jawab Ariana.
Keith mengangkat wajahnya menatap Ariana.

" Aku juga boleh memohon doa? " tanyanya.

" Tentu saja! " jawab Ariana senang karna Keith akan ikut dengannya.

Di kuil, Keith memejamkan mata berdoa dengan khusuk. Ariana mengucapkan sebait doa dalam hati. Ia lalu menatap Keith di sampingnya sampai Keith mulai membuka matanya. Ariana memalingkan wajah.

" Kalau boleh tahu apa yang kau doakan? Khusuk sekali. " tanya Ariana.

" Hanya memohon kesehatan, kelancaran pekerjaan dan seseorang. " jawab Keith jujur.

" Apa orang yang penting? " tanya Ariana ingin tahu.

" Entahlah. Mungkin ya mungkin juga tidak. " jawab Keith. Ia sendiri bingung.

" Kalau begitu orang yang kau sukai? " Ariana bertanya lebih detail.

" Ya, sepertinya. " jawab Keith.

Ariana terdiam hanya bergumam pelan. " Oohhh.. "

" Dan kau mendoakan apa, Ariana? Kau pasti sering datang berdoa kan!? " giliran Keith bertanya.

" Aku berdoa untuk orang tuaku dan seseorang. " jawab Ariana.

" Orang yang kau sukai? " tebak Keith.

" Ya. Aku menyukainya saat pertama kali melihatnya. Ia sering tersenyum, ada kalanya ia juga begitu serius. Ia baik sekalipun terhadap orang yang baru dikenal. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya dan ketulusannya. " Ariana menerangkan sambil membayangkan sosok orang itu.

" Apa ia tahu kau menyukainya? " tanya Keith.

" Tidak. Aku rasa ia menyukai orang lain. " jawab Ariana dengan murung.

" Jangan pesimis dulu. Kau belum mencoba. Tunjukkan perhatianmu padanya. " Keith memberi semangat.

" Ya. Terima kasih. " ucap Ariana.

Kebetulan hari itu ada stand Omamori disamping kuil. Ariana mengajak Keith kesana untuk melihat-lihat. Ariana tertarik untuk membeli, Keith pun ikut membeli satu.

" Aku tidak bisa lama, aku masih harus mengantar kunci. Ayo ku antar kau pulang dulu! " ajak Keith setelah pergi dari stand.

" Tidak, kau duluan saja. Aku masih ada keperluan. Nanti aku bisa pulang sendiri. " tolak Ariana.

" Oh baiklah aku duluan ya! Sampai bertemu! " pamit Keith. Ariana tersenyum kecil sambil melambaikan tangan. Menatap kepergian Keith sampai sosoknya menghilang.
----#----

Aku sedang berdiri diatas balkon. Menikmati sejuknya udara malam. Dari atas sini ku lihat Keith datang. Ia membuka pintu pagar dan berjalan masuk. Ia tak melihatku jadi aku turun ke bawah. Mama sepertinya dikamar jadi aku membuka pintu.

" Maaf, kemalaman. Ini kunci mu! " Keith langsung menyodorkan kunci padaku. Aku menerimanya.

" Habis kencan dimana? " ejekku.

" Tidak ada kencan, Edeline! Kami hanya ke kuil! " jelas Keith jujur.

" Heh.. Keith ke kuil?! " seruku. Agak kaget juga baru sekarang dengar Keith pergi ke kuil.

" Apa yang salah? Sudah ya, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, nyonya Edeline! " pamit Keith sambil mengejek.

" Hehh... Nyonya katamu?! Awas ya! " seruku tak terima dipanggil begitu tua. Keith pergi dengan cepat sambil tertawa terkekeh.

Aku masuk kembali kedalam rumah. Entah kapan mama sudah ada di ruang tamu.
" Keith jadi rajin kemari ya!? " kata mama dengan nada menggoda.

" Dia kemari hanya mengantar kunci, mama. Akhir-akhir ini ada seorang gadis yang selalu datang saat toko mau tutup. Aku tak mau menunggu jadi ku biarkan Keith yang melayaninya dan menutup toko. " jelasku.

" Begitu? " mama seperti tak percaya.

" Ya. Aku rasa gadis itu menyukai Keith, mama! " kataku lagi dengan semangat.

" Dan kau? " mama bertanya dengan tatapan penuh arti.

" Aku? Aku kenapa? Mama jangan bercanda ah! " sahutku.

" Kau berada di satu toko dengan Keith cukup lama. Bertemu dan bekerja bersama setiap hari. Masa kau tidak ada perasaan sedikit pun padanya? " tanya mama heran.

" Aku tak merasa apa-apa. Mama kenapa bertanya yang aneh-aneh begitu? " aku malah merasa aneh pada mama. Mama sudah seperti mak comblang saja yang suka mengomporiku soal Keith.

" Mama juga pernah muda, Edeline. Dua orang yang bersahabat sejak lama saja bisa saling jatuh cinta, apalagi yang modelnya sepertimu?! " ujar mama enteng saja.
" Mama tidak melarang kalau kau suka pada Keith. Sebab mama tahu Keith pemuda yang baik. " lanjut mama.

Aku diam saja tak menanggapi.

" Oh ya Edeline, mama hampir lupa. Bagaimana dengan rencana liburan bersama Celine. Kau ikut kan? " tanya mama. Akhirnya ada topik lain.

" Entahlah. Aku bingung. Kalau aku pergi bagaimana dengan toko bunga? " jawabku.

" Toko bunga kan ada Keith yang mengurus. Cuma 4 hari koq, sayang kesempatan langka. Mama sih sudah tua, biar kalian yang muda saja yang menikmati. " ujar mama.

" Apa Keith bisa mengurus toko sendiri? Bagaimana kalau banyak pembeli? " tanyaku masih ragu.

" Kalau mau berlibur jangan banyak pikir nanti malah batal. Mama percaya Keith bisa. Kalau ramai mama bisa pergi membantu. Kalau tidak dekat-dekat dengan bunga tidak masalah. " mama meyakinkan. Tapi aku masih kurang yakin.

****

Aku baru tiba di toko tepat Keith juga baru sampai.
" Selamat pagi, no... "

Aku mengacungkan tinjuku ke depan wajah Keith sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Aku masih belum membalas ejekannya semalam.
" Maksudku selamat pagi Edeline yang manis! " Keith segera meralat.

" Jangan pura-pura bersikap manis! Aku masih belum lupa ucapanmu semalam. " ancamku.

" Aku cuma bercanda. Masih pagi jangan marah-marah nanti beneran tua loh! " Keith masih mengejek sambil tertawa kecil. Aku melotot dan ingin menimpuknya dengan tasku namun ia keburu kabur ke dalam duluan.

Aku jadi teringat ucapan mama semalam. Aku bertemu Keith setiap hari, bercanda setiap saat, tapi tidak merasakan perasaan lebih terhadapnya. Sebenarnya itu karna aku belum siap menerima hati yang lain. Aku belum bisa melupakan dia sepenuhnya meskipun itu sudah lama berlalu.
Aku masih terus memegang brosur itu di toko. Keith datang menghampiri.
" Pergi saja tidak usah banyak berpikir. " komentarnya tanpa diminta.

Aku menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Ku letakkan brosur itu diatas meja. Lalu menatap Keith.
" Aku membuat kebijakan baru. Mulai bulan depan setiap hari minggu toko bunga tutup alias libur. Jadi kau punya hari libur setiap minggu. Sementara gaji akan tetap diberikan tiap awal bulan. " kataku serius.

" A..apa? Kenapa harus seperti itu? Aku tidak butuh hari libur. " sahut Keith tak setuju.

" Kau tidak butuh tapi aku tak mau membuat pegawaiku harus bekerja keras setiap hari. " terangku.

" Kau bisa membiarkanku jaga sendiri dihari minggu asal jangan ditutup. Lagi pula aku tidak bekerja dengan keras lihat sekarang saja aku sangat santai. " ujar Keith. Aku menggelengkan kepala.

" Ayolah.. Edeline, Aku tak suka berlibur. Hari libur sangat membosankan. Tak ada yang bisa ku kerjakan. " Keith memohon. Aku tetap menggeleng.

" Keputusan tidak bisa di ubah. Kau juga perlu waktu untuk dirimu sendiri, Keith. Kau harus memikirkan hal lain selain pekerjaan. Melakukan sesuatu yang lain selain merangkai bunga. Kau harus memikirkan masa depanmu juga. " kataku tegas. Keith tak bisa membantah.

" Baiklah. " ucap Keith dengan lemas.

" Aku rasa akan menitipkan toko ini selama 4 hari padamu. Kau bisa mengurusnya dengan baik kan?! " tanyaku serius.

" Tentu saja. Kau bisa percayakan padaku, Edeline! Aku takkan mengecewakanmu! " jawab Keith sangat bersungguh-sungguh.

" Oke. Terima kasih. " balasku.

Celine sangat senang mendengar aku akan pergi bersamanya. Ia dan Hans serta putrinya sampai berkunjung ke rumah mama. Kami berkumpul dan makan bersama. Celine juga berencana menitipkan putrinya pada mama. Sebab tak ingin merepotkan Hans yang harus berjualan. Mama juga tidak keberatan.

Sehari sebelum berangkat, aku masih ke toko. Aku sibuk mengemasi barang-barang di atas meja. Aku ingin semuanya tetap rapi sampai aku pulang. Keith datang menawarkan bantuan. Aku menolak karna bukan pekerjaan sulit. Kemudian ia memberikan sesuatu seperti kantong kecil padaku.
" Ini untukmu! "

" Apa itu? " tanyaku.

" Ini Omamori, jimat keberuntungan. " jawab Keith. Lalu ia menunjuk huruf kanji yang tertulis diatasnya.
" Kotsu Anzan, keselamatan sampai tujuan. Terimalah! " ia sodorkan padaku.

Aku melongo.
" Kau percaya hal seperti ini? " tanyaku sambil mengerutkan kening.

" Tidak begitu. Tapi apa salahnya?! Ini ambillah! " jawab Keith terus menyodorkannya padaku.

Aku menyeringai, menerima kantong itu dengan perasaan aneh. Mengumam dengan suara kecil.
" Gadis itu sangat ajaib! "

" Apa katamu? " tanya Keith tak mendengar jelas.

" Ahahaha.. Tidak ada. Terima kasih! " jawabku sambil tersenyum lebar menutupi kebohongan.

" Sama-sama! " balas Keith yang juga ikut tersenyum lebar. Senyum yang amat terlalu manis.

****

Hanya setengah jam perjalanan, pesawat yang aku dan Celine tumpangi pun tiba. Dari bandara langsung menuju ke Glotious Resort & Villas. Sebelumnya Celine sudah mendaftarkan nama sebagai participant event dan telah mendapat verifikasi dari pihak Glotious. Jadi hanya tinggal menunjukkan bukti verifikasi yang dikirim ke email pada resepsionis maka langsung mendapat harga special 4 hari sesuai yang tercetak dibrosur.
Celine juga memilih tema Beach Villas dengan kamar khusus 2 orang yang langsung menghadap ke pantai Sand-Glare. Fasilitas yang ada dalam kamarnya pun mengagumkan. Selain cukup lengkap ada pula kolam pribadi disisi lain ruangan. Aku pun bisa menikmati pemandangan laut dari balkon kamar.

" Ini sangat keren! " pujiku kagum.

" Benarkan kau tak akan menyesal setelah sampai disini! " timpal Celine.

" Harusnya kakak juga mengajak Hans dan Libelle kemari. " kataku.

" Aku tidak bisa mengajak mereka kalau mama tidak ikut. Masa aku membiarkanmu sendirian?! Hans juga tidak bisa meninggalkan tokonya terlalu lama kalau bukan hari libur. Mama juga bersedia menjaga Libelle jadi aku punya kesempatan memanjakan adikku yang satu ini! " jelas Celine dengan tatapan sayang.

" Kakak memang the best! " sanjungku pada Celine yang lebih tua 5 tahun dariku.

Kami beristirahat dikamar hingga petang. Setelah menikmati makan malam, kami berjalan-jalan di area Evergreen. Kawasan hijau di Glotious dengan taman bunga serta padang hijau yang luas. Bangunan yang tinggi menjulang didepannya itu adalah bangunan hotel berbintangnya Evergreen. Dan disinilah salah satu event menariknya yaitu padang luas yang kini berubah jadi taman lampion yang cantik. Aku dan Celine berjalan-jalan disana tak lupa kami juga berfoto dengan latar lampion yang berwarna-warni itu.
Puas berfoto kami kembali ke pantai Sand-Grale. Celine hanya jalan-jalan sebentar ia memilih kembali ke kamar karna lelah dan harus merapikan pakaian. Sedangkan aku masih ingin duduk-duduk diteras kamar. Merasa bosan aku memilih jalan sebentar di pantai.
Malam ini pantai tidak ramai seperti siang hari, mungkin karna kebanyakan wisatawan pergi ke taman lampion. Angin bertiup cukup kuat, ujung syalku sampai beterbangan. Aku berjalan agak jauh dari bibir pantai tak ingin basah terciprat ombak yang menderu. Berdiri sendiri sambil menatap langit malam dan lautan luas didepan dengan ombak yang menderu. Aku jadi teringat sebuah kalimat, aku lupa entah siapa yang mengatakannya. Ah, itu tidak penting.
Aku mengambil ranting kecil yang terbawa ombak. Berjalan agak mendekat ke bibir pantai yang pasirnya agak basah. Kemudian berjongkok. Dengan ranting kecil itu aku menuliskan nama seseorang di atas pasir yang basah. Dan menunggu ombak datang menghapusnya. Katanya itu cara agar bisa melupakan orang tersebut. Saat ombak mulai datang aku segera berdiri dan berlari mundur tak ingin kakiku basah. Aku pun tak melihat arah belakangku sehingga tanpa sengaja menabrak seseorang yang kebetulan lewat.

" Ups, ma..... " aku baru ingin meminta maaf namun begitu melihat siapa yang ku tabrak aku tertegun.

" Edeline?! " seru orang itu.
Aku menutup mulutku tak percaya. Mimpi sepertinya menjadi nyata. Benarkah ini dia? Wajahnya tak berubah sedikitpun.

" Edeline kan?! Astaga... Aku tak percaya ini kau! " kata pemuda itu dengan senyum sumringah.

" Ya... Ray... " hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

" Bagaimana kabarmu? Aku tak percaya bisa bertemu denganmu disini! " ujar Ray nampak senang.

" Seperti yang kau lihat sekarang, aku baik. " jawabku. Tapi dalam hati aku berkata lain.

" Astaga, waktu benar-benar cepat sekali berlalu. Aku seharusnya minta maaf padamu, Edeline! Aku tak sempat berpamitan padamu. " tutur Ray dengan sesal.

" Tidak apa-apa. Kau memilih jalanmu juga sudah sebuah tanda pamit bagiku. Lagi pula semua sudah berlalu. " balasku. Tapi aku masih berharap ada awal yang baru. Mungkin.

" Ya, kau benar semua sudah berlalu. Oh ya kau kesini dengan siapa? Kenapa masih jalan sendirian malam-malam begini? " tanya Ray. Kami berjalan dengan pelan menyusuri pantai.

" Aku kesini dengan kakakku. Ya, hanya mencari udara segar. Lagi pula kamarku dekat, ada di sana! " jawabku sambil menunjuk.
" Dan kau? " aku balik bertanya.

" Aku di Evergreen, Family room 118. Kebetulan memang aku datang bersama keluargaku. Aku sudah 2 hari disini loh! " terang Ray.

" Oh aku baru tiba hari ini. Lalu kenapa kau disini? " tanyaku.

" Keluarga ku sedang jalan-jalan di taman lampion. Aku tidak suka disana terlalu ramai jadi jalan kesini. Cari udara segar. " jawab Ray. Ia menatapku sambil tersenyum.

Aku menatapnya tapi kemudian mengalihkan pandangan. Hatiku terasa deg-degan. Setelah sekian lama tak bertemu. Aku malah kehilangan kata-kata. Antara haru dan bahagia, entah bagaimana mengungkapkannya.

" Apa aku boleh bertemu denganmu lagi? " tanya Ray tiba-tiba.

" Aaa.. Tentu saja. " jawabku. Aku agak menggigil oleh angin dingin yang bertiup. Syal saja nampaknya tidak membantu.

Ray melepaskan jaket hitam yang ia pakai dan menutupinya ke pundakku. Rasanya hangat.
" Kalau begitu aku akan kesini besok. " ujar Ray.

" Besok malam? " tanyaku.

" Malam! Oke! " jawab Ray. Kami berdua tersenyum.

Saat aku kembali ke kamar Celine sudah tidur. Ku letakkan jaket hitam Ray diatas kursi. Suara ombak yang menderu masih terdengar jelas sampai ke kamar. Aku masih tak percaya aku bertemu lagi dengannya. Yang namanya sudah tersapu ombak muncul secara nyata dihadapanku. Apakah ini keajaiban? Entahlah. Yang jelas aku tak sabar menanti esok hari.

****

" Edeline, ini jaket siapa? " tanya Celine melihat jaket seorang pemuda tergeletak diatas kursi.
Aku yang baru selesai mandi langsung ditarik Celine meminta penjelasan. Aku menceritakan secara singkat pertemuanku dengan Ray semalam dan siapa Ray pada Celine.

" Ooh.. Jadi Ray mantan pacarmu!? Pantas saja kau betah sendirian. Rupanya belum bisa melupakan cinta lama. " seru Celine mulai mengerti.

" Kakak.. Jangan mengejekku ya! " aku mengingatkan lebih dulu.

" Tidak. Hanya saja tidak baik terpuruk terlalu lama dengan masa lalu. Apalagi menunggu begitu lama. Setiap orang mungkin berubah, Edeline. Aku bukannya melarangmu bertemu dengannya lagi, tapi setelah lima tahun berlalu kita tidak tahu apa yang sudah terjadi. Aku hanya berharap kau tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. " Celine mengingatkan dengan niat baik.

" Jadi aku tidak boleh terlalu berharap! " aku menyimpulkan.

" Seharusnya memang begitu. Kecuali kau sudah memastikan semuanya. Kalau ia juga sepertimu. " jawab Celine pelan.

" Aku mengerti, kakak. Ia mengajakku bertemu lagi nanti malam. Apa aku boleh pergi? " tanyaku meminta ijin.

" Aku tak mungkin melarangmu. Tapi ingat ya, kau harus tetap bisa menjaga diri dan perasaanmu! Jangan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal! " Celine berpesan.

" Iya, terima kasih kakak. " balasku sambil ----#----
Ditoko bunga, Keith baru selesai melayani seorang pembeli. Setelah pembeli pergi, toko kembali sepi. Ia menatap ke meja Edeline yang sekarang kosong.
' Toko bunga ini, tanpa mu rasanya sepi sekali. ' gumam Keith didalam hati.
----#----

Aku sedang duduk di teras kamar sambil menunggu Ray. Celine menonton atraksi tarian api didekat pantai. Tak lama Ray datang dengan pakaian rapi.

" Hi, Edeline. Lama menunggu? " tanya Ray.

" Tidak. " jawabku.

" Mau ke suatu tempat atau melihat atraksi tarian api? " tanya Ray membiarkanku memilih.

" Suatu tempat itu dimana? " tanyaku balik.

" Kalau mau tahu ayo pergi.. " ajak Ray merahasiakan.

Aku agak sedikit ragu teringat pesan Celine. Meski pun ia orang yang pernah mencintaiku, tak ada salahnya tetap merasa waspada. Ray melihat keraguan diwajahku. Ia kemudian menarik tanganku.
" Ayo, aku tidak akan menyekapmu! Aku akan mengembalikanmu ke kakakmu tepat waktu. " janjinya.

Aku mengikuti. Ternyata ia membawa ku ke Evergreen Resort. Kami naik ke lantai atas dengan lift. Aku mulai sedikit cemas kemana Ray akan membawaku. Lift berhenti di lantai paling atas. Pintu lift terbuka dan nampaklah didepannya gerbang sebuah restoran dengan atap transparan. Di langit-langit atap juga bergelantungan lampu yang berkelap-kelip memenuhi ruang restoran. Ray membawaku ke sebuah meja yang berada di area terbuka dekat pagar pembatas yang dihiasi lampu-lampu dan ornamen tanaman rambat sehingga pemandangan dari bawah nampak jelas dari atas sini.

" Wow... " seruku takjub.

" Keren bukan!? Hampir seluruh Glotious bisa terlihat dari sini. " ujar Ray sambil terus menatapku.

" Ya. Sungguh indah! " pujiku.

Ray lalu mengajakku makan. Kami seperti sepasang kekasih yang sedang makan malam romantis. Sesekali diselingi canda dan tawa.

" Aku harap ini bisa menebus semua kesalahanku padamu, Edeline! " ucap Ray tiba-tiba.

" Apa maksudmu? " tanyaku.

" Bisakah kau katakan padaku, apa kau memaafkanku? " Ray justru bertanya.

" Aku tak mengerti. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya hari ini. Bukankah semalam aku juga sudah mengatakannya? " jawabku.

" Kalau begitu aku bisa sedikit lega. Terima kasih, Edeline! Kau gadis terbaik yang pernah aku temui! " ucapan Ray semakin aneh. Aku masih tak mengerti.

" Apa kau mengajakku ketempat seperti ini hanya untuk minta maaf? " tanyaku.

" Sebenarnya iya. Seperti yang ku katakan tadi, semoga bisa menebus kesalahanku dulu. " jawab Ray. Aku terdiam. Aku merasa ingin pergi jika tujuannya hanya untuk itu, aku pikir tidak perlu sampai seromantis ini. Namun tatapan Ray kembali menahanku.

" Aku benar-benar tak mengerti, Ray! Jika tujuanmu hanya untuk meminta maaf, menebus kesalahan, kenapa harus mengajakku kesini? " tanyaku dengan suara tertahan agar tak menggangu pengunjung lain.

" Edeline, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Aku benar-benar kacau dan dalam masalah besar. Aku berlibur kesini karna ku pikir aku bisa memikirkan semuanya dengan tenang. Tapi bertemu denganmu lagi... Justru membuatku kembali bimbang. " tiba-tiba Ray mengatakan hal itu dengan wajah murung. Aku juga tak tahu apa masalah yang membuatnya begitu kacau.

" Kau ini sangat aneh. Apa yang sudah terjadi padamu selama lima tahun ini? Kau tidak harus mengajakku bertemu kembali malam ini jika aku hanya membuatmu bimbang kan?! " kataku ketus. Aku mulai tak nyaman.

" Apa kau tahu, apa yang membuatku ingin bertemu denganmu lagi? Matamu, Edeline! Tatapan matamu tidak pernah berubah. Masih berbinar seperti saat kau menatapku dulu. Itu yang membuatku merasa bersalah. " jelas Ray.

Aku diam saja. Aku hanya bisa berkata dalam hati.
' Ray, jika saja aku bisa mengatakan semua perasaan yang ku alami selama ini padamu! Sayangnya sangat sulit bagiku dengan dirimu yang kini penuh teka-teki. '

" Aku antar kau kembali ke kamarmu saja. Aku tak mau kakakmu cemas. Terima kasih sudah meluangkan waktumu malam ini! " ucap Ray dengan pelan. Aku diam tak ingin berkata apapun. Setelah berada dihalaman Evergreen Resort, aku memaksa untuk kembali sendiri. Aku tinggalkan Ray yang sebenarnya enggan. Aku terus memikirkan maksud setiap ucapan Ray yang penuh tanda tanya. Dan mendapat satu kesimpulan, mungkinkah masalah besarnya itu ada hubungannya dengan seorang wanita?!

****

Pagi ini aku dan Celine sengaja bangun sedikit lebih awal. Tujuannya ingin lari pagi bersama. Sudah lama tidak berolahraga, tubuh rasanya kaku semua. Memang tersedia fasilitas kebugaran dan gym disalah satu gedung Evergreen. Namun aku dan Celine lebih suka olahraga ringan diluar ruangan. Kami memulai lari pagi dari Sand-Grale menuju ke Spiral Fountain Park. Lelah berlari kami berjalan santai. Ada bangku tempat duduk disekitar taman. Kami berhenti untuk istirahat sejenak. Celine melakukan gerakan pemanasan ringan. Aku duduk saja. Seorang wanita muda sedang lewat ia langsung menyapa Celine begitu mengenalinya. Celine dan wanita itu mengobrol akrab. Aku masih duduk dengan manis sambil celingak-celinguk kesana kemari. Di samping fountain berdiri seorang pemuda. Wajahnya menunduk dengan sesuatu yang ia pegang ditangannya. Dari fisiknya sepertinya aku kenal. Aku berjalan mendekat dengan pelan. Ia tak menyadari kehadiranku. Ia sibuk dengan sesuatu di tangannya yang sekarang dapat ku lihat dengan jelas.

" Jika benda itu menggangu pikiranmu, kenapa tidak kau buang saja? " seruku. Ia terkejut dan mengangkat kepalanya untuk menatapku.

" Edeline?! " ujar Ray. Ia kembali melihat benda berkilau yang ada ditangannya.

" Ya kau benar, jika benda ini hanya membawa kesedihan, kenapa aku tidak membuangnya saja ya?! " Ray langsung membuang benda itu ke dalam fountain. Benda itu tenggelam dengan cepat ke dasar fountain.

" Aku tak tahu kau juga kesini. Ku pikir kau akan marah padaku setelah apa yang ku katakan semalam. " tutur Ray.

" Apa kau lihat aku orang yang seperti itu? " tanyaku.

Ray tertawa.
" Tidak. Kau tidak seperti itu. " jawabnya pasti.
Dari jauh terdengar suara yang memanggil Ray. Beberapa orang menunggu disana sedangkan seorang dari mereka melambai menyuruhnya datang.

" Aku harus pergi. Keluargaku memanggil. " pamit Ray.

" Sampai bertemu. " balasku. Ray berlari kecil menghampiri mereka. Kemudian rombongan itu pergi.
Celine sudah dibelakangku tanpa ku sadari.
" Jadi itu Ray? " tanyanya membuatku terkejut.

" Sejak kapan kakak berdiri disini? " tanyaku.

" Baru saja. Ayo pergi. " jawab Celine, ia menarik lenganku.

" Tunggu sebentar. " aku berhenti kemudian mendekati fountain.
Aku berdiri ditepi fountain mencari ke dasar air yang jernih. Benda berkilau itu nampak jelas terlihat.

" Apa yang kau cari? " tanya Celine bingung.

" Sesuatu yang jatuh. " jawabku.

Kemudian aku meminta bantuan penjaga taman untuk mengambil benda itu. Sebab aku tak mungkin masuk kedalam sana. Celine menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Setelah dapatkan gelang berkilau itu, aku dan Celine kembali ke penginapan.

Seharian ini kami berpetualang ke taman Labirin. Sebelum sore aku sudah kembali ke penginapan lebih dulu. Celine bertemu teman lamanya dan ingin menghabiskan waktu bersama sebelum liburan berakhir. Masing-masing tinggal dikota berbeda jadi jarang sekali bisa bertemu muka.
Ini malam terakhirku disini. Dan besok sore sudah akan pulang. Liburan dengan Celine kali ini sangat menyenangkan. Tapi aku masih merasa ada yang mengganjal dihati. Pertemuan yang sama sekali tidak berkesan dengan Ray. Aku menatap gelang yang dibuang Ray tadi pagi. Gelang yang sangat indah. Dengan dua rantai kecil disisi kiri-kanannya, di tengahnya terdapat tiga kuntum bunga dengan permata berkilauan yang tertanam ditiap kelopak. Dibagian belakang bunga terdapat ukiran sebuah nama.

" Irena?! Apakah dia yang membuatmu begitu kacau!? " aku bertanya sendiri.

Ucapan Ray yang tak ku mengerti malam itu kembali terngiang ditelingaku, begitu juga perkataan Celine. Ya, setelah lima tahun aku tak tahu apa yang sudah dilewatinya dan apa yang terjadi padanya. Selama itu pula aku terus menutup hati. Berlari dari kenyataan dan terus menenggelamkan diri dalam kubangan kenangan. Aku terus menatap gelang itu. Mungkin gelang ini adalah bukti bahwa sudah saatnya aku bangun dari mimpi. Waktu telah memberiku kesempatan untuk bertemu kembali, waktu juga menyadarkanku bahwa ia mampu mengubah perasaan seseorang.
Aku letakkan gelang itu kedalam sebuah kotak kecil. Lalu menaruhnya diatas jaket hitam Ray yang sudah terlipat rapi. Aku selipkan sebuah surat diantara kotak itu. Kemudian memasukkannya ke dalam paper bag yang tertutup rapi. Aku berniat untuk pergi mengembalikannya sekarang juga.
Aku baru berjalan memasuki lobby Evergreen Resort. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari dari arah depan menabrakku. Tubuhku mampu menahannya sehingga ia tak sampai jatuh.

" Kamu..... Bukankah anak kecil yang waktu itu!? " seruku pada anak itu. Aku masih ingat wajah anak kecil yang menabrakku disupermarket waktu itu.

" Bibi... " rengek anak itu sepertinya sedang menangis.
Seorang wanita paruh baya  datang mengejarnya.
" Joana, ayo sini sama nenek. Kita ke kamar bobo dulu ya! " bujuk wanita paruh baya itu.
" Tidak mau. Aku mau main sama papa. " rengek anak kecil itu.
Wanita yang merupakan neneknya itu mengambil tangannya.
" Ayo sini sayang, malu sama bibi cantik ini. Papa mu sebentar lagi akan datang. Kita tunggu di kamar saja ya! " bujuknya. Anak kecil itu menggeleng sambil memeluk erat pinggangku.
Saat itu Ray datang terburu-buru dari pintu masuk. Ia berjalan mendekat. Anak kecil itu langsung berlari ke arah Ray.
" Papa... " panggil anak kecil itu dengan girang.

Aku cukup terkejut. Tak pernah menyangka kalau anak kecil itu anak Ray. Dia bahkan tak memberitahuku.
Ray menggendong anak itu. Dan mendekati wanita paruh baya itu.

" Ibu, biar Joana denganku saja. Ibu kembalilah ke kamar dulu. Maaf sudah merepotkan hari ini. " kata Ray dengan lembut. Wanita itu mengangguk. Kemudian berkata padaku,
" Maaf ya nona, Joana sudah mengganggu jalanmu! "
" Tidak apa-apa, bibi! " jawabku dengan lembut. wanita itu masih mencium Joana sebelum ia pergi.

" Jadi dia anakmu? " tanyaku masih agak terkejut.

Ray mengangguk pelan.
" Maaf tidak memberitahumu! " ucap Ray.

Aku terdiam. Namun aku ingat tujuanku kemari. Aku berusaha tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.
" Aku datang untuk mengembalikan jaketmu. Terima kasih! " kataku singkat sambil menyerahkan paper bag pada Ray. Ray menerimanya.
" Aku pergi dulu ya! " aku ingin segera pergi tapi Joana berkata,

" Bibi, jangan pergi dulu. Kita main dulu yuk. Dengan Joana dan papa. "

" Joana, bibi tidak bisa main sekarang. Bibi masih ada kerjaan. Nanti malam kita lihat kembang api sama-sama ya! Tapi Joana sekarang bobo dulu. " Ray merayunya dengan lembut.

" Bibi juga ikut lihat dengan kita kan papa? " tanya Joana.
Ray kemudian menatapku. Aku tak tahu bagaimana harus berkata tidak.

Melihat kepolosan diwajah Joana, hatiku luluh. Aku berkata padanya,
" Iya, bibi akan datang melihat kembang api denganmu. "

" Janji? " tanya Joana sambil mengangkat kelingking kecilnya.

" Janji. " balasku sambil melingkarkan kelingking dijarinya.
Ray hanya tersenyum. Nampak lega diwajahnya. Namun aku tak berkata apa-apa padanya. Atau tepatnya tidak tahu mau berkata apa. Jadi aku pergi begitu saja.

----#----
" Kenapa kamu ingin bibi tadi ikut melihat kembang api denganmu, sayang? Kamu kan tidak kenal dengannya? " tanya Ray begitu Edeline pergi.

" Karna bibi tadi pernah membelikan es krim untuk Joana. Joana ingin membalasnya. Ingin bibi itu tersenyum karna tadi ia terlihat sedih. " jawab Joana polos. Ray baru mengerti.

" Iya, nanti malam papa akan jemput bibi Edeline untuk Joana ya! Tapi sekarang kita tidak bisa main. Joana harus bobo supaya nanti malam bisa lihat kembang api. Setuju? " Ray berkata dengan lembut. Joana baru mengangguk.
----#----

Aku kembali ke penginapan. Celine masih belum kembali. Padahal sudah hampir senja, matahari merah sudah mulai menenggelamkan dirinya. Aku berjalan-jalan di pantai. Sebentar lagi matahari terbenam, ku harap semua kenangan dimasa lalu akan ikut tenggelam. Aku duduk ditepi pantai menunggu langit berubah gelap. Suara ombak terasa menenangkan. Sebenarnya aku ingin sendiri tapi Ray justru datang dan ikut duduk di sampingku.

" Terlalu sayang dilewatkan sendiri. " kata Ray sambil menatap juah kedepan.

Aku menatapnya.
" Kenapa kau kemari? Seharusnya kau menemani Joana. " kataku.

" Dia sudah tidur. Kenapa kau berjanji padanya, Edeline? Jika aku membuatmu sedih, kau tidak harus terus berpura-pura. " tanya Ray.

" Jadi apa aku harus menangis sekarang? Lalu untuk apa menangis pada sesuatu yang jelas bukan lagi milikku?! Aku tak pernah merasa begitu sedih, aku pikir aku hanya terlalu lama bermimpi. " jawabku berusaha mengelak. Dan dengan sekuat tenaga menjaga perasaan.

" Apa kau tahu, Edeline... Saat aku bertanya pada Joana kenapa ia mengajakmu.. Joana berkata karna kau membelikannya es krim dan ia ingin membalasnya. Ia ingin membuatmu tersenyum karna kau terlihat sedih. Aku tak mengerti bagaimana anak seusia Joana bisa melihat kesedihan diwajah orang yang baru dua kali ditemuinya. Aku memang tidak bisa menebak seperti Joana bagaimana perasaanmu, Edeline. Bukan hak ku untuk menanyakan hal ini lagi padamu. Meskipun aku sangat ingin tahu. " tutur Ray dengan pelan.

" Bukankah kau sudah menebaknya dari tatapan mataku?! Ku pikir itu sudah cukup jelas. " balasku.
Ray sontak menatapku. Matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya. Aku dan Ray hanya saling diam menatap detik-detik terakhir matahari terbenam hingga menghilang dibalik lautan.

" Sekarang aku sadar, kisah kita sudah berakhir Ray! Cerita kita adalah masa lalu. Kau memiliki keluarga kecil yang harus kau jaga. Sebelumnya aku memang tak bisa melupakanmu, tapi setelah ini aku ingin kau melupakan perasaanmu yang tersisa. Kembali pada kehidupanmu, aku juga akan belajar berhenti bermimpi dan kembali bangkit untuk kisah yang baru. " kataku dengan pelan.

" Edeline.... "

" Aku tak ingin mendengar kata maafmu lagi. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum hari ini. " aku memotong ucapan Ray. Kemudian aku tersenyum padanya. Kali ini lebih tulus.
" Bahagialah untuk orang yang mencintai kita, Ray! Karna tanpa mereka kita tidak akan ada seperti sekarang. " ujarku.

Ray ikut tersenyum.
" Aku akan ingat kalimat itu! " sahut Ray.

" Aku ke penginapan dulu. Nanti malam aku pasti akan datang. " janjiku pada Ray.

" Terima kasih, Edeline! " balas Ray.

Malam ini aku pergi dengan Celine dan temannya. Pesta kembang api di rayakan di padang hijau Spiral Fountain Park. Suasana sudah cukup ramai ketika kami sampai. Aku pikir mungkin akan sulit menemukan Ray dan Joana ditengah keramaian namun rupanya tidak. Ray dan Joana menunggu ditempat yang strategis dan mudah dilihat. Joana melambaikan tangan begitu melihatku. Aku terpaksa memisahkan diri dengan Celine dan temannya. Joana begitu girang melihatku, ia langsung memelukku. Setelah menemukan tempat yang nyaman kami duduk. Joana duduk dipangkuanku dengan manja. Meskipun Ray membujuknya duduk dengannya saja, Joana tetap menolak.

" Sudah tidak apa-apa. " kataku.

" Dasar anak manja! " goda Ray sambil mencubit pipi Joana dengan lembut.

Sambil menunggu pesta kembang api dimulai kami bercanda dan bermain bersama. Banyak orang yang sedang melepaskan lentera ke udara dengan harapan yang tertulis diatasnya. Tak terasa pesta kembang api akhirnya dimulai. Puluhan kembang api berbagai warna meledak menghiasi langit malam Glotious. Joana sangat gembira dapat melihat kembang api yang sangat banyak.

" Bibi Edeline, sudah tidak sedih lagi kan? " tanya Joana dengan tatapannya yang polos.

" Tentu tidak, sayang. Bibi tidak pernah bersedih! Bibi akan selalu tersenyum bila mengingatmu. Bibi tidak akan melupakanmu, Joana. " jawabku pada Joana sambil mendekapnya. Ray menatap kami berdua sambil tersenyum.

Pesta kembang api selesai, Joana pun sudah nampak mengantuk. Ray menggendong Joana membawanya kepada neneknya. Kemudian ia kembali menemuiku.

" Terima kasih untuk malam ini, Edeline. " ucap Ray.

" Tidak perlu. Emm.. Kalau aku boleh tahu kemana mama Joana? " tanyaku.

" Dia tidak ikut kesini. Setelah kita berpisah aku kerja diluar kota. Dan setelah menikah juga kami tinggal diluar kota. Aku pulang bersama Joana untuk mengunjungi orang tua ku dan berlibur. Ah, sebenarnya kami bertengkar. Aku marah dan membawa Joana ke rumah orang tuaku. " jawab Ray mulai sedikit terbuka. Aku juga kini mengerti apa yang membuatnya kacau waktu itu.

" Kau pergi bersama Joana begitu saja? " tanyaku kaget.

" Ya. Aku terlalu emosi. Meskipun kami tidak bilang akan berpisah. Dia memohon padaku untuk tidak membawa Joana. Aku bilang akan kembali. Tapi aku belum menghubunginya sampai sekarang. " terang Ray.

" Ray, kau harus menghubunginya. Bagaimana pun ia mama Joana. Ia mungkin khawatir. Ia pasti sedang menunggu. Joana masih kecil dan butuh mama nya. Memangnya sebesar apa kesalahannya sehingga membuatmu begitu marah? Kau harus berpikir sebelum memutuskan pergi begitu saja. Joana juga mungkin merindukan mama nya. " aku menasehati dengan pelan.

" Aku pikir menghindar sebentar akan lebih baik. " sahut Ray membela diri.

" Ray, aku bukannya ingin ikut campur masalahmu. Kau harus ingat bahwa setiap orang memiliki kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna. Maka dari itu kita harus belajar memaafkan. Jangan sampai mengambil keputusan yang salah dan membuatmu menyesal dikemudian hari. " aku mengingatkan.
Ray terdiam mendengar setiap kata-kataku.

" Ya, kau benar. Terima kasih sudah menyadarkanku. Aku sudah menyesal karna kehilangan seseorang yang sempurna. Sekarang aku sadar tidak bisa meraihnya meskipun dia didepanku. Dia tetap sekuntum bunga mekar yang tak bisa ku petik. Ya, waktu memang cepat sekali berlalu. Semuanya berubah termasuk diriku. Terima kasih, Edeline. Aku akan berusaha menjadi lebih baik dari aku yang sebelumnya. " tutur Ray. Ia tersenyum padaku. Senyum yang lebih ringan tanpa beban diwajahnya.
Aku membalas senyumannya. Mungkin itu senyum terakhir yang bisa ku lihat.

" Edeline... " dari jauh Celine memanggilku. Ia melambaikan tangannya. Aku tahu waktunya kembali. Aku pamit pada Ray. Ray menarik lenganku. Ia mendekat dan memelukku sebentar namun tetap menyisakan jarak. Ia berbisik pelan,
" Aku tidak akan melupakanmu. "
Aku menatap matanya lebih dalam. Ia tersenyum kecil.
" Pergilah, jangan buat kakakmu menunggu lama. " katanya. Aku mengangguk dan berjalan pergi. Aku masih berbalik menatapnya. Ingin mengucapkan selamat tinggal tapi kalimat itu hanya sampai di tenggorokanku. Aku tak bisa mengucapkan kalimat itu dan pergi begitu saja.

----#----
Ray sudah berada di penginapan. Hari telah subuh tapi matanya belum dapat terpejam. Ia menatap paper bag yang masih terbungkus rapi diatas meja. Hanya karna iseng ia mengambil paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Rupanya bukan hanya jaket yang ada didalamnya tapi juga sebuah kotak kecil dan selembar surat. Ray membuka kotak itu, ia agak kaget melihat isinya gelang Irena yang ia buang ke fountain waktu itu. Ia lalu meraih surat Edeline dan membacanya.

' Gelang itu terlalu indah untuk dibuang, Ray! Aku memang sengaja memungutnya. Mungkin itu tidak berarti lagi bagimu, tapi mungkin masih berarti bagi dia. Memang tak salah membuang sesuatu yang hanya membawa kesedihan bila menyimpannya. Tapi tahukah kau, Ray? Bahwa sesuatu yang membuatmu sedih hari ini, dulunya pernah menjadi satu-satunya alasan yang membuatmu paling bahagia.
Itu pasti gelang milik seseorang yang berarti dihidupmu. Jika kau membuangnya mungkin orang lain akan memungutnya dan tak akan mengembalikannya padamu, jika kau tak ingin menyimpannya maka kembalikan pada pemiliknya. Dia disana mungkin masih menginginkankannya. '

Setelah membaca surat itu Ray terdiam cukup lama sambil terus berpikir. Kemudian ia menyalakan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Tak peduli meski hari masih terlalu dini.
Pagi itu Ray check out lebih cepat. Ia pulang bersama Joana sementara keluarganya masih dihotel. Ia tidak tahu Edeline juga pulang hari itu. Ia menitipkan sebuah surat pada seorang resepsionis.
----#----

Pagi ini aku dan Celine mulai mengemasi semua barang. Memastikan tak ada yang tertinggal. Sore nanti kami sudah akan check out. Kami menghabiskan sisa waktu dengan berjalan-jalan ditepi pantai.

" Bagaimana kabarmu dengan Ray sekarang? Kau sudah bilang padanya kita akan pulang? " tanya Celine.

" Tidak. Kami tidak lebih dari seorang teman. Dia sudah menikah dan memiliki anak. " jawabku tanpa basa-basi.

" Ooohhh... " gumam Celine agak kaget juga.

" Kau benar kak, kita tak pernah tahu apa yang sudah terjadi selama lima tahun. Dan semua tidak lagi sama. Semua pasti berubah. " ujarku tenang.

" Kau juga harus berubah, Edeline! Jadilah pribadi yang lebih baik. " timpal Celine.

" Aku akan berusaha melepaskan. Aku akan belajar membuka hati untuk menerima yang lebih baik. Tapi aku takut akan kembali tenggelam ditempat yang penuh kenangan. " kataku sendu.

" Edeline, kau harus hadapi perasaan itu. Kesedihan dan keterpurukanmu tidak akan lenyap jika kau terus lari menghindar. Lihat bayangan gelap dibelakangmu! Jika kau terus lari dia akan tetap mengikutimu kemanapun kau pergi. Sekarang cobalah berbalik, dan hadapi bayangan gelap yang kini berada didepanmu. Kau akan melihat bahwa bayangan gelap itu tidak seburuk yang kau pikirkan. Kembalilah ketempat dimana kenangan burukmu berasal, kau boleh mengingat setiap kejadian disana. Kemudian berteriaklah sekuat-kuatnya. Hadapi semua itu. Lepaskan semua bebanmu. Katakan kau sudah bebas, kau sudah lepas, kau akan merasa jauh lebih lega dari sebelumnya. " Celine memberi saran.

" Apa kakak pernah melakukannya? Apa itu berhasil? " tanyaku tanpa bermaksud mengejek.

" Hampir setiap orang pernah mengalami masa terburuk dalam hidupnya. Aku juga pernah kehilangan. Aku menghadapi semua itu. Melupakan memang tidak mudah, tapi menghadapinya jauh lebih masuk akal dari pada berharap tiba-tiba amnesia, kan. " jawab Celine sambil bergurau.

Aku tertawa. Memang ucapan Celine benar. Aku mungkin harus mengikuti sarannya. Namun aku sedikitnya lega karna tahu bagaimana keadaan Ray sekarang. Ada alasan kuat untuk memaksa hati berhenti sampai disini. Ray adalah sepenggal kisah dari masa lalu yang sudah selesai.
Celine merangkul lenganku. Ia membawaku berjalan kembali ke penginapan. Waktunya kami kembali ke rumah yang telah membesarkan kami dengan penuh cinta.

----#----
Ray dan Joana menunggu didepan pintu rumah. Begitu pintu terbuka Joana langsung melemparkan tubuhnya kedalam pelukan Irena.

" I miss you, ma! " ucap Joana.

" I miss you too, dear. " balas Irena sambil mengecup pipi gadis kecilnya.

Ray masih berdiri didepan pintu. Irena menatapnya dengan cemas. Ray tersenyum kecil sambil bertanya,
" Apa kau masih mau menerimaku? "

Irena mengembangkan senyum.
" Aku selalu menerimamu. " jawabnya. Kemudian ia memeluk Ray.
----#----

Kami berdua sudah bersiap untuk check out. Setelah Celine menyelesaikan sisa tagihan dengan resepsionis. Seorang resepsionis yang melihat nomor kamar penginapan Celine kemudian datang sambil memberikan sebuah amplop.

" Maaf, ada yang bernama Edeline? Kami mendapat titipan yang ditujukan kepada nona Edeline! " tanya resepsionis itu.

" Aku. " jawabku segera.
Si resepsionis langsung menyerahkan surat itu.

" Maaf, dari siapa ya? " tanyaku heran karna tak ada nama pengirim.

" Seorang pria yang menginap di Evergreen. Baru tadi pagi beliau check out. " jawab resepsionis.
Aku bisa menebak pasti dari Ray. Rupanya ia sudah check out lebih dulu. Aku mengucapkan terima kasih pada resepsionis itu. Setelah Celine selesai kami langsung pergi.
Begitu sudah berada didalam pesawat, aku baru membuka isi surat tersebut.

' Hi Edeline, aku pergi lebih cepat hari ini. Maaf tidak memberi tahumu. Setelah ku baca suratmu, aku mulai berpikir. Ucapanmu memang benar adanya. Aku tidak bisa lari begitu saja dari masalah. Aku juga tak bisa terus pergi menghindar. Aku sadar aku tidak bisa hanya memikirkan diriku. Ada malaikat kecil yang harus ku jaga. Jadi aku putuskan pulang lebih cepat. Joana pasti rindu mama nya. Dan ini juga waktu untukku memperbaiki kesalahan. Aku sangat berterima kasih pada waktu yang membawa pertemuan ini. Aku juga berterima kasih padamu telah membawa kembali gelang Irena. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, aku tidak akan pernah melupakanmu, Edeline. Aku berharap mungkin suatu hari kita bisa bertemu lagi sebagai seorang sahabat. -Ray-'

Aku melipat kembali surat itu. Menyimpannya. Aku menyandarkan kepala dikursi pesawat. Entah harus merasa sedih atau bahagia. Yang pasti aku merasa lebih baik dari keduanya.

bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar