Rabu, 07 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.6 Last) by Elisabeth


Diam-diam Henoch pergi menemui Ny. Martha. Meski sudah sangat lama, Henoch masih ingat betul jalan menuju rumah mantan mertuanya itu. Tidak sulit menemukannya karna selama bertahun-tahun jalanan kota itu tidak banyak berubah.
Henoch sedang menunggu didepan pintu rumah. Kebetulan sekali Ny. Martha yang membukakan pintu.

" Selamat sore, nyonya Martha. Apa anda masih ingat denganku? " sapa Henoch dengan sopan.

Ny. Martha mengerutkan dahinya sambil mencoba mengingat lalu kemudian menunjuk Henoch.
" Kau.... Henoch....!! Aku tidak mungkin lupa! Untuk apa kau kemari? " tanyanya dengan ketus.

" Ingatan anda masih kuat! Aku kesini bukan untuk bertengkar dengan anda! Jadi anda tidak perlu ketus seperti itu. " ujar Henoch.

" Jangan banyak bicara! Katakan saja tujuanmu kemari kemudian pergi! " sergah Ny. Martha dengan keras.

" Memang seperti itu tujuanku! Aku kesini karna anakku, Keith! Aku akan sangat menghargai anda, bila anda berhenti mengganggu kehidupan Keith! "

" Aku tidak mengganggu kehidupan siapa-siapa! Keith itu cucuku! CUCUKU! Aku berhak memberikan kehidupan yang layak dan pantas baginya. Kehidupan yang tidak pernah ia dapatkan darimu! " serobot Ny. Martha menegaskan dengan lantang.

" Maaf, nyonya! Anda mungkin berhak atas Vanesa seperti yang dulu anda lakukan karna dia putri anda. Keith memang cucu anda, ya secara teknis masih memiliki hubungan darah. Tapi Keith juga anakku! Aku orang tuanya, Henoch Milano dan Vanesa Neil. Anda mungkin lupa, orang tua anak itulah yang lebih berhak menentukan jalan hidup anaknya. Keith adalah anakku, Keith Milano bukan Keith Neil! Dan sampai kapanpun itu tidak akan bisa di ubah. Jika anda cukup bijak anda pasti mengerti maksudku! " terang ayah Keith. Ia melanjutkan,
" Aku mengakui aku memang bukan ayah yang baik, tapi apa anda pernah jadi nenek yang baik?! Aku lihat kehidupan Keith justru menjadi sulit setelah dia bertemu dengan anda. "

Bibir Ny. Martha tercekat. Ia tak bisa membalas ucapan Henoch. Kata-kata itu seolah menamparnya mengingat perlakuannya pada Ariana.

" Aku tidak tahu berapa banyak cucu anda sekarang! Tapi apa anda memperlakukannya sama seperti yang anda lakukan pada anakku Keith? Dulu anda yang melarang Vanesa membawa Keith, menjauhkan Keith dari ibunya. Sekarang apa pantas anda mengatur kehidupan Keith dengan gelar 'nenek' atau mungkin dengan alasan menebus kesalahan masa lalu?! Aku juga bersalah dan ingin menebus kesalahanku padanya tapi bukan dengan menghancurkan kebahagian dan mimpinya. Meskipun aku punya hak merencanakan masa depannya, aku tetap tidak bisa melakukannya. Ia sendirilah yang harus menentukan jalan hidupnya. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Karna aku tidak mungkin menemaninya sampai ia tua. Meski pun akhirnya ia salah memilih setidaknya ia tidak akan menyesal. Apa anda pernah berpikir sampai sejauh ini? " jelas Henoch dengan tenang. Ny. Martha masih diam saja.
" Sebagai orang tua, kita hanya bisa membimbingnya dari jauh dan menasehati bila ia salah. Tetap didekatnya sebagai pendukung dan pendengar setia. Maka ia akan menghargai dan mempercayai kita sebagai keluarganya. Jika keluarganya sendiri ingin menghancurkan kebahagiannya, lantas siapa yang harus ia percayai? Ia akan kembali menjadi anak yang tersesat dan sulit menemukan jalan pulang. Nyonya Martha, aku menghormati anda karna anda juga orang tua bagi anak-anak anda dan anda dulu pernah menjadi mertuaku meski anda tak suka. Aku tidak meminta apapun dari anda. Aku hanya ingin anda memahami Keith jika memang anda menyayanginya sebagai cucu. Tolong jangan hancurkan kebahagiannya. Tolong hargai pilihannya. Anda memang terpandang dan kaya tapi tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, seperti cinta dan ketulusan. Tidak semuanya bisa dikontrol dengan kekayaan. Jika anda terus berpikir bahwa dengan kekayaan anda bisa mengatur orang untuk tunduk, maka pada akhirnya anda-lah yang akan sendirian bila kekayaan itu habis. Anda akan ditinggalkan oleh keluarga dan orang terdekat karna anda tidak memiliki apa-apa lagi. Tapi jika anda memperlakukan mereka dengan cinta kasih serta ketulusan selamanya anda akan dicintai. Tidak ada yang lebih indah dari pada cinta yang tulus. Maaf aku bicara terlalu banyak! Aku akan pergi. Terima kasih untuk waktu anda. " kata Henoch kemudian ia langsung berbalik pergi meninggalkan Ny. Martha yang masih mematung didepan pintu.


****


Ronan baru selesai membersihkan sampah dedaunan dilantai. Aku menyuruhnya pulang lebih dulu setelah ia membalikkan tulisan Open ke Closed yang menempel didepan pintu. Aku sedang membereskan meja mengemasi barangku sebelum toko ditutup. Gemerincing lonceng pintu berbunyi yang berarti ada pelanggan yang datang. Tanpa menoleh ke arah pintu aku berteriak,
" Maaf, sudah tutup! Kembali besok pagi saja ya! "

" Edeline! " panggil suara itu. Suara yang sangat ku kenal.

Aku berhenti dan langsung menoleh. Keith mengembangkan senyumnya. Tanpa berbasa-basi aku langsung berlari memeluknya. Ia juga memelukku dengan erat.

" Aku... "

" Aku tahu. Aku juga merindukanmu! " Keith menyela ucapanku yang belum habis.

Kami berbicara ditoko. Keith menggenggam erat tanganku sambil terus meyakinkanku kalau semuanya baik-baik saja. Aku tidak yakin karna wajah Keith sendiri nampak kurang meyakinkan. Namun aku harus tetap memberinya semangat dan percaya padanya. Ia juga memberi tahuku kalau selama ini ia berada didesa. Bercerita tentang apa yang dilakukannya selama disana, ia juga bilang ayahnya datang bersamanya kekota dan tinggal bersamanya sementara ini.
Kami tidak pulang terlalu malam sebab Keith tak mau meninggalkan ayahnya terlalu lama sendirian dirumah. Keith langsung pergi setelah mengantarku sampai dirumah.



----#----
Saat Keith tiba dirumahnya. Henoch sedang membaca buku di ruang tamu.

" Aku pulang, ayah! Aku bawakan makan malam. " kata Keith sembari menaruh dua bungkus makanan ke atas meja.

" Apa kau sudah bertemu wanita mu? " tanya Henoch.

" Iya. Kami berbicara sebentar. Aku lega ia baik-baik saja. Melihatnya sebentar seolah membangkitkan kembali semangatku. " jawab Keith.

Henoch tersenyum.
" Bagus. Begitulah cinta! " ujarnya.

Keduanya kemudian makan bersama sambil mengobrol ringan.

" Ayah mau pergi jalan-jalan ke luar? Aku akan menemani ayah. Pasti sudah lama ayah tidak kesini. " Keith menawari.

" Tidak. Lain kali saja! " tolak Henoch.

" Tapi besok aku kerja dan sore baru pulang. Ayah tidak keberatan sendiri dirumah? " tanya Keith lagi.

" Tidak masalah. Orang tua sepertiku lebih suka menghabiskan waktu dirumah. Aku bisa jalan sendiri kalau mau. Lagi pula aku lihat tidak ada perubahan yang berarti dari kota ini. " jawab Henoch.

" Baiklah kalau begitu. Asal tidak pergi terlalu jauh. Jangan sampai tersesat. " pesan Keith.

" Tidak. Kau tenang saja, nak! Ingatan ayah masih bagus. " jawab Henoch pasti.



Didalam kamarnya, Ny. Martha masih terus memikirkan ucapan Henoch. Jika ucapan Keith tidak mampu menggoyahkannya, perkataan Henoch kali ini justru bagaikan tamparan keras diwajahnya. Ny. Martha mulai merasa cemas.

" Mungkin Henoch benar, aku bukanlah ibu dan nenek yang baik. Maafkan ibu, nak! " desahnya sambil mendekap foto Albey bersama Vanesa didada.
----#----



" Selamat pagi, sayang! Apa sekarang toko buka lebih cepat? Padahal aku sudah berangkat lebih awal. Tetap saja telat menjemputmu. " sapa Keith begitu ia tiba ditoko.

" Tidak. Mungkin jam dirumahmu terlalu lamban jadi selalu kesiangan. Atau memang kau yang bangun kesiangan. " ejekku.

" Ah tidak mungkin. Ronan saja belum datang bukan?! " sanggah Keith sambil menatap sekeliling toko yang masih sepi.
" Hei, kemari! " Keith menarikku kedalam pelukannya.

" Mmm.. Kenapa? " tanyaku wajahku hanya tinggal beberapa inch dari wajahnya.

" Lihat, ada sesuatu di pipimu! " kata Keith. Ia mengusap pipiku kemudian tiba-tiba sebuah ciuman hangat namun singkat mendarat dibibirku.

Aku tertegun sesaat. Keith membisikkan kalimat ' I love you ' ditelingaku. Aku tersadar. Keith sudah melepaskan pelukannya, ia tersenyum sumringah.

" Pipimu memerah! " goda Keith.

Aku memegang kedua pipiku. Dan berbalik. Keith malah tertawa.
" Aku bercanda! " katanya. Aku balas dengan tatapan sinis padanya. Namun kemudian tersenyum.

Seperti kebiasannya menyajikan segelas teh hangat untukku. Ia meletakkan cangkir teh ke atas mejaku. Lalu duduk didepanku yang sibuk dengan layar laptop. Mata Keith menangkap sakura plastik disamping mejaku. Ia menyentuh Omamori pemberiannya dulu yang tersemat disana. Lalu beralih ke Omamori satunya.
" Ini punyamu? " tanya Keith sambil menunjukkan Omamori lain.

" Ya. En-musubi. Untuk hubungan yang baik bagi pasangan. Aku mendapatkannya saat iseng-iseng jalan ke kuil. " jawabku malu-malu. Keith tertawa merasa lucu.

" Kenapa? " tanyaku.

" Tidak, hanya merasa lucu saja kau menggantungnya ditangkai sakura ini. Tapi dari sekian banyak bunga segar disini, kenapa kau memilih sakura plastik? " tanya Keith penasaran.

Aku menatapnya dari balik layar laptop. Kemudian berbicara dengannya.
" Karna aku suka Sakura. Sakura disebut bunga kehidupan. Ia melambangkan sebuah kehidupan baru yang penuh harapan dan masa depan cerah. Bunga sakura juga berarti kebahagiaan, keheningan dan ketenangan. Ia seolah membawa kebahagiaan kepada semua orang ketika ia mekar. Aku berharap aku juga akan memiliki masa depan yang cerah. Secerah warna bunga sakura yang mekar ini. "

" Bukan masa depanmu, tapi masa depan kita! " Keith menimpali. Ia meremas tanganku.

" Ya, kita! " balasku sambil mengangguk.


****


Siang itu Henoch baru hendak mencuci piring sisa makan siangnya. Tiba-tiba pintu depan diketuk. Henoch bergegas untuk membuka pintu sambil bergerutu,
" Siapa yang datang siang-siang begini? Keith tidak mungkin pulang secepat ini! "

Saat pintu terbuka ia agak heran melihat Ny. Martha yang datang.
" Ada apa, nyonya Martha? Keith sedang bekerja! " tanya Henoch.

" Aku tahu, aku datang untuk bicara denganmu! Apa kau tidak mengijinkanku masuk lebih dulu? " jawab Ny. Martha.

Henoch membuka pintunya lebih lebar untuk Ny. Martha masuk. Kemudian keduanya duduk disofa. Ny. Martha merasa agak canggung.

" Sejak kemarin aku merasa tidak tenang. Aku terus memikirkan ucapanmu! " tutur Ny. Martha.

" Oh, aku minta maaf karna ucapanku tidur anda jadi terganggu! " ujar Henoch.

" Bukan itu, aku rasa mungkin perkataanmu ada benarnya. Selama ini aku tidak menjadi nenek yang baik terutama untuk cucu perempuanku. Aku juga bukan ibu yang baik bagi kedua putriku. Aku baru menyadari semua kekeliruanku selama ini. Aku sangat egois. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Aku hanya peduli pada martabat, derajat dan materi. Semua itu telah menutup mata hatiku, sampai aku begitu tega memisahkan mereka yang saling mencintai. Oh, aku sungguh menyesal! Tolong maafkan aku, Henoch! " ucap Ny. Martha dengan penyesalan dan kesedihan.

" Hmm.. Aku sudah memaafkan anda sebelum anda memintanya. Aku bersyukur mata hati anda telah terbuka. Anda masih bisa memperbaiki semuanya. Belum terlambat untuk memulai kembali. " hibur Henoch.

" Apakah mereka akan memaafkanku? Cucu perempuanku, Keith, putriku, semua orang yang telah aku sakiti... " ratap Ny. Martha dengan sedih.

" Mereka pasti akan memaafkan, jika anda melakukannya dengan tulus. Aku yakin. Vanesa disurga pun pasti telah memaafkan anda. " jawab Henoch pasti.

" Terima kasih, Henoch. Selama ini aku telah salah menilaimu! Aku benar-benar minta maaf! " pinta Ny. Martha sekali lagi.

" Yang telah berlalu tidak perlu di ingat lagi, nyonya. Menyesal pun tidak akan mengubah keadaan kembali menjadi seperti semula. Yang harus kita lakukan hanyalah memperbaiki semuanya. Kita selalu memiliki kesempatan itu selagi masih hidup. Jadi jangan sia-siakan kesempatan itu. " jawab Henoch.

" Ya, kau benar. Sekali lagi terima kasih, Henoch. Tolong jangan beritahu Keith tentang kedatanganku kemari. Aku yang nantinya akan langsung menemuinya untuk meminta maaf! " pesan Ny. Martha.

" Pasti, nyonya Martha. Aku janji tidak akan memberitahunya. " janji Henoch.

" Terima kasih. Satu lagi Henoch, tolong jangan memanggilku nyonya. Apa kau keberatan bila memanggilku ibu? Karna kau juga ayah dari cucuku. " pinta Ny. Martha dengan halus.

" Tentu saja tidak. Ya bagaimana juga anda pernah menjadi mertua ku... Ibu! " sahut Henoch.

Ny. Martha tersenyum. Seketika hatinya merasa amat lega dan damai. Ada perasaan bahagia yang sulit ia ungkapkan menjalar dihatinya. Hatinya tidak pernah merasa sehangat ini.
Siang itu pula Ny. Martha mengajak Henoch berjiarah ke makam Vanesa. Henoch agak ragu namun ia ikut pergi juga. Dengan sedih ia meminta maaf didepan makam Vanesa.


****


Sore itu setelah tutup toko, aku pergi bersama Keith bertemu paman Henoch. Kami bertiga menghabiskan makan malam diluar bersama. Tidak ada perasaan canggung karna paman Henoch begitu hangat dan pembawaannya santai. Kami nampak seperti sebuah keluarga. Usai makan malam kami bertiga juga berjalan-jalan dan menghabiskan malam di teluk.



----#----
Malam itu Ariana baru saja pulang. Sesampai dipintu depan ia melihat neneknya sedang duduk diruang tamu bersama bibinya. Ariana tak menyapa, ia langsung lewat begitu saja didepan neneknya.

" Ariana... " panggilan dari bibi Amera menghentikan langkahnya.

" Ya, bibi! Ada apa? " jawab Ariana.

" Kemarilah sebentar, nenek ingin bicara padamu! " kata bibi Amera.

Ariana berbalik dengan malas kemudian duduk dengan kasar disamping bibi Amera. Ia melipat tangannya sementara matanya menoleh ke arah lain. Bibi Amera menatapnya sambil menghela nafas. Lalu beranjak dengan alasan mencuci piring supaya mereka berdua bisa bicara lebih leluasa.

" Ariana... " Ny. Martha baru membuka mulut. Ariana menyela lebih dulu.
" Kalau nenek ingin bicara mengenai Keith lagi, maaf aku tidak tahu dan aku tidak bertemu dengannya. "

" Bukan. Nenek tidak membicarakan Keith tapi ini tentang mu! " Ny. Martha meluruskan.

" Aku?! Memangnya aku kenapa? Aku tidak merasa melakukan apapun yang bisa merugikan nenek. " ujar Ariana ketus.

" Memang tidak. Nenek hanya ingin minta maaf padamu! Nenek menyesal atas semua perlakuan nenek selama ini padamu! " tutur Ny. Martha dengan raut wajah sedih.

" Maaf? Menyesal? Permainan macam apa lagi yang nenek lakoni sekarang? Aku tidak tahu apa rencana nenek berikutnya. Tapi berapa kali nenek meminta maaf dan itu semua bohong!? Hanya pura-pura! " cecar Ariana dengan kesal. Ny. Martha mulai terisak.

Ariana kembali berkata,
" Nenek ingat, terakhir kali aku datang kerumah nenek dengan niat baik membawakan buah kesukaan nenek. Apa balasan yang nenek berikan untukku? Apa yang nenek katakan padaku? Apa nenek pikir itu tidak menyakitiku? Apa kata maaf dan menyesal saja cukup untuk mengobati sakit hatiku selama ini? Nenek tidak perlu berpura-pura seperti itu. Setidaknya aku masih menganggap dan mau memanggilmu nenek, itu sudah cukup! " Ariana lalu bangkit berjalan pergi meninggalkan neneknya yang sedih.

Diam-diam bibi Amera menguping dibelakang. Ia menarik Ariana saat ia hendak masuk ke kamarnya.

" Ariana, jangan terlalu keras terhadap nenekmu. Kali ini nenek bersungguh-sungguh. Nenek benar-benar telah menyadari kesalahannya. " tegur bibi Amera dengan lembut.

" Bibi, aku telah berusaha memaafkan semuanya tapi ia terus menipuku. Bukannya berkata baik, ia justru bersikap lebih kasar padaku. Aku ini siapa? Aku juga memiliki hati dan aku sudah cukup sabar selama ini. Berapa kali lagi dia harus berbohong dan berpura-pura seperti itu padaku?! " jawab Ariana.

" Setidaknya berikan nenekmu satu kesempatan lagi. Kali ini ia tidak bermain-main, Ariana. Lihatlah, nenekmu benar-benar menangis. Ia benar-benar menyesal. " ungkap bibi Amera. Ariana tak mau bilang apa-apa, ia masuk kekamarnya begitu saja.

Hanya bibi Amera yang kini berusaha menghibur Ny. Martha. Sebelumnya mereka memang sudah saling bicara. Ny. Martha juga mengutarakan penyesalannya tidak menjadi ibu yang baik untuknya. Bibi Amera menerima semua permintaan maaf ibunya itu dengan hati lapang. Ia bersyukur ibunya telah berubah. Ny. Martha pulang setelah supirnya datang menjemput.
Dengan pelan bibi Amera membuka pintu kamar Ariana. Ia melihat Ariana masih meringkuk diatas tempat tidurnya. Ia berjalan mendekat duduk didepannya sambil mengusap kepalanya.

" Bibi mengerti dengan kemarahanmu. Tetapi tidak baik menyimpan rasa sakit hati terlalu lama. Cobalah untuk melepaskan rasa sakit itu. Belajarlah untuk merelakan. Tidak ada luka yang tak bisa disembuhkan. Sakit hati juga ada penawarnya, yaitu memaafkan! " kata bibi Amera. Ariana hanya diam menatapnya.

" Nenekmu sudah tua. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi ia hidup didunia ini. Bisa jadi inilah kesempatan terakhirnya meminta maaf. Nenekmu tidak pernah terlihat begitu sedih, setelah kepergian orang tuamu. Orang tua mu juga pasti telah memaafkan nenekmu. Ariana, bukankah impianmu juga dapat berkumpul kembali bersama nenek, bibi dan semuanya disatu rumah? Mungkin inilah waktunya. Bibi hanya bisa mengingatkan, Jangan sampai kemarahan sesaat membuatmu menyesal selamanya. Bibi menyayangimu seperti anak sendiri. Bibi juga ingin melihatmu hidup bahagia. " bibi Amera melanjutkan ucapannya sambil tersenyum pada Ariana. Ariana memeluk bibinya dengan penuh haru.
----#----



Aku sedang memotret beberapa model bunga meja untuk di upload ke blog. Keith membantu menata bunga itu agar terlihat menarik. Gemerincing lonceng pintu berbunyi. Aku dan Keith menoleh ke arah pintu. Raut wajah kami yang tadinya ceria langsung berubah tegang.

" Nenek?! " seru Keith.
" Untuk apa nenek datang kemari? " tanya Keith dengan was-was.

Dengan perasaan gelisah Keith menatapku. Aku juga merasa demikian. Ny. Martha tidak menjawab pertanyaan Keith. Ia malah berjalan menghampiriku. Keith sudah was-was lebih dulu disampingku. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan neneknya padaku. Namun Ny. Martha malah meraih kedua tanganku. Ia menatapku.

" Edeline, nenek minta maaf padamu! Nenek telah bersikap tak baik padamu. Kau mau kan memaafkan nenek? " tutur Ny. Martha dengan kesungguhan.

Aku dan Keith saling memandang tidak menyangka kalau Ny. Martha datang untuk meminta maaf. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Ny. Martha lalu memelukku dengan hangat. Saat ia melepaskan pelukannya, ia kembali menarik tangan kananku dan tangan kanan Keith yang ia taruh diatas tanganku.

" Mulai sekarang, kalian akan terus bersama! Tidak ada yang akan memisahkan kalian lagi, termasuk nenek! " ucap Ny. Martha dengan senyuman.

Aku dan Keith juga tersenyum lebar. Hati kami yang diliputi kegelisahan tadi, kini menjadi amat lega. Kami berdua langsung memeluk nenek sambil berbisik, " terima kasih, nenek! ". Ny. Martha sampai tertawa bahagia. Ronan pun ikut bertepuk tangan.
Ny. Martha hanya melihat-lihat sebentar. Rupanya ia juga sangat menyukai bunga. Sebelum ia pergi aku memberikannya seikat bunga mawar berwarna peach yang berarti terima kasih.


Sore itu toko sudah mau ditutup. Semua sibuk berkemas. Ariana datang. Wajahnya tidak ceria seperti biasa. Ia menatap kami semua bergantian.

" Ariana.. Kau mau membeli bunga? " tanya Ronan dengan semangat.

" Tidak. " jawabnya. Ia berjalan menghampiri Keith.

" Bolehkah aku pulang denganmu? Kali ini saja! " pinta Ariana memelas.

Keith menatapku, aku mengangguk dengan cepat.
" Oke. Tunggu sebentar ya! " kata Keith. Ariana mengangguk.

Tidak seperti biasanya, aku menangkap kegundahan diwajah Ariana. Sepertinya sedang ada masalah. Begitu Keith dan Ariana pergi, Ronan menghampiriku.

" Kakak, kau tidak cemburu kakak Keith pergi bersama Ariana? " tanya Ronan.

Aku memandangnya dengan lucu.
" Aku yang cemburu atau kau yang cemburu? " godaku.

" Kakak mengejekku lagi. " sungut Ronan. Ia masih menunggu dengan penasaran.

" Jangan khawatir. Keith dan Ariana itu saudara cuma beda ayah, ya saudara tiri. " jelasku.

" Oh.. Aku mengerti. Pantas kakak tenang saja. Ya sudah aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, kakak! " pamit Ronan yang pergi dengan langkah santai. Aku tersenyum dengan tingkahnya yang lucu.


****


Keith dan Ariana duduk dibangku tepi jembatan. Ariana telah menceritakan semuanya. Ia meminta pendapat Keith sebab ia sendiri begitu gundah.

" Kau gadis yang baik. Lupakanlah semua sakit hatimu. Kemudian mulai kembali dengan kehidupan yang baru. Sebelumnya aku juga sama sepertimu. Aku justru membutuhkan lebih banyak keberanian untuk pergi menemui ayahku lagi. Sekarang nenek sudah menyadari kesalahannya, ia sudah minta maaf padamu maka maafkanlah dia. Sakit hatimu pun akan sembuh seiring waktu. " Keith menasehati. Ia juga menceritakan kedatangan Ny. Martha ke toko bunga tadi pagi pada Ariana. Untuk meyakinkan padanya kalau Ny. Martha benar-benar berubah.

" Aku akan kembali memikirkannya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan menemaniku disini. " ucap Ariana.

" Tentu saja aku akan berusaha ada ketika kau butuh. Karna aku ini kakakmu! " balas Keith sambil merangkul pundak Ariana. Ariana melepaskan rangkulan tangan Keith.
" Ngomong-ngomong aku sudah lama tidak melihatmu membeli bunga untuk persembahan kuil. Apa kau sudah tidak kesana? " tanya Keith.

" Aku tidak punya waktu. Setelah pindah tempat kerja jadi sering pulang malam. Kebetulan saja hari ini pulang cepat karna kehabisan bahan. " jawab Ariana.

" Oohh.. Lalu bagaimana dengan pemuda yang kau sukai, yang dulu sering kau doakan?! Aku penasaran! Sebagai kakak aku tentu harus tahu seperti apa pemuda itu. " tanya Keith yang tiba-tiba teringat.

Ariana agak sulit menjawabnya. Ia tidak tahu mau berkata terus terang atau berbohong. Tapi jika dipikir lagi justru merasa lucu. Ia menarik nafas sambil menatap jauh ke depan.
" Sebenarnya..... dia sudah bersama seseorang. Aku bisa melihat betapa ia mencintai wanitanya ketika aku melihatnya.....dirumah sakit hari itu. Ternyata takdir berkata lain. " ungkap Ariana dengan pelan. 

Sementara Keith mengerutkan kening.
" Maksudmu? "

" Kau mau tahu yang sebenarnya? Orang yang ku sukai dulu ternyata kakak tiri ku sekarang. Ah, jangan khawatir. Aku akan jadi adik yang manis. Ku rasa perasaan itu juga sudah memudar, aku terbiasa dengan sosok seorang kakak yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Ya sepertinya itu juga anugerah. Terima kasih, kakak! " jelas Ariana dengan senyuman tulus. Keith juga dapat tersenyum lega.

" Aku mau pulang. Tapi sendiri. Aku ingin berpikir sendiri. " ujar Ariana.

" Bukan berpikir tentang aku kan?! " goda Keith.

" Bukan. Aku tidak akan melawan takdir. Kakak, fokus saja pada gadis pemilik toko bunga itu. Supaya aku bisa segera memiliki kakak ipar dan mendapat bunga gratis. " jawab Ariana sambil tertawa mengejek. Ia sudah berjalan meinggalkan Keith.

" Dasar! Hati-hati ya! " pesan Keith.
Ariana mengacungkan jempolnya.



Pintu rumah dibuka, Ny. Martha melihat Ariana berdiri disana. Ariana menyodorkan sebuah kotak berisi aneka kue padanya.

" Aku tidak tahu mana yang nenek suka. Aku memilih yang tidak terlalu manis. " kata Ariana dengan perasaan bimbang takut ditolak seperti yang pernah terjadi.

Ny. Martha tersenyum kemudian tanpa berkata apa-apa memeluknya.

" Terima kasih, cucuku. Ayo masuklah kita makan sama-sama! " ajak Ny. Martha sambil merangkulnya dengan hangat. Ariana tersenyum lega dan mengangguk.



Dirumah Keith bercerita tentang kedatangan Ny. Martha pada Henoch. Ia merasa amat lega sekarang karna masalahnya telah selesai. Ia juga bercerita mengenai Ariana yang saat ini mulai ia cemaskan. Henoch menghiburnya dengan sebuah keyakinan, " Semuanya pasti akan baik-baik saja, nak! Kalian akan kembali berkumpul kembali sebagai satu keluarga! ". Keith meyakini ucapan ayahnya.
Merasa tak ada keperluan lagi dikota ini, Henoch mengutarakan keinginannya untuk pulang kembali ke desa. Awalnya Keith tidak setuju ia memaksa Henoch untuk tinggal lebih lama. Tapi Henoch sangat keras kepala, setelah ber-argumen sebentar, Keith hanya bisa menahannya tinggal sehari lagi disini. Ya, setidaknya supaya ia bisa mengantar ayahnya pulang sebab tidak kerja. Ia mengerti disini ayahnya tidak punya teman bicara jika ia bekerja. Kalau didesa ia masih bisa mengobrol dengan tetangga atau mengurus kebun kecilnya.
----#----




Aku baru saja membuka toko, Ariana datang dengan wajah gembira.

" Pagi, kakak Edeline! Apa kakakku ada? " tanya Ariana dengan semangat.

" Keith belum datang! " jawabku.

" Oh.. " gumam Ariana dengan bibir maju kedepan.

" Ada apa? Sampai-sampai kau datang pagi begini? Kalau mau menunggu sebentar lagi ia pasti datang. " kataku.

Benar saja belum sempat Ariana menjawab Keith sudah masuk ke toko.
" Loh Ariana, ada masalah apa? " tanya Keith dengan wajah cemas.

" Tidak ada. Sebenarnya aku datang untuk menyampaikan sesuatu. Malam ini nenek mengundang kakak, kakak Edeline, dan paman Henoch untuk makan malam dirumahnya! Jadi kalian harus datang ya! " Ariana mengumumkan dengan semangat.

" Ah kau ini, aku kira ada masalah apa, ternyata hanya itu. Ada lagi? " tanya Keith yang awalnya cemas jadi tenang.

" Ee..em.. " Ariana menggeleng kekiri dan kanan. " Jangan lupa ya, harus datang! Kakak ajak paman Henoch ya! Aku belum pernah melihatnya. " pinta Ariana.

" Iya.. Iya.. Kami pasti datang! Kau juga di undang kan?! " tanya Keith dengan tatapan menggoda.

" Tentu saja! Baiklah, aku harus pergi bekerja. Makanya aku datang pagi-pagi. Sampai jumpa nanti malam. Bye.... " pamit Ariana sambil berjalan ke pintu.

Ia masih melambaikan tangan padaku dan Keith. Begitu ia menarik pintu untuk keluar Ronan yang juga memegang gangang pintu hendak masuk ikut ditarik kedalam. Untungnya tidak jatuh hanya kepalanya membentur dahi Ariana. 

" Aduh... Kenapa tidak melihat jalan sih? " gerutu Ariana sambil memegang dahinya yang sakit.

" Maaf.. Maaf... Aku tidak tahu kau dibalik pintu sana. " jawab Ronan.

" Ya sudahlah. " teriak Ariana yang berlalu dengan cepat begitu saja.

Aku dan Keith menertawainya. Ronan sendiri kebingungan.
" Dia kenapa sih? Kepalaku juga sakit kali. " katanya seorang diri.


****


Aku sedang berdiri didepan cermin memeriksa penampilanku. Aku mengenakan gaun selutut berwarna biru pastel. Tidak terlalu formal tapi cukup sopan. Begitu siap aku keluar dari kamar menunggu Keith datang. Ternyata diluar ada Celine, Hans dan Libelle. Ia datang untuk mengajak kami makan diluar karna mama memberitahunya aku punya acara jadi mama sendiri yang pergi.

" Bagaimana pendapat kakak? Apa aku terlihat aneh? " tanyaku pada Celine.

" Tidak. Kau cantik tapi kau mau pergi kemana? Mama tidak memberitahuku acara apa yang kau hadiri. " jawab Celine.

" Hanya acara makan malam dirumah nenek Keith. " jawabku.

" Oh ya?! Jadi semuanya sudah kembali normal? " tanya Celine.

Aku mengangguk.
" Oh syukurlah! " ujar Celine penuh syukur. Ia kembali menatapku kemudian menarikku duduk ke kursi. Jarinya mulai merapikan rambutku yang tergerai. Ia membuat kepangan kecil disisi kanan dan kiri kemudian menyatukannya dengan semua rambut mengepangnya kembali sampai ke bahu.

" Nah sekarang lebih baik. " puji Celine.

Aku tidak tahu seperti apa rambutku. Aku harus kembali ke kamar untuk melihatnya dicermin namun Celine menahanku. Tepat saat Keith datang. Celine meyakinkan kalau penampilanku oke. Keith masuk dan ia tertegun menatapku. Aku bingung.

" Ada yang aneh? " tanyaku.

" Tidak. Kau sangat....sempurna! Kau siap? " jawab Keith terkagum-kagum.

" Ya. " ujarku.

Keith mempersilahkanku jalan lebih dulu. Ia berpamitan dengan mama dan Celine. Celine berpesan, " Aku percayakan Edeline padamu! ".
Keith mengangguk pasti.
" Aku akan menjaganya! " janjinya.

Keith membukakan pintu mobil untukku.
" Bukankah ini mobil nenek? " tanyaku.

" Iya. Aku meminjamnya untuk membawa ayahku ke rumah nenek! Dan juga menjemput permaisuriku! " jawab Keith sedikit merayu.

Aku masuk sambil menahan tawa. Keith pun sudah berada dibalik kemudi. Mobil melaju dengan pelan.

" Aku tidak tahu kau bisa mengemudi. " kataku.

" Ya, dulu ayahmu yang mengajariku. Hanya sekarang tidak ada keperluan yang harus membuatku mengemudi sendiri. Aku tetap lebih suka sepedaku, karna tidak mungkin kan membawa wanita cantik ini dengan sepeda butut. " jelas Keith sambil menggombal.

" Kau jadi pandai merayu sekarang. " ejekku.

" Aku tidak merayu. Kau memang cantik sekali, Edeline! Aku tidak pernah melihat penampilanmu seperti ini sebelumnya. " puji Keith yang membuatku tersipu malu.

Mobil memasuki halaman rumah Ny. Martha. Keith keluar membukakan pintu untukku. " Trims. " balasku. Dia merangkul pinggangku mengajakku masuk kedalam rumah Ny. Martha. Di ruang keluarga sudah ada Ny. Martha, Ariana, bibi Amera, dan paman Henoch. Aku menyapa mereka satu per satu dan berkenalan dengan bibi Amera. Ariana nampak sudah akrab dengan paman Henoch.

" Wow.... Kakak Edeline sangat cantik! " puji Ariana kagum.

" Trims. Kau juga cantik, Ariana! " balasku. Ya Ariana terlihat sangat anggun dengan balutan gaun pink lembut malam ini.

" Terima kasih! " sahut Ariana juga.

" Aku kira ini bukan acara formal tapi kalian berpakaian seperti hendak menghadiri pesta para menteri saja. " gurau Ny. Martha karna ia sendiri begitu santai. Semua tertawa.

" Menurutku ini juga acara yang penting. Karna ini pertama kalinya kita semua dapat berkumpul seperti ini. Dengan wajah tersenyum dan dengan perasaan bahagia. Bukankah begitu, ibu? " bibi Amera berkata.

" Iya kau benar, Amera. Aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan kalian. Terutama dirimu, Henoch! Terima kasih telah membuka pikiranku. Hanya kalianlah yang aku miliki sekarang. Terima kasih kalian telah memaafkanku. Aku menyayangi kalian semua! " tutur Ny. Martha dengan tulus yang disambut pelukan dari Ariana dan Keith.

" Kami juga menyayangi nenek! " ucap keduanya. Ciara datang memberitahukan bahwa makanan telah siap.

" Ya sudah, ayo jangan banyak bicara lagi. Mari kita ke meja makan! " ajak Ny. Martha pada semuanya.
Di meja makan pun semuanya masih senang bersenda gurau. Usai makan malam kami masih berkumpul hingga larut malam. 


****


Keith memberitahuku kalau paman Henoch akan pulang hari minggu. Aku ingin ikut mengantar. Keith setuju. Ia menjemputku pagi-pagi. Awalnya kami ingin mengantar sampai ke desa, namun paman Henoch terus menolak dan bersikeras untuk diantar sampai stasiun saja. Kami pun mengalah.

" Mungkin aku baru akan kembali untuk melihat kalian menikah! " jawab paman Henoch saat ku tanya kapan ke kota lagi.

" Itu pasti masih lama. " aku menimpali. Paman Henoch tertawa lebar. Dan melambaikan tangan untuk pergi saat kereta tujuannya datang.

" Ini hari minggu. Sejak pertama pacaran kita belum pernah berkencan. Bagaimana kalau hari ini kita pergi berkencan? " tanya Keith.

" Apa kita tidak terlalu tua untuk berkencan? " tanyaku sambil tertawa.

" Hey, Aku masih merasa muda! " protes Keith.

Ia menarik tanganku. Mengajakku jalan-jalan sambil terus menggandeng tanganku dengan erat. Tak pernah ia lepaskan meski sedetik. Kami berlarian mengejar burung. Ia membelikanku es krim dan gula kapas. Aku merasa seperti gadis remaja yang baru merasakan cinta. Begitulah kencan pertama yang menyenangkan bersama Keith.



Hari-hari telah berlalu dengan cepat. Hubungan antara keluarga Keith juga semakin baik. Aku juga sering mengunjungi Ny. Martha dirumahnya bersama Keith. Sesekali ku bawakan bunga untuknya. Ny. Martha sangat suka menaruh bunga-bunga itu diruang duduk. Aku juga baru tahu ada taman bunga disamping rumahnya.
Tentang Ariana, ia sudah berhenti dari pekerjaannya. Sekarang Ny. Martha membimbingnya mengelola usaha Luiga Cloth & Textile yang kelak akan diteruskan olehnya. Meski kadang Ny. Martha agak keras dan galak mengajar tapi Ny. Martha tetap menyayanginya. Ia juga punya lebih banyak waktu ke toko bunga. Hubungannya dengan Ronan perlahan mulai dekat. Malah kadang Ronan mengantarnya pulang atau menemaninya ke kuil.
Sore ini Keith mengajakku jalan-jalan ke teluk. Sudah lama sekali kami tidak kesana. Kami berdiri ditepi jembatan. Keith meminta ijin untuk pergi sebentar membeli sesuatu. Aku membiarkannya pergi. Aku menatap jauh kedepan. Tak terasa sudah berjalan begitu jauh meninggalkan kenangan. Sekarang aku justru bisa mengenang kembali semua itu dengan wajah tersenyum. Kisah dalam cerita lalu telah selesai. Ray telah menemukan kehidupan barunya. Dan sekarang giliranku menulis kisahku yang baru.
Keith datang sambil memegang gula kapas dan tiga buah balon bentuk hati yang melayang.

" Ini untukmu! " katanya sambil menyodorkan tiga buah balon itu. Aku mengambilnya.
" Dan ini untukku! " lanjutnya sembari mencubit secuil gula kapas yang dimasukkan kemulutnya dengan cuek.

Aku cemburut dan menatap balon itu dengan bingung. Ada tulisan disisi lain balon itu. Ku coba membacanya. Balon pertama tertulis " I love you" . Balon kedua 
tertulis " You're my heart blossoms! ". Dan yang ketiga tertulis " Edeline, will you marry me? ". Aku terdiam melongo. Kemudian menatap Keith yang cuek saja menikmati gulali itu sendiri. Aku mengacungkan balon itu ke depannya.

" Cuma begini? " tanyaku.

" Ya! " jawab Keith sambil menatapku.

Aku menyengir dengan kecewa, heran sekaligus bingung. Cobalah dimana sisi romantisnya? Pikirku. Aku bahkan tak mengerti maksudnya. Apa itu sebuah pertanyaan atau lelucon. Aku pun dengan sengaja melepas balon-balon itu ke udara. Balon-balon itu melayang tinggi dengan cepat. Keith baru kelabakan.

" Hei, balonku..... Apa yang kau lakukan? " tanya Keith.

" Aku juga tidak mengerti apa yang kau lakukan? " jawabku cuek.

" Aku melamarmu! Arrghh.. Cincinku! Gaji tiga bulanku! Melayang sudah! " ratap Keith pada balon-balon yang terbang jauh itu.

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
" Aku tidak tahu ada cincin disana! " kataku dengan perasaan bersalah.

" Aku menyembunyikannya diujung tali balon terakhir! Sekarang itu sudah hilang. " sahut Keith. Ia kembali memasukkan gula kapas kedalam mulutnya dengan tenang.

" Kenapa kau tidak bilang! Dasar bodoh! Sekarang bagaimana mengambil balon-balon itu! Kenapa kau tenang saja? " teriakku agak kesal.

" Kalau sudah terbang begitu ya sudah, memangnya aku harus bagaimana? " jawab Keith ia membuang sisa gula kapasnya. Kemudian meraih tanganku.
" Yang terpenting adalah aku tidak kehilangan jawabanmu! Cincin itu hanya sebuah benda masih bisa diganti. Sekarang aku ingin bertanya dengan sungguh-sungguh. Edeline, maukah kau menikah denganku? " Keith berbicara dengan serius. Matanya menatapku dengan berbinar-binar.

" A...apa ini tidak terlalu cepat? " tanyaku.

" Kita sudah lama berteman akrab. Kau mengenalku dengan baik. Aku juga mencintaimu sejak lama. Maka menurutku tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Aku ingin terus bersamamu. Jadi bersediakah kau menikah denganku? " ungkap Keith dan ia mengulangi pertanyaannya dengan lembut.

" Iya, aku bersedia! " jawabku mantap.

Keith langsung memelukku dan mengecup keningku.
" Trims. " bisiknya.

" Mmm.. Maaf soal cincinmu! " ucapku masih merasa bersalah.

" Tidak apa-apa! Aku akan berikan lagi yang lebih bagus. " jawab Keith lebih erat memelukku.

" Jadi kau mengajakku kesini hanya untuk melamarku? " tanyaku.

" Aku tahu kau memiliki kenangan yang tak kau suka disini. Tidak peduli seperti apa dan bersama siapa. Aku hanya berharap kesedihanmu ditempat ini berganti menjadi kebahagiaan ketika kau mengingat moment indah kita di sore ini. Mungkin kau akan kembali menyukai tempat ini! " terang Keith.

Aku tersenyum.
" Aku pasti akan bahagia mengingat moment ini. Disini, diatas jembatan ini, bersamamu! Terima kasih, Keith! " ucapku.

" Apapun untuk senyummu, bungaku! Teruslah mekar dihatiku! " balas Keith dengan lembut.

Benar, Setiap senja pasti menyisakan keindahan. Langit yang gelap pun tidak selalu meninggalkan kenangan buruk. Akan selalu ada senyuman diantara bintang yang bersinar terang.



Singkat cerita, tidak ada yang terkejut mendengar rencana pernikahan kami. Semua keluarga ku maupun keluarga Keith justru memberi dukungan walau kami tidak lama pacaran. Setelah melakukan persiapan selama dua bulan. Hari yang ditentukan tak terasa semakin dekat. Ny. Martha menginginkan pesta dibuat dengan meriah. Tapi Keith lebih suka acara yang sederhana. Jadi hanya keluarga dan teman dekat saja yang diundang. Aku juga mengirimkan undangan untuk Ray. Semua persiapan berjalan lancar. Paman Henoch datang ke kota dua hari lebih cepat.
Akhirnya.... pagi itu dihari yang paling istimewa itu, sekali dalam hidupku aku berjalan dalam balutan gaun putih menuju ke depan altar dimana Keith menunggu. Ia mengulurkan tangannya, menyambutku dengan senyuman paling menawan yang pernah ku lihat. Ketika saling melingkarkan cincin dijari manis, saat itu juga sebuah ikatan janji telah kami ucapkan dihadapan sang pendeta. Keith menciumku dan semua yang menyaksikan bertepuk tangan. Aku dan Keith tertawa bahagia.
Sebagai hadiah bulan madu Ny. Martha yang sekarang nenekku memberikan dua tiket berlibur ke luar negeri. Katanya sebagai pengganti pesta yang meriah. Ya, aku dan Keith juga tak bisa menolak. Keesokan harinya kami menggunakan tiket itu. Rupanya tidak kami berdua saja yang berlibur. Diam-diam nenek, Ariana, bibi, dan paman Henoch yang sekarang jadi ayah mertuaku juga berlibur ke negari yang sama. Meski menginap dihotel yang sama, mereka sama sekali tidak mengganggu kebersamaan kami. Justru aku dan Keith yang mengajak mereka jalan bersama.
Yah seperti itulah, kehidupan baruku baru dimulai. Sekembali dari berlibur, aku menerima banyak kartu ucapan selamat dari pelangganku yang dikirim ke toko. Salah satunya datang dari Ray. Aku membuka kartu berwarna cream itu.

Dear Edeline,
Selamat menempuh hidup baru untukmu! Maaf aku tidak bisa hadir. Aku hanya bisa mengirimkan doa dari sini, semoga kebahagiaan senantiasa hadir dalam kehidupanmu yang baru! Oh ya, Joana menitipkan salam rindunya untukmu!
-Ray-

Aku menutup kembali kartu itu dan tersenyum. ' Joana. ' gumamku mengingat anak itu. Keith datang mendekapku dari belakang pundakku.

" Hmm.. Banyak sekali fansmu! " goda Keith.

" Ini dari pelanggan toko bunga. Dan dari seorang yang pernah memberiku mawar kuning! " terangku sambil menyodorkan kartu-kartu itu. Tapi Keith tidak mengambilnya. Ia justru mendekapku lebih erat.

" Aku lebih suka diam memelukmu dari pada menghabiskan waktu membuka kartu itu satu per satu! " bisik Keith dengan pelan. Aku tersenyum.

Usai tutup toko Keith mengajakku jalan-jalan ke teluk. Kami berdiri ditepi jembatan sambil menikmati gula kapas. Aku jadi teringat kejadian cincin yang 'melayang' itu. Jujur sampai sekarang aku masih merasa tak enak.

" Keith, sebenarnya aku masih terus kepikiran cincin yang 'melayang' itu. Aku benar-benar tidak enak. Aku minta maaf ya! " sesalku.

" Sudahlah tidak apa-apa. Jangan terus dipikirkan. Lagi pula itu hanya cincin murahan. " sahut Keith enteng.

" Maksudmu? Bukannya kau bilang itu gaji tiga bulanmu? " tanyaku tak mengerti.

Keith tertawa keras.
" Sebenarnya itu cincin imitasi yang ku beli dipinggir jalan. Ku pikir modelnya sangat bagus dan murah jadi iseng-iseng membelinya. Tapi aku serius dengan balon-balon itu. " terang Keith.

" Apa?? Pantas kau tenang saja saat cincin itu melayang! Ternyata.... Tega sekali baru memberitahuku sekarang. Padahal aku terus memikirkannya. " kataku dengan sebal. Lalu mencubit potongan besar gula kapas dan memasukkan paksa ke mulut Keith.

" Makan ini! " paksaku dengan geram.

Keith dengan senang membuka mulutnya menerima suapanku. Menelan dan membuka mulut lagi.
" Akkk.. Sudah hilang. " ejeknya. Aku suapi gula kapas besar lagi dan Keith mengulanginya lagi dengan gaya yang lucu. Sampai aku juga tertawa.

" Aku senang melihatmu bahagia. Teruslah mekar seperti itu, my heart blossoms! I love you, Edeline! " ucap Keith dengan lembut kemudian mengecup keningku.
Keith mendekapku dalam pelukan, menikmati matahari terbenam pertama di awal kehidupan baru kami.


****


Kebahagiaan tidak pernah meninggalkan siapapun. Kenangan indah hanya sekejap mata namun yang pergi membekas dihati. Meski sering jatuh dan tersandung masa lalu, asal masih memiliki harapan dan semangat untuk bangkit maka kau bisa merelakannya. Bunga yang layu tidak pernah mati, ia akan mekar kembali ditangkai yang lain. Kenangan tidak akan hilang dari ingatan jika terus mengingatnya. Bukan melupakan karna itu mustahil tapi merelakan bahwa semua telah berakhir. Tetaplah mekar sebagai dirimu sendiri. Sebab selalu ada seseorang yang diam-diam menatapmu dari jauh saat hatimu masih terlelap. Dan pada akhirnya waktu-lah yang akan menyembuhkan semua lukamu.
-Elisabeth-




Heart Blossoms 1-6

*The End*

❁❁Terima kasih telah mengikuti cerita ini. Sampai bertemu di fiksi selanjutnya. ┏(^0^)┛┗(^0^)┓

Tidak ada komentar:

Posting Komentar