Rabu, 07 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.5) by Elisabeth

Keith masuk ke dalam kamar pasien dimana Edeline terbaring. Ia tidur dengan nyenyak sekali. Perasaan Keith sedikit lebih tenang. Ia duduk disamping tempat tidur Edeline. Menatapnya sambil menunggunya bangun. Ronan, mama Edeline dan Celine masuk ke dalam untuk melihat kondisi Edeline sebentar.

" Sekarang dia sedang tidur nyenyak. Ayo keluar, biarkan dia istirahat. " ajak mama Edeline pada semuanya untuk keluar dari kamar pasien.

" Nyonya Willen, bolehkan aku tetap disini menunggu Edeline? " tanya Keith meminta ijin.

" Tentu saja boleh. " jawab mama Edeline.
" Tapi kau juga jangan lupa istirahat ya! Oh kalau kau disini, aku dan Celine bisa pulang sebentar mengambil barang Edeline. Nanti sore aku kembali lagi. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Ini ponsel Edeline, kau bisa memakainya. " pesan mama Edeline sembari memberikan ponsel. Ia tahu pemuda itu tidak memakai ponsel.

" Baik. Terima kasih, nyonya Willen. " sahut Keith.
Ronan juga pamit pulang. Tinggal Keith sendiri dikamar pasien menunggu Edeline yang tertidur.

Mama Edeline sudah datang kembali membawa pakaian ganti untuk Edeline. Celine baru akan datang malam nanti. Keith masih duduk disamping tempat tidur Edeline. Ia baru keluar saat perawat datang memeriksa dan menggantikan pakaian Edeline. Perawat itu pergi setelah selesai. Mama Edeline juga keluar dari kamar duduk bersama Keith diluar.

" Dia belum bangun sejak tadi. Apa ia baik-baik saja? " tanya Keith lagi. Ia masih cemas.

" Tidak apa-apa, Keith. Kata dokter ia hanya sedang tidur. Entah apa yang ia pikirkan sampai bisa seperti ini. " kata mama Edeline beranggapan.

" Aku juga tidak tahu apa yang menjadi bebannya. Memang toko agak ramai tapi ku rasa itu bukan alasannya. Kemarin siang ia pergi meninggalkan toko tanpa mengatakan kemana ia pergi. " ungkap Keith.

" Ya. Ia pulang larut malam. Celine bilang ia kerumahnya sore itu sampai malam. Aku tidak khawatir jika benar demikian. " jelas mama Edeline.

" Aku tetap berharap ia baik-baik saja dan segera bangun dari tidurnya agar aku yakin ia benar-benar tidak apa-apa. " harap Keith dengan sangat.

" Dia pasti akan baik-baik saja. Jangan terlalu cemas. Sebaiknya kau juga pulang istirahat, Keith. Biar aku disini menunggu, Celine juga akan datang nanti malam. " usul mama Edeline.

" Tidak bisa, aku masih belum tenang. Nyonya Willen tidak keberatan kan, aku tetap disini? " tanya Keith.

" Tidak. Aku hanya tak ingin kau sampai lupa dengan kesehatanmu. Sepertinya kau sangat khawatir pada Edeline. " jawab mama Edeline sambil tersenyum.

" Aku hanya... " Keith nampak bingung bagaimana menjelaskannya.

" Tidak apa-apa. Aku memahami kekhawatiranmu. Aku tidak pernah menghalangimu. Aku percaya kau pemuda yang baik. " timpal mama Edeline dengan pengertian.

" Terima kasih, nyonya Willen! Aku pasti akan menjaga kepercayaan anda! " janji Keith.
----#----

Aku sedang bermimpi panjang. Aku merasakan kehangatan menjalar dari tanganku. Seseorang menggenggam tanganku. Siapa yang menggenggam tanganku? Aku mulai tersadar. Perlahan aku membuka mata, ruangan yang asing. Aku ada dimana? Dan siapa yang tertidur disampingku? Ia menggengam tanganku. Aku perhatikan wajah yang tertidur pulas itu. Dia Keith. Kenapa Keith disini? Dan kenapa aku disini? Dengan selang infus yang tertancap dilenganku.
Aku menggerakkan tanganku, Keith spontan terbangun oleh gerakan tanganku. Ia mengangkat kepalanya. Menatapku dengan penuh syukur.

" Edeline... Kau sudah bangun? " katanya pelan.

" Aku dimana? Aku tidak ingat. " tanyaku. Pandanganku masih agak kabur dengan ruangan yang bercahaya agak redup.

" Kau dirumah sakit. Kau pingsan karna kelelahan. Kau membuatku takut, Edeline. " jawab Keith. Ia menggenggam tanganku lebih erat.

Aku tertawa kecil.
" Pingsan karna kelelahan? Jadi aku sudah tidur berapa lama? Jam berapa sekarang? " tanyaku.

" Kau sudah tidur lebih dari 12 jam. Sekarang baru pukul 4 lewat, subuh hari. " jawab Keith dengan mata mengerjap-ngerjap. Wajahnya lebih tenang dari pada sebelumnya.

" Oohh... " gumamku. " Lalu apa hanya kau sendiri disini? " tanyaku sambil menatap ke sekeliling yang sepi.

" Mama dan kakakmu pulang hampir tengah malam, aku memaksa mereka pulang kerumah saja. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk mereka tidur. Lagi pula ada aku disini menjagamu. " jawab Keith sembari mengusap kepalaku.

" Jadi kau mencemaskanku? " aku masih menggodanya.

Keith tak menjawab. Sekarang aku melihat dengan jelas matanya berkaca-kaca. Aku mengusap pipinya. Dan ia meraih tanganku.
" Kenapa matamu memerah? " tanyaku berbisik. Aku agak kaget ia tak pernah terlihat begitu sedih.

" Aku sangat cemas padamu. Aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku sudah kehilangan seseorang yang belum sempat ku panggil 'ibu'. Aku tak ingin kehilangan lagi seseorang yang belum sempat aku katakan tentang perasaanku padanya. Edeline... " aku menghentikan ucapannya dengan jariku. Aku menatapnya cukup lama.

" Aku mencintaimu! " bisikku dengan pelan.

Keith kembali menggenggam tanganku, mengecupnya dengan lembut. Ia tersenyum sambil mengangguk.
" Aku mencintaimu! Sejak dulu, sebelum kau menyadarinya, sebelum kau jadi bosku! Aku sudah mencintaimu! " ucap Keith meski nampak bercanda sebenarnya ia bersungguh-sungguh.

Aku tertawa kecil.
" Kau selalu berlebihan! " ejekku.
" Kalau begitu akan ku rampas hatimu! " candaku.

" Kau memang sudah merampasnya. Edeline, mulai sekarang aku akan selalu menjagamu. Kau tidak boleh kelelahan dan kurang tidur lagi. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu kau harus mengatakannya padaku, oke!! " pinta Keith sambil mengelus rambutku.

" Akan aku usahakan! Jika beban pikiran itu bukan mengenai dirimu. " jawabku.

" Kenapa begitu? " tanya Keith tak mengerti.

" Keith, masa aku curhat tentang kamu dengan kamu?! " jawabku.

Keith menyipitkan mata.
" Aku tak paham. Pokoknya kau tidak boleh banyak berpikir. Demi Tuhan, kau membuatku sangat khawatir Edeline! " sahut Keith dengan kedua tangannya yang menggengam tanganku dengan erat.

" Aku sudah tidak apa-apa! " bisikku menenangkannya.

" Ya, Istirahatlah kembali! Aku akan tetap berada disini menjagamu! " balas Keith. Ia mengecup keningku tanpa sekali pun melepaskan tanganku. Ia menemaniku hingga aku terlelap kembali.

Aku tersadar oleh suara berisik didalam kamar. Aku tak tahu berapa lama aku tertidur tadi. Tidak tahu tepatnya apa hari masih pagi atau siang. Aku hanya melihat Keith didekat pintu bersama Ariana. Suara Ariana terdengar lebih nyaring dan tegas.

" Lihat bagaimana penampilanmu! Kau harus mandi dan ganti pakaianmu sekarang juga! Apa? Kau tidak menghargai kepedulianku sama sekali! " rutuk Ariana.

" Pelankan suaramu, Ariana. Nanti Edeline bisa terbangun! " tegur Keith perlahan.

" Keith?! " aku memanggil.

Keith langsung datang menghampiriku. Ariana mengikuti dibelakang. Ariana tersenyum padaku dan menyapa sekejap tapi aku mengabaikannya.

" Kau sudah bangun, Edeline?! Maaf, suara kami pasti mengganggu tidurmu! " kata Keith lembut.

" Tidak. Aku sudah cukup lama tidur. Apa mama belum datang? " tanyaku.

" Ini baru pukul 6.15 pagi, Edeline. Mama mu akan datang setengah jam lagi. Aku sudah meneleponnya tentang kondisimu. Jadi ia bisa lebih tenang. " Keith menjelaskan dengan senyuman lembut sambil menggenggam tanganku.

Aku perhatikan ada kelelahan dibalik senyumnya yang lembut. Pakaiannya nampak kusut, rambutnya juga agak berantakan. Aku menarik tanganku mengusap rambut Keith yang berantakan.

" Sudah berapa lama kau disini? Kau tidak pernah seberantakan seperti pagi ini. " ujarku.

" Aku sudah menyuruhmu mandi kan tadi!? Ini aku bawakan pakaian ganti. Dulu ini punya ayahku, semoga saja muat. Aku harus pergi bekerja. Jadi maaf tidak bisa lama-lama. " Ariana menimpali sambil menyodorkan paperbag pada Keith.

" Terima kasih! " ucap Keith.

" Aku pergi dulu. Semoga cepat sembuh ya, kakak Edeline! " kata Ariana. Aku tersenyum. Tak biasanya ia memanggilku kakak.

Dikamar hanya tinggal aku dan Keith. Ia duduk disisi ranjangku masih menggenggam tanganku.

" Aku boleh bertanya? " tanyaku.

" Tentu saja. Kau ingin bertanya apa, Edeline? " ujar Keith.

" Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Ariana? Kalian sangat dekat! " tanyaku. Pertanyaan yang sudah sangat mengganggu pikiranku sejak beberapa hari lalu.

" Oh, aku belum sempat bercerita padamu! Aku harap kau tidak berpikir yang bukan-bukan. Ariana dan aku lahir dari ibu yang sama namun beda ayah. Bisa dibilang dia itu adik tiriku. " tutur Keith. Ia mulai bercerita tentang keluarga yang baru ditemui nya kembali itu padaku.

" Ooo... Aku memang sudah salah paham sebelumnya. " tambahku.

" Jadi kau berpikir aku dan Ariana memiliki hubungan special?! " tebak Keith.

" Ya. Karna jelas sekali terlihat ia menyukaimu! " jawabku.

" Aku tidak tahu kalau itu. Tapi sekarang ia tidak punya alasan menyukaiku. Pertama, karna aku kakak tirinya dan kedua, hatiku sudah dirampas olehmu! " ujar Keith sambil bercanda. Lalu ia mengecup keningku. Tepat saat itu mama dan Celine masuk kedalam kamar.

" Uuwwww... Sepertinya kita datang diwaktu yang kurang tepat, Celine! " goda mama yang diikuti tawa Celine.

" Mama, kakak.... " sapaku. Aku menggerakkan badan untuk bangun. Keith membantuku.

" Pelan-pelan, Edeline! Kau baru sembuh! " kata Keith.

" Aku sudah sehat! Sekarang aku ingin mengusirmu! Kau sudah bau! " jawabku sambil mengejek.

Keith tertawa. Ia mengeluarkan ponselku dari saku celananya dan mengembalikannya padaku. Ia bilang,
" Mama mu meminjamkannya padaku untuk menghubunginya bila terjadi sesuatu padamu. Aku tidak mengutak-atik apapun isi yang ada didalamnya. "

Aku tersenyum saja, ia begitu jujur.
" Kau harusnya memiliki ponsel juga supaya aku lebih mudah menghubungimu. " kataku.

" Aku tidak suka harus membawa benda ini kemana-mana. Ya.. Mungkin aku perlu satu untuk ditaruh dirumah. " ujar Keith sambil tertawa.

Usai berbasa-basi sebentar, akhirnya ia pamit padaku, pada mama dan Celine. Saat Keith pergi aku langsung mengutarakan keinginanku untuk pulang. Aku merasa sudah sangat sehat. Aku tidak suka rumah sakit. Apalagi tahu toko bunga ku tutup, aku lebih tidak betah.

Aku sudah bersiap untuk pulang. Mama sedang mengemasi barangku yang tersisa dikamar pasien. Keith belum kembali. Celine pergi menyelesaikan biaya administrasi.

----#----
Keith sudah rapi dan wajahnya lebih segar. Ia baru akan kembali ke rumah sakit. Saat sebuah mobil yang tak asing berhenti didepan rumahnya. Ciara keluar dari mobil.

" Tuan muda, maaf menganggu! Anda harus segera ikut kami! Ini.... tentang nenek anda! " kata Ciara dengan sopan.
Dengan perasaan bimbang, akhirnya Keith masuk kedalam mobil. Ia tidak ingin meninggalkan Edeline, tapi juga tak bisa mengabaikan neneknya yang kata Ciara sedang sakit.

" Ciara, apa kau punya ponsel? " tanya Keith.

Ciara mengangguk lalu menyodorkan ponselnya pada Keith.
----#----

Celine kembali setelah urusan pembayaran selesai.
" Edeline, Keith bilang ia tidak bisa datang. Aku sudah memberitahunya kalau kau akan pulang jadi ia akan menemuimu nanti dirumah. " kata Celine padaku.

" Apa ia bertemu kakak? " tanyaku.

" Tidak, ia meneleponku barusan. " jawab Celine.

" Ia pasti sangat lelah. Kasihan anak itu. Selama kau tak sadarkan diri ia terus menunggumu disini! Ia bersikeras menunggumu terus sampai kau bangun. Mama masih ingat betapa khawatirnya dia! Sekarang ia dapat tidur dengan nyenyak! " mama menimpali.
Aku hanya diam saja mendengar ucapan mama. Namun terus memikirkannya. Sepertinya Keith sungguh-sungguh mencintaiku.

----#----
Mobil yang membawa Keith tiba dirumah kediaman Ny. Martha. Ciara menuntun Keith menemui Ny. Martha. Mereka berhenti didepan sebuah kamar. Ciara membawa Keith masuk ketengah ruangan kamar yang cukup besar dengan perabot kayu yang mahal. Ny. Martha berbaring diatas ranjang sedang tidur.

" Sejak kemarin nenek terus memanggil nama tuan muda! Ia terus bertanya tentang anda. Maaf, jika aku lancang membawa tuan muda kemari! Aku hanya khawatir dengan kondisi kesehatan nenek. " tutur Ciara.

" Tidak apa-apa. Aku mengerti. " sahut Keith.

Ny. Martha yang setengah sadar mengigau memanggil nama Keith beberapa kali. Keith mendekatI sisi ranjang. Ciara pamit undur diri. Meninggalkan Keith dan neneknya.

" Nenek, aku disini! " panggil Keith.

" Keith... Keith.. Cucu nenek.. Itu kau?! " tanya Ny. Martha matanya mengerjap-ngerjap.

" Iya, nenek. Ini aku! Aku disini, nenek bangunlah! " ujar Keith pelan.

Ny. Martha tersadar sepenuhnya. Dengan sesekali masih mengerjapkan matanya. Ia memegang pipi Keith.
" Oh cucuku, kau benar-benar disini! " katanya dengan suara parau.

" Iya, nenek! " jawab Keith dengan pelan.

Ny. Martha mengangkat tubuhnya hendak bangun. Keith membantunya duduk bersandar pada bantal. Keith juga membantu Ciara memberikan obat untuk diminum. Setelah itu Ny. Martha dan Keith mengobrol. Wajah Ny. Martha yang tadinya pucat lebih ceria melihat Keith disana.

" Aku minta maaf jika karna perkataanku waktu itu membuat nenek jadi sakit seperti ini. " kata Keith menyesal.

" Tidak. Nenek sudah tua. Penyakit memang lebih mudah datang di tubuh yang sudah renta ini! Nenek masih berharap kau menuruti keinginan nenek! " ujar Ny. Martha.

" Nenek, aku tidak akan mengambil hak orang lain yang bukan milikku! Aku lebih suka mendapatkan sesuatu dari hasil jerih payahku sendiri. " sahut Keith.

" Kau tetap menolaknya meskipun ini permintaan nenek yang sedang sakit? " tanya Ny. Martha.

" Nenek harusnya lebih menghargai kesehatan, jangan hal sepele seperti ini malah membuat kesehatan nenek memburuk. Tolong jangan terus memaksaku, nek. Usaha itu milik Ariana! " pinta Keith.

" Ah, anak itu tidak ada harapan! " desah Ny. Martha sambil menarik nafas.

" Ada harapan bila nenek memberikan kesempatan. Nenek tidak pernah tahu kemampuan Ariana, bagaimana nenek yakin ia pasti gagal? Aku juga bukan orang yang pandai, pendidikanku malah jauh dibawah Ariana. Bagaimana nenek yakin aku akan berhasil? Nenek, tolong jangan perlakukan aku dan Ariana dengan sangat berbeda. Ariana juga cucu nenek. Jika bukan karna Ariana membawaku kemari, aku juga tidak akan pernah bertemu nenek. " Keith memohon.

Ny. Martha menarik nafas dengan panjang. Memasang tampang wajah cemberut. Enggan mengakui kalau ia menyerah pada Keith. Keith memang tak bisa dibujuk.

" Sebaiknya nenek kembali beristirahat. Sebenarnya aku juga tak suka melihat nenek sakit. Nenek harus cepat sembuh. " bujuk Keith.

" Nenek sudah berbaring terlalu lama. Tidur saja tidak akan membuat pikiran nenek jernih. Maukah kau menemani nenek jalan-jalan ditaman sebentar? " pinta Ny. Martha yang memohon.

" Tapi bukankah harusnya nenek istirahat?! Nenek baru minum obat! " ujar Keith.

" Nenek juga butuh udara segar agar cepat pulih. Nenek sangat bosan dua hari ini dikamar tidur terus! " balas Ny. Martha.

" Baiklah. " Keith memenuhi keinginan neneknya.

Keith mendorong neneknya yang duduk dikursi roda berjalan ditaman sekitar rumah. Rumah Ny. Martha memang memiliki taman bunga yang cukup luas. Ciara juga ikut bersama mereka.
Ny. Martha meminta Keith untuk melewati waktu makan malam bersama. Ny. Martha terus menahan Keith untuk tetap berada disisinya. Keith tak bisa menolak karna demi kesehatannya. Hingga hari telah malam pun ia masih membujuk Keith untuk tinggal, tapi Keith menolak. Setelah berjanji ia akan datang lagi besok Ny. Martha baru membiarkannya pulang tentu saja di antar supir. Karna sudah terlalu malam Keith pun tak bisa menemui Edeline.
----#----

Aku duduk diteras balkon. Menunggu. Tiba-tiba mama datang.

" Kenapa masih disini, Edeline? Ini sudah malam! Kau baru sembuh, jangan tidur terlalu larut. " mama menasehati.

" Sebentar lagi aku tidur, ma! " jawabku.

" Sudah terlalu malam, dia tidak mungkin datang! Dia pasti istirahat karna lelah dan kurang tidur. Sekarang kau tidur ya! Dia pasti akan datang besok! " bujuk mama dengan lembut. Aku mengangguk dan langsung ke kamar.

****

Aku berjalan dengan terburu-buru. Melewati mama yang menikmati sarapan paginya di meja makan. Meraih sepatu ku dan melemparnya ke depan pintu.

" Kau mau pergi kemana pagi-pagi begini, Edeline? Kau harus sarapan! " tanya mama dengan heran.

" Aku terburu-buru, mama! Aku sudah kesiangan untuk ke toko! " jawabku sambil mengenakan sepatu.

" Toko?! Ini kan hari minggu! Apa kau akan buka toko di hari minggu? " kata mama yang sekarang kebingungan.

" Hah?? Hari minggu? " aku langsung mengeluarkan ponselku dan melihat tanggal hari ini. Aku menepuk keningku sendiri.
" Aku tidak perhatikan! " kataku malu ternyata aku salah hari.

Mama hanya tertawa.
" Ayo sini sarapan dulu! Ingat kau baru pulih! Jangan sampai kelelahan lagi! " mama mengingatkan.
Akhirnya pagi yang terburu-buru tadi berakhir. Aku menikmati sarapanku bersama mama dengan tenang.

Aku sedang sibuk didepan laptop saat tiba-tiba Keith datang.

" Maaf ya, kemarin aku tidak bisa datang! Bagaimana kondisimu hari ini? Kau tidur nyenyak semalam? " tanya Keith penuh perhatian.

" Aku sudah sepenuhnya sehat. Kau lihat kan sekarang. Aku juga tidur nyenyak. Kau pasti sangat lelah terus menjagaku! Apa kemarin kau sudah istirahat dengan cukup, Keith? " jawabku sekaligus bertanya balik.

" Aku bisa tidur nyenyak setelah melihatmu baik-baik saja! Ini hari minggu, jangan bekerja terlalu keras. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tapi apa kau masih merasa lelah? " ajak Keith.

" Tidak, aku benar-benar sehat. Kau ingin mengajakku kemana? " tanyaku.

" Aku ingin membawamu menemui nenekku! " jawab Keith.

" Oohh.. " gumamku, aku pikir apa Keith akan mengenalkan pacarnya pada neneknya.

Kami tiba disebuah rumah megah. Pertama Keith mengenalkan Ciara yang datang menyambut kedatangan kami. Kemudian Ciara menuntun kami menemui Ny. Martha diruang bacanya. Ny. Martha menatapku dari kepala hingga ke ujung kaki. Aku tersenyum dan membungkuk hormat. Keith merangkul bahuku.

" Nenek, ini Edeline! Gadis yang ku cintai! " kata Keith sambil mengenalkan aku pada neneknya.

" Ooohhh... Apa pekerjaanmu? " tanya Ny. Martha langsung.

" Aku... " belum selesai berkata Keith menyela.
" Edeline mengelola usaha sendiri, toko bunga "Edelweis". Sepeninggal ayahnya setahun lalu, toko bunga "Edelweis" langsung diwariskan padanya. Sejak Edeline mengelola toko itu, yang mulanya sangat sepi, kini sudah kembali ramai dan banyak pelanggan yang datang. " Keith menjelaskan pada neneknya.
Ny. Martha tidak menyahut. Ia diam saja dengan pikirannya.

Ciara datang dan menawarkan minuman untuk kami. Ia mengajak kami ke ruang tamu karna minuman sudah tersedia disana. Keith merangkul bahuku hendak beranjak. Namun Ny. Martha memanggilnya.
" Keith, nenek ingin bicara sebentar! "

" Kau duluan saja ya! Nanti aku menyusul! " ucap Keith padaku. Aku mengangguk dan pergi bersama Ciara.

----#----
" Jadi kau bekerja padanya? " Ny. Martha bertanya langsung pada Keith.

" Aku bekerja pada ayahnya selama bertahun-tahun. Ayah Edeline sangat banyak membantuku. " jawab Keith apa adanya.

" Kau bekerja pada ayahnya, selama itu ayahnya banyak membantumu! Kau jadi berutang budi pada ayahnya. Maka untuk membalasnya kau mencintai putrinya dan mengabdikan hidup untuk keluarganya! " papar Ny. Martha dengan kesimpulannya sendiri.

" Apa maksud nenek?! Aku tidak pernah berpikir begitu! Aku tulus mencintai Edeline, bukan karna suatu alasan tertentu! " jelas Keith.

" Keith, kau mana bisa menilai karna kau dibutakan oleh perasaanmu! " tukas Ny. Martha.

" Nenek, aku tidak begitu! Kenapa nenek bisa berpikiran seperti ini? " tanya Keith. Ia sangat kecewa dengan ucapan neneknya.

" Nenek ini sudah lebih berpengalaman darimu, Keith! Nenek tidak suka gadis itu! Sebaiknya kau cari pekerjaan lain saja dan tinggalkan gadis itu supaya kau tidak terus dijerat oleh dia dan keluarganya. " tuntut Ny. Martha lebih keras.

Keith sangat terkejut mendengarnya. Ia ingin membalas tapi mengingat kondisi kesehatan neneknya yang masih buruk ia pun memilih pergi tak ingin berdebat.
----#----

Keith kembali dengan wajah gusar. Aku perhatikan raut wajahnya tak seceria tadi. Ia pun lebih banyak diam seperti sedang berpikir. Tidak berapa lama, ia mengajakku pulang. Aku berpamitan pada Ny. Martha yang masih berada diruang baca, tapi ia tidak menyahut. Keith langsung membawaku pergi. Dalam perjalanan pulang pun ia terus diam.

" Apa ada sesuatu yang terjadi, Keith? Kau nampak gusar! " tanyaku pelan.

" Tidak ada apa-apa. Kau jangan khawatir! " jawab Keith.

" Sejak tadi kau banyak diam. Sepertinya nenekmu tidak menyukaiku! " kataku pelan.

" Jangan bilang begitu. Nenek menyukaimu ia hanya butuh waktu karna baru melihatmu. Ia tidak tahu dirimu yang sebenarnya. Kau jangan cemas ya! " Keith menghibur sambil memelukku. Ia mengantarku sampai dirumah.

" Kau harus percaya padaku, aku mencintaimu! Ingat jaga kesehatanmu, aku tidak mau kau sampai sakit lagi. Sekarang aku tidak bisa menemanimu, ada yang harus aku lakukan. " pesan Keith sambil terus menggengam tanganku.

" Ya. Aku juga mencintaimu. Kau mau kemana? Setidaknya beritahu aku. Supaya aku tidak cemas. " tanyaku.

" Sebenarnya aku mau menemui ayahku. Aku ingin mengajakmu tapi aku tak mau kau terlalu lelah. Lain kali jika kau benar-benar sehat sepenuhnya aku akan membawamu kesana, aku janji! Kau tidak marah kan? " jawab Keith.

" Tidak. Hati-hati ya! Kau juga harus jaga kesehatan. " pesanku.

" Ya. Sekarang masuklah! Aku pergi dulu ya! " pamit Keith. Setelah mengecup keningku ia pergi.

----#----
Keith pergi menemui Henoch. Ia memang berencana kesana untuk mencurahkan segala isi pikirannya. Sebab selain ayahnya itu, tidak ada tempat lagi untuknya bercerita mengenai masalahnya. Awalnya Keith bercerita tentang perbedaan sikap neneknya pada Ariana dan dirinya. Juga ucapan neneknya barusan yang menurutnya keterlaluan meskipun tidak diucapkan didepan Edeline. Henoch juga sependapat mantan ibu mertua nya itu sudah kelewat batas.

" Jangan terlalu memikirkan ucapan nenekmu, nak! Ikuti kata hatimu! Lakukan apa yang baik menurutmu, sebab kau yang menjalani hidupmu bukan dia! " pesan Henoch sebelum Keith pamit pulang.
----#----

****

" Selamat pagi, sayang! Aku telat menjemputmu dirumah! " sapa Keith saat tiba di toko.

" Kau memang selalu terlambat! " balasku sambil menyirami bunga-bunga.

Keith memelukku dari belakang dan mencium pipiku.
" Aku ingin terus memelukmu seperti ini! " bisiknya.

" Jangan genit, ini ditoko! " aku mengingatkan.

" Tidak ada yang datang! " timpal Keith.

" Sepertinya suasana hatimu sudah kembali baik! " godaku.

" Ya, berkat senyummu! " ujar Keith. Ia kembali mencium pipiku yang satunya.

Ronan datang dan berseru,
" Ups... Pagi! "

Kami berdua menoleh pada Ronan. Keith segera melepas pelukannya. Ia mengambil alih penyiram dari tanganku.

" Oke. Kembali bekerja sebelum bos kita marah! " ucap Keith sedang menggoda. Aku tersenyum.

Dalam perjalanan pulang sore ini. Keith mengayuh sepedanya memboncengku dibelakang. Sambil bergurau dan kadang mengejek. Aku mencubit pinggangnya dengan pelan ketika ia mengataiku.

" Jujur saja, apa kau pernah merasa malu duduk dibelakang sepedaku? " tanya Keith meski nada bicaranya terdengar main-main.

" Aku tidak tahu mengapa harus merasa malu. Justru ini lebih baik dibandingkan harus berjalan kaki belasan mil. " jawabku sambil menyandarkan kepalaku ke punggungnya.

" Dulu aku pernah ditolak. Dipandang rendah sebagai pemuda bersepeda butut yang tidak menarik bagi wanita. " kenang Keith.

" Jadi kau pernah menyukai seseorang? Aku pikir kau tidak pernah suka pada siapapun. " timpalku.

" Dulu sekali, aku pernah menyukai seseorang. Aku beranikan diri menyatakannya tapi balasannya sungguh menyakitkan. Aku dihina. Sejak itu aku tidak berani menyukai siapapun. Namun kejadiannya berbeda saat aku melihatmu pertama kali datang ke toko bersama ayahmu. Aku berharap kau akan datang lagi dan lagi. Tapi aku hanya berani menatapmu dari jauh. Kata-kata kasar dari gadis itu masih membuatku takut. Sepertinya aku ini tidak akan jadi orang yang berguna. " cerita Keith. Pas sepedanya berhenti didepan rumahku. Aku turun.

" Sekarang kau tidak perlu takut. Kau memiliki aku. Ada aku yang menerimamu apapun keadaanmu. Tetaplah jadi dirimu apa-adanya karna itulah alasannya aku memilihmu! " kataku dengan lembut sambil menatapnya lalu aku memeluknya erat.
" Aku mencintaimu, meskipun kau pemuda bersepeda butut! Ingatlah itu! " bisikku.
Keith tertawa. Ia memelukku juga dengan erat.

----#----
Keith baru sampai dirumah. Belum sempat ia mengeluarkan kunci pintu rumahnya sebuah mobil berhenti didepannya. Supir Ny. Martha keluar dari dalam mobil memanggil Keith. Keith mengikutinya masuk ke dalam mobil rupanya Ny. Martha menunggu disana.

" Kau masih bersama gadis itu? Bukankah aku sudah menyuruhmu tinggalkan dia? " cecar Ny. Martha tanpa basa-basi. Ia kemudian memberikan tumpukan foto-foto gadis cantik pada Keith.

" Ini lihatlah nenek telah memilih dari sekian banyak gadis-gadis yang lebih cantik, pintar, dan berpendidikan yang sesuai untukmu. Lihatlah foto ini, kau bisa memilih salah satu dari mereka. Nenek juga telah menyiapkan pekerjaan yang lebih baik dan cocok untukmu! Oh ya, nenek juga merencanakan sebuah rumah yang nantinya akan kau tinggali. Rumah itu jauh lebih bagus dan besar dari rumahmu ini. " jelas Ny. Martha dengan penuh semangat.

Wajah Keith mengeras tanpa ekspresi. Ia semakin tidak suka dengan sikap neneknya yang semakin banyak ikut campur.
" Nenek, aku tidak mengerti apa maksud dan tujuan nenek. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima semua ini! Aku punya pilihan sendiri! Permisi.. " tegas Keith, ia langsung keluar dari mobil. Dan dengan cepat masuk ke dalam rumahnya mengabaikan Ny. Martha yang masih memanggilnya.

Tak lama kemudian mobil itu pergi. Keith mengintip dari balik tirai jendela. Ia semakin takut dengan sikap neneknya itu.
----#----

Pagi ini aku sudah mau berangkat ke toko. Sesuai jadwalku setiap pagi, aku tidak akan menunggu Keith meski lima menit pun. Aku baru keluar dari pintu pagar saat sebuah mobil melintas dan berhenti didepanku. Seorang wanita tua keluar setelah sopirnya membukakan pintu. Aku kenal wanita itu, nenek Keith. Ia berjalan mendekatiku dengan wajah tidak senang. Aku punya firasat buruk. Namun aku berusaha tersenyum sambil menyapanya.
" Selamat pagi, nenek! "

" Tidak perlu basa-basi. Aku hanya ingin menyuruhmu untuk segera mengakhiri hubunganmu dengan cucuku, Keith. Karna aku sudah menemukan calon pendamping untuknya yang lebih baik darimu. Sebentar lagi ia juga tidak akan bekerja untukmu, karna aku akan memberinya pekerjaan yang layak dan lebih terhormat! Jadi kau dan keluargamu tidak bisa terus menjerat cucuku. Ingat itu, aku tidak main-main! " usai berkata dengan ketus, ia pun pergi.

Aku sangat kaget dengan ucapan nenek Keith barusan. Benarkah seperti itu? Aku hampir menangis tapi aku menahannya. Bagaimana pun aku harus tetap ke toko. Ucapan nenek Keith yang menuduh aku dan keluargaku menjerat Keith itu sangat menyakitkan. Pagi ini aku berusaha tetap tersenyum. Walau hampir goyah tiap kali melihat Keith. Aku ingin menangis. Keith juga agak murung meski ia masih tersenyum. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan kami. Kami baru bersama dan apakah benar-benar harus berakhir? Hari ini terasa lama sekali berlalu. Aku memilih diam sendiri direstroom. Aku menelepon Celine menyuruhnya datang. Ia tiba dengan cepat. Tangisku langsung pecah dalam pelukannya.

" Ada apa, Edeline? Tenanglah, ceritakan padaku! " tanya Celine dengan cemas sambil mengelus kepalaku.

Aku lalu menceritakan kejadian tadi pagi padanya. Tentang kedatangan nenek Keith dan semua ucapannya. Celine mendengarkan dengan penuh perhatian.

" Oh astaga... Apa kau memberitahu Keith? " tanya Celine. Ia pun nampak tak bisa berkata. Aku menggelengkan kepala.

" Aku tidak tahu sekarang harus bagaimana? Aku tidak bisa menahan kesedihanku terus didepan Keith. Aku tidak bisa terus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. " kataku sambil terisak.

Celine mengelus kepalaku.
" Kita cari jalan keluarnya sama-sama ya! Aku juga tidak tahu harus berkata apa. Menurutku sebaiknya sekarang kau pulang saja ya! Kau tidak boleh banyak berpikir, kau harus tenangkan dirimu dulu. Sementara jauh dari Keith mungkin lebih baik. Hari ini aku tidak sibuk jadi aku bisa disini menggantikanmu! Aku antar kau pulang dulu ya! " bujuk Celine dengan lembut.

" Bagaimana jika Keith bertanya? Kakak jangan katakan padanya tentang hal yang sebenarnya. " pintaku.

" Aku akan bilang kau lelah dan butuh istirahat. Aku akan menyuruhnya jangan mengganggumu dulu. Dia pasti tidak akan membantahku! " jawab Celine.

Aku mengangguk. Aku berjalan menunduk melewati Keith. Untungnya ia sibuk melayani pelanggan jadi tidak terlalu memperhatikanku. Celine mengantarku pulang dengan mobilnya. Sampai dirumah mama terkejut melihat wajahku yang habis menangis. Ia bertanya dan aku bercerita kembali.

----#----
Celine kembali ke toko sendiri. Begitu toko sepi Keith langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan mengenai Edeline dan kenapa ia sekarang disini. Celine mengatakan seperti yang ia katakan pada Edeline. Keith nampak kurang puas dengan jawaban Celine. Celine memperhatikan wajahnya dengan serius.

" Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian? " tanya Celine menyelidik.

" Tidak ada. " jawab Keith datar.

" Benarkah tidak ada? Atau kau tidak mau memberitahuku? " pancing Celine.

" Memberitahu apa? Apa yang harus aku ceritakan padamu, Celine? " Keith balik bertanya.

" Soal nenekmu misalnya! " ujar Celine terus memancing Keith untuk bicara.

Keith menatap Celine. Celine menangkap sesuatu dari tatapan Keith. Ia tersenyum. Ia tidak suka diam saja dan menunggu. Lalu ia menceritakan kejadian tadi pagi yang di alami Edeline pada Keith. Bahwa neneknya menemui Edeline. Keith sangat terkejut.

" Apa? Jadi nenek menemui Edeline? Dan berbicara seperti itu?! " seru Keith dengan gusar.

" Maaf, aku bukan ingin ikut campur masalahmu dengan Edeline atau urusan keluargamu. Tapi tolong jangan bebani Edeline dengan masalah antara kau dan nenekmu! Kau tahu kan kondisi Edeline saat ini yang masih drop?! Aku pikir nenekmu sangat tidak 'elegan' untuk wanita sekelasnya dengan mendatangi Edeline tanpa sepengetahuanmu! " jelas Celine.

" Aku minta maaf soal itu. Aku benar-benar tidak tahu! " kata Keith penuh sesal.

" Aku bisa mengerti. Untuk sementara ini sebaiknya kau tidak menggangu Edeline dulu. Setidaknya sampai kau bisa memastikan kalau nenekmu tidak akan datang memarahi Edeline lagi. " Celine mengusulkan.

" Ya, aku tahu. Aku harap Edeline tidak terlalu memikirkan ucapan nenekku. Celine, bolehkah aku meminta cuti untuk beberapa hari kedepan? " tanya Keith.

Celine menyipitkan mata sambil berpikir sejenak. Kemudian menjawab,
" Oke, kau bisa cuti! Untuk berapa lama? "

" Terima kasih! Aku belum tahu... Yang pasti aku akan kembali setelah masalahku selesai,mungkin. Celine, tolong jaga Edeline! " pinta Keith.

" Pasti, dia adikku! Aku tentu akan menjaganya dan memastikan ia baik-baik saja. " balas Celine.

" Terima kasih atas pengertianmu! " ujar Keith.

Toko sudah mau ditutup. Celine sedang bersiap. Sebelum Keith pulang, ia menitipkan sebuah surat pada Celine untuk diberikan pada Edeline. Celine mengiyakan. Langkah Keith nampak sangat berat.

Keith langsung pergi menemui neneknya. Ny. Martha sangat senang menyambut kedatangan cucunya. Tapi kedatangan Keith bukan untuk menyenangkan hatinya.

" Kenapa nenek menemui Edeline? Kenapa nenek berbicara seperti itu padanya? " tanya Keith dengan marah.

" Jadi anak itu mengadu padamu? " cemooh Ny. Martha.

" Dia tidak mengatakannya padaku! Tapi tindakan nenek kali ini sudah sangat keterlaluan. Urusan nenek adalah denganku bukan Edeline! Tidak seharusnya nenek menemuinya dan berbicara hal yang telah menyakiti hatinya! " dengus Keith.

" Menyakiti hatinya? Paling besok dia sudah lupa dengan sakit hatinya. Semua perempuan memang begitu! " sanggah Ny. Martha.

" Semua perempuan? Perempuan yang mana? Perempuan yang ada ditumpukan foto yang nenek tunjukkan itu? Jika menurut nenek semua perempuan seperti itu, mungkin iya. Tapi tidak Edeline! Aku mengenalinya dengan baik. Edeline bukan wanita yang bisa dibeli dengan materi. "

" Ah, omong kosong! Jangan tertipu dengan wajah polos dan lugu. Dibalik kepolosan justru tersembunyi racun! " sela Ny. Martha.

" Kalau begitu tanyakan pada wanita-wanita difoto itu, apa mereka bersedia duduk dibelakang sepeda bututku?! Apa mereka mau tinggal dirumah sederhanaku? Apa mereka mau makan dari sisa makanan yang tak habis semalam? Jika ada mungkin aku akan berpikir lagi untuk memilih salah satu dari mereka. " cecar Keith.

Ny. Martha terdiam melotot pada Keith.
" Aku memberimu kesempatan, menaikkan derajatmu tapi kau menolak. Sekarang aku memberimu pilihan agar kau hidup lebih baik. Apa itu tidak cukup? Kau masih mau berdebat dan memilih hidupmu yang serba kekurangan?! " rutuk Ny. Martha dengan lantang.

" Aku tidak pernah merasa kekurangan. Hidupku cukup tapi tidak berlebihan. Nenek, aku merasa jauh lebih baik sekarang tanpa campur tangan nenek. Jadi tolong jangan ganggu aku dengan semua rencana nenek yang penuh keruwetan. Aku tidak peduli dengan derajat, harta atau kekuasaan. Aku bahagia dengan hidupku yang sederhana, bebas dan tenang! Aku harap nenek mengerti itu. " jelas Keith pun tak mau kalah.

" Kau mirip sekali dengan ibumu! Dulu ia menentangku dan memilih menikah dengan ayahmu. Kemudian apa yang terjadi?! Ia akhirnya menyesal dan meninggalkan ayahmu bukan!? " ungkit Ny. Martha.

Keith semakin kesal karna neneknya mulai mengungkit orang tuanya. Ia memilih pergi dengan emosi yang tak bisa ia luapkan.

" Aku tetap tidak akan merubah keputusanku! Aku merencanakan semua ini demi masa depanmu. Keith.. Keith.. Kembali! " teriak Ny. Martha tapi Keith tak menggubrisnya.

Malam hampir menjelang. Keith bersandar disisi jendela kereta. Ia tidak pernah merasa selelah ini. Ia merindukan kehidupannya yang dulu. Sebelum ia menemukan keluarga ibunya.
Keith berdiri didepan pintu. Saat pintu terbuka Henoch terkejut melihat Keith berada disana.

" Hei, nak. Kenapa kau datang kemari malam-malam begini? Ayo cepat masuk! " ajak Henoch.

Ia menutup pintu kembali dan mengajak Keith duduk. Mengajaknya bicara dari hati ke hati. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan putra nya.
" Apa yang terjadi, nak? Coba kau ceritakan pada ayah! " pinta Henoch.

" Sebelumnya... Ayah, bolehkah aku tinggal beberapa hari disini? " tanya Keith.

" Tentu saja. Ini juga rumahmu! Kau boleh tinggal selama yang kau mau! " jawab Henoch. Ia melanjutkan,
" Tapi ada masalah apa? Ceritakan pada ayah. "

Akhirnya Keith menceritakan semua masalahnya hari ini. Henoch mendengarkan dengan penuh perhatian sampai ia selesai mencurahkan segala isi hatinya. Henoch menepuk bahu putranya.

" Nak, kau harus bisa menghadapi semua ini. Kau tidak bisa terus lari dari masalahmu! Kau bisa menghindari nenekmu dengan  datang kemari, tapi bagaimana dengan Edeline? Apa kau juga mau menyerah terhadapnya? Kau mengingatkanku pada ibumu dulu. Ibumu telah memilih ayah tetapi ayah justru mengacaukannya. Ayah harap kau tidak melakukan kesalahan seperti ayah. " tutur Henoch.

" Apakah ibu pernah menyesal memilih ayah? " tanya Keith.

" Selama ibumu bersama ayah, ia tidak pernah mengatakan tentang penyesalan apapun. Meski ia kecewa ia tidak pernah berkata ia menyesal. Justru ayah yang menyesal tidak memperlakukan dia dengan baik. Jika ibumu masih hidup, ayah ingin sekali meminta maaf padanya. " jawab Henoch sambil mengenang.

Keith terdiam dengan pikirannya.

" Sudah malam, nak! Tidurlah, besok baru kembali memikirkan jalan keluarnya lagi! Ayah akan selalu ada membantumu! " hibur Henoch menyemangati.

" Terima kasih, ayah! " sahut Keith. Henoch tersenyum.
----#----

' Edeline, aku benar-benar minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan hari ini. Aku sungguh menyesalkan hal ini. Tolong jangan menganggap serius ucapan nenekku. Aku akan bicara dengan nenek karna ini masalahku dengannya. Aku ingin kau tetap percaya padaku. Aku tidak akan menyerah. Untuk beberapa hari ke depan kau tidak akan melihatku. Tapi kau jangan cemas, aku akan kembali lagi untukmu. Aku harap kau menjaga kesehatanmu, jangan terlalu banyak berpikir. Semua pasti akan baik-baik saja. Aku janji. Aku mencintaimu selalu!
-Keith- '

Aku melipat kembali surat itu. Dalam hati hanya bisa berdoa berharap semuanya akan baik-baik saja seperti ucapan Keith, begitu juga dengan keadaan dirinya.

****

Aku menarik nafas. Aku akan melewatkan beberapa hari atau lebih tanpa kehadiran Keith ditoko ini. Rasanya memang berbeda tanpa dirinya. Aku memasukkan beberapa tangkai sakura plastik kedalam pot. Kemudian menyematkan Omamori yang dulu diberikan Keith ke salah satu tangkai bunga itu. Dan Omamori satu lagi ke tangkai yang lain. Bunga sakura plastik itu kini menghiasi mejaku.

----#----
Tanpa terasa sudah tiga hari Keith didesa. Disana ia banyak membantu Henoch. Dan selama dua hari itu juga Ny. Martha masih terus mencari Keith dirumahnya bahkan sampai bertanya pada Ariana. Pastinya Ariana tidak tahu.

" Bagaimana mungkin kau tidak tahu kakakmu dimana?! " cecar Ny. Martha.

" Apa aku selama 24 jam mengawasinya?! Apa ia serumah denganku?! Aku juga punya pekerjaan dan kehidupan  sendiri! Kenapa nenek suka sekali mengganggu kehidupan orang?! " dengus Ariana begitu ketus.

" Berani sekali kau bicara seperti itu didepan nenekmu! Kau memang cucu yang tidak berguna! " umpat Ny. Martha dengan kesal.

" Sejak kapan nenek pernah menganggapku cucu yang berguna?! Nenek sendiri yang menilaiku seperti itu! Jadi kenapa tidak sekalian saja?! Lagi pula selama ini aku tidak pernah di anggap oleh nenek! " balas Ariana tak kalah sengit. Kini Ny. Martha yang memilih pergi tak ingin berdebat lebih panjang dengannya.

Ariana ikut penasaran mengapa Keith pergi dan ia pergi kemana. Ariana ingin bertanya pada Edeline. Ia sudah berada didepan pintu toko bunga sambil mengintip ke dalam. Ronan yang duluan melihatnya mengajaknya masuk dan duduk sebentar. Ariana yang menangkap ada raut kesedihan diwajah Edeline pun tak jadi bertanya. Sedangkan Ronan menggunakan kesempatan itu untuk mengenali Ariana lebih jauh.

----#----
Keith sedang memperbaiki lantai teras rumah yang kayunya mulai lapuk. Ia menggantinya dengan kayu yang baru. Henoch datang menghampirinya dan duduk didekatnya.

" Nak, sudah empat hari kau disini! Apa kau ingat ada seseorang yang menunggumu disana? Kau tidak boleh terus mengulur waktu. " Henoch mengingatkan.

" Aku tahu ayah. Aku terus berpikir dan tidak menemukan jalan bagaimana agar nenek berhenti mengusik hidupku. Aku tak ingin terus membuat Edeline sedih. " jawab Keith. Ia menghentikan pekerjaannya untuk mendengarkan Henoch.

" Ayah tahu. Tapi diam seperti ini sama saja lari dari masalah. Kau harus menghadapinya sesulit apapun. Beranilah seperti ibumu tapi jangan menjadi seperti ayah. Jika kau yakin dia pilihanmu, maka perjuangkan! Meskipun telah mendapatkannya kau harus tetap berusaha menjaganya dengan baik! " Henoch menasehati. Kemudian ia bangkit berdiri berjalan pelan ke sisi teras sambil menatap langit yang cerah.

" Hari ini cuacanya sangat bagus! Ayah sudah lama sekali tidak keluar berjalan-jalan melihat dunia luar. Keith, apa kau mau mengajak ayah menginap beberapa hari dikota? " pinta Henoch pada Keith sambil tersenyum.

" Ayah ingin ke kota? Aku bisa membawa ayah kesana dan tinggal dirumah kecilku! Kapan saja ayah ingin kesana aku akan membawa ayah pergi. " jawab Keith dengan senang hati.

" Kalau begitu bersiap-siaplah! Ayah tidak mau mengulur waktu sebelum semangat ayah keburu hilang. Ayo.. Keith! " ajak Henoch dengan semangat.

" Ah.. Sekarang? " tanya Keith memastikan.

" Tentu saja! Cepat kemasi barangmu! " desak Henoch. Keith menuruti kemauan ayahnya dengan cepat.

Mereka sampai dikota saat hari menjelang sore. Keith langsung membawa Henoch kerumahnya. Ia juga mengeluarkan barang bawaan Henoch dari tas. Belum selesai berberes Henoch menghentikannya.
" Keith, pergilah temui Edeline dulu! " suruhnya.

" Tapi ayah... " Keith masih bingung.

" Jangan menunggu! Temui dia dulu agar ia tahu kau baik-baik saja! Urusan dengan nenekmu bisa kita pikirkan nanti. Sekarang kau temui dia. Apa kau tidak rindu padanya? " Henoch berkata dengan tatapan menggoda.

Keith tersenyum malu.
" Mana mungkin aku tidak rindu!  Terima kasih ayah! Kau pahlawanku! " puji Keith dengan tulus. Ia pun bergegas menemui Edeline. Sementara Henoch sudah punya rencana lain.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar