Selasa, 06 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.4) by Elisabeth

Hari sudah malam saat Ariana dan Keith tiba disebuah rumah. Sebenarnya Ariana enggan bertemu pemilik rumah tersebut. Tapi demi Keith ia melakukannya. Ariana memencet bel pintu dengan tak sabaran. Nyonya Martha sang pemilik rumah membukakan pintu. Nenek berusia hampir 70 tahun yang nampak masih muda dan sehat itu kaget melihat Ariana.

" Ariana.. " seru Ny. Martha dengan tatapan merendahkan.
" Ada apa kau datang malam-malam begini? Dan, siapa pemuda ini? " tanyanya dengan sinis.

" Bukankah tidak sopan berbicara didepan pintu? " balas Ariana datar.

Ny. Martha pun membiarkan keduanya masuk. Setelah berada diruang tamu Ariana berbicara.
" Aku hanya ingin bertanya mengenai foto ini! " katanya sambil menyerahkan foto lama Keith pada Ny. Martha.

Ny. Martha mengambilnya dan dengan bantuan kacamata yang selalu melingkar dilehernya ia memperhatikan foto tersebut. Ny. Martha terkejut.
" Dimana kau menemukan foto ini? " tanyanya dengan keras.

" Bukan punyaku. " jawab Ariana cuek.

" Maaf nyonya, foto itu diberikan oleh ayahku untukku! Apa nyonya mengenali wanita dalam foto itu? " sahut Keith dengan sopan.

" Tentu saja aku kenal. Ini foto putri bungsuku! Dan anak ini pasti cucu laki-lakiku! Sayang sekali putriku telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. " jawab Ny. Martha dengan raut sedih.

" Benarkah? " Keith kaget sampai tak bisa berkata-kata.

" Lalu kau ini siapa? Kenapa foto ini ada padamu? " tanya Ny. Martha yang rupanya nenek Keith.

" Bayi dalam foto itu adalah aku! " jawab Keith pelan. Ariana makin membuang muka.

" Benarkah?? Jadi kau cucuku yang hilang itu? Cucu laki-lakiku!? " seru Ny. Martha tak percaya.

" Iya, nenek. Aku Keith, cucumu! " jawab Keith pelan.

" Oh ya ampun.. Kemarilah, aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Akhirnya.. Sayang sekali ibumu tidak sempat bertemu denganmu! " tutur Ny. Martha dengan penuh haru. Ia memeluk Keith dengan penuh kehangatan.

Ariana merasa tugasnya sudah selesai. Ia bangkit ingin pergi tapi Keith menahan.
" Ariana.. "

" Aku pulang duluan saja! " ujar Ariana.

" Jangan. " cegah Keith. Ia menarik Ariana.
" Kau juga pasti ingin tahu cerita sebenarnya kan?! Nenek, ku mohon ceritakan padaku kenapa ibu meninggalkanku. " pinta Keith.

Ny. Martha menarik nafas.
" Awalnya nenek tidak pernah setuju ibumu menikah dengan Henoch, ayahmu. Meski tanpa restu, mereka tetap menikah dan setelah itu pindah ke desa. Saat kau baru belajar berjalan, Ibu dan ayahmu datang membawamu untuk menemui nenek dengan harapan nenek akan menyukaimu dan menerima mereka kembali. Sebab nenek tidak punya anak laki-laki dan kau cucu pertama nenek. Tapi nenek tetap tidak suka. Bertahun-tahun kemudian ibu dan ayahmu tidak pernah datang lagi. Sampai suatu hari ibumu menelepon ingin pulang. Entah mengapa ia ingin bercerai dengan ayahmu. Nenek sangat senang dengan berita itu sampai melupakan masalahnya. Awalnya ia ingin membawamu, tapi nenek tidak setuju karna nenek tidak suka ayahmu. Nenek pikir masih bisa mendapat cucu laki-laki lagi. " kenang Ny. Martha. Sedangkan Keith dan Ariana diam mendengarkan.

Ny. Martha melanjutkan kisahnya,
" Setiap hari ibumu bersedih merindukanmu, Keith. Nenek terus membujuknya untuk melupakanmu dan ayahmu. Nenek memang jahat. Nenek juga membujuk ibumu agar mau menerima lamaran pria yang nenek jodohkan yaitu Albey,ayahnya Ariana. Dengan harapan kesedihan ibumu akan hilang dengan kehidupan barunya. Nenek juga berharap akan dapat cucu laki-laki lagi dari pernikahan keduanya. Namun harapan nenek kandas. Masa mengandung Ariana adalah masa tersulit bagi ibumu. Dengan pertaruhan nyawa Ariana lahir, tapi dokter menyarankan agar ia tidak hamil lagi karna itu akan membahayakan dirinya. Kala itu nenek sangat kesal. Keinginan nenek untuk menimang cucu laki-laki pun kandas seketika. Nenek dan kakek hanya memiliki dua orang anak perempuan. Bibimu Amera, tidak menikah. Kakekmu kini sudah tiada. Nenek hanya berpikir jika kelak nenek juga tiada siapa yang akan meneruskan usaha keluarga?! Anak perempuan akan menikah, tinggal bersama suaminya dan mengurus keluarga suami nya. Mana mungkin ia mampu mengurus usaha orang tuanya sendiri! "

" Jadi hanya karna itu alasannya kau tidak pernah bisa menerimaku? " Ariana menyela dengan ketus.

" Ariana.. Tenanglah! " pinta Keith.

Ny. Martha tersentak. Ia melototi Ariana yang membuang muka. Lalu kembali menatap Keith.
" Keith, sebenarnya ibumu sudah mencarimu! Tapi ia tidak pernah bisa menemukanmu. Saat ia kembali ke rumah ayahmu, kau sudah pergi bahkan ayahmu tidak tahu kau kemana. Satu hal yang harus kau tahu, sampai ia meninggal pun ia tidak pernah melupakanmu! " ungkap Ny. Martha. Keith mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.

" Nenek sangat bersalah padamu. Nenek minta maaf. Sekarang kau datang. Ibumu disurga pasti bahagia melihatmu. Mungkin ini kesempatan nenek untuk menebus semua kesalahan nenek selama ini. " Ny. Martha kembali berujar dengan penuh sesal. Ia beralih menatap Ariana.
" Ariana, nenek juga minta maaf padamu! Nenek sangat bersyukur kau menemukan Keith dan membawanya kemari. Meskipun kalian saudara tiri kalian berdua tetap cucuku. Ariana, Keith tinggallah bersama nenek dirumah ini. Rumah ini sangat sepi bila hanya ditinggali seorang wanita tua saja. "

Ariana terkesiap. Namun wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Keith membelai tangan neneknya.
" Nenek, aku tidak bisa tinggal disini. Aku punya rumah sendiri. Tapi aku dan Ariana pasti akan sering datang menjenguk nenek. Terima kasih nenek sudah mau menceritakan semuanya padaku. Itu menjelaskan padaku ibu bukan sengaja meninggalkanku. Aku tak seharusnya membencinya. " tutur Keith.

Ny. Martha mengusap pipi Keith.
" Cucuku, sekarang kau mengerti bukan ibumu tidak menginginkanmu tapi nenekmu inilah yang jahat. Nenek sangat menyesal. " sesalnya.

" Sudahlah itu semua sudah berlalu. Yang terpenting sekarang aku tahu aku masih memiliki ayah, bibi, nenek dan seorang adik perempuan disini. " balas Keith. Perasaannya begitu hangat. Ia merasa bahagia menemukan keluarganya. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah sendiri.

Pulang dari rumah nenek, sepanjang perjalanan Ariana hanya diam saja.

" Hei, sekarang kau benar-benar jadi adikku! " Keith menyikut lengan Ariana bermaksud menggodanya.

" Chh, jangan terlalu senang. Aku tidak akan jadi adik yang baik untukmu! " sahut Ariana ketus.

" Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan nenek? Kau nampak tak senang! " tanya Keith.

" Aku memang tidak senang seperti dia tidak pernah menyukaiku. Sekarang aku baru tahu alasannya, karna aku perempuan. Anak perempuan tidak akan menjadi penerus bagi keturunannya dan tidak bisa mewarisi usaha milik ayahku sendiri. Seperti aku akan bawa lari uangnya saja! " cibir Ariana.

Keith agak terkejut juga dengan perubahan sikap Ariana. Biasanya gadis itu selalu tersenyum manis sekarang ia justru nampak ketus.
" Itu sudah masa lalu. Bukankah nenek sudah minta maaf?! " kata Keith.

" Itu karna aku membawamu kesana. Karna ia menemukan cucu laki-lakinya. Aku tidak percaya dia benar-benar minta maaf dan menyesal. " timpal Ariana.

" Tidak baik berburuk sangka, Ariana. Semua sudah jelas, ibu juga sudah tiada, tidak ada gunanya lagi saling membenci. Nenek sudah tua, seharusnya kita lakukan hal-hal berguna untuknya dihari tuanya. " Keith menasehati.

" Entahlah. Aku tidak tahu apa sakit hati yang sudah bertahun-tahun dapat sembuh hanya dengan sebuah ucapan maaf?! Sepuluh tahun yang lalu sejak ayah dan ibu meninggal, ia sama sekali tak pernah sekalipun menjengukku. Meskipun saat itu aku begitu sedih dan terpukul. Ia justru membuangku, membiarkanku menangis sendiri. Untungnya bibi Amera mau menerimaku! Ia yang merawatku sampai hari ini. " kenang Ariana dengan perasaan terluka.

" Aku mengerti bagaimana rasanya. Namun kau harus melepaskan beban itu, Ariana. Tinggalkan masa lalu dan berjalanlah ke depan. Seperti yang pernah kau katakan padaku dulu, semua kenangan buruk dimasa lalu harus dilupakan.Masih ada banyak harapan yang menanti disana. Aku juga pernah merasa terbuang. Aku juga pernah sendirian. Aku juga pernah mendendam. Aku malah lebih takut dan terus lari dari kenyataan. Tapi aku hadapi semuanya. Melawan rasa takut itu, lupakan yang sudah terjadi, maafkan dan memulai dengan hari yang baru. Selagi matahari masih terbit, selalu ada harapan baru di hari esok. " kata Keith dengan penuh keyakinan. Ariana hanya diam saja mencerna kalimat Keith.

****

Hari masih pagi, Keith sudah tiba di stasiun kereta. Niatnya berangkat dengan kereta pagi. Hari ini ia sampai di desa lebih awal dari biasanya. Henoch agak kaget melihatnya datang begitu pagi. Keith langsung memeluk ayahnya itu dengan erat yang membuat Henoch tambah bingung. Kemudian Keith menceritakan pertemuannya dengan neneknya semalam. Juga tentang ibunya. Henoch agak sedih mendengar Vanesa sudah tiada. Ia memberi semangat pada Keith kalau anaknya itu kini sudah tak perlu merasa sendiri. Ia telah menemukan keluarganya. Menghabiskan waktu berjam-jam bercerita dengan ayahnya, Keith sampai lupa hari ini ia juga ada janji dengan Edeline. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul 11 lewat.

" Edeline pasti menunggu. " pikirnya.

Keith beranjak mengambil telepon disisi meja lain. Ia memencet beberapa angka dan menunggu sampai telepon di angkat.
----#----

Telepon diruang tengah berbunyi. Aku segera berlari mengangkatnya.

" Hallo.. " jawabku.

( Hallo, Edeline.. Maaf, rencana hari ini batal...! Aku tidak bisa kerumahmu. Mungkin lain kali saja ya. Bye... )

" Eeee.. " aku baru ingin bicara tapi telepon sudah ditutup. Aku jadinya bertanya-tanya.
" Keith?! Ada apa ya? "

Aku meletakkan gagang telepon kembali kemudian masuk ke kamarku. Sebenarnya memang sudah rapi dan siap pergi. Tapi kalau batal ya sudah. Aku berbaring diatas kasur. Dan berpikir mencari tujuan lain, karna terlanjur sudah berpakaian rapi sayang kalau diganti. Ku edarkan pandangan ke seluruh sudut kamar lalu pandanganku berhenti di rak samping tempat tidur. Beberapa foto tersusun disana. Foto lama diriku dan juga foto bersama mama, tapi ada satu foto yang tergelatak dengan posisi telungkup disana. Aku bangkit untuk mengambilnya. Saat ku perhatikan itu foto yang sudah lama sekali. Foto piknik keluarga dengan latar padang disebuah desa.
Aku ingat dulu papa sering membawaku kesana saat kakek dan nenek masih tinggal disana. Saat musim bunga, padang itu akan dipenuhi dengan bunga liar yang bermekaran indah. Sudah lama sekali aku tidak pernah ke padang itu. Sejak kakek dan nenek meninggal sudah jarang ke desa. Jika ada pun hanya untuk berjiarah ke makam dan itu juga dua tahun yang lalu. Aku penasaran apakah padang itu masih ada?
Siang itu juga aku berangkat. Karna letaknya tidak terlalu jauh dan juga transportasinya mudah maka aku berani kesana sendiri. Sekalian berjiarah ke makam kakek dan nenek. Hanya 35menit perjalanan dengan kereta. Aku coba mengingat kembali jalan-jalan didesa ini. Tidak banyak yang berubah jadi tidak sulit. Aku menemukan makam kakek dan nenek karna hanya ada satu pemakaman umum disini. Usai berjiarah aku meneruskan perjalanan kembali, tujuanku padang dalam foto lamaku. Sebenarnya aku agak lupa letaknya. Atau mungkin sudah berubah jadi bangunan beton aku juga tidak tahu. Aku hanya terus berjalan mengikuti perasaan saja. Pikirku, didesa kecil ini tidak mungkin akan tersesat, sebodoh-bodohnya juga pasti bisa kembali ke stasiun kereta.
Aku menghirup nafas dalam-dalam. Meski langit sangat cerah tapi cuacanya tidak sepanas di kota. Udaranya pun terasa bersih. Rumah penduduk terlihat kecil di kejauhan. Semakin jauh langkah kakiku semakin jarang rumah penduduk. Jalan beraspal pun terputus menjadi jalan setapak bebatuan menuju kejalan yang menanjak didepan. Aku jadi teringat dulu papa sering menggendongku melewati jalan yang menanjak itu. Tapi dulu tidak ada jalan beraspal. Aku melangkah dengan pelan, sangat lelah harus berjalan naik. Namun perjalanan itu tidak sia-sia. Aku melihat padang dalam fotoku membentang didepan sana.
Aku sudah berada ditengah padang menikmati pemandangan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Aku senang tempat ini tidak berubah, hanya sayang bukan musim bunga. Namun tetap ada sebuah kerinduan disini. Aku kembali menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata meresapi suasana yang tenang dan damai mengalir kedalam jiwa. Tanpa aku sadar aku tidak sendirian disana. Saat aku membuka mata Keith berdiri disampingku. Ia melakukan hal yang sama denganku.

" Keith?! " seruku heran.

Keith menoleh.
" Hai, Edeline. Bagaimana kau bisa ada disini? " tanya Keith.

" Aku yang harusnya bertanya kenapa kau ada disini? " balasku.

" Ini desa kelahiranku, Edeline. Tempat tinggalku dulu, tempat aku dibesarkan. " terang Keith.

" Oh ya?! Aku tidak pernah tahu. Desa ini juga tempat tinggal kakek dan nenekku. Dan tempat papa dibesarkan. " sahutku.

" Aku tahu. Makanya papamu baik padaku karna kami berasal dari desa yang sama. " tambah Keith.

" Aku tidak pernah tahu tentang asal-usulmu. Tapi untuk apa kau kemari? Sampai-sampai membatalkan janji. Aku pikir terjadi sesuatu. Bicaramu begitu singkat dan serius. " kataku cepat.

" Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku? " goda Keith yang terlihat senang.

" Tidak. Kenapa aku harus khawatir? Aku hanya penasaran saja! " jawabku sambil membuang muka.

" Benarkah? Buktinya kau menyusulku sampai kesini! " Keith menggoda lagi.

Aku berbalik menatapnya dengan sinis.
" Jangan terlalu percaya diri dulu ya tuan sok tahu! Aku sendiri juga tidak tahu kau ada disini. Kalau aku tahu aku juga tak akan kemari. " jawabku ketus sambil melemparkan segenggam ilalang ke wajahnya. Kemudian aku berlari sambil tertawa.
Keith mengibaskan rambutnya. Tapi ia tidak mengejarku. Ia hanya duduk saja.

" Hei... tuan sok tahu, ayo kejar aku! Kau sangat tidak seru. " teriakku sambil mengejek.

" Kau seperti anak umur lima tahun kalau tingkahmu seperti itu! " seru Keith.

" Biarin! Weekkkk! " balasku sambil menjulurkan lidah. Dan berbalik hendak berlari tapi sial, aku tersandung dan jatuh.
" Aduh! "

Keith secepat kilat berlari menghampiriku.
" Kau tidak apa-apa? " tanyanya dengan serius. Ia nampak cemas sambil memeriksa pergelangan kakiku.

" Apa kau mengkhawatirkanku? " tanyaku dengan maksud mengejek.

Keith menatapku tanpa ekspresi apa-apa. Lalu berdiri.
" Tidak. Kenapa aku harus mengkhawatirkanmu? " jawabnya kemudian pergi meninggalkanku.
Aku merasa heran tiba-tiba sikapnya jadi dingin.

Aku langsung berdiri hendak mengejarnya tapi baru hendak melangkah aku kembali terjatuh. Rasanya sakit luar biasa.
" Aaauuwww.. " seruku sambil memegang kakiku.

Keith kembali. Ia berjongkok didepanku. Memeriksa lagi kakiku kemudian tanpa bertanya tangannya langsung mengangkat tubuhku. Aku tak tahu mau protes atau berkata apa. Wajah Keith saat ini tidak terlihat sedang bercanda. Ia menggendongku dan dengan canggung aku menyandarkan kepala ke dadanya. Detak jantungnya terasa cepat.
Kami tiba disebuah rumah. Aku sudah duduk disofa ruang tamu. Keith mulai memutar pergelangan kakiku dengan pelan.

" Tahan sebentar ya, ini akan sedikit sakit. Sepertinya terkilir, setelah ini tidak akan apa-apa. " katanya. Kemudian entah bagaimana ia melakukannya, spontan aku berteriak kesakitan. Namun perlahan sakit itu hilang. Seorang pria paruh baya datang memberikan minyak gosok pada Keith. Keith membalurkannya dipergelangan kakiku yang terkilir. Keith mengenalkan pria bernama Henoch yang merupakan ayahnya itu padaku. Juga mengenalkan diriku pada ayahnya. Kami bertiga ngobrol sebentar. Setelah itu paman Henoch masuk kedalam rumah meninggalkan kami berdua.

" Bagaimana kakimu apa masih sakit? " tanya Keith.

Aku coba menggerak-gerakkan kakiku. Ya rasanya tidak sakit hanya sedikit saja. Aku menggeleng.

" Baguslah. Makanya lain kali jangan bandel! " Keith menasehati dengan gurauan.

Aku memasang wajah cemberut. Lalu tersenyum.
" Keith.. Terima kasih! " ucapku lembut.

" Sama-sama. " balas Keith. Raut wajahnya lebih menyenangkan dari pada tadi.
" Aku sangat cemas tahu! Kau membuatku takut. " kata Keith pelan.

" Jadi kau khawatir padaku? " tanyaku didepan wajah Keith, masih senang menggodanya.

" Ya. " jawab Keith jujur. Wajahnya sangat dekat denganku. Namun kami hanya saling menatap dalam diam. Satu menit. Perlahan wajah Keith mendekati bibirku namun senyumnya mengembang.
" Apa kau berharap aku akan menciummu? " godanya lalu wajahnya menjauh.

Aku kembali menatapnya dengan sinis sambil mengepalkan tinju ke wajahnya yang berhasil ditangkap olehnya sebelum mendarat diwajahnya.
" Tidak lucu! " kataku ketus sambil menarik tanganku dari cengkraman Keith.

" Sepertinya ada yang marah... " ejek Keith lagi.

Aku tak menghiraukannya. Hanya diam-diam tersenyum sendiri. Entah mengapa ada perasaan hangat menggelitik dihati. Mungkinkah benih itu juga tumbuh dihatiku?!

Hari telah sore, harusnya aku pulang. Aku dan Keith memang berencana pulang bersama. Untuk sampai di stasiun kereta kami tetap akan melewati padang rumput tadi. Kembali ke padang rumput Keith masih ingin duduk sebentar disana. Tangannya memutar ilalang yang dipetiknya.

" Sudah lama tidak melihat matahari terbenam dari sini! " kata Keith.

" Memangnya kelihatan? " tanyaku.

" Tentu saja terlihat. Tunggu saja sampai waktunya, kau akan melihatnya. " jawab Keith.

" Tapi kita tidak akan mendapatkan kereta kalau pulang setelah lewat senja. " tukasku cemas.

" Hmm.. Benar juga. Oh ya, aku masih ingin tahu kenapa kau bisa datang kemari? " tanya Keith.

" Aku tak sengaja menemukan foto lama saat piknik keluarga dipadang ini. Ada sebuah kerinduan saat melihat foto itu, terutama rasa rindu ketika papa masih ada dulu. Papa sering membawaku kesini. Saat musim bunga. Bunga-bunga liar akan bermekaran berwarna-warni memenuhi padang ini. Aku selalu memetiknya dan dengan kerepotan membawanya pulang. Padahal aku bisa mengambil bunga apa yang ku suka ditoko bunga papa. " aku tertawa kecil mengenang saat itu. Kemudian lanjut bercerita.
" Ada banyak kenangan bersama papa dipadang ini. Aku memutuskan datang karna memang sudah lama tidak pernah kemari, sekalian juga berjiarah ke makam kakek dan nenek. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu juga disini. "

" Sayang kau datang bukan disaat musim bunga. Atau kau mau membawa pulang ilalang? " gurau Keith sembari memberikan ilalang yang tadi ia petik.

Aku tertawa. Dan menampik tangannya.
" Untuk apa ilalang itu? Kau ini aneh sekali. Sudahlah ayo pulang, aku tidak mau ketinggalan kereta terakhir. " ajakku lalu bangkit dan mulai berjalan.

" Tentu saja untuk dibawa pulang. " sahut Keith sambil mengikuti.

Didalam kereta yang sedang melaju. Langit sudah mulai gelap. Aku juga sudah merasa lelah. Beberapa kali kepala terantuk bahu Keith karna mengantuk.

" Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu kalau sampai. " ujar Keith. Aku tak menjawab mataku sudah berat. Sampai akhirnya tertidur disandaran bahu Keith.

****

Aku sedang duduk dimejaku, melamun sambil tersenyum sendiri. Ronan yang kebetulan melihat sikapku yang hari ini aneh berbisik pada Keith. Keith juga menoleh ke arahku. Dengan langkah santai ia membungkuk didepan mejaku. Memperhatikanku yang sedang tersenyum sendiri.

" Hei, lihat nona ini apa yang sedang dia pikirkan sampai tersenyum sendiri seperti itu... " goda Keith.

Aku baru tersadar dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
" A..aapa katamu? " kataku gelagapan.

" Aku akan sangat senang jika penyebab kau tersenyum sendiri itu adalah aku! " ucap Keith sambil mengedipkan mata.

" Akhir-akhir ini kau mengalami syndrome percaya diri yang berlebihan. Apa kau meminum obat yang salah? " ejekku.

" Tidak. Aku hanya merasa kuncup bunga yang sudah lama layu mulai bersemi kembali. " balas Keith. Ia tersenyum dengan penuh teka-teki tapi aku terdiam menatapnya.
" Ah.. Aku buatkan teh untukmu ya! " katanya sambil berjalan pergi. Mataku mengikutI kepergiannya dan kembali tersenyum.

****

Mengawali pagi dengan kesibukan. Baru buka toko langsung mendapat telepon dari pelanggan yang memesan 10 bunga meja ukuran medium yang akan di ambil sore nanti. Keith dan Ronan langsung mengerjakan sesuai model yang diinginkan pelanggan. Ronan memberitahuku ada beberapa macam bunga yang kurang. Aku segera memesannya dengan telepon. Ternyata agen bunga juga kehabisan stok untuk hari ini. Karna kebutuhan mendesak mereka merekomendasikan sebuah toko bunga yang masih tersedia. Tentu harganya sedikit mahal. Aku lalu meminta nomor telepon toko tersebut dan langsung menelepon kesana. Benar, semua bunga yang dibutuhkan tersedia. Tapi aku harus mengambilnya sendiri karna mereka tidak memiliki kurir. Keith dan Ronan sedang sibuk jadi aku pergi sendiri.

" Mau kemana, Edeline? " tanya Keith melihatku bersiap.

" Keluar mengambil pesanan bunga. " jawabku cepat.

" Kenapa tidak menyuruh mereka mengantarnya saja? " tanya Keith.

" Agen langganan kita juga kehabisan stok jadi aku harus membelinya ditempat lain. Mereka tidak punya kurir jadi aku harus mengambilnya sendiri. " jawabku dengan terburu-buru. Aku sudah mau pergi.

" Kalau begitu biar aku yang pergi saja. Berikan alamatnya! " kata Keith. Ia sendiri sudah siap mengambil alih tugasku.

" Tidak ada waktu, Keith. Kau harus disini bersama Ronan menyelesaikan bunga itu. Kita harus selesai sebelum pelanggan datang mengambil. " paparku.

" Tapi itu.. "

" Sekarang aku bos nya! Lakukan tugasmu dan jangan banyak membantah! " perintahku dengan tegas kemudian meninggalkan toko.

" Oh sudah bisa jadi bos sekarang! " gumam Keith sendiri. Ronan cekikikan menahan tawa.

Satu setengah jam kemudian aku kembali dengan dua paperbag besar bunga yang ku dekap bersamaan sampai tubuh mungilku hampir tak terlihat. Keith langsung mengambilnya dariku.

" Masih butuh berapa? " tanyaku setengah ngos-ngosan.

" Tidak banyak hanya tiga setengah, kakak Edeline. " jawab Ronan.

" Oh syukurlah. " kataku lega.

" Bukan kakak, sekarang dia bos! " Keith meralat ucapan Ronan dengan maksud menyindirku.

" Aku sedang tidak ingin bercanda, sayang! " ejekku pada Keith.

" Apa? Bisa kau ulangi sekali lagi? " ujar Keith bersemangat.

" Tidak. " jawabku sambil berlalu. Keith nampak lesu dan Ronan kembali cekikikan.

Hari yang amat sibuk akhirnya usai. Semua selesai tepat waktu. Aku sudah mau keluar tutup toko saat itu Ariana datang.

" Oh pelanggan terakhir! " seruku. Ronan melambai pada Ariana, gadis itu membalasnya dengan senyum.

" Tidak, tidak, hari ini aku tidak datang untuk membeli bunga. Aku mencari Keith. " Ariana meluruskan. Ronan jadi kehilangan semangat mendengar Ariana mencari Keith.

" Oh.. " gumamku. " Ya sudah aku juga sudah mau tutup. Ayo.. "

Aku sedang mengunci pintu toko. Keith dan Ariana sudah berjalan duluan. Mereka saling berbicara atau seperti sedang berdebat. Lalu aku melihat Keith merangkul pundak Ariana dengan erat. Ariana menepis tangannya sambil berkata sesuatu sedangkan Keith tertawa. Ia masih menggodanya dengan mengacak rambut gadis itu. Kembali Ariana menepisnya. Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang menusuk hatiku. Aku berpikir, apa Keith memang begitu usil?! Apa hubungan saudara angkat bisa sedekat itu?
Aku berjalan pulang. Ku rasa kuncup bunga yang dikatakan Keith sudah layu sebelum sempat mekar.

----#----
Didepan sebuah rumah saat Keith dan Ariana sedang menunggu. Mereka masih saja berdebat.

" Dasar bodoh, aku juga tidak akan mencarimu kalau bukan karna bibi Amera ingin bertemu denganmu! " umpat Ariana dengan ketus.

" Kenapa kau jadi ketus begitu?! Kau sepertinya tak senang kalau aku memang kakakmu. " ujar Keith.

" Aku memang tidak senang. Lalu kenapa? " tanya Ariana dengan mata melotot.

Pintu terbuka dan Bibi Amera muncul.
" Hei kalian berdua dari dalam sudah terdengar suara ribut kalian. Ayo masuk! " suruhnya sambil membuka pintu lebih lebar.

" Oh.. Jadi kau yang namanya Keith! Wajahmu memang mirip sekali dengan adikku. " kata Bibi Amera begitu mereka duduk diruang tamu. Ariana kembali membuang muka.

" Terima kasih bibi. Aku sendiri tidak ingat wajah ibu. " jawab Keith.

" Tidak apa-apa. Bibi mengerti keadaanmu. Ariana, kenapa hanya duduk saja! Ayo ambilkan minuman untuk kakakmu ini! " perintah bibi Amera.

" Eh tidak usah, bibi. " tolak Keith.

" Tidak apa. Ariana... " suruh bibi Amera sekali lagi. Ariana berdiri dengan wajah cemberut masuk kedalam dapur.
" Jadi sekarang kau tinggal dimana, Keith? "

Suara bibi Amera dan Keith terdengar sampai ke dapur oleh Ariana. Sambil menuangkan air panas ke kantong teh Ariana mengomel sendiri.
" Kenapa dia harus jadi kakakku? Menyebalkan sekali! Jadi kakak angkat saja sudah sulit bagiku sekarang ia jadi kakak tiri. Bahkan jadi lebih menyebalkan dari sebelumnya. "

Ariana menatap toples-toples yang tersusun di rak. Pikiran isengnya muncul. Ia tersenyum.
Ia membawakan secangkir teh hangat untuk Keith.

" Ini kakak, silahkan diminum! " kata Ariana dengan senyum paling manis.

" Nah begitu baru adik yang manis. " puji bibi Amera.

" Terima kasih ya, Ariana. " ucap Keith ia lalu mengangkat cangkirnya dan minum tehnya. Ia hampir memuntahkan kembali teh nya namun karna bibi Amera terus menatapnya jadi dengan terpaksa ia menelannya. Ariana menahan tawa dibalik baki yang dipegangnya. Sementara Keith menatapnya tajam.
" Awas kau ya! " ancam Keith dengan bisikan kecil pada Ariana.

" Ada apa Keith? " tanya bibi Amera.

" Ah tidak apa-apa bibi. " jawab Keith sambil tersenyum seolah tak ada apa-apa.

****

Seharian ini aku hanya bergelut didepan layar laptop. Setelah mengecek semua bunga dan memesan bunga baru. Kembali didepan laptop, mengetik, meng-upload foto baru di blog, membuat catatan tagihan, ya hampir tidak beranjak dari kursi. Mata yang lelah ditambah kurang tidur semalam tetap dipaksakan.
Dari balik layar laptop aku mencuri pandang ke arah Keith. Entah mengapa aku terus memikirkan kejadian kemarin. Dan tidak tahu mengapa aku merasa tidak tenang. Aku mengemas laptop dan sebuah buku. Kemudian menentengnya pergi.

" Aku keluar sebentar. " kataku sambil berlalu cepat sebelum kedua pemuda disana bertanya.

Udara segar mungkin bisa mengembalikan semangatku. Aku memilih duduk disebuah cafe dan memesan segelas kopi. Minuman yang seharusnya ku hindari, tapi sangat membantu menghilangkan rasa kantuk dan lelah. Aku kembali berjalan-jalan. Jalanan kota saat siang ramai dengan anak sekolah yang hendak pulang. Langkah tanpa tujuanku akhirnya berhenti di teluk. Kali ini aku tidak ke jembatan hanya duduk ditepian teluk. Angin bertiup cukup kencang disini. Rasanya lebih baik tanpa dihantui kenangan. Justru sekarang keadaannya berbeda. Aku tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Yang jelas hati ini terasa nyeri.
Aku pergi menemui Celine. Celine agak kaget melihatku datang di jam seperti ini. Aku bercerita padanya tentang banyak hal, juga tentang apa yang aku rasakan saat ini. Celine selalu bisa memberi masukan. Ia tersenyum mendengar curahan hatiku dengan penuh perhatian.

" Itu tandanya kau menyukai Keith, Edeline! Kau tidak suka melihatnya dekat dengan gadis lain. Kau cemburu iya kan!? Masa kau tidak menyadarinya? " ujar Celine dengan lembut.

" Kakak, apa yang kau katakan itulah yang aku takutkan. Jika kenyataannya harus kembali kehilangan bahkan sebelum memulai. Aku baru bangkit apa harus kembali jatuh? " balasku.

" Setiap orang bangkit dan jatuh berkali-kali, itulah yang membuat mereka semakin kuat. Kau juga harus seperti itu. Bukan terus lari dan lantas menyerah, tapi kau harus terus bangkit untuk berjuang. Ingat jika kau menyerah sekarang kau tidak akan mendapatkan apa-apa, jika kau bertahan dan berjuang kau mungkin masih memiliki kesempatan. Sekecil apapun kesempatan kau tetap disebut pemenang meski diposisi runner up karna kau telah berusaha. " ucap Celine dengan masukannya.

" Lalu aku harus berusaha seperti apa? " tanyaku.

Celine mengusap lenganku dengan pelan.
" Tunjukkan padanya, kepedulianmu, perhatianmu! Berpikirlah positif karna apa yang kau lihat belum tentu seperti apa yang kau pikirkan. Bukankah dia bilang padamu dia hanya menganggap gadis itu adiknya saja?! Jadi cobalah percaya. Jika akhirnya ternyata kau harus jatuh lagi, maka ingatlah kau tidak pernah kalah. Kau juga pemenang hanya saja diposisi kedua! " jawab Celine dengan penuh keyakinan juga semangat.

Aku mengangguk.
" Terima kasih kakak! Aku memang selalu bisa mengandalkanmu! " balasku. Aku sangat bersyukur memilik kakak seperti Celine. Rasanya beban pikiranku sedikit berkurang setelah bercerita padanya.

" Aku akan selalu membantumu selama aku bisa, Edeline! " timpalnya.

Lama mengobrol dengan Celine aku sampai lupa waktu. Ku lihat jam dilayar ponselku. Sudah hampir waktunya tutup toko. Aku tak akan sempat sampai kesana. Jadi aku menelepon ke toko. Ronan yang mengangkat telepon. Aku berbicara padanya.
" Halo, Ronan.. Apa Keith disana? Ohh aku tak akan tepat waktu sampai ditoko. Jadi tolong sampaikan pada Keith, suruh dia menutup toko ya! Kuncinya ada didalam laci mejaku. Seperti biasa setelah pulang antarkan kunci itu kerumahku! Iya, terima kasih. "

----#----
Keith baru keluar dari restroom saat Ronan menutup telepon.

" Siapa yang menelepon? " tanya Keith.

" Kakak Edeline. Ia menyuruhmu  tutup toko nanti, kuncinya ada di laci mejanya. Setelah pulang antarkan kunci itu kerumahnya! " jawab Ronan seperti yang disampaikan Edeline.

" Apa dia bilang dia pergi kemana? " tanya Keith. Ia agak cemas.

" Tidak. Aku juga lupa menanyakannya. " jawab Ronan agak menyesal.

" Ya sudah tidak apa-apa. " ujar Keith.

" Kakak Keith.. Apa kau merasa hari ini kakak Edeline sedikit aneh. Ia tidak bicara apapun ataupun menyapaku sejak pagi. Dia bahkan meninggalkan toko sejak siang. Selama aku bekerja disini aku belum pernah melihat kakak Edeline seperti itu. " tutur Ronan. Ia sangat memperhatikan sikap Edeline.
Sedangkan Keith justru diam berpikir ada apa dengan Edeline hari ini. Kemana ia pergi?

Saat Keith mengantar kunci toko ke rumah Edeline. Mama Edeline juga tak tahu ia kemana. Bahkan Edeline belum pulang kerumahnya. Keith semakin cemas. Ia pun pergi meninggalkan rumah Edeline. Keith pergi ke teluk berharap menemukan Edeline disana. Tapi bukan Edeline yang ditemui Keith melainkan Ariana. Gadis itu berdiri sendirian ditepi jembatan. Mencengkeram pagar pembatas dengan tatapan lurus ke teluk yang jauh.

" Ariana... Apa yang kau lakukan disini? Ohh ya.. Aku masih belum membalasmu karna menaruh garam di teh ku. Anak nakal, kau sengaja melakukannya ya?! " seru Keith dengan muka garang yang dibuat-buat.

" Aku sedang tidak ingin bercanda, Keith! Maksudku kakak.. " balas Ariana, agak aneh memanggil Keith kakak karna tidak terbiasa.

" Panggil nama saja tidak masalah. Memang sulit menerima kenyataan. Oh ya jadi kenapa kau disini? " tanya Keith.

" Aku rindu pada ayah dan ibu. Seperti katamu memang sulit menerima kenyataan, bahwa sekarang aku sendiri. Kesepian dan tidak ada yang peduli. " tutur Ariana dengan amat sedih.

" Kata siapa kau sendiri. Kau masih punya bibi, nenek dan sekarang ada aku. " hibur Keith.

" Memang cuma bibi Amera yang mau menerimaku. Mungkin bibi-lah yang masih peduli padaku. Nenek tua itu tidak pernah sekalipun mempedulikan ku. Dimatanya aku tidak ada dan tidak akan pernah ada. Apalagi setelah ayah dan ibu tiada, aku juga seperti sudah tiada baginya. " ungkap Ariana dengan putus asa.

" Hey, jangan bicara seperti itu. Bukankah nenek sudah minta maaf padamu? " Keith mengingatkan.

" Minta maaf?! Itu hanya ucapan dimulutnya saja. Kenyataannya dia tidak pernah berubah. " kata Ariana. Ia berbalik menatap Keith dengan kesal dia berkata,
" Apa kau tahu?! Barusan..... aku berbaik hati datang mengunjunginya, membawakannya buah kesukaannya tapi apa yang ia katakan padaku? "

Ariana mengingat kejadian barusan. Neneknya membuang buah yang dibawanya hingga jatuh berserakan di lantai. Lalu berkata dengan kasar,
" Aku tidak butuh apapun darimu! Jangan berlagak baik padaku hanya karna aku meminta maaf, bukan berarti aku benar-benar mengucapkannya dari hati. Sampai kapanpun aku tidak akan menerimamu. Cucuku hanya satu dan dia laki-laki bukan perempuan! Jadi bawa buah murahan ini pergi dan jangan menginjak rumah ini lagi! "

Ariana mengusap air matanya yang mulai jatuh dengan cepat. Rasa kaget pun terlihat jelas diwajah Keith. Ia tak menyangka neneknya bisa sekejam itu pada Ariana yang juga cucunya sendiri. Keith berusaha menghibur Ariana sampai perasaannya membaik.

" Kau lihat deretan bangunan disana?! Salah satunya adalah Luiga Cloth & Textile, toko tekstil yang cukup terkenal di kota ini. Sebelumnya itu adalah usaha milik keluarga ayah. Kakek dan nenekku hanya punya satu anak yaitu ayahku. Sejak kakek nenek meninggal toko itu diwariskan kepada ayahku. Sekarang ayah sudah tiada, kerabat dan saudara sepupu ayah masing-masing sudah memiliki usaha sendiri. Agar toko tidak terbengkalai maka nenek yang mengambil alih mengelolanya. " Ariana menjelaskan sambil menunjuk ke deretan bangunan pertokoan megah yang jauh didepan.

" Kau tahu apa yang paling menyedihkan?! Saat mereka mendengar nama Ariana Luiga, mereka berpikir ia hidup mewah sebagai satu-satunya pewaris  Luiga Cloth & Textile yang masih muda. Kenyataannya aku harus bekerja keras untuk menghidupi diriku sendiri. Peninggalan ayah dan ibu yang seharusnya menjadi hak ku sama sekali tidak pernah aku dapat. Kadang aku sangat malu ketika mengenalkan diri sebagai Ariana Luiga. Tapi aku selalu sadar siapa diriku, dibanyak kesempatan aku justru tidak memakai nama Luiga. Karna lebih mudah menjadi diri sendiri yang ada apanya dari pada berpura-pura demi sebuah nama yang tidak pernah dianggap ada. Oh ya aku baru tahu alasan mengapa nenek tua itu tidak merestui pernikahan ayahmu dan ibu. Ya, ayahmu dulu miskin. Ayahmu hanya seorang pegawai biasa yang kebetulan mendapat tugas kerja dikota ini. Sedangkan ayahku seorang pengusaha sukses yang menurut nenek mampu menjamin masa depan ibu. Satu lagi status sosial mereka setara. " Ariana bercerita dengan panjang lebar.

Mendengar semua kisah Ariana, Keith malah diam tidak tahu harus berkata apa. Sedikitnya ia membenarkan ucapan Ariana tentang ayahnya karna dari dulu ia memang tahu bagaimana kondisi ayahnya.

" Kau tidak perlu khawatir sekarang! Nenek pasti akan lebih baik padamu. Kau hanya sedikit kurang beruntung di awalnya saja. Kau akan mendapatkan lebih dari apa yang pernah hilang dulu. Aku yakin itu! " ujar Ariana. Ia sudah berjalan pergi.

" Apa maksudmu, Ariana? " tanya Keith.

" Sesuatu yang baik akan datang ku rasa. Nenek tua itu tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya. " jawab Ariana. Langkahnya sudah semakin jauh.

" Ariana... " Keith masih memanggil.

" Jangan pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja bersama bibi Amera. Aku mau pulang dulu! Jangan ikuti aku! Aku hanya ingin sendirian. " sahut Ariana terus berjalan tanpa menoleh.

Keith sedang menunggu diluar, tak lama kemudian pintu dibuka oleh Ciara; pelayan nenek yang masih muda.
" Apa nenek ada dirumah? " tanya Keith. Ciara membawa Keith menemui neneknya yang duduk diruang baca.

" Oh cucuku, Keith! Ada apa kau menemui nenek malam-malam? " tanya Ny. Martha dengan hangat.

" Aku hanya ingin bilang, tidak seharusnya nenek memperlakukan Ariana sampai seperti itu. " protes Keith langsung ke intinya.

" Jadi dia mengadu padamu!? " cemooh Ny. Martha.

" Tidak. Aku yang bertanya padanya. Nenek tidak melihat bagaimana sedihnya dia selama ini tidak dianggap ada oleh nenek. Apa nenek tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana perasaannya? " tanya Keith.

" Itu bukan urusanku! Aku tidak suka membuang waktu untuk hal sepele seperti itu. Kau seharusnya tidak terlalu mengurusi anak manja itu, ia hanya sedang mencari simpati darimu. " tukas Ny. Martha amat tak peduli.

" Mungkin nenek bisa anggap itu sepele. Tapi jika orang tua nya disurga melihat keadaannya sekarang, mereka pasti akan sangat sedih. Aku permisi! " pungkas Keith mengakhiri kata-katanya dan langsung berbalik pergi.
Ny. Martha hanya bisa diam saja menatap kepergian Keith.

****

Pagi ini Keith sudah mau berangkat bekerja. Baru saja keluar dari halaman rumahnya, sebuah mobil datang dan berhenti didepannya. Dari dalam mobil Ny. Martha keluar. Ia mendekati Keith.

" Keith, ikutlah sebentar dengan nenek! Nenek ingin bicara banyak denganmu! " pinta Ny. Martha dengan senyum lebar diwajahnya.

" Aku harus bekerja, nenek. " jawab Keith.

" Hanya sebentar saja! Nenek ingin tahu lebih banyak tentang dirimu. Masa kau tidak mau meluangkan waktu sebentar untuk nenek? " tanya Ny. Martha dengan wajah memelas.

Keith agak tak tega mendengar Ny. Martha berkata begitu. Dengan terpaksa ia masuk ke mobil bersama Ny. Martha. Mobil melaju pergi. Namun Ny. Martha justru tidak banyak bicara didalam mobil.

" Nenek bilang ingin bicara padaku. Sebenarnya apa yang ingin nenek bicarakan? " tanya Keith. Ia mulai merasa tak nyaman.

" Nenek ingin membawamu ke suatu tempat. Nanti kau akan tahu! " jawab Ny. Martha.

" Tapi aku akan terlambat bekerja nenek! " ujar Keith.

" Lupakan pekerjaanmu sebentar, Keith! Bolos sehari juga tidak akan merugikanmu dibanding apa yang akan nenek tunjukkan padamu! Lagi pula pekerjaanmu itu tidak akan membuatmu jadi kaya! " tuntut Ny. Martha agak ngotot.

Keith agak tersinggung dengan ucapan neneknya itu. Namun ia memilih diam tak ingin berdebat lebih banyak. Mobil akhirnya berhenti didepan sebuah bangunan pertokoan megah. Ny. Martha mengajak Keith keluar. Tulisan Luiga Cloth & Textile terpampang besar diatasnya. Ny. Martha menggandeng Keith memasuki toko tersebut.
Suasana didalam toko yang besar itu sangat nyaman. Meski begitu banyak jenis kain, namun semua tersusun rapi pada tempatnya. Semua karyawannya juga berpenampilan rapi. Beberapa karyawan toko menyapa dengan sopan. Ny. Martha berhenti di tengah ruangan kemudian memanggil para karyawannya untuk berkumpul.

" Aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian. Ini Keith, cucu ku yang baru kembali setelah terpisah lama denganku. Aku juga ingin sampaikan pada kalian semua, kelak cucu ku inilah yang nantinya akan menjadi penerus Luiga Cloth & Textile! " Ny. Martha membuat pengumuman yang membuat Keith terkejut. Semua karyawan bertepuk tangan menyambut dengan senang.

" Apa? Nenek... Tolong semuanya tenang! " teriak Keith. Tepuk tangan itu berhenti.
" Nenek, aku tidak mengerti dengan semua ini! Aku tidak tahu apa yang nenek pikirkan. Aku sama sekali tidak memiliki hak atas usaha ini. Luiga Cloth & Textile adalah milik Ariana! Dia-lah penerus sebenarnya! " ungkap Keith dengan serius. Para karyawan yang masih berdiri disana berbisik-bisik. Ny. Martha mengibaskan tangan pada mereka menyuruh mereka semua bubar.

" Omong kosong! Anak perempuan seperti dia sama sekali tidak memiliki kemampuan apa-apa. Saat ini nenek yang memiliki wewenang untuk menyerahkan usaha ini padamu! Lihat semua yang ada disini! Kau tidak perlu lagi bersusah payah bekerja dengan orang lain dengan penghasilan yang tak seberapa. Kau akan memiliki Luiga Cloth & Textile! " ujar Ny. Martha dengan entengnya.

" Nenek tidak pernah memberinya kesempatan, bagaimana dia bisa membuktikannya. Dan... Satu lagi, penghasilanku memang tak akan membuatku kaya, tapi itu lebih dari cukup untuk mengenyangkan perutku dan membeli semua kebutuhanku. Untuk apa semua ini? Untuk apa aku harus menjadi kaya kalau aku kehilangan hati? " balas Keith kemudian pergi begitu saja dari hadapan neneknya.
Ny. Martha masih mematung disana dengan tatapan sembunyi-sembunyi dari para karyawan. Ia melangkah masuk ke ruangannya dengan kesal. Tidak pernah ia ditolak didepan karyawannya.
Sedangkan Keith berjalan sendiri kembali ke toko bunga Edelweis. Ia sudah melewatkan setengah hari kerjanya. Tidak tahu apakah Edeline akan memarahinya. Awalnya supir Ny. Martha menawarkan tumpangan tapi ia menolak.
----#----

Aku sedang membantu Ronan menyelesaikan pesanan bunga meja.

" Ronan, apa kau tahu kenapa Keith tidak masuk? " tanyaku.

" Tidak, kakak. Kemarin dia tidak mengatakan apa-apa padaku. " jawab Ronan.

Hari sudah siang dan Keith belum datang. Ia tidak pernah tak masuk tanpa kabar. Aku hanya beranggapan mungkin ia sedang sakit. Karna tak menemukan alasan lain yang jadi penyebab ia tak kerja hari ini. Mungkin aku bisa menjenguknya sore nanti. Ya, Jikalau sakit kepala ku ini tidak semenyiksa seperti sekarang. Semua terlihat seperti sedang berputar-putar. Sudah dua malam ini tak bisa tidur. Nafsu makan juga langsung hilang.

" Kakak Edeline, wajahmu nampak pucat. Apa kau baik-baik saja? " tanya Ronan yang terus memperhatikanku.

" Aku baik-baik saja, Ronan! Aku pikir hari ini tidak usah menerima pesanan dulu. Akan repot jika kau harus mengerjakannya dan mengantar sendiri. Untungnya ini pesanan dari toko depan jadi kau tidak perlu jauh-jauh mengantarnya. " jawabku.

" Hem.. baik. Kakak Edeline, kau belum makan siang kan?! Sebaiknya kakak makan dulu ini biar aku yang kerjakan, lagipula tinggal sedikit. " ujar Ronan.

" Ya, aku serahkan padamu! " balasku. Kepalaku sudah semakin berat rasanya. Aku pikir setelah makan siang bisa langsung minum obat. Berharap sakitnya hilang tapi baru saja berdiri semuanya jadi nampak gelap. Dan tiba-tiba aku tak tahu apa yang terjadi lagi hanya samar-samar terdengar suara Ronan memanggilku.

-----#----
Dengan nafas terengah-engah Keith akhirnya sampai ditoko bunga Edelweis. Namun ia merasa heran toko sedang tutup. Ia memeriksa jam tangannya, baru pukul 1 lewat. Kemana Edeline, pikirnya. Ia celingak-celinguk menatap kesana-kemari. Tak sengaja ia melihat Ronan baru keluar dari toko bakery didepan. Keith langsung menghampirinya.

" Kakak Keith... Kau kemana saja? " tanya Ronan. Keith berhenti didepannya sambil mengatur nafas.

" Kenapa toko bunga tutup? Apa Edeline pergi lagi? " tanya Keith.

" Kakak Edeline... Ia baru saja dibawa kerumah sakit! " jawab Ronan pelan.

" Apa?? Kenapa? Edeline kenapa? " tanya Keith langsung.

" Ia tiba-tiba pingsan. " jawab Ronan sambil menceritakan kejadiannya.

Setelah mendapat info dari Ronan, Keith langsung menyusul ke rumah sakit bersama Ronan yang juga ingin kesana.
Di rumah sakit sudah ada Celine dan mamanya. Celine berada diruang tunggu sambil menelepon sedangkan mamanya ada diruangan dokter. Tak lama kemudian Edeline yang masih belum sadarkan diri dipindahkan ke ruang pasien oleh dokter dan perawat. Celine dan mama nya mengikuti. Mama Edeline agak lega mendengar hasil pemeriksaan dari dokter.
Keith dan Ronan akhirnya tiba. Keith yang sangat cemas langsung bertanya pada Celine yang kebetulan berada didepan kamar Edeline. Mama Edeline keluar dari kamar pasien begitu mendengar suara ribut didepan.

" Tidak apa-apa, Keith. Kata dokter Edeline hanya kecapekan dan kurang tidur. Setelah banyak istirahat ia akan kembali pulih. " jelas mama Edeline.

" Bolehkah aku melihatnya didalam, nyonya Willen? " tanya Keith setengah memohon.

" Ya, masuklah! " jawab mama Edeline.

bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar