Senin, 05 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.3) by Elisabeth

Mama telah menunggu kepulanganku dan Celine. Libelle langsung memeluk Celine dengan penuh rindu. Hans juga datang setelah tutup toko. Usai menghabiskan waktu makan malam bersama. Kami semua berkumpul berbagi cerita liburanku dengan Celine hingga malam.
Celine sudah pulang bersama Libelle dan Hans. Aku masuk ke dalam kamar. Pakaianku masih belum ku keluarkan dari koper. Aku mengambil kotak burgundy yang selalu tersimpan dibawah tempat tidur. Ku buka kotak tersebut, gelang macrame kulit itu ada didalamnya bersama beberapa amplop surat dan diary yang terkunci. Surat yang ditulis Ray tadi ku masukkan juga ke kotak itu. Hanya ini yang tersisa dari Ray. Aku tutup kembali kotak burgundy tersebut. Kemudian membawanya ke atas loteng penyimpanan barang. Di sudut loteng ada sebuah kotak kayu besar. Kotak itu berisi semua barang masa kecilku. Aku menyebutnya kotak masa lalu. Ku letakkan kotak burgundy itu kedalamnya. Karna sekarang Ray adalah bagian dari masa lalu. Kemudian menutup kembali kotak masa lalu itu. Suatu hari entah kapan mungkin aku akan kembali untuk mengenangnya.

****

Kembali pada rutinis harian. Aku datang ke toko lebih awal. Hanya beberapa hari ku tinggal tapi rasanya sudah lama sekali. Keadaan dalam toko bunga tetap rapi seperti biasanya. Semerbak aroma bunga segar langsung merasuk penciuman. Aku berjalan ke sudut jendela. Tanaman kaktus dalam pot-pot kecil tumbuh dengan subur. Aku berjalan ke mejaku. Bunga layu yang selalu Keith taruh didalam vas mulai menguning. Aku mengambilnya. Membuang bunga lama dan mengambil beberapa tangkai bunga baru. Iseng-iseng aku coba merangkainya. Merangkai bunga meja memang bukan keahlianku. Hasilnya sangat berantakan. Keith datang.

" Edeline! " seru Keith begitu melihatku.

Aku beralih menatapnya, wajah Keith berseri-seri dengan senyum ceria yang selalu menghiasi.
" Kenapa? Kau merindukanku? " tanyaku dengan percaya diri.

" Mmm... Rasanya sepi sekali kalau kau tak ada disini. " ujar Keith dengan malu-malu. Ia melihat hasil bunga yang ku rangkai sambil menahan tawa.

" Kau mau menertawakan hasil karyaku? Aku memang tidak pandai merangkai bunga tapi kalau aku terus belajar juga pasti hasilnya tak akan kalah darimu. " kataku agak cemberut.

" Ya kau benar. Sini ku ajari. " ujar Keith.

Ia memperbaiki rangkaian bunga meja ku sambil memberitahukan bagaimana seharusnya letak tiap tangkai bunga itu serta ukuran dan komposisi bunga nya.
" Bagaimana liburanmu? " tanya Keith.

" Menyenangkan. " jawabku.

" Syukurlah. Jadi aku tidak akan mendapatimu sedang tertawa sendiri lagi. " ejek Keith sambil tertawa. Aku memukulnya dengan sisa ranting bunga.

Siang ini cukup ramai pembeli. Mereka yang memesan bunga rangkai sampai harus antri menunggu Keith menyelesaikannya satu per satu. Aku hanya bisa membungkus buket untuk satu jenis bunga saja. Aku pikir aku harus mulai belajar dari Keith.
Hari mulai sore toko kembali sepi. Tak disangka Ariana datang. Lebih awal dari waktu biasanya.

" Hi.. Keith, Hi Edeline! " sapa Ariana.

" Hi... " jawabku dan Keith berbarengan.

" Tumben kau datang lebih cepat! Biasanya toko sudah hampir tutup. " kataku pada Ariana.

" Iya, pekerjaanku lebih cepat selesai jadi aku bisa datang lebih cepat. " jawab Ariana. Ia kemudian beralih ke Keith.

" Keith, yang seperti biasa ya! " katanya.

" Oke! " jawab Keith dan mulai bekerja.

Ariana sesekali menunjuk untuk memberi tahu Keith. Aku perhatikan mereka dari mejaku. Ariana terus menatap wajah Keith yang sedang serius merangkai bunga. Senyum di bibir Ariana tak pernah hilang saat berhadapan dengan Keith. Aku bisa menyimpulkan satu kemungkinan.
Keith memberikan bunga yang sudah selesai terbungkus pada Ariana. Keith menunjuk ke arahku mengisyaratkan Ariana untuk bayar denganku saja. Tapi Ariana nampaknya masih enggan beranjak dari hadapan Keith.

" Apa aku boleh menunggumu disini? " tanya Ariana.

" Menunggu untuk apa? " Keith balik bertanya.

" Pulang bersama! " jawab Ariana dengan senyum manis mengembang.

" Bukankah kau mau ke kuil? " tanya Keith.
Ariana mengangguk.

" Kita bisa pergi bersama! Aku terbiasa pergi denganmu. Rasanya jadi ada yang kurang kalau aku kesana sendiri. " jawab Ariana dengan wajah memohon.

Keith mengangkat sebelah alisnya. Ia memeriksa jam tangannya sebentar.
" Tidak apa kalau menunggu sejam lagi? " tanya Keith.

" Tidak apa-apa. " jawab Ariana.

" Ya sudah. " kata Keith. Ia tak berani menatap Ariana yang tersenyum padanya. Ia mulai merasa ada yang aneh dengan gadis itu.

Aku masih terus memperhatikan mereka. Sesekali menahan tawa dengan menyembunyikan wajahku dibalik majalah. Berpura-pura sedang membaca. Perasaan Ariana memang sangat jelas terlihat. Entah apa Keith menyadarinya atau tidak. Ia pun tak segan-segan membantu Keith saat ada pelanggan yang datang. Atau saat Keith sibuk dengan pekerjaannya.
Masih ada lima belas menit lebih waktu untuk tutup toko. Aku tak mau menunggu, karna pasti tak ada yang datang lagi. Aku menyuruh Keith berkemas. Keith agak heran aku tutup cepat tapi ia tak bertanya. Toko tutup Keith pergi bersama Ariana. Aku pulang sendiri, tidak kerumah tapi ke rumah Celine. Sudah lama tidak main ke rumahnya.

----#----
Langit sudah gelap. Matahari baru saja pulang ke tempatnya. Keith dan Ariana baru selesai dari kuil. Mereka berjalan pulang. Keith tidak banyak bicara. Ariana berjalan di sampingnya sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.
" Ariana.. " panggil Keith. Ia tak tahu bagaimana mengatakannya dengan halus.

" Hemm.. " jawab Ariana dengan gumaman.

" Aku hanya ingin bilang mungkin lain hari aku tidak bisa menemanimu ke kuil lagi. Maksudku, toko sudah mulai ramai dan pekerjaan pun lebih banyak. Aku tak tega menolak ajakanmu. " tutur Keith dengan hati-hati. Meski itu bukan alasan sebenarnya.

" Tidak apa-apa. Seharusnya kau mengatakannya kalau tidak bisa, Keith. " balas Ariana dengan pengertian.

" Aku merasa tak enak, juga kasihan melihatmu pergi sendiri. " ujar Keith.

" Kau tak harus merasa tak enak. Aku yang mestinya minta maaf karna suka merepotkanmu. " tutur Ariana tetap dengan senyumnya.

" Keith, dulu kau pernah bilang kau menyukai seseorang. Apa aku boleh tahu siapa orangnya? " tanya Ariana tiba-tiba.

Keith agak heran kenapa Ariana tiba-tiba membahas hal itu. Keith menggeleng pelan.

" Kalau begitu bolehkah berikan aku sedikit petunjuk? " tanya Ariana dengan tatapan memohon. Keith tak bisa mengelak dengan tatapan Ariana yang seperti itu.

" Dia..... Agak berbeda. Aku melihatnya setiap hari, bertemu dengannya setiap hari. Tapi aku tak pernah bisa menebak apa yang dipikirkannya. Kadang ia begitu serius, kadang wajahnya terlihat muram, kadang ia juga tersenyum. Ia selalu terlihat kuat padahal sebenarnya ia menyembunyikan kelemahannya. " Keith menjelaskan sambil membayangkan seseorang.

" Apa yang membuatmu menyukainya? " tanya Ariana.

" Kalau kau bertanya seperti itu, terus terang aku tidak tahu kenapa. Tapi yang aku tahu dia orang yang tegar namun hatinya lembut. Ia seperti bunga Edelweis yang selalu mekar. Setiap orang bisa melihat keindahannya tapi tak semua orang bisa memetiknya. Bagiku ia sangat istimewa. " terang Keith terkagum sendiri.

" Oohh... " Ariana hanya menggumam.

" Apa kita masih bisa berteman? " tanya Ariana pelan.
Keith lagi-lagi merasa heran.

" Bukankah kita memang berteman?! " sahutnya.

" Oh ya, kau benar! Aduh, kenapa aku jadi linglung begini?! " kata Ariana sambil menepuk kepalanya dengan pelan.

Keith tertawa.
" Kau ini sangat lucu! " pujinya pada Ariana. Ariana ikut tertawa meskipun dalam hatinya tersimpan kekecewaan.
" Ariana, bagiku kau seperti seorang adik. Kita menjalani hidup sendiri, tidak memiliki saudara kandung untuk berbagi. Kalau kau mau kita bisa jadi saudara angkat. Aku juga ingin jadi kakakmu! Kau mau tidak jadi adikku? " Keith mengusulkan.

" Hah?? " Ariana agak kaget.

" Memang dari awal aku sudah menganggapmu seperti adikku. Sikapmu yang lucu kadang membuatku gemas. " kata Keith dengan geram.

Ariana tertawa dengan aneh. Ia merasa ini memang agak lucu. Tapi ia juga setuju. Setidaknya kekecewaan dihatinya sedikit terobati.
" Yah baiklah kalau itu mau mu. Jadi mulai sekarang aku harus memanggilmu kakak?! " goda Ariana.

" Tidak usah, panggil namaku saja! " sahut Keith sambil tersenyum. Ariana masih tertawa. Tak menyangka akhirnya justru malah seperti ini.

****

Aku sedang mencoba merangkai bunga meja sendiri. Baru setengah jadi. Sudah kelihatan hasilnya tidak seberantakan kemarin. Keith datang.

" Wah sudah lumayan. " pujinya begitu melihat hasil karyaku.

" Terima kasih. Tapi baru lumayan masih jauh dari sempurna kan?! " tanyaku.

" Tidak perlu memaksakan diri. Pelan-pelan saja. Nanti juga akan jadi sempurna. " jawab Keith. Ia mulai sibuk menyiram bunga.

" Bagaimana kencanmu kemarin? " ejekku.

" Aku tidak berkencan. Hanya ke kuil. " jawab Keith biasa saja.

" Benarkah? Tapi sepertinya Ariana tertarik padamu! " kataku lagi.
Keith menaruh penyiramnya dan menghampiriku.

" Ariana hanya seorang adik bagiku. Dia tidak mungkin tertarik padaku karna dia tahu aku menyukai seseorang. " jelas Keith dengan serius.

" Sayang sekali, Ariana pasti kecewa. Padahal jelas sekali terlihat kalau dia memang menyukaimu. " ujarku sambil menoleh pada Keith.

Wajah Keith terlihat serius menatapku. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, kembali sibuk dengan bunga rangkaiku. Keith menyengir.

" Dia tidak akan menyukaiku, karna aku kakak angkatnya. " timpal Keith sambil berlalu pergi.

Aku diam menatap punggung Keith yang menjauh. Sebenarnya aku tidak percaya, karna aku sangat yakin kalau Ariana memang tertarik padanya. Tapi jika Keith sudah berkata begitu ya sudahlah. Itu urusan mereka. Aku juga tidak terlalu tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Aku kembali sibuk menempatkan bunga terakhir. Namun kurang hati-hati sehingga tanganku tergores duri.

" Auwwshh... " aku menjerit kesakitan.

Keith lalu mendekat dengan cepat.
" Kenapa? " tanyanya.

" Tidak apa-apa hanya tergores duri sedikit. " jawabku.

Keith mengambil tanganku melihat luka gores di jari yang sedikit berdarah. Dia mengambil plester dari saku celananya kemudian menempelkannya di jariku.

" Terima kasih. " ucapku.

" Lain kali hati-hati. Untuk bunga berduri seperti mawar sebaiknya durinya dihilangkan dulu sebelum dibuat buket atau bunga meja. Selain tidak melukai tangan kita juga akan lebih aman bagi pelanggan. " Keith mengingatkan dengan pelan.

" Aku akan ingat. " sahutku.

" Sini sisanya biar aku saja. " Keith akhirnya mengambil alih menyelesaikan bunga meja itu.

Pelanggan mulai berdatangan ketika siang hingga sore. Memasuki akhir pekan sepertinya lebih ramai. Keith harus kembali kewalahan. Tapi ia tidak pernah mengeluh lelah. Ia selalu tersenyum sambil bercanda dengan para pelanggan. Waktu toko mau tutup pun masih menerima satu pesanan dari pelanggan yang menelepon. Keith harus mengerjakan pesanan terakhir. Buket mawar ukuran besar ini spesial dan pelanggan ingin kami mengantarnya ke alamat seseorang. Meski harus kerja lembur Keith tak mengeluh. Semangat kerjanya sungguh luar biasa. Ia benar-benar pegawai yang royal.
Setelah buket mawar ukuran besar itu selesai, kami langsung mengantarkannya ke alamat yang tertuju. Tanpa terasa hari sudah mulai senja. Aku dan Keith berjalan pulang.

" Seharusnya kau memasang tempat duduk dibelakang sepedamu supaya bisa membawaku. Aku lelah sekali! " keluhku pada Keith.

" Kan tadi aku menyuruhmu pulang lebih dulu. Kau saja yang tak mau! " balas Keith.

" Aku kasihan padamu karna kau terlihat begitu kerepotan dengan buket besar itu! " balasku tak mau kalah.

" Ya sudah kita istirahat dulu saja didepan sana. " usul Keith saat melihat ada sebuah kedai minum didepan.

Aku dan Keith duduk beberapa saat sambil menikmati minuman hangat. Kemudian aku mengajaknya jalan kembali.
" Ayo, tenagaku sudah kembali! " seruku lebih semangat.

" Yaya.. " jawab Keith.

" Kau mau menemaniku ke suatu tempat? " tanyaku.

" Kemana? " Keith balik tanya.

" Ikut saja. Nanti juga tahu. " jawabku merahasiakan.

Keith terus mengikuti langkahku tanpa banyak bertanya. Saat aku mengambil arah menuju teluk, Keith memelankan langkah kakinya.
" Kau yakin ingin kesana? " tanya Keith memastikan.

Aku mengangguk pasti.
" Kau ingin menemaniku kan?! " tanyaku.

" Ya. " jawab Keith agak ragu padaku.

Aku tersenyum dan kembali meneruskan langkah lebih pelan. Menyusuri sepanjang ruas jalan tepi teluk. Sampai ditengah jembatan, aku berhenti. Aku berdiri ditepi pagar menatap jauh ke teluk yang membentang. Lampu-lampu dari bangunan tinggi diseberang nampak kecil berkilau dari kejauhan. Memang pemandangan kota terlihat indah dari sini. Sama seperti kenangan yang masih berputar-putar dikepala.
Aku memejamkan mata meresapi hembusan angin lembut yang menerpa wajah. Kenangan itu masih bermain didalam pikiran, tapi aku tak menepisnya. Aku tak ingin berteriak seperti yang disuruh Celine. Aku hanya meluapkannya bersama tiap hembusan nafas yang ku keluarkan. Aku merasa lebih baik saat mataku terbuka dan melihat Keith sedang berdiri disampingku menatap dengan diam.

" Hampir setiap orang pernah mengalami masa terburuk dalam hidupnya. Kehilangan dan ditinggalkan. Kita harus menghadapi semua itu. Melupakan memang tidak mudah, tapi menghadapinya jauh lebih baik dari pada menghindar. Karna lari tidak akan pernah menyelesaikan apa-apa. " kataku mengingat ucapan Celine waktu itu. Aku lanjut berbicara,
" Aku tak ingin kesini karna tempat ini mengingatkanku pada banyak kenangan indah. Aku ingin melupakan semua kenangan itu. Tapi aku sadar itu takkan bisa bila hanya menghindari tempat ini. Apa yang pernah terjadi tidak mungkin terlupakan begitu saja, kecuali jika terserang amnesia. Maka dari itu aku harus menghadapinya sampai aku terbiasa. Sampai semua itu menjadi tawar di pikiranku. "
Aku menatap Keith disampingku yang mendengarkan ucapanku dengan serius.

" Aku mengerti, itu sebabnya kau marah waktu itu. Memang tidak mudah melupakan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita. Aku akan membantumu. Aku akan menemanimu kapanpun kau ingin kesini. Semakin sering kau datang akan semakin cepat kau terbiasa. Luka hatimu pasti akan segera sembuh. " ucap Keith sambil tersenyum.

" Keith, aku tidak pernah merasa terluka. Aku hanya merasa sedih. Ya, kadang merasa sedih. Namun setelah melihatnya sudah bahagia, aku sedikit merasa lega. Itu berarti harapanku berakhir. Memang salahku berharap terlalu banyak. Sekarang aku hanya perlu sedikit waktu untuk menata kembali hatiku. Untuk bisa menerima seseorang yang akan selalu membuatku tersenyum. " ungkapku dengan tatapan jauh ke depan.
Keith menarik nafas, ia hanya diam namun bibirnya tersenyum.

----#----
Minggu pertama diawal bulan. Toko bunga tutup dan Keith tak tahu harus melakukan apa. Ia tidak suka hanya tiduran dan diam dirumah. Pikirannya kembali ke ucapan Edeline semalam. Tiba-tiba ia teringat pada suatu tempat. Keith agak ragu namun kemudian ia pergi meninggalkan rumahnya.
Dengan transportasi kereta perjalanan menjadi lebih singkat, Keith akhirnya tiba didesa. Tidak banyak yang berubah dari desa kelahirannya. Keith masih agak ragu. Cukup lama ia duduk sendiri dipadang tempat bermainnya dulu, dengan pikiran yang berkecambuk dikepalanya. Akhirnya dengan sebuah keberanian ia kembali melangkah.
Langkah kaki Keith berhenti didepan sebuah rumah kayu tua yang kurang terawat. Pagarnya sedikit rusak bahkan kayunya sudah hilang dibeberapa bagian. Rumput bahkan tumbuh tinggi disekitar halaman. Keith agak terenyuh melihat kondisi rumah yang dulu pernah menjadi tempatnya pulang kini telah banyak berubah. Dengan pelan Keith melangkah memasuki halaman. Dengan perasaan campur aduk ia mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama pintu terbuka. Nampak seorang pria berusia 50an dengan rambut mulai memutih berdiri di ambang pintu. Menatap Keith dari kaki hingga atas kepala sambil mengingat. Dengan wajah kaget pria itu berteriak,
" Keith?! Benarkah ini kau, Keith?! "

" Iya, ayah. " jawab Keith pelan.
Pria yang biasa dipanggil Henoch itu langsung memeluk Keith dengan erat penuh rindu.

" Keith... Oh Akhirnya kau pulang, nak! Maafkan ayah, nak! Maafkan ayah tidak bisa menjagamu dengan baik! " isak Henoch dengan penuh sesal sekaligus haru.

" Aku juga minta maaf, ayah! Aku tidak berbakti pada ayah. " Keith berkata dengan lirih.

" Tidak, nak! Ayah yang salah. Ayah yang harusnya minta maaf padamu. Ayah senang akhirnya kau pulang. Ayo masuklah, nak! " ajak Henoch amat senang.

Ia membawa Keith masuk kedalam rumah. Mereka duduk diruang tamu. Keith agak tenang melihat kondisi didalam rumah masih lebih baik dan terawat daripada dibagian luarnya tadi.
" Semenjak kau pergi ayah mulai sadar dan menyesali semua kesalahan ayah. Ayah pikir kau tidak akan pulang lagi. Ayah ingin mencarimu tapi ayah tidak tahu harus kemana. Ayah terus berdoa dan berharap suatu hari kau pulang kerumah ini lagi. Ayah sangat bahagia akhirnya dapat melihatmu dengan keadaan yang sangat baik. " ungkap Henoch dengan wajah berseri-seri.

" Apakah ayah baik-baik saja? Kenapa kondisi diluar rumah jadi tak terawat seperti itu? Dan....kemana istri ayah maksudku bibi? " tanya Keith pelan dan hati-hati.

" Ayah mengusir wanita itu sejak kau pergi dari rumah ini. Ayah menyesal, dia bukan wanita yang baik. Tidak masalah rumah ini begitu tak terawat asal masih layak. Lagi pula ayah hanya tinggal sendiri. " jawab Henoch santai.
Sekian lama tak bertemu muka, Keith dan Henoch saling berbagi cerita tentang banyak hal. Henoch juga banyak menanyakan kehidupan Keith dikota.

" Apa kau pernah bertemu ibumu? Ayah dengar dia berada dikota yang sama denganmu! " tanya Henoch.

" Tidak. Aku bahkan sudah lupa wajahnya. " jawab Keith.
Henoch mengerti. Vanesa, Ibu Keith; pergi saat Keith baru berusia lima tahun. Henoch berdiri, berjalan dengan pelan ke sebuah meja tua. Ia membuka laci meja itu kemudian mencari sesuatu. Ia kembali duduk ditempatnya dengan nafas berat.
" Hanya foto ini yang tersisa. Dulu ayah tak sengaja menemukannya dikamarmu. " kata Henoch sambil memberikan selembar foto lama padanya.

Keith menerimanya dengan hati bergetar. Ia memperhatikan foto lama tersebut.

" Foto itu di ambil dihari ulang tahunmu yang pertama. Lihat dirimu saat bayi lucu sekali bukan!? " ujar Henoch sambil menunjuk bayi yang digendong seorang wanita cantik berambut pendek.

" Kenapa tidak ada ayah disini? " tanya Keith karna foto itu hanya dirinya dan ibunya.

" Foto bersama ayah sudah tidak ada. Semua foto bersama ibumu telah dibakar oleh wanita itu. Hanya ini yang tersisa. Meskipun ayah dan ibumu berpisah dengan cara yang tidak baik, tapi ayah sama sekali tidak pernah menyentuh barang yang ditinggalkan ibumu. Ayah benar-benar menyesal, nak! " ungkap Henoch sambil mengenang.

" Sudahlah ayah. Itu sudah masa lalu. Yang penting sekarang aku sudah kembali. Aku sudah memaafkan semuanya. Kita bisa kembali memulai kehidupan baru lagi. " papar Keith dengan tulus.

" Terima kasih, nak! Kau memang anak yang baik! " balas Henoch.

" Ayah, aku ingin ayah pindah ke kota dan tinggal bersamaku! Ayah mau kan? " tanya Keith berharap.

Perasaan Henoch begitu terharu mendengarnya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca ia berkata,
" Keith, selama ini ayah tidak pernah memberikan kehidupan yang layak untukmu. Melihatmu kembali, tumbuh dewasa dan hidup dengan baik seperti sekarang saja ayah sudah sangat bahagia sekali. Ayah tidak mau merepotkanmu, nak! Biarlah ayah yang tua ini habiskan waktu dirumah yang penuh kenangan ini. Meski kenangan itu hanya sebentar, setidaknya dirumah inilah ayah bisa mengingat bagaimana Keith kecil ayah lahir, belajar berbicara dan memanggil ayah. Ayah tidak bisa meninggalkan rumah ini,nak! "

" Aku mengerti. Aku juga tidak akan memaksa ayah. Tapi aku minta ayah untuk selalu menjaga kesehatan. Aku pasti akan lebih sering datang melihat ayah. " Keith berjanji.

Henoch mengangguk, tersenyum dengan bangga. Seharian ini Keith berada dirumah masa kecilnya. Ia mencari kayu, memperbaiki pagar, memotong rumput liar, dan membenahi apa yang rusak. Rumah itu pun nampak jauh lebih baik dari sebelumnya. Henoch juga menunjukkan kebun kecilnya dibelakang rumah. Keith melihat tomat yang ditanam Henoch sebentar lagi sudah bisa dipetik.

Siang itu Ariana hendak pergi ke toko bunga. Ternyata toko bunga sedang tutup. Ia berdiri sebentar didepan toko sambil berpikir. Kemudian ia pergi. Ia sampai di rumah Edeline. Namun Edeline tidak berada dirumah. Mama Edeline yang membukakan pintu. Ia berbasa-basi sebentar sambil menanyakan perihal toko tutup. Mama Edeline menjelaskan bahwa setiap hari minggu toko tidak buka. Ariana kemudian bertanya alamat rumah Keith. Mama Edeline pun memberitahunya.
Saat Ariana tiba dirumah Keith. Beberapa kali ia mengetuk pintu tapi ternyata Keith juga tidak ada dirumah. Ia pun pergi.

Malam itu dikamarnya, Keith berbaring sambil menatap foto lama dirinya bersama ibunya. Foto ibunya yang masih muda sedang menggendong dirinya yang baru berusia satu tahun. Di balik foto itu tertulis tanggal dan nama ibunya. Dengan foto itu ia mungkin bisa mencari ibunya. Namun ia tak yakin apakah masih bisa mengenali ibunya karna foto itu sudah sangat lama dan mungkin wajah ibunya telah berubah. Di tambah lagi ia tak tahu apakah ibunya masih ingat dirinya atau tidak. Semakin banyak keraguan dihati Keith. Ia menyimpan foto tersebut didalam dompetnya.
----#----

Semakin banyak pelanggan yang datang membeli bunga di awal bulan ini. Pesanan buket untuk pengantin pun menunggu untuk dikerjakan. Keith benar-benar mulai bekerja keras. Aku hanya menulis nota dan mengurus pembayaran. Selain itu juga membantu apa yang aku bisa. Aku tak mungkin membiarkan pegawai bekerja sendiri. Aku juga mulai berpikir untuk menambah pegawai baru jika terus mendapat banyak pesanan seperti ini.
Jam makan siang toko baru sepi. Aku membereskan barang yang berantakan sambil mengecek stok bunga. Aku kembali ke meja. Keith selalu menyiapkan teh hangat untukku.

" Minumlah dulu, nona! " ia mempersilahkan.

" Terima kasih. Kau juga harus sedikit merenggangkan otot pinggangmu dan melemaskan jari-jarimu. " balasku dengan sedikit bercanda.

Keith tertawa. Sebenarnya tangannya agak pegal setelah kemarin membenahi rumah ayahnya. Bahkan punggung tangan kanannya pun nampak terluka. Awalnya aku tak begitu memperhatikan, aku baru melihat lukanya ketika membantunya membuat pesanan buket.

" Tanganmu kenapa, Keith? " tanyaku.

" Tidak apa-apa hanya luka sedikit. Besok juga sembuh. " jawab Keith nampak cuek saja.

Aku menggeleng, luka itu cukup besar ku pikir mana mungkin sembuh secepat itu. Aku berjalan ke meja mengambil plester dan obat luka. Dan kembali ke tempat Keith.
" Sini tanganmu! " pintaku sambil mengulurkan tanganku.

" Untuk apa? Tidak apa-apa koq! " sahut Keith.

" Sudah sini! " paksaku.
Keith pun mengulurkan tangannya dengan pelan. Aku mulai membersihkan luka itu. Keith sedikit meringis. Aku menatapnya sambil tertawa kecil.

" Luka seperti ini mana mungkin besok bisa sembuh! Kau ini nakal juga ya! Baru sehari tidak memegang bunga sudah luka begini! " candaku.
Keith juga tertawa.

" Kan sudah ku bilang aku bosan kalau hanya diam tidak melakukan apa-apa. " jawabnya.

Aku selesai membalut lukanya. Aku baru akan melepaskan tanganku namun tangan Keith menahan tanganku untuk tidak menjauh. Aku diam menatapnya. Ia pun melepaskan tanganku.
" Terima kasih! " bisiknya. Aku hanya menyengir padanya.

****

Pagi ini toko baru saja dibuka. Aku menempelkan selebaran disamping pintu masuk. Keith baru saja tiba. Dia membaca tulisan di selebaran tersebut.

" Di butuhkan seorang pegawai. Usia minimal 20 tahun. Laki-laki/perempuan. Bisa kerja full time. "

" Hmmm... Aku akan punya teman baru?! " komentar Keith.

" Kau akan jadi guru untuk pegawai baru. Aku rasa mencari yang sudah berpengalaman dalam hal merangkai bunga itu akan sulit. Jadi kau harus persiapkan diri sebagai senior yang baik. " kataku sambil mengejek.

" Bukankah aku memang sudah melakukan tugasku sebagai senior? " singgungnya sambil menatapku.

" Oohh.. Ya.. Benar. Aku lupa! Tuan senior! " balasku dengan nada jengkel.
Aku masuk kembali ke dalam toko.

Keith tertawa kecil sambil mengikuti.
Tidak butuh waktu lama, siang itu juga ada seorang pemuda yang datang melamar. Aku langsung melakukan wawancara singkat. Pemuda bernama Ronan itu berusia 25 tahun. Dulunya ia pernah jadi pekerja part time disebuah toko bunga. Dengan sedikit pengalamannya di toko bunga Keith pasti lebih mudah mengajarinya. Aku pun langsung menerimanya. Namun Ronan baru akan mulai bekerja minggu depan, sesuai permintaannya. Sore harinya seusai tutup toko aku langsung melepaskan selebaran itu.

" Hei, Edeline mau ku antar pulang? " tanya Keith sambil menepuk tempat duduk baru di belakang sepedanya.

" Hmm.. Boleh juga! " jawabku. Aku lalu naik duduk dengan tenang dibelakang Keith.

" Pegangan ya! " pesan Keith.
Keith pun mulai mengayuh sepedanya dengan santai. Ini pertama kalinya aku dibonceng oleh Keith. Ban sepeda Keith berdecit, berhenti didepan rumahku.

" Besok mau ku jemput dengan sepeda tua ku? " Keith menawarkan sambil merendah, padahal sepeda cruiser nya termasuk model baru.

" Tidak, terima kasih! Aku perlu jalan kaki supaya kakiku tetap kuat. " tolakku.

" Baiklah! Aku pulang dulu ya! Sampai bertemu besok! " pamit Keith. Aku melambai.

Aku masuk kedalam rumah dan mama sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.

" Kenapa tidak iyakan saja tawaran Keith?! " tanya mama dengan tatapan menggoda.

" Iihh mama sejak kapan jadi suka menguping sih!? " balasku sambil berjalan lalu. Mama cuma tersenyum saja.

****

Aku sedang menatap kaktus-kaktus hias dalam pot kecil yang mulai berkuncup. Aku tak sabar menunggu bunganya mekar. Pasti akan cantik sekali. Keith masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku menghampirinya bermaksud membantu. Ku lihat punggung tangan Keith yang kemarin ku perban sudah terlepas dan lukanya masih merah.

" Keith, kenapa kau lepaskan perban ditanganmu itu! Lihat lukanya kan belum sembuh! " aku memarahinya.

" Perban itu sangat menggangu. Bahkan untuk mencuci saja tidak bisa. " Keith menjelaskan.

" Tapi tetap harus di obati. Kau pasti tidak memberikan obat kan?! " tebakku. Keith menggeleng.

Aku beranjak pergi mengambil kotak P3K. Kemudian meraih tangannya dengan paksa lalu ku oleskan obat. Keith masih meringis. Namun kali ini tidak ku balut perban, hanya ditempel plester luka. Aku memberikan beberapa buah plester baru untuk Keith sambil berpesan padanya.

" Ambil ini! Setiap kali plester itu basah terkena air kau harus menggantinya dengan plester yang baru. "

" Kenapa kau jadi perhatian padaku? " tiba-tiba Keith bertanya begitu. Aku pun jadi bingung.

" Eh.. Eeeee... Bukankah biasanya seperti itu. Ah sudahlah, jangan berkata yang aneh-aneh! " sanggahku sambil pergi. Keith nampak tersenyum senang dibalik punggungku.

Begitulah hari-hari berlalu. Keith tetap perhatian seperti biasanya. Meskipun sudah ada Ronan di toko, ia tetap tidak segan menunjukkan perhatiannya. Jika dulu aku bersikap tak peduli, sekarang aku lebih berani membalas perhatiannya. Dia juga lebih sering menemaniku pulang dan jalan-jalan di teluk.
Kembali pada Ronan. Pegawai baru ku itu termasuk orang yang cukup cepat belajar. Hanya seminggu Keith mengajarinya, dia sudah bisa menguasai beberapa teknik merangkai bungai. Keith pun sangat terbantu dengan adanya Ronan. Toko bunga tetap ramai didatangi pelanggan. Pesanan juga tetap berdatangan.
Tapi ada satu hal,  sejak sebulan terakhir ini Ariana tidak pernah datang lagi. Begitu ada kesempatan aku bertanya pada Keith,

" Tumben sekali, sudah sebulan lebih Ariana tidak datang. Apa kau pernah mengatakan sesuatu hal yang menyinggung perasaan Ariana? "
Jawab Keith,

" Aku rasa tidak pernah mengatakan kalimat yang kasar! Terakhir kalinya ia hanya bertanya apa ada orang yang ku suka! "

" Lalu kau bilang apa? " tanyaku.

" Ada. Dia bertanya apa dia boleh tahu siapa? Aku bilang tidak! " jawab Keith enteng.

Aku menepuk dahiku sendiri sambil geleng kepala.
" Keith, sudah ku bilang kan dia menyukaimu! Mungkin itu alasannya dia tidak datang kemari lagi. Karna tak mau mengganggu mu lagi! " aku menyimpulkan.

" Jangan bercanda. Aku kan sudah bilang aku hanya menganggapnya seperti adikku saja. Dia juga setuju aku jadi kakak angkatnya! " Keith membela diri.

" Ya ampun..... Dasar bodoh! Apa kau pikir dia akan berteriak langsung didepanmu kalau dia menyukaimu? " gerutuku.

" Edeline, aku tidak suka memberi harapan pada orang yang memang tidak ku sukai. Lebih baik berterus terang dari pada menggantungkan harapan yang tak jelas padanya. " tutur Keith terus terang.

" Edeline, sekarang aku ingin bertanya. Boleh? " tanya Keith.

" Apa? " jawabku.

" Apa ada orang yang kau....sukai? " tanya Keith.

Aku mengerutkan dahi melihat Keith yang menatapku dengan penuh arti.
" Kau lihat waktuku habis disini! Waktu pulang kerja pun aku masih di monopoli olehmu. Hari minggu aku hanya diam menemani mama dirumah. Kau pikir apa aku ada waktu untuk memikirkan siapa orang yang mungkin aku sukai? " aku bertanya pendapatnya.

Keith mengangkat bahunya.
" Aku tak bisa melihat hati, Edeline. Aku tak bisa menebak! Aku yakin ada seseorang dipikiranmu, meski mungkin hanya terlintas begitu saja. Aku hanya ingin tahu apakah seseorang itu berada dekat atau jauh dari pandangan matamu? " jawab Keith.

" Kau membuat pertanyaan bodoh! Bukankah kau tidak ingin orang lain menaruh harapan padamu?! Kalau begitu aku pun demikian! Aku juga tidak bisa menebak sama sepertimu! Jika yang aku cari ternyata ada didepan mata ku, aku juga tidak akan pernah tahu jika waktu tidak menunjukkannya dengan jelas padaku. " terangku.

Keith nampak tak puas dengan jawabanku. Namun ia nampak berpikir keras. Ia benar-benar tidak menyerah.

Sejak hari minggu diliburkan, aku selalu mendapati tangan Keith yang lecet atau terluka setiap kali ia masuk kerja. Aku selalu berusaha mengobati lukanya meskipun harus dengan cara paksa. Keith kadang kekanak-kanakan. Ia juga tidak mau beritahu penyebabnya. Ia malah senang saat aku mengomelinya.

Tiga bulan berlalu. Aku dan Keith masih tetap berteman seperti biasanya. Ronan juga sudah banyak kemajuan. Begitu pun toko bunga yang tak pernah sepi pelanggan lagi.
Suatu siang ada seorang pemuda yang datang. Ia ingin dibuatkan seikat bunga untuk seorang sahabat yang sangat berarti. Namun ia ingin aku yang memilih bunga dan mengikatnya. Jadinya aku memilih mawar kuning yang melambangkan persahabatan, suka cita dan juga kenangan. Aku juga menghiasnya dengan pita cantik. Setelah pemuda itu pergi aku merasa agak aneh. Sebelumnya tidak ada pelanggan yang meminta ku secara khusus mengerjakannya. Karna biasanya Keith atau Ronan yang melakukannya. Namun kedua pemuda itu juga sibuk jadi aku tak terlalu memikirkannya.
Sore itu ketika aku sedang mengunci pintu toko, seorang pemuda datang ke hadapanku. Ia mengacungkan seikat bunga mawar kuning yang tak asing ke depan wajahku. Bunga mawar yang tadi ku buat. Keith yang tengah menunggu ikut menatap bingung. Aku coba menatap ke wajah pemuda yang tertutup topi itu. Pemuda itu mengangkat topinya. Bibirnya mengembangkan sebuah senyum.

" Hai... " sapanya.
Aku kaget tak menyangka.

" Ray?! "

" Apa kabarmu? Ini untukmu! " kata Ray. Aku menerimanya meski bingung. Lalu ku suruh Keith pulang duluan.

" Bagaimana kau tahu?! Dan bunga ini.... " aku bertanya dengan bingung.

" Ya, aku memang sengaja memberikan bunga ini untukmu. Yang tadi datang membeli bunga ditoko mu itu adikku. Kalau tidak keberatan mau kah jalan sebentar denganku? " tanya Ray.

" Tentu. Kapan kau ke sini? Kau tidak membawa Joana? Kau sangat tidak sopan, pergi tanpa berpamitan padaku. " ujarku menyinggungnya.

Ray tertawa.
" Aku tidak suka mengatakan selamat tinggal. Maaf, tapi setidaknya aku menulis surat untukmu! " Ray membela diri. Ia melanjutkan,
" Aku datang bersama Joana dan istriku, Irena. Adikku yang tadi siang membeli bunga denganmu akan menikah jadi kami pulang. Ya, hanya acara keluarga. "

" Oh... " gumamku.

" Jadi kapan kau akan mengirimkan undanganmu? " tanya Ray basa-basi.

" Apa? " seruku.

Ray malah tertawa lebar.
" Apa kau mau jadi perawan tua? " ejek Ray.

Aku melotot padanya sambil mengacungkan bunga mawar itu. Ingin rasanya ku lempar ke wajahnya. Tangan Ray siap menangkis duluan.

" Enak saja! Siapa bilang aku jadi perawan tua? Aku hanya tak mau terburu-buru sepertimu! Jangan-jangan kau takut tidak laku ya?! Makanya buru-buru menikah! " balasku tak mau kalah.

" Aku hanya bercanda. Jangan marah! Bukannya takut tidak laku, hanya tidak menyia-nyiakan kesempatan. " Ray meralat ucapanku sambil tertawa terkikik.

Aku hanya diam manyun menatapnya. Tanpa diduga langkah kaki kami membawa kami sampai di teluk. Tempat yang penuh kenangan. Sambil terus melangkah menyusuri jembatan. Dan berhenti dipertengahan, tempat favorit kami. Berdiri ditepi sambil menatap langit sore.

" Tak terasa ya, waktu sudah berlalu! Banyak hal telah berubah, orang-orang juga berubah, tapi tempat ini tidak pernah berubah. Masih tetap seperti yang dulu. " papar Ray.

" Memangnya apa yang kau harapkan dari tempat ini? Ku pikir sepuluh tahun yang akan datang pun tempat ini akan tetap seperti ini. " balasku.

" Memang tidak ada yang bisa diharapkan kecuali datang untuk mengenang. " ujar Ray. Sontak aku menatapnya. Ia melanjutkan,

" Kenangan memang tidak memiliki akhir, ia hidup tapi juga mati. Kadang menyakitkan seperti duri, kadang begitu dirindukan. Terlepas dari semua itu, tetap saja kita harus memiliki harapan. Meninggalkan masa lalu bukan berarti membuang kenangan, karna setiap senja pasti menyisakan keindahan. Tak peduli berapa jauh aku sudah pergi. Selalu ada satu waktu dimana aku ingin sekali kembali kesini. "

Aku terdiam. Ray kemudian menatapku.
" Edeline, apa kau pernah menyesali pertemuan ini? " tanya Ray dengan serius.

" Aku tidak pernah berpikir begitu. Dulu aku memang tak ingin kesini karna tak ingin teringat. Tapi sekarang aku tidak punya alasan untuk lari lagi. Kau mungkin benar, seindah apapun kenangan itu tetap tak dapat mengalahkan indahnya langit senja dari tempat ini. " jawabku.

" Terkadang kau harus lebih fokus pada apa yang ada didepan matamu, bukan didalam kepalamu! " Ray menimpali sambil tersenyum lebar.

Aku ikut mengembangkan senyum diwajahku. Matahari yang hampir tenggelam membiaskan cahaya jingga di langit senja. Sekali lagi ucapan Ray membenarkan. Terlalu fokus pada yang semu sehingga melewatkan hal-hal yang begitu luar biasa yang jelas ada didepan mata.

****

Aku termenung didepan layar laptop yang menyala. Ini sudah hari sabtu, harusnya aku menyalin data kas mingguan kedalam tiap kolom yang tersusun dilayar laptop. Tapi mata terasa begitu berat. Tiba-tiba Keith datang dengan secangkir teh.

" Perlu kubuatkan kopi saja? " tanya Keith menawari.

Aku menggeleng. Lambungku sangat sensitif terhadap kafein kopi.
" Tidak, terima kasih. Ini saja! " jawabku sambil mengangkat cangkir teh. Seteguk teh Chamomille mungkin akan membuat tubuh lebih segar.
Keith duduk didepanku. Melihat buku yang terbuka diatas meja.

" Apa kau sedang tidak ada perkerjaan? " tanyaku.

" Tidak ada. Hanya satu pesanan buket kecil. Ronan sedang mengerjakannya! " jawab Keith sambil menunjuk Ronan di meja tengah.

" Kalau begitu kau bisa selesaikan ini untukku! Aku benar-benar mengantuk! " ujarku sembari memutar layar laptop menghadap Keith. Sekalian menjelaskan bagaimana ia harus mengisi kolom tersebut. Keith mengangguk-angguk lalu melakukannya. Sedangkan aku melipat tanganku ke atas meja sebagai penyandar kepala.

" Sepertinya kau berkencan sampai larut malam ya?! " ejek Keith.

" Jangan bicara sembarangan. Dia itu sudah berkeluarga dan punya anak. Kami hanya berteman. " jelasku.

" Oh pantas dia memberimu mawar kuning. Aku pikir dia salah membeli bunga ternyata tidak. Haha.. Itu berarti kalian memang sudah berteman lama! " ujar Keith.

" Ya cukup lama. Dia baru kembali dari luar kota setelah bertahun-tahun meninggalkan kota ini. " balasku dengan mata mulai terpejam. Aku tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. Biarkan itu tetap menjadi bagian dari kisah masa lalu.

Keith sedang menyelesaikan sebuah pesanan bunga meja yang akan di antar sore ini. Sementara Ronan membersihkan sampah dedauan dilantai. Aku sedang mengemasi barang di atas meja. Setelah meja rapi aku membawa cangkir teh yang kosong ke restroom. Saat hendak keluar berpapasan dengan Keith dipintu. Tanganku menahan dadanya sebab hampir bertabrakan.

" Sorry. " kataku. Langsung berlalu. Namun Keith menghentikan langkahku.

" Edeline.. Tunggu. "

" Ada apa? " tanyaku yang berdiri didepannya.

" Besok kau ada rencana? Maksudku apa kau ada kegiatan... kesibukan atau... "

Aku langsung menyela.
" Aku tidak kemana-mana dan tidak ada jadwal kegiatan alias kosong! Jadi ada perlu apa? "

" Oh aku ingin mengajakmu keluar. Ya, jika kau mau... " ujar Keith malu-malu.

" Oke. Besok kau jemput aku dirumah. Aku akan tunggu! " kataku pasti. Senyum Keith seketika mengembang.

Tiba-tiba dari pintu masuk terdengar suara keras terjatuh. Aku dan Keith berlari menghampiri. Ternyata disana Ariana dan Ronan sedang terduduk dilantai sama-sama memegang kening mereka. Sedangkan lantai berserakan sampah dan beberapa barang yang tercecer keluar dari tas Ariana.

" Kalian sedang apa? " tanyaku pura-pura bodoh. Tapi menahan tawa.

" Kami tak sengaja bertabrakan. Saat aku ingin keluar membuang sampah, nona ini masuk dengan cepat. " jawab Ronan.

" Ooohh.. " gumamku.

" Aduh.. Sakit! " rintih Ariana sambil memegang keningnya.

" Kau tidak apa-apa Ariana? " tanya Keith yang ikut membantunya berdiri.

" Tidak. " jawab Ariana.

" Maaf.. Aku benar-benar minta maaf ya nona! " ujar Ronan dengan sangat tak enak. Meskipun keningnya juga sakit.

" Tidak apa-apa. Aku juga yang ceroboh. " balas Ariana sambil tersenyum. Ia mulai memungut barangnya yang jatuh, Ronan juga membantu sambil terus saja meminta maaf.

" Sudah tidak apa-apa. Jangan meminta maaf terus. " ujar Ariana lebih keras.

Aku tak menghiraukan mereka lagi, aku kembali ke meja. Ariana sudah beranjak dari pintu masuk sedangkan Ronan membersihkan sisa sampah yang tersebar. Giliran Keith yang melayaninya.
" Aku ingin dua ikat Lily putih. Seperti biasa. " kata Ariana pada Keith.

Keith mengangguk dan langsung mengerjakannya.
" Untuk orang tuamu? " tanya Keith.

" Ya. Siapa pemuda tadi itu Keith? " jawab Ariana.

" Maksudmu Ronan?! Dia sudah beberapa bulan kerja disini. Ngomong-ngomong sudah lama kau tidak datang kesini, Ariana? " tanya Keith.

" Iya, hampir tidak ada waktu setelah pindah ke tempat kerja baru. Waktu itu aku datang tapi toko sedang tutup. " jawab Ariana.

" Mungkin kau datang di hari minggu. Sekarang toko memang tutup kalau hari minggu. " jelas Keith.

" Iya. Aku baru tahu. " ujar Ariana.

" Ini sudah selesai. " kata Keith sembari memberikan dua ikat Lily putih yang sudah terbungkus cantik.

" Terima kasih! " balas Ariana. Ia hendak menuju kasir namun Keith memanggilnya sebentar.

" Mmm.. Ariana.. "

" Ya? Kenapa Keith? " Ariana bertanya.

" Apa aku boleh ikut ke makam orang tuamu? " tanya Keith agak ragu.
Ariana tersenyum.

" Tentu saja. Aku bisa menunggu sampai toko tutup. " jawab Ariana. Ia kembali melangkah ke meja kasir untuk membayar.

Aku memberikan nota serta uang kembalian pada Ariana. Aku mendengar sedikit percakapan mereka tadi. Bukan berniat menguping namun memang terdengar sampai ke mejaku. Jam tutup masih 5 menit tapi aku tak menunggu. Aku memanggil Ronan dan Keith untuk pulang. Keith dan Ariana pergi lebih dulu.

" Sampai bertemu besok, Edeline! " kata Keith pelan saat ia lewat didepanku. Aku hanya tersenyum kecil.

" Kakak, siapa gadis itu? Apa ia pacar Keith? " tanya Ronan.

" Bukan. Keith bilang gadis itu seperti adik baginya. Apa kau tertarik padanya, Ron? " jawabku sambil meliriknya.

" Aahh.. Tidak. Aku hanya bertanya. Lagi pula mana mungkin gadis semanis itu suka padaku. " kata Ronan malu-malu.

" Kalau kau tidak coba mengenalinya lebih dekat, mana tahu?! " timpalku sambil berjalan pulang. Ronan masih mengikutiku padahal jalan pulang kami tak searah.

" Apa gadis itu akan datang lagi? " tanya Ronan.

" Dia pasti datang, tapi aku tidak tahu kapan. Dia pelanggan setia di toko kita. Jadi kau tak perlu cemas tidak bertemu dengannya lagi. Masih ada kesempatan asal kau beranikan diri. " jawabku yakin.

Ronan tersenyum lebar.
" Aku akan coba. Kakak.. Jangan bilang pada siapapun ya!? " pintanya.

" Ya! " jawabku. Ronan baru berbalik arah dan melangkah pergi dengan ceria. Aku hanya tersenyum sendiri. Ku lihat sekuntum bunga cinta sedang mekar dihati pemuda itu.

----#----
Ariana meletakkan Lily putih diatas makam ibu dan ayahnya. Sambil berlutut ia membersihkan kotoran dan debu yang menutupi foto ibunya.
" Ibu, bagaimana kabarmu disana? Beberapa bulan aku tidak datang foto mu sudah penuh dengan debu. Ibu, apa kau sedang melihatku? Hari ini aku datang bersama temanku. Dia sudah datang waktu itu tapi aku tidak mengenalkannya padamu. " Ariana berbicara didepan makam ibunya seolah ibunya berada disana.

Keith membungkuk didepan makam ibu Ariana. Saat matanya menangkap foto ibu Ariana dengan begitu jelas. Ia terdiam dan membungkuk lebih dekat. Ia memperhatikan dengan lebih jelas foto ibu Ariana. Wajah ibu Ariana mirip wajah seseorang. Nama ibu Ariana juga Vanesa Neil. Ia masih tidak yakin sebab tak tahu nama belakangnya.

" Ariana, maaf kalau aku boleh tahu. Kapan ibumu meninggal? " tanya Keith hati-hati takut menyinggung perasaan Ariana. Dilain sisi ia juga gundah.

" Sepuluh tahun yang lalu. Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? " jawab Ariana heran. Keith tidak bertanya saat pertama kemari.

" Aku hanya berpikir wajahnya mirip seseorang. Apakah mungkin? " Keith berkata sambil merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan selembar foto lama dan membandingkannya dengan foto dimakam ibu Ariana.

Ariana melihat foto itu namun tidak begitu jelas. Ia mengambilnya dari tangan Keith dan memperhatikan lebih dekat. Ia membelalakkan mata. Ia melihat tulisan tangan dibelakang foto. Kemudian menatap Keith.

" Keith?! Apa artinya ini? Ibu.... " Ariana bertanya dengan kaget.

" Apakah benar itu ibumu? " tanya Keith memastikan sekali lagi. Wajahnya memucat.

Ariana berdiri. Entah harus merasa bagaimana. Ia berjalan mondar-mandir dengan perasaan campur aduk. Lalu Keith yang sudah berdiri menunggu jawaban darinya menghentikan langkahnya.

" Aku tidak tahu. Ibu tidak pernah bilang apa-apa padaku! " seru Ariana. Ia sangat panik.

" Tolong katakan padaku, Ariana! Apakah wanita difoto ini juga adalah wanita yang terbaring dimakam ini? " tanya Keith setengah memohon.

" Apa yang harus aku katakan kalau aku sendiri tidak tahu? " Ariana balik bertanya. Ia berbalik menatap makam ibunya. Kemudian ia menarik tangan Keith, membawanya ke suatu tempat yang sudah lama tak pernah ia injakkan kaki.

bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar