Sabtu, 03 Juni 2017

Fiksi: Heart Blossoms (chap.1) by Elisabeth



Pertemuan terakhir, ketika langkah kaki itu berjalan meninggalkan sepasang mata yang diam menatapnya. Bibir yang terkatup rapat tak mampu berteriak ataupun berucap. Diam tapi hati enggan merelakan. Dia yang telah memilih jalannya sendiri. Dia yang mencintai kebebasan. Dia yang kemudian memutuskan pergi tanpa memberiku kesempatan.
Lima tahun yang berlalu bagai sekejap mata. Seuntai rindu yang tersisa masih sering datang dan mendorongku kembali kedalam mimpi yang sama. Terperangkap dalam buaian kenangan yang menggodaku untuk tetap berharap.


****



Ketukan bunyi pulpen di atas meja terdengar lantang di ruangan yang sepi. Rasanya amat membosankan bekerja ditoko yang semakin hari pembeli semakin sepi. Ditambah cuaca di luar yang begitu panas, siapa yang ingin keluar rumah hanya untuk membeli seikat bunga? Belum sampai dirumah mungkin bunga itu sudah layu. Begitulah pikiranku setiap hari.
Mula-mula perkenalkan, aku Edeline, 28 tahun. Sejak papa meninggal setahun yang lalu, aku-lah yang jadi penerus toko bunga "Edelweis" ini. Sementara kakakku satu-satunya, Celine; sudah menikah dan ia bersama suaminya mengelola toko mereka sendiri. Mamaku punya alergi serbuk sari bunga jadi ia tidak bisa berlama-lama diruangan tertutup penuh bunga seperti ini.
Ketika papa sakit usaha bunga segar kami ikut mengalami kesulitan. Beberapa pegawai toko mengundurkan diri karna penghasilan berkurang. Untungnya masih ada seorang pegawai toko papa yang masih setia mau bekerja disini. Namanya Keith. Pemuda ramah dan murah senyum yang lebih tua dua tahun dariku. Bagiku yang masih kurang pengalaman, Keith sangat membantu terutama dalam merawat bunga-bunga. Ku pikir Keith jugalah alasan kenapa mama tidak mau menutup usaha yang selama beberapa tahun terakhir ini tak mengalami kemajuan.
Secangkir teh hangat yang baru diseduh tersaji diatas mejaku. Aku menghentikan kegiatan 'ketuk pulpen' ku lalu menatap ke arah pemuda yang kini berdiri dengan senyum manisnya didepan mejaku.

" Kau memberiku minuman hangat disaat cuaca diluar sedang panas? " tanyaku terheran-heran.

" Aku tahu kau tidak tahan diruangan ber-ac dingin terlalu lama. Kau memakai kaos kaki disiang hari dan terkadang mengenakan cardigan meskipun cuaca diluar sangat panas! " jawab Keith dengan senyum lebar.
Aku melongo mendengar jawabannya. Dan berhenti bertanya lagi.

" Terima kasih. Kau sangat perhatian. " pujiku.

" Sama-sama! Katakan padaku kalau kau membutuhkan sesuatu! " pesan Keith. Ia berjalan ke sisi lain untuk merapikan bunga-bunga.

" Tidak ada. " sahutku.

" Kau terlihat sangat bosan! " ujar Keith lagi.

" Ya. Aku tidak mengerti kenapa mama tidak menutup saja toko bunga ini. Kau lihat sejak pagi tadi hingga sekarang belum ada satupun pembeli yang datang. " keluhku dengan wajah bosan.

" Kau harus lebih bersabar. Kita belum pernah mendapati satu hari kosong tanpa satu pun pembeli. Meskipun seharian tak ada yang datang, akhirnya selalu ada seorang pembeli yang datang saat toko hendak tutup. Iya kan?! " hibur Keith mengingatkan. Ia juga selalu memberi semangat.

" Ya kau benar. Tapi bukankah tetap saja rugi? Di lihat dari omset penjualan setiap bulannya dengan biaya bulanan yang harus dikeluarkan. " paparku sambil melihat jejeran angka-angka yang tersusun rapi di buku.
Keith lalu maju mendekat beberapa langkah.

" Edeline, apa mama mu pernah mempertanyakan untung rugi yang kau dapatkan tiap bulan sejak kau mengurus toko ini? " tanyanya dengan serius.

Aku menggelengkan kepala. Keith tersenyum.

" Berarti untung rugi bukan alasan utama mama mu tetap mempertahankan toko bunga ini. " lanjutnya.

" Apa kau bertahan disini juga karna satu alasan? " aku balik bertanya dengan iseng.

Keith diam sesaat. Lalu ia menjawab,
" Ya.. Dan mungkin juga tidak. "

Aku mengerutkan dahi tidak mengerti maksudnya. Lalu Keith menjelaskan.
" Anggap saja ini sebuah dedikasi ku pada mendiang papamu. " Ia tersenyum tapi aku diam menatapnya saja.


Toko bunga tutup jam empat sore setiap harinya. Lumayan setelah seharian menunggu dengan bosan masih ada dua orang yang datang membeli. Usai mengunci pintu, aku menatap ke atas papan nama besar dengan tulisan "Edelweis" yang menggantung di atas toko. Tulisannya pun hampir memudar.
" Abadi seperti Edelweis. " gumamku sambil berpikir.

Kring... Kring... Sepeda Keith berhenti tepat didepanku.
" Perlu tumpangan? " tanyanya menawari.

Aku melongo. Memperhatikan sepeda Cruiser-nya yang tak ada kursi penumpang. Bagaimana aku mau duduk?
" Ku rasa tidak, terima kasih. Aku mau mampir ke beberapa toko dulu. " tolakku halus.

" Mau ku temani? " tanya Keith lagi. Aku menggeleng.

" Ok, sampai bertemu besok! " pamit Keith lalu meluncur pergi. Aku pun melanjutkan langkah.


Aku masuk ke sebuah minimarket. Berjalan ke rak penyimpanan minuman, mengambil sebotol minuman isotonik kemudian berjalan ke rak penyimpanan makanan ringan. Saat sedang asyik memilih tiba-tiba seorang anak kecil yang berlari dari arah depan menabrakku. Gadis kecil yang berusia 3 tahunan itu terjatuh. Aku segera membantunya berdiri. Kemudian anak kecil lain yang lebih tua berlari datang. Pikirku mereka pasti sedang bermain kejar-kejaran.
" Kamu tidak apa-apa, adik kecil? " tanyaku sambil memeriksa lututnya kalau ada lecet.

" Tidak apa-apa, bibi. " jawab gadis kecil yang cantik itu.

" Jangan main kejar-kejaran lagi ya, bahaya kan kalau jatuh kemudian terluka. " pesanku.

Gadis kecil itu mengangguk lalu pergi dengan temannya. Aku menatap kepergian mereka. Sekilas aku merasa tidak asing dengan wajah gadis kecil itu.

Ketika aku sedang membayar di kasir aku melihat dua anak kecil tadi disamping pintu masuk sedang bergurau. Entah kenapa aku sangat suka gadis kecil yang menabrakku tadi. Setelah urusan pembayaranku selesai aku menghampiri kedua anak itu lalu menyodorkan kantong berisi dua buah es krim pada mereka. Kedua anak itu menerimanya dengan senang hati.

" Terima kasih bibi. " ucap kedua anak kecil itu.

" Sama-sama. Jangan lari-larian lagi ya! " pesanku kemudian berjalan pergi.


----#----
Seorang pria mendekati kedua anak kecil yang sedang asyik makan es krim.
" Joana, Mika, siapa yang memberikan kalian es krim? " tanya pria itu.
" Bibi yang tadi ditabrak Joana, paman Ray! Itu dia sudah pergi! " jawab Mika sambil menunjuk ke arah Edeline yang sudah sangat jauh. Pria itu hanya menatap sekilas. Dan tak ambil pusing.
" Ya sudah ayo pulang! " ajak pria itu.
----#----




Suara desiran ombak di pantai. Matahari yang hendak tenggelam membiaskan rona jingga kemerahan. Di tepian pantai ia berdiri. Wajahnya menatap lurus ke depan. Saat aku mendekat dia berbalik dan tersenyum. Mimpi itu kemudian buyar. Aku terbangun. Ku kucek-kucek mataku, jam disamping tempat tidurku baru menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku tak biasa bangun sepagi ini. Tapi aku sudah tak bisa tidur. Mimpi barusan membuatku terbawa perasaan.

" Dan akhirnya selalu seperti ini.. " gumamku sambil beranjak turun dari atas kasur empuk.

Hari ini aku siap lebih pagi dari biasanya. Aku sudah rapi dan sedang duduk manis menikmati secangkir teh hangat.

" Edeline, tumben sekali?! Tidak biasanya sudah rapi pagi begini. Apa ada kegiatan lain? " tanya mama. Ia ikut duduk di sampingku.

" Tidak ada. Aku hanya terbangun lebih pagi saja. " jawabku seadanya.

" Ooo.. Mama pikir kau punya rencana pergi ke suatu tempat. Tidak apa-apa sekali-kali kau perlu berlibur. Lagi pula toko bunga saat ini sangat sepi, Keith pasti bisa mengurusnya sendiri. " Mama mengusulkan.

" Ma, setahun terakhir ini toko bunga segar semakin sepi. Omset yang didapat tiap bulannya pun tidak cukup untuk menutupi belanja bulanan kita. Kenapa mama tidak menutup toko bunga itu saja? Aku bisa mencari pekerjaan lain dengan gaji lebih besar! " tanyaku pada mama. Hal ini memang agak mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.

" Edeline, mama bisa menutup toko itu kapan saja. Dan kau punya banyak peluang diterima bekerja dikantor-kantor ternama. Tapi pernahkah kau berpikir.... Bagaimana dengan nasib Keith?! Dia mungkin bisa bekerja ditempat lain, tapi mungkin tidak sebaik saat bekerja ditoko bunga dengan penghasilan seperti saat ini. " mama menjelaskan dengan pelan. Kemudian melanjutkan,
" Ingat, ketika dulu papa mu membuka toko itu. Begitu banyak pelanggan yang datang memesan dan membeli bunga tiap harinya. Berapa banyak keuntungan yang sudah papa mu peroleh tiap bulannya bahkan bertahun-tahun kemudian. Jadi untuk apa mengeluhkan toko yang sepi hari ini dan untung-rugi tiap bulannya? Bukankah kita sudah memperoleh lebih dari pada cukup sebelumnya?! Kita hanya perlu belajar mengelolanya dengan lebih bijak. Supaya kita tetap bisa menikmati hasilnya sampai hari ini tanpa perlu memperhitungkan untung-rugi. Kau mengerti kan maksud mama!? "

" Ya, aku mengerti. " jawabku pelan.

" Kau tak perlu mencemaskan apa-apa. Kita tak pernah kekurangan malah hidup lebih dari cukup. Dan lagi masih bisa membantu yang kekurangan. Hanya saja... " Mama tak meneruskan kalimatnya.

" Hanya saja apa, mama? " tanyaku.

" Edeline, kau sudah dewasa. Mama ingin melihatmu bahagia! " jawab Mama sambil mengelus rambutku.

" Aku sudah bahagia bersama mama. " jawabku dengan senyum.
Mama tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

" Mama tidak bisa bahagia kalau melihatmu terus sendiri. " Mama berkata sambil menahan senyum.

" Mama... Apa sih maksud mama?! Aku kan punya mama disampingku. " tanyaku pura-pura bodoh.

" Edeline sayang, saat Celine seusiamu ia sudah menjadi seorang mama. Apa kau tidak berpikir untuk memiliki keluarga kecil seperti dia? " tanya mama.

" Mama, aku tak ingin keluar dari rumah ini dan meninggalkan mama sendiri disini. " jawabku dengan wajah memelas.

" Kau bisa pulang kapan saja, sayang! Mama tidak akan merasa kesepian. Mama hanya ingin melihatmu bahagia! " kata Mama lembut.

" Aku sudah sangat bahagia, ma! Tolong jangan menyuruhku untuk segera menikah lagi! " pintaku.

Mama malah mengernyitkan kening.
" Loh kenapa? Masa kau tidak memiliki seseorang yang kau sukai atau calon mungkin?! Bukankah anak mama ini sangat cantik?! " goda mama.

" Bukan itu, ma. Aku belum bisa! " ujarku.

" Belum bisa bagaimana? Usiamu sudah 28 tahun sayang! Apa yang kau tunggu? Siapa? " tanya mama heran.

Aku mengangkat bahu lalu bangkit berdiri. Aku sangat tidak nyaman jika mama mulai membicarakan masalah ini meskipun aku tahu mama mungkin khawatir dengan usiaku.
" Aku pergi ke toko dulu, mama! Doakan semoga pembeli bertambah hari ini! " pamitku pada mama.


Toko bunga buka lebih awal karna aku datang cepat. Biasanya Keith selalu datang tepat waktu. Namun karna masih awal jadi aku hanya sendiri ditoko. Sambil menunggu pembeli aku menggantikan tugas Keith menyemprot bunga. Gemerincing lonceng pintu dibuka, Keith masuk.
" Edeline, kemarin tidak memberitahuku toko buka lebih awal!? " tanya Keith bingung. Sebagai pegawai ia juga merasa tak enak.

" Tidak apa-apa. Kebetulan saja hari ini aku bangun lebih pagi. Dari pada hanya diam saja dirumah lebih baik kesini. " jawabku.

" Oh, ku pikir kau akan lebih bosan disini. " ejek Keith. Ia mengambil alih penyemprot dari tanganku. Dan mulai sibuk.

Aku menarik nafas berat. Sambil berjalan ke meja ku.
" Ya hampir sama! " keluhku.

" Hush.. Masih terlalu pagi untuk kehilangan semangat. Mungkin kau butuh liburan! Cobalah ambil masa beberapa hari untuk berlibur, akan baik untuk mengembalikan semangatmu! " kata Keith penuh semangat.

" Kau tidak pernah mengambil cuti, tapi tidak pernah mengeluh ataupun kelihatan bosan. Bagaimana bisa? " tanyaku padanya.

" Hmmm.. Aku mencintai pekerjaanku. Aku sangat suka dengan bunga-bunga ini. Melihat bunga yang bermekaran dengan cantik dan indah itu seperti penyemangat bagiku. " jawab Keith sambil menatap kagum pada bunga-bunga itu.

Melihatnya amat begitu antusias aku jadi teringat obrolan tadi pagi dengan mama. Memang Keith-lah alasan mama tidak mau menutup toko bunga ini. Aku tidak pernah tahu riwayat hidupnya. Aku juga tidak begitu tahu kapan Keith mulai bekerja disini. Hanya seingatku memang sudah sangat lama. Pertama kali aku melihatnya disini saja sekitar tujuh tahun yang lalu. Aku jarang ke toko saat papa masih ada.  Sejak dulu keceriaan dan semangatnya tidak pernah berubah.
Hari ini cukup beruntung, ada beberapa buket bunga yang terjual. 

Aku baru akan menutup toko saat seorang gadis berlari mendekat. Gadis yang selalu datang tiap sore saat aku hendak menutup toko.
" Tunggu sebentar! " teriaknya. Ia berhenti didepanku sambil ngos-ngosan.

" Maaf, apa sudah mau tutup? Bolehkah, aku ingin membeli beberapa bunga? " tanya gadis itu dengan wajah memohon.

" Tentu saja, silahkan masuk dan pilih bunga yang kau suka. " jawabku sambil tersenyum.

" Terima kasih. " balas gadis itu. Dengan perasaan senang ia masuk ke toko dan memilih bunga-bunga.

" Edeline, kalau kau lelah pulanglah lebih dulu. Biar aku yang menutup toko. Nanti pulang aku akan mampir kerumahmu untuk mengembalikan kunci. " Keith mengusulkan. 

Aku berpikir sejenak dan menyetujuinya.
" Baiklah. Aku juga ingin ke suatu tempat. Maaf kali ini merepotkanmu! " kataku sambil menyerahkan kunci.

" Tidak masalah. Tadi pagi kau datang awal dan sekarang biar aku yang pulang telat. Jadi kita impas. " canda Keith.

Aku tertawa. Dan berpamitan,
" Baiklah, aku duluan ya! Sampai bertemu besok! "

" Ya, hati-hati! " pesan Keith.


----#----
Keith kembali masuk ke dalam toko untuk melayani pembeli terakhirnya. Si gadis manis masih sedang memilih bunga sementara ditangannya sudah memegang beberapa tangkai bunga Daisy. Keith mengambil alih bunga itu dari tangannya.
" Maaf, aku membuatmu jadi terlambat pulang. " kata gadis itu tak enak.

" Tidak apa-apa. Kau pelanggan setia kami. Pelan-pelan saja melihat dan memilih bunga sesukamu. Jangan sungkan! " ujar Keith dengan senyum ramah.

Lalu si gadis mengambil beberapa tangkai Aster dan Krisan. Kemudian menyerahkannya pada Keith.

" Mau di rangkai? " tanya Keith.

" Tidak perlu. Seperti biasa, bungkus sesuai jenis saja. " jawab si gadis sambil memperhatikan Keith.

" Maaf, kalau aku boleh tahu.. Gadis yang tadi pulang duluan itu siapa? " tanya si gadis.

" Dia anak dari pemilik toko bunga ini. Sekarang dia yang bertanggung jawab karna papanya sang pemilik toko sudah meninggal. " jawab Keith jujur.

" Ooohh.. " gumam si gadis.

" Memangnya kenapa? " tanya Keith.

" Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Sebagai pelanggan setia bukankah ada baiknya kalau aku mengenali siapa saja pegawai yang bekerja disini?! " jawab si gadis dengan malu-malu.

" Oh begitu.. Kalau seperti itu mungkin aku harus mengenalkan diri. " canda Keith.

Si gadis malah tersenyum malu-malu. Namun ia mengulurkan tangannya lebih dulu.
" Aku Ariana. "

" Keith. " Keith balas menjabat tangannya.
" Satu-satunya pegawai disini. " lanjutnya.

" Jadi hanya kalian berdua di toko bunga sebesar ini? Apa tidak merepotkan? " tanya Ariana ingin tahu.

" Tidak. Akhir-akhir ini toko bunga sangat sepi pembeli. Aku justru khawatir pemiliknya akan menutup toko ini. " jawab Keith sedikit khawatir.

" Tapi aku merasa toko ini tidak akan di tutup. Lihat semua bunga segar disini, mekar dan terawat dengan sangat indah. Kalau ada satu orang saja dalam sehari yang datang membeli bunga, dengan berbagai jenis dan pasokan bunga disini, serta tangan terampilmu yang siap merangkainya untuk para pembeli, maka bosmu tidak akan menutup toko ini. Aku yakin! " ujar Ariana dengan wajah penuh keyakinan.

Keith tak bisa berkata-kata melihat keyakinan dalam wajah Ariana. Jika dipikir memang benar ucapannya. Ariana adalah pelanggan setia toko bunga ini, ia selalu datang setiap toko akan tutup meski tidak setiap hari. Justru kadang ia lah satu-satunya pembeli di satu hari tanpa pengunjung itu.
Keith selesai membungkus bunga pesanan Ariana. Ia berikan padanya bersama nota jumlah harga yang harus ia bayar. Ariana mulai merogoh isi tas nya.

" Kalau aku boleh tahu, kenapa kau selalu datang disaat toko akan tutup? " tanya Keith. Ia penasaran juga.

" Pagi hari aku sangat sibuk. Ke universitas, bekerja, kursus, sedangkan jam pulangku hampir bertepatan dengan jam tutup toko bunga ini. Jadi kadang aku harus berlari dengan sangat cepat untuk mengejar waktu sampai disini. " jelas Ariana dengan penuh semangat.

" Jadi kau masih kuliah? " tanya Keith. Ia kagum juga pada gadis itu.

" Sebenarnya bukan kuliah. Aku hanya mengikuti kelas kursus tertentu saja. Selebihnya aku bekerja di kantinnya saja. Jadi aku harus pergi pagi-pagi sekali. " terang Ariana.

" Oooo... " Keith manggut-manggut.
" Lain kali kalau sibuk kau bisa memesannya lewat telepon. Aku bisa mengantarnya untukmu setelah tutup toko. Memangnya untuk apa bunga-bunga ini? Kalau aku boleh tahu. " tanya Keith lagi.

" Bunga ini untuk persembahan nanti malam di kuil. Mungkin kau bisa ikut, kalau kau tidak ada kegiatan... " jawab Ariana sembari menawari. Dalam hati ia berharap Keith ikut.

Keith berpikir sebentar lalu bertanya,
" Boleh? "

" Tentu saja boleh. " jawab Ariana bersemangat. Keith lalu mengangguk.
----#----



Senja mulai menjelang menggantikan tugas sang mentari di cakrawala. Entah mengapa langkah kakiku membawaku kembali ketempat ini. Seakan tak ada lagi tempat yang bisa aku singgahi. Tempat yang seharusnya tak ingin ku datangi. Waktu berlalu dengan sangat cepat, tapi tidak disini. Disini waktu itu seperti berhenti. Aku merasa seperti kembali ke masa lalu. Hanya kala itu aku tidak sendiri. Ada dia yang menggenggam tanganku. Masih terdengar canda tawa. Masih ada kehangatan meski angin senja menerpa wajahku. Sekarang semua itu sudah tidak ada. Jejak yang bisa ku telusuri hanya sebuah kenangan.
Ruas-ruas jalan ditepian teluk ini masih menyajikan panorama yang sama. Jembatan ini juga tidak berubah. Bangku-bangku kayu disepanjang jembatan ini pun tidak bergeser sedikitpun jaraknya. Yang berubah hanyalah aku yang berjalan sendiri.
Aku berdiri ditepi jembatan. Riak air dikejauhan nampak berkilauan terpantul cahaya dari atas jembatan ini. Ku keluarkan sebuah gelang macrame kulit dengan plat silver terukir nama seseorang. Aku ingin menghapus semua kenangan ini. Rasanya sudah terlalu lama terikat dengan mimpi masa lalu yang membuatku terus merindukannya. Membisikkan harapan semu bahwa ia akan kembali. Kenyataannya aku tidak pernah tahu apapun lagi tentangnya. Aku menghela nafas. Mungkinkah ini saatnya untuk menyerah?! Ya, mungkin aku bisa melupakannya bila aku tidak kembali ketempat yang penuh kenangan ini.
Aku menatap langit yang mulai gelap. Langit membentang luas didepanku. Sedikitnya aku masih berharap dia bahagia, meski pun aku tak tahu dia dimana.



----#----
Di dalam kuil, Keith dan Ariana sedang berdoa. Masing-masing memiliki harapan dan keinginan yang besar. Ariana diam-diam menatap ke arah Keith yang sedang berdoa dengan khusuk. Ia memiliki sebuah harapan yang hanya bisa ia sampaikan melalui doa didalam hati.
----#----


****


Aku terperanjat melihat jam disamping tempat tidur yang sudah menunjuk angka 7.15. Aku bangun dan mandi secepat kilat.  Sekilas pamit pada mama sebelum ia sempat bertanya, lalu melesat keluar rumah. Ini pasti karna kelelahan akibat kemarin pulang terlalu malam. Setidaknya aku tak bermimpi hal yang akan membuat suasana hatiku muram.
Aku sudah sangat terlambat buka toko pagi ini. Keith pasti sudah menunggu diluar. Meski sudah sangat terburu-buru masih ada saja orang asing yang menghadang jalanku.

" Selamat pagi, Nona.. Bisa minta waktunya sebentar? " sapa seorang pemuda yang coba menghalangi langkahku.

" Maaf, aku buru-buru. " balasku sambil berjalan cepat. Tapi pemuda itu masih berusaha mengejarku sambil menjelaskan sesuatu dari brosur yang ia bawa.

" Hanya sebentar, ini kesempatan besar. Glotious Resort & Villas mengadakan event... "

" Maaf, tapi aku sudah terlambat! " aku tak peduli dan langsung menyela.

" Ok, kalau begitu terima brosur ini. Sempatkan membaca diwaktu luang. Hanya 5 menit saja! " paksa pemuda itu sambil menyodorkan brosur. Aku mengambilnya dengan kasar dan segera berlalu. Pemuda itu tak mengejar lagi. Ia berseru lantang,
" Hubungi nomor yang tertera dibawah jika anda berminat, nona! "
Aku hanya mengacungkan tangan dengan brosur yang ku pegang tanpa menoleh.

Begitu aku tiba ditoko, Keith memang sudah menunggu disana. Aku segera membuka kunci pintunya.
" Maaf, kau menunggu lama? " tanyaku.

" Tidak. Aku kira hari ini akan libur. " jawab Keith dengan gurauan.

" Aku bangun kesiangan. " jelasku singkat.

" Kemarin kau bangun kepagian, hari ini kesiangan. Apa besok akan kepagian lagi? " canda Keith sambil menyirami bunga.

" Mungkin tidak, jika aku tak memimpikan sesuatu yang membuatku tak nyaman. " ujarku sambil sibuk membenahi barang di atas meja. Brosur tadi pun ikut tertumpuk diantara buku-buku.

" Tak nyaman? Apa itu seperti mimpi buruk? " tanya Keith sedikit lebih serius.

" Buruk bukan kata yang tepat menurutku. Namun akan lebih baik bila tak bermimpi hal seperti itu lagi. " harapku.

" Kadang mimpi adalah refleksi dari pikiran kita. Apa yang kita rasakan atau harapkan kadang semua itu muncul nyata dalam wujud mimpi. Memang mimpi hanyalah bunga tidur, namun tetap ada baiknya tidak usah terlalu dipikirkan. " jelas Keith dengan gaya seorang filsuf.

" Ya kau benar juga. " sahutku.

Terdengar gemerincing lonceng dari pintu yang dibuka. Pembeli pertama kami hari ini datang. Keith segera melayani dengan keramahannya seperti biasa. Sampai siang hari sudah ada tiga orang yang datang membeli bunga. Hari ini lebih baik dari sebelumnya.
Cuaca siang ini masih begitu panas seperti hari biasanya. Ku pikir akan sepi tapi rupanya kami mendapat pesanan buket besar mawar merah dari seorang pria untuk hadiah ulang tahun istrinya. Keith mengerjakannya dengan amat telaten. Satu per satu tangkai bunga disatukan menjadi rangkaian yang indah. Aku memperhatikan bagaimana tangan terampilnya melakukannya. Wajahnya yang  biasanya ceria jadi lebih serius. Ia justru terlihat menawan. Keith jadi agak grogi begitu mendapati aku memperhatikannya.
" Ke.. Kenapa menatapku seperti itu? " tanyanya gugup.

" Tidak apa-apa. Kalau kau tak suka aku tak akan melihat. " jawabku sambil mengambil majalah dan mengangkatnya hingga menutupi wajahku pura-pura membaca. Sebenarnya aku diam-diam menahan senyum karna ekspresi groginya tadi.


****


Hari berikutnya saat aku tiba didepan toko Keith sudah menunggu seperti biasa.
" Tidak kesiangan lagi, nona muda?! " ejeknya sambil memeriksa jam tangannya.

" Untungnya aku datang tepat waktu! " balasku sambil menjulurkan lidah. Keith tertawa.

Kesibukan pagi tetap berjalan seperti biasa. Kali ini aku harus mengecek stok bunga yang tinggal sedikit. Memeriksa tiap jenis bunga sambil mencatat ke dalam buku. Keith akan mengambil bunga yang mulai layu. Cukup banyak bunga yang mulai layu meski belum berubah kuning. Keith memotong tangkai bunga jadi pendek lalu merangkainya untuk bunga meja. Kemudian ia masukkan kedalam vas yang berisi air. Bunga itu kini menjadi hiasan diatas mejaku.
Aku kembali dan mendapati rangkaian bunga yang cantik di atas meja. Keith berkata,

" Sayang kalau dibuang. Ia hanya layu belum menguning, warnanya masih bagus. "

Aku tersenyum. Dan sebuah ide muncul dikepalaku. Begitu toko sepi aku membongkar semua isi di laci dan lemari kecil di bawah meja kerja ku. Sebelumnya aku tidak pernah melakukannya bahkan sepeninggal papa. Aku benar-benar tidak tahu apa saja yang ada didalamnya selain laci penyimpanan alat tulis, aksesories kecil, daun plastik, pita dll.
Keith yang melihatku begitu sibuk bertanya,
" Apa yang kau cari? "

" Keajaiban. " jawabku asal. Keith mengernyitkan dahi.

Aku menemukan kartu nama toko lama yang masih tercantum nama papa. Kertas-kertas nota lama, barang bekas yang usang dan tak terpakai, juga pot-pot kecil yang sangat berdebu. Keith pun tak bertanya. Ia membantuku membuang barang yang menurutku tak berguna. Ku bersihkan semuanya dari debu yang menutupi. Isi laci dan lemari kecil itu pun jauh lebih rapi dan bersih. Aku merasa kulitku pun kini pasti sangat berdebu. Beruntung juga sudah waktunya tutup toko. Aku sedang bersiap pulang dan begitu aku keluar Ariana datang.
" Oh maaf apa sudah mau tutup? " tanya Ariana.

Aku baru mau menjawab namun Keith duluan berkata,
" Pelanggan terakhir, silahkan masuk! "

Ariana tersenyum pada Keith, mengangguk kecil dan berterima kasih padaku. Keith berbisik pelan padaku,
" Pulanglah lebih dulu, nona! Wajahmu sudah penuh debu. Nanti aku akan mengantar kuncinya ke rumahmu! "

Aku menyengir, Keith tersenyum menggoda. Jadi ku biarkan Keith yang melayani gadis itu. Aku memilih pulang.


----#----
Ariana mengambil banyak tangkai Lili putih. Ia memberikannya pada Keith untuk dibungkus jadi dua buket.
" Maaf, kau harus pulang terlambat lagi. " ucap Ariana.

" Tidak masalah. Pelanggan adalah raja apalagi pelanggan setia. " jawab Keith dengan senyum ramah. Meski ia sibuk membungkus bunga.

" Ada lagi, Ariana? " tanyanya begitu selesai.

" Ini saja! " jawab Ariana.

" Apa untuk persembahan kuil? " tanya Keith lagi.

" Bukan. Untuk jiarah ke makam orang tuaku. " jawab Ariana.
" Oh, maaf. " ujar Keith pelan.

" Tidak apa-apa. Orang tuaku suka Lili putih, terutama ibuku. Aku selalu membawakannya saat berjiarah. Dan aku sering kesana bila aku rindu padanya. " terang Ariana.

Setelah bunga terbungkus rapi Keith menyerahkannya sambil berpesan,
" Setelah pulang jangan lupa taruh di vas berisi air supaya tetap segar sampai besok. "

" Tidak perlu. Aku akan langsung kesana sore ini. " ujar Ariana.

" Sore ini? Sendiri? Bukankah sebentar lagi senja?! " tanya Keith tak percaya.

" Ya. Aku sudah biasa. Tempatnya tidak terlalu jauh dan masih ditengah kota. Kadang aku pulang sampai malam. " jawab Ariana sambil tersenyum manis.

" Ow... " Keith agak kagum pada gadis yang cukup berani itu. Meski ia sendiri tidak yakin dengan adanya mahkluk yang disebut hantu itu.

Ariana justru tertawa.
" Kenapa? Apa kau pikir akan ada mahkluk yang bergentayangan disana saat malam? " ejeknya.

Keith menggeleng.
" Aku hanya sedikit heran. Aku juga tidak begitu yakin adanya hal-hal semacam itu. " ujar Keith.

" Memang tidak ada. Kalau tak percaya ikut saja denganku! " tantang Ariana.

" Boleh? " tanya Keith. Ariana mengangguk.

" Oke. Tapi kita mampir kerumah Edeline sebentar ya! Aku harus mengembalikan kunci tokonya. " kata Keith. Ariana mengangguk.
----#----


Aku sedang sibuk didepan layar laptop ku saat Keith dan Ariana 
datang. Keith langsung menyerahkan kunci toko padaku. Ariana hanya tersenyum padaku. Kemudian Keith mengenalkan Ariana secara ringkas sebagai pelanggan setia. Setelah itu mereka berdua pergi. Aku lanjutkan kembali kegiatanku.


----#----
Keith dan Ariana sudah berada didepan makam orang tua Ariana. Ariana meletakkan Lili putih itu diatas makam ibu dan ayahnya. Ada raut kesedihan namun ada juga senyuman diwajahnya. Dia tidak berkata apapun, hanya diam menatap kedua makam itu. Walau sebenarnya ia tidak benar-benar diam. Ia berbicara dalam hati. Ia mengusap foto ibunya setelah itu mengajak Keith pulang karna Keith terlihat was-was dengan area sekitar pemakaman yang sepi dan minim penerangan.
Hari memang sudah gelap, lampu-lampu jalan menyala menerangi jalan. Keith dan Ariana berjalan pulang.

" Tadi kau terlihat tidak tenang? Apa melihat sesuatu? " ejek Ariana.

" Aku tidak melihat apa-apa. Aku hanya cemas disana sangat sepi saat hari gelap. Seharusnya kau tidak kesana sendirian apalagi jika hari sudah senja. " tutur Keith.

" Jadi kau mencemaskanku? " tanya Ariana. Ia senang kalau Keith cemas padanya.

Keith nampak salah tingkah.
" Bagaimana pun kau perempuan. Harus lebih berhati-hati. " Keith meralat. Ia tak ingin Ariana salah sangka.

" Seharusnya kau tidak perlu takut. Aku bisa merasakan kehadiran orang tuaku disana dan mereka seperti menjagaku. " jelas Ariana. Ia nampak senang. Berjalan sambil melompat-lompat kecil. Keith tak begitu memahami maksudnya. Sejak kenal Ariana, ia merasa kalau gadis itu agak berbeda.

" Maaf kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan orang tuamu pergi? " tanya Keith dengan halus.

" Kecelakaan. Apa kau punya rencana setelah ini, Keith? " tanya Ariana sembari mengalihkan topik.

" Tidak, kenapa? " jawab Keith.

" Mau jalan-jalan sebentar? " tanya Ariana lagi.

" Kemana? " Keith balik tanya.

" Ikut saja. Ayo... " Ariana berjalan lebih dulu. Sementara Keith mengikuti sambil mendorong sepeda nya.

Tak lama keduanya tiba di teluk. Ariana membawa Keith menyusuri jembatan. Bukan jembatan umum yang penuh kendaraan, tapi area pejalan kaki yang merupakan kawasan wisata ditepi teluk. Ariana berdiri ditepi jembatan sambil membentangkan tangannya menikmati indahnya pemandangan malam. Lampu-lampu dari gedung tinggi diseberang terlihat berkelap-kelip penuh warna.

" Kau pernah kesini? " tanya Ariana. Keith menggeleng.
" Aku suka tempat ini. Pemandangannya indah apalagi kalau malam hari seperti sekarang ini. " lanjut Ariana. Ia mulai bercerita,
" Dulu ketika kecil ibu sering mengajakku kesini. Ia akan memarahiku kalau aku berdiri ditepi pagar dengan kepala menjuntai kebawah seperti ini. Ia bilang tidak akan membawaku kesini lagi kalau aku tidak menurut. Jadi aku tidak pernah melakukannya lagi. " Ariana tertawa mengenang kisah itu. Keith hanya mendengarkan.
" Bagaimana denganmu, Keith? Kau tidak banyak bercerita tentang dirimu! " tanya Ariana.

" Aku tidak punya banyak kenangan. Orang tuaku berpisah sejak aku kecil. Ibuku meninggalkanku. Aku tinggal bersama ayahku yang tak lama menikah lagi. Aku tidak suka tinggal bersama mereka, mereka sering mabuk dan bertengkar. Mereka tak mempedulikanku. Aku pergi dari rumah saat berusia 15 tahun. Mencari pekerjaan untuk bertahan hidup sendiri. Aku bertemu Tuan Willen saat tak sengaja aku tidur didepan toko bunganya. Saat itu aku sudah seperti gelandangan yang tak terurus. Tuan Willen kemudian memberiku pekerjaan di toko bunga, ia juga memberiku tempat tinggal. Sampai sekarang kebaikan Tuan Willen tidak akan ku lupakan. " kenang Keith.

" Oo.. Setidaknya hidupmu sudah lebih baik sekarang. Semua kenangan buruk dimasa lalu harus dilupakan. Kita tak bisa memilih terlahir dalam keluarga yang sempurna. Tapi kita punya kesempatan untuk mengubah nasib yang kurang beruntung. Kita bisa menentukan jalan hidup kita sendiri. Tak ada yang ingin selamanya hidup dalam keterpurukan, iya kan?! " kata Ariana. Keith mengangguk.
" Oleh sebab itu kita harus melupakan masa lalu dan mulai membangun kehidupan yang baru. " lanjutnya dengan semangat.

" Ya kau benar. " timpal Keith sambil memeriksa jam tangannya.

" Sudah cukup malam, kita harus segera pulang. Ayo ku antar sampai ke rumah. " ajak Keith, Ariana menurut.
----#----



Ku letakkan tas berisi laptop dan buku-buku ke atas meja. Lalu masuk ke restroom. Disebut restroom karna ruangan ini sering dipakai untuk menerima tamu tertentu yang datang ke toko dan juga tempat beristirahat pegawai. Dengan sekat dinding kaca dibagian atas agar tetap bisa memantau keadaan toko diluar. Ada sofa panjang yang diletakkan didua sudut ruangan. Adapun gudang, ruang kecil penyimpanan alat kebersihan, kamar mandi dan wastafel.
Aku mengambil pot-pot kecil yang kemarin ku bersihkan. Sudah kering semuanya lalu ku bawa kembali ke depan. Ku letakkan di atas meja.

" Keith, apa kau punya ide untuk pot-pot kecil ini? " tanyaku.

Keith berpikir sebentar lalu berkata.
" Mungkin ada. "

" Bagus. Aku serahkan padamu. 
Segera lakukan begitu kerjaanmu beres. Katakan saja jika ada yang kurang atau kau butuh sesuatu. " kataku bersemangat.
Aku kembali ke mejaku. Mengeluarkan laptop dan buku-buku, mulai serius dengan layar didepanku.
Beberapa saat kemudian Keith datang menyodorkan segelas teh hangat. Ia menarik kursi dan duduk didepanku sambil memeriksa tiap pot. Pandanganku tetap fokus pada layar.

" Serius sekali. Apa yang kau buat? " tanya Keith.

" Sesuatu yang baru. " jawabku sambil tersenyum namun tatapan 
tak lepas dari layar.

" Apa itu termasuk bagian dari 'keajaiban'?! " tebak Keith teringat ucapanku kemarin.

" Bisa jadi. " jawabku.

Dan akhirnya selesai. Aku tersenyum puas pada hasil karyaku. Aku memutar layar laptop dan menunjukkannya pada Keith.
" Bagaimana menurutmu? " tanyaku.
Keith memperhatikan dengan serius. Aku menatap Keith sambil menunggu pendapatnya. Wajah seriusnya yang menawan kembali membuatku tertegun.
" Simple tapi kesannya ceria dan penuh warna. Serasa memberi semangat baru. Kau membuatnya begitu hidup. " Keith berpendapat. Lalu beralih menatapku, saat tatapan kami bertemu ia nampak salah tingkah dan cepat-cepat mengalihkan pandangan. Aku memutar kembali layar laptop.

" Sempurna. " kataku sembari menyimpan hasil karyaku yang ada di layar laptop.

" Jadi bagaimana dengan pot itu? " tanyaku kemudian.

" Pot ini bisa digunakan untuk tanaman hias seperti Kaktus bunga, Lidah buaya, Lavender atau Rhododendron. " jawab Keith, salah tingkahnya nampaknya sudah hilang.

" Mungkin kaktus bunga lebih cocok. Aku ingin kau mengurusnya. " kataku. Kemudian aku menyerahkan beberapa lembar uang sambil berkata,
" Ini untuk membeli bahan yang diperlukan. Jika kurang katakan padaku. "

" Baik, akan ku kerjakan secepatnya. " ujar Keith.

" Sepertinya kau sedang dekat dengan....siapa itu.. Oh iya Ariana. " godaku pada Keith.

" Tidak, kami hanya berteman. " sanggah Keith.

" Benarkah hanya teman?! Kau sepertinya senang sekali melayaninya. " aku mengejek sambil senyum-senyum.

" Karna dia pelanggan setia tentu harus dilayani dengan baik kan, nona! " timpal Keith.

" Berhentilah memanggil nona. Aku tak suka dipanggil seperti itu. " protesku.

" Aku pikir tidak salah memanggil bosku yang masih muda dengan panggilan nona atau kau mau dipanggil nyonya?!. " kata Keith dengan nada menggoda.

" Aku bukan bosmu, aku hanya meneruskan tanggung jawab. Sama sepertimu! Jika aku tidak buka toko ini aku juga pengangguran. Jika aku tidak dapat pembeli, kau juga tidak dapat penghasilan. " terangku agak ketus.

" Aku hanya bercanda, Edeline. Kenapa kau jadi serius sekali. " tanya Keith.

Aku tak menjawab. Telepon toko berdering. Aku mengangkatnya, dari kakakku Celine. Keith beranjak dari kursinya saat aku berbicara di telepon beberapa saat. Telepon ditutup. Aku belum sempat memikirkan rencana Celine. Ada kerjaan yang harus ku selesaikan dulu. Aku menghubungi beberapa nomor telepon. Membuat janji pertemuan untuk esok hari.
Keesokan harinya, pegawai advertising datang. Aku berdiskusi beberapa hal dengan mereka sambil menunjukkan beberapa sketsa gambar yang sudah ku buat. Begitu selesai mereka pergi, aku tinggal menunggu hasilnya datang. Keith sibuk melayani dua orang pembeli. Aku membantunya begitu urusanku selesai. Setelah pembeli pergi Keith kembali bergelut dengan pot-pot kecil yang baru ia isi. Wajahnya kembali serius. Ia sangat serius ketika melakukan pekerjaan tetapi selalu tersenyum saat melayani pembeli. Ia memang pegawai yang bisa diandalkan. Tapi aku tak tahu sampai kapan ia akan tetap seperti itu. Aku diam-diam memperhatikannya dari meja ku. Rasa penasaran tiba-tiba muncul. Pikiran isengku mulai menghitung, jika tahun ini aku berusia 28 tahun berarti Keith sudah 30 tahun. Selama setahun ini tidak pernah melihatnya bersama perempuan. Tidak pernah mengeluh atau minta cuti libur. Padahal toko bunga buka tiap hari dari pukul 7.30 pagi hingga pukul 4 sore, libur hanya hari besar saja. Jika dipikir memang tak ada waktu untuk berkencan. Dipikir-pikir apa aku yang egois, karna tak punya teman kencan pegawai pun jadi tak punya kesempatan mencari pasangan. Aku tertawa sendiri memikirkan hal itu. Keith melihat ke arahku.

" Edeline, kalau kau tertawa sendiri seperti itu aku jadi takut... " serunya.

" Memangnya aku bisa melakukan apa? " tanyaku masih merasa lucu.

" Aku takut kau akan mengacak-acak rambutmu sendiri. Sebelum itu terjadi ku sarankan sebaiknya kau pergi berlibur saja. " ejek Keith.
Aku meremas selembar kertas menggulung jadi bola dan ku lempar dengan keras ke arah Keith. Keith menghindar sambil tertawa.

Aku sedang mengunci pintu toko. Kemudian menatap ke atas papan nama toko yang warnanya sudah pudar. Sambil berjalan mundur menatap kagum usaha yang dibangun papa bertahun-tahun. Tanpa sengaja menabrak Keith yang berdiri dibelakang sedang meregangkan otot pinggangnya.

" Ups..maaf. " ucapku.

" Untung aku yang ditabrak bukan tiang. " ejek Keith sambil nyengir.

Aku melotot padanya.
" Maksudku kalau yang kau tabrak tiang kan sakit, Edeline! " Keith segera meralat ucapannya.

Aku membalikkan badan berjalan pergi. Keith mengejar menyelaraskan langkah.
" Pacarmu tidak datang hari ini? " 
kataku sengaja memancingnya.

" Bukan pacar, hanya teman. Lagipula aku dan Ariana baru kenal tidak lama. " Keith meluruskan.

" Oh calon. " aku juga tak mau nyerah.

" Bukan, Edeline. " sanggah Keith sedikit meninggi. Namun merasa tak enak, ia berbicara dengan pelan,

" Mau jalan-jalan sebentar? "

" Jalan... Hmm, boleh! Kemana? " tanyaku.

" Ikut saja. " jawab Keith penuh rahasia.


Perasaanku mulai tak enak ketika Keith mengambil jalan ke arah teluk. Benar, tak salah lagi. Ia melangkah dengan semangat menuju jembatan. Kemudian ia berbalik padaku.

" Tadaaaaa..... Ini dia! " serunya senang sambil membentangkan tangannya.

Tepat saat itu yang ku lihat bukan diri Keith. Kalimat dan gaya itu begitu persis. Bayangan dirinya seolah menyatu dengan Keith. Aku diam membeku.
" Edeline, kau kenapa? " tanyanya melihat ekspresiku berubah.

" Tidak apa-apa. " jawabku. Aku berusaha tak mengingat tapi ini terlalu nyata. Seperti deja vu hanya saja itu Keith bukan dia.

" Lihat bukankah pemandangan disini sangat indah?! Kau bisa melihat matahari terbenam disana. Edeline, kemarilah! " seru Keith dengan penuh semangat.

' Edeline, kemarilah... Edeline, kemarilah.... ' kata-kata yang juga sama persis itu. Terus terngiang kembali ditelingaku. Pertahananku goyah. Aku yang harusnya melupakan dia justru kembali mengingatnya. Aku langsung berbalik pergi, ingin pergi dari sini. Keith melihatku pergi lalu mengejarku.

" Edeline, kau kenapa? Kau takut ketinggian? Atau kau takut laut? " tanya Keith dengan polosnya namun jelas ia cemas.

" Aku tidak takut ketinggian ataupun laut. Aku hanya tidak ingin berada disini! Aku tidak ingin ketempat ini lagi! " aku berteriak pada Keith. Keith terdiam sekaligus kaget dengan sikapku.
Aku mengambil nafas untuk menenangkan diriku sejenak.
" Maaf! Aku ingin pulang saja. " kataku pelan. Lalu berjalan pergi dengan cepat. Keith masih mengejar.

Lama hanya saling terdiam. Keith masih membuntutiku hingga sampai dirumah. Sesampai didepan rumah ia berkata,
" Maaf, membawamu ke tempat yang salah! Lain kali aku akan bertanya dulu. Sampai bertemu besok, Edeline! "

Aku diam saja. Keith mulai naik ke sepeda mengayuhnya pergi. Aku masih berdiri menatap kepergiannya. Aku rasa aku memang masih belum bisa melupakan dia. Jika ucapan dan gaya Keith tidak begitu mirip dengannya, mungkin aku tidak akan begitu marah. Ya itu hanya kebetulan. Aku harus lebih mampu mengontrol diri. Aku masuk kedalam rumah. Saat itu suara mama mengagetkanku,
" Keith mengantarmu pulang? Tidak biasanya! "

" Mama.. " sungutku. Entah sejak kapan mama jadi suka mengintip.
Mama tersenyum dengan aneh lalu melenggak pergi.


----#----
Malam itu Keith sedang berbaring dikamarnya dengan banyak pikiran dikepala.
' Kenapa Edeline tiba-tiba marah ketika aku membawanya kesana? Ada apa dengan tempat itu? Ia seperti tidak suka sekali. Sikapnya berubah. Apa ia akan memaafkanku? '
----#----



Pagi-pagi aku mendapat telepon dari pegawai advertising. Ada bahan yang harus mereka ganti karna kehabisan stok. Mereka ingin aku melihatnya lebih dulu sembari mencocokkan harga. Aku setuju. Ku lihat jam dinding sebentar. Rasanya tidak akan sempat untuk buka toko dulu. Aku juga tidak tahu apa urusanku cepat selesai atau tidak. Aku melihat mama yang sedang santai menonton pagi ini. Jadi aku minta tolong mama untuk pergi buka toko lebih dulu supaya Keith tak menunggu lama. Untungnya mama bersedia. Mama juga sudah tahu semua rencanaku. Aku pun tak ingin mengundur waktu dan segera pergi.



----#----
Nyonya Willen tiba di toko bunga. Keith memang sudah menunggu disana. Ia selalu tepat waktu.
" Pagi Nyonya Willen. Mmm.. Apakah Edeline sedang sakit? Tidak biasanya anda datang ke toko. " tanya Keith heran sekaligus mencemaskan Edeline.

" Kebetulan Edeline harus pergi menyelesaikan urusannya sebentar. Ia takut kau menunggu lama, jadi ia memintaku datang untuk buka toko dulu. " jelas nyonya Willen sambil membuka kunci pintu. Keith mengangguk mengerti.

Nyonya Willen hanya masuk melihat-lihat sebentar.
" Nampaknya Edeline belum menyetok bunga. Banyak yang sudah berkurang. " kata nyonya Willen.

" Belakangan ini pembeli meningkat. Edeline juga harus ikut turun tangan. Ia pasti belum sempat memesan. " terang Keith.

Nyonya Willen melihat isi buku Edeline diatas meja. Ia tersenyum. Lalu berkata,
" Edeline bisa mengurus semuanya. "

" Keith, maaf aku tidak bisa lama. Ku tinggalkan kau sendiri sampai Edeline datang ya. " Nyonya Willen berpamitan pada Keith. Tak lupa menitipkan kunci juga.

" Baik, Nyonya. Maaf merepotkan. " sahut Keith. Nyonya Willen menggelengkan kepala kemudian pergi.

Keith sudah melayani dua pembeli pagi ini. Edeline masih juga belum datang. Ia merasa sepi sekali tanpa Edeline. Ia mondar-mandir sambil berpiikir apakah Edeline masih marah padanya. Sekilas ia melihat mawar putih dan dapat sebuah ide.
Ia mengambil beberapa tangkai mawar putih dan merah lalu merangkainya jadi satu. Terus diletakkan diatas meja Edeline dengan sebuah pesan tertulis " aku minta maaf ". Ia kembali duduk ditempatnya menunggu dengan harap-harap cemas.
----#----



Aku tiba ditoko hampir jam 11 siang. Masuk kedalam toko rasanya langsung segar sehabis berada dibawah terik. Toko juga sepi Keith sepertinya direstroom. Aku langsung menuju ke meja dan mendapati rangkaian bunga mawar putih dan merah diatas meja dengan secarik kertas. Aku memotret rangkaian mawar itu dengan ponsel. Lalu mengambil kertas itu dan membacanya. Suara Keith tiba-tiba mengagetkanku.
" Kau sudah datang, Edeline?! " sapanya.

Aku berbalik sambil menunjukkan kertas itu dengan penuh tanda tanya.
" Kenapa meminta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. " tanyaku.

" Aku pikir kau mungkin marah... "

" Seharusnya aku yang minta maaf. Aku tak bisa mengendalikan diri. Maaf sudah marah padamu, Keith. " selaku langsung memotong ucapan Keith.

" Tidak apa-apa. " jawab Keith.
Aku melemparkan tubuhku ke atas kursi.

" Lelah sekali. " Baru bersandar dengan nyaman. Tiba-tiba ponsel berbunyi. Celine yang menelepon. Celine masih bertanya tentang rencana nya itu. Aku sendiri belum sempat mengecek event yang ia katakan itu di internet. Aku kembali menyandarkan punggung. Keith datang menghampiri.

" Apa kau ingin aku ambilkan sesuatu? Kau nampak lelah. Belakangan ini kau terlihat sangat sibuk. " tanya Keith menawari.

" Tidak ada. Kita berdua yang sibuk 
dan seterusnya akan sangat sibuk. " jawabku.

" Aku selalu siap dengan kesibukan apapun. " timpal Keith.

" Oh aku lupa, aku belum menyetok kembali bunga yang habis. " aku terbangun lagi dari sandaran.

" Biar aku yang menelepon saja. Kau sudah mencatat apa saja yang akan dipesan kan?! " Keith menawari bantuan. Ia langsung duduk didepanku dan meraih telepon.

" Ya, disini. " kataku sambil menunjuk.

Aku bisa kembali bersandar dengan nyaman sementara Keith menelepon untuk memesan bunga baru. Tanpa sadar aku justru ketiduran. Sampai Keith membangunkanku karna kartu nama yang ku pesan telah datang. Aku harus memeriksa sebentar apa yang diantarkan kurir itu benar. Memastikan tak ada kesalahan kurir itu pun pergi.

" Aku tak sadar kalau ketiduran. " ujarku.

" Kau sangat manis ketika sedang tidur. Jika tak ada perlu aku juga tak akan membangunkanmu. " goda Keith sambil tersenyum.

Aku menatap sinis padanya.
" Jangan menggodaku! " kataku ketus. Keith justru tertawa.

" Sekarang kita punya kartu nama baru, dan beberapa kartu ucapan yang bisa dipakai sesuai kebutuhan. " jelasku sambil menunjukkan kartu-kartu tersebut.

Keith mengambil satu kartu nama dan membacanya. Kartu nama baru itu hanya mencantumkan nama toko, alamat serta nomor telepon dengan desain bunga yang berwarna. Begitu juga dengan kartu ucapan yang desainnya disesuaikan dengan tema.
" Kita bisa memberikan kartu nama pada tiap pembeli atau menyelipkannya di antara bunga dan kartu ucapan. " jelasku. Keith mengangguk.



Beberapa hari berlalu. Blog yang ku buat khusus untuk toko bunga "Edelweis" diikuti banyak follower. Pengunjung yang datang membeli bunga pun sedikit meningkat. Meski kadang masih sepi tapi tidak sampai tak ada pengunjung sama sekali.
Hari ini pegawai advertising datang membawa papan nama yang sudah jadi. Papan nama lama pun langsung diturunkan, diganti dengan yang baru. Papan nama baru lebih berwarna, dengan warna-warni yang cerah, terkesan ceria dan menyegarkan mata yang melihat. Aku tersenyum menatap toko bunga papa yang sekarang. Keith ikut berdiri disampingku menatap keseluruhan toko dengan papan nama yang baru.

" Sempurna. Kau membuatnya seperti hidup kembali. " puji Keith.

" Inilah 'keajaiban' . Aku akan membuat papa dan mama bangga. Toko bunga papa akan terus 'mekar' ditanganku. " kataku penuh percaya diri. Keith menatapku dengan kagum.

" Dan kau akan selalu 'mekar' dihatiku! " batin Keith dalam hati.


bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar